Ketika Aku Memilih Diam

Ketika Aku Memilih Diam
27.Pertanda Buruk?


__ADS_3

Suasana dalam Hall disebuah Gedung mewah itu kini terasa memanas, semua orang ikut panik, karena orang setenang Kalandra Seilendra ternyata begitu gugup saat melafadzkan kata Ijab Qobul, padahal saat latihan tadi dia sudah cukup lancar, namun saat pelaksanaan dia salah ucap, sehingga dalam dua kali pengucapan Kalandra masih saja salah dan belum mendapatkan kata SAH dari para saksi.


"Minum dulu Kalandra, yang tenang nak, kamu memimpin meeting didepan para klien besar aja santai, kenapa sekarang kamu sampai keluar keringat dingin seperti ini didepan Pak Penghulu?" Ayah Kalandra langsung mengambilkan satu botol air minum untuk anaknya, karena pak Penghulu menyarankan agar Ijab Qobul di tunda beberapa saat agar Kalandra lebih tenang.


"Jangan menyalahkan Kalandra Yah, Ijab Qobul lain ceritanya dengan meeting, ini masalah janji kita dunia Akhirat tau nggak!" Mama Kalandra lamgsung membela putranya sambil memijit kedua bahu Kalandra agar dia bisa lebih rileks.


"Nak Kalandra, ambilah air wudhu dulu."


"Air Wudhu?"


"Iya, jangan pikirkan hal-hal yang buruk, niatkan semua karena Allah, sebagai wujud Ibadah kamu."


Papa Anyelir langsung berjalan mendekat dan berbisik kearah Kalandra, jika Kalandra gagal dalam tiga kali pengucapan, bisa-bisa acara Ijab Qobulnya putrinya akan tertunda bahkan bisa sampai besok kalau kondisi Kalandra masih gugup seperti ini.


"Baik Pa."


Kalandra kembali melepas jas mewah miliknya dan berulang kali memejamkan kedua matany dalam diam.


"Alenka, kenapa aku malah berharap Kalandra salah lagi, kalau perlu kalian gagal menikah saja."


"Hush, jangan begitu, kasian Anyelir nanti, dia aja udah mewek sedari tadi."


"Apa mungkin ini yang dinamakan pertanda buruk? bahwa Tuhan saja mempersulit Kalandra karena mungkin dia tidak tulus saat menikahi Anyelir?"


"Adinda, jangan menakut-nakutiku, aku nggak mau Anyelir tersiksa batin lagi."


"Ckk... kalau begini ceritanya aku menyesal telah membujuk Anyelir pulang ke negara kita."


"Sebenarnya aku pun sepemikiran denganmu, tapi mau gimana lagi, tidak mungkin acara pernikahan ini dibatalkan, akan ada banyak orang yang pastinya akan kacau segalanya."


"Huft... aku benar-benar takut ini akan menjadi awal yang buruk bagi Anyelir."


"Adinda, jangan ngomong begitu, nggak baik tau nggak, kasihan Anyelir tau!"


"Lebih baik aku pergi saja!"


"Heh, Adinda! Kamu gila ya, acara belum selesai ini Din!"


"Bodo Amat!"


"Woah... Adinda memang keras kepala orangnya, woi... ikut Din!"


Dan sebenarnya Alenka tidak tega meninggalkan acara itu, namun dia pun tidak mau melihat sahabatnya terus menangis dipelukan ibunya seperti itu, akhirnya Alenka lebih memilih ikut Adinda keluar dari Gedung mewah yang sudah dihiasi dengan ribuan bunga yang semerbak mewangi itu.

__ADS_1


Setelah acara Ijab Qobul mundur kurang lebih satu jam, akhirnya acara itu kembali dimulai dengan hati yang was-was, bahkan bukan hanya Kalandra dan Anyelir, keluarga besar mereka berdua pun ikut menahan nafas saat acara akan dimulai kembali.


"Pakai contekan saja, taruh diatas meja!" Ayah Kalandra meminta salah satu WO menyiapkan secarik kertas.


"Ayah, aku pasti bisa menghafalnya kali ini."


"Ayah percaya, namun ini kesempatan terakhirmu hari ini, daripada harus mengulang lagi besok lebih baik pakai contekan saja, cari amannya." Bisik Ayah Kalandra disamping telinga Kalandra.


"Ya sudahlah." Jawan Kalandra dengan nafas beratnya.


"Sayang, Bismilah ya, kamu pasti bisa." Tiba-tiba Anyelir meraih jemari tangan Kalandra dan menggengamnya dengan erat.


"Hmm."


Dan Kalandra hanya menggangukkan kepalanya saja dan segera melepas tangan Anyelir untuk bersiap.


Akhirnya dengan bantuan sebuah contekan, dalam satu tarikan nafas Kalandra bisa lancar menguapkannya dan berhasil mendapatkan kata SAH dari kedua saksi pernikahannya.


"Alhamdulilah."


Semua ikut tersenyum haru saat Ijab Qobul itu akhirnya bisa berjalan lancar, tangisan ketakutan Anyelir sudah berganti dengan tangisan bahagia, akhirnya keinginannya menikah dengan Kalandra tersampaikan juga walau harus melewati moment-moment menegangkan.


Setelah Ijab Qobul selesai, acara siang itu dilanjutkan dengan resepsi pernikahan yang meriah.


Hingga sore menjelang, segenap rentetan acara pernikahan mereka akhirnya selesai juga, para tamu undangan sudah kembali ke rumah mereka masing-masing, menyisakan kedua keluarga disana.


"Ma, Adinda dan Alenka kemana sih, kok mereka nggak kelihatan dari tadi?" Anyelir clingak-clinguk ke kanan dan ke kiri.


"Entah, mungkin mereka kecapekan trus pulang kali." Jawab Mama Anyelir menduganya, karena tamu undangan mereka sangat banyak yang hadir jadi tidak melihat begitu jelas.


"Kok nggak pamit dulu sama aku?" Umpat Anyelir yang merasa tidak terima.


"Kamu kan sibuk sama tamu undangan terus dari tadi kan?"


"Iya juga sih, tapi nggak nyelonong pergi gitu aja seharusnya."


"Sudahlah, tak apa, kamu dipanggil suamimu itu nak, cepat temui Kalandra, jangan membuatnya menunggu, karena setelah menikah prioritas utama kamu adalah suamimu, bukan lagi kedua orang tuamu atau kedua sahabatmu itu, mengerti nak?" Nasehat Mama Anyelir dengan bijak.


"Mengerti Ma."


Anyelir sedikit banyaknya sudah mengerti, karena tadi malam dia diberi wejangan khusus oleh kedua orang tuanya sebagai istri yang baik.


"Kamu mencariku Yank?" Anyelir bahkan sudah mengganti panggilan untuk suaminya menjadi lebih romantis.

__ADS_1


"Cepat ganti pakaian, kita langsung ke hotel, aku capek pengen istirahat." Ucap Kalandra yang langsung mengajak Anyelir kembali ke ruang make up.


"Kita nggak pulang ke rumah aja dulu? Masih banyak keluarga jauh aku loh disini?"


"Nggak! aku mau malam ini kita menginap di hotel saja." Tolak Kalandra dengan tegas.


"Tapