Ketika Aku Memilih Diam

Ketika Aku Memilih Diam
22.Kamu Yakin?


__ADS_3

Saat kedua orang tua Anyelir dan juga Kalandra masih sibuk ngobrol dengan tema pertunangan dan pernikahan mereka berdua, Anyelir sengaja ingin berbicara empat mata dengan Kalandra.


"Kala, bisa kita bicara sebentar?" Ucap Anyelir dengan raut wajah yang masih terlihat sangat canggung.


"Katakanlah, ada apa?" Jawab Kalandra dengan wajah datarnya, dia benar-benar terlihat tenang, seolah tidak pernah terjadi hal apapun dimasa lalu mereka.


"Aku ingin kita bicara berdua saja." Imbuh Anyelir kembali, karena dia maaih sangat penasaran, kenapa Kalandra dengan mudahnya menyetujui perjodohan mereka.


"Kenapa? apa ini rahasia kita berdua, sampai kedua orang tua kita tidak boleh mendengarnya?" Tanya Kalandra dengan tatapan teduh, bahkan dengan sedikit senyuman.


"Emm... nggak juga sih, cuma aku hanya ingin--" Anyelir sampai bingung harus berbicara seperti apa, tidak mungkin dia berkata jujur didepan orang tua mereka yang tidak tahu kisah mereka berdua.


Kedua orang tua Anyelir dulu hanya tau jika putrinya bermasalah dengan Jenny saja, bukan dengan Kalandra, begitu juga dengan kedua orang tua Kalandra yang hanya sekedar ber 'owh' ria saja saat mendengar tragedi yang terjadi disekolahan putranya, mereka berdua tidak sempat cari tahu tentang siapa dengan siapa, karena pekerjaan mereka sudah cukup menguras tenaga dan pikiran, asalkan bukan putranya yang menjadi korban, mereka hanya menggangap itu sebuah kecelakaan biasa.


"Kalandra, kamu ini sama sekali nggak peka jadi cowok, namanya juga wanita itu ingin selalu dimengerti, jadi wajar dong kalau ingin bicara berdua saja, sana pergi ke meja paling ujung, pemandangannya juga bagus dari sudut sana." Mama Kalandra langsung mencubit pinggang putranya yang seolah tidak paham dengan keinginan seorang wanita yang terkadang sering malu-malu kucing.


"Bukan begitu juga Tante, hehe." Anyelir hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia tidak menyangka jika Mama Kalandra ternyata juga ikut menyimak obrolan mereka berdua.


"Tante paham, kan Tante juga wanita, maaf ya nak, Kalandra memang sedikit kaku orangnya, tapi lama kelamaan kalian pasti cocok, okey?" Mama Kalandra pun terlihat yakin dengan perjodohan ini, karena semenjak Kalandra sudah bekerja dia tidak pernah setertarik ini dengan seorang wanita.


"Iya Tante, sedikit banyaknya saya sudah mengenal Kalandra jaman di Sekolah dulu." Jawab Anyelir sekedar basa-basi.


"Baguslah kalau begitu, ya sudah kalian ngobrol-ngobrol sana tentang masa lalu yang indah-indah, karena sebentar lagi kalian akan bersatu di mahligai yang indah juga." Ledek Mama Kalandra kembali, dia begitu bahagia melihat mereka berdua, dan sangat berharap putranya nanti memiliki keluarga kecil yang bahagia selamanya.


"Hehe... Iya Tante." Jawab Anyelir dengan wajah yang tersipu, dia pun merasa terharu, ternyata Alam seolah mewujudkan keinginannya di masa remaja dulu yang memang belum tersampaikan.


"Panggil aku Mama juga dong, sebentar lagi kamu kan jadi putri Tante juga." Ucap Mama Kalandra kembali.


"Owh.. Iya Ma." Walau masih canggung namun Anyelir merasa bahagia memanggilnya dengan sebuan seperti itu, karena kesannya pasti menjadi lebih dekat lagi.

__ADS_1


"Ayo kita kesana, kelamaan nanti Mama ngobrolnya malah nggak jadi kita kencan berduanya."


"Kencan?" Anyelir bahkan sampai melirik wajah Kalandra dengan tatapan heran.


Dulu dia hampir seperti orang gila karena mengharapkan kata ajakan itu keluar dari mulut Kalandra, namun seolah mustahil dan tidak pernah terjadi, tapi kenapa dengan gampangnya dia mengatakan hal itu sekarang.


"Ayok buruan, nanti tempatnya di pakai orang." Ucap Kalandra yang tetap terlihat cool setiap saat.


Dan Anyelir hanya bisa melongo saat melihat tangannya digenggam erat oleh Kalandra, menuju meja paling ujung yang bisa melihat indahnya sudut kota dari atas sana.


"Eherm... Kala?" Anyelir mencoba memberanikan diri, berbicara dengan Kalandra menurutnya lebih terasa menakutkan, dibanding berdebat dengan Dosen terkiler di Kampusnya dulu, karena berbicara dengan someone spesial dihati memang selalu berhati-hati, takut jika salah bicara dan menyakitinya.


"Iya." Jawab Kalandra dengan lembutnya, hingga membuat Anyelir benar-benar kembali terpesona oleh sosok Kalandra.


"Aku-aku mau... emmm---"


Anyelir kembali bingung harus bertanya dari bagian mana dulu.


Mati gue, kenapa dia bisa cute banget seperti ini? Dia Kalandra apa bukan sih? atau hanya sekedar jelmaannya saja, kok beda banget?


"Aku mau minta maaf." Akhirnya kata maaf saja lah yang terlintas di otak Anyelir kali ini.


"Untuk?" Tanya Kalandra bahkan dengan menaikkan kedua sudut bibirnya sambil mengusap lembut jemari tangan Anyelir.


"Untuk semuanya." Anyelir menarik jemarinya dan menundukkan pandangannya, takut jika tatapan Kalandra tiba-tiba berubah menjadi mengerikan, walau itu hanya bayangannya saja.


"Semua apa? bukannya kita baru bertemu setelah sekian lamanya?" Tanya Kalandra dengan santainya.


"Semua yang terjadi di masa lalu kita dan juga tentang Jenny, karena dulu aku---"

__ADS_1


"Sudahlah, itu semua hanya cerita masa lalu saja, semua orang bukannya punya kisah masa lalu, begitu juga dengan kita bukan?" Kalandra langsung memotong pembicaraan Anyelir, seolah dia tidak mau membahas luka lama itu lagi.


"Apa kamu sudah memaafkanku?" Tanya Anyelir yang kembali mencoba memberanikan diri untuk menatap wajah Kalandra.


"Memangnya kamu punya salah denganku?" Kalandra seolah sengaja pura-pura lupa dengan semua yang sudah terjadi.


"Ya.. bukannya kamu dulu kekasih Jenny?" Anyelir hanya ingin tahu saja, bagaimana reaksi Kalandra tentang hal itu.


"Owh... Itu hanya cinta monyet saja, namanya juga masih anak bau kencur, yang perasaannya masih menggebu-gebu, seolah lupa kalau dunia itu luas dan masih terlalu panjang perjalanan hidup kita di dunia ini." Kalandra bahkan menyangga wajah tampannya dengan kedua tangannya sambil terus memandang wajah Anyelir dihadapannya.


"Benarkah?" Dan itu semakin membuat Anyelir gemas karenanya.


"Iyalah, lupakan masa lalu, kita tatap masa depan kita saja sekarang." Seolah Kalandra juga sudah mantap dengan diri Anyelir.


"Emm... kalau boleh tahu, bagaimana keadaan Jenny sekarang?" Jika bukan karena ingin mencoba hubungan yang baru dengan Kalandra, mungkin Anyelir tidak mau tahu kabar teman SMA nya itu.


"Entahlah." Namun jawaban Kalandra hanya singkat dan memilih menaikkan kedua bahunya saja.


"Apa dia sudah pindah?" Anyelir belum bisa menebak alurnya, karena memang sudah beberapa tahun berlalu dan selama Anyelir kuliah memang dia sama sekali tidak pernah pulang ke negara ini, selalu kedua orang tuanya yang mengunjungi mereka disana.


"Hmm... Kata orang sih ada yang bilang keluar negri, tapi entah yang benar yang mana."


"Kamu sudah putus dengannya?" Anyelir terus saja memberanikan diri agar rasa penasarannya terobati.


"Sudah aku bilang, itu hanya cinta monyet, jangan terlalu dipikirkan."


Dan jawaban dari Kalandra masih sama, seolah dia tidak lagi mengingat kata-kata ancaman yang dulu pernah dia lontarkan kepada Anyelir setelah tragedi itu terjadi.


To Be Continue...

__ADS_1


Jangan lupa, tinggalkan jejak kalian Bestie😘


__ADS_2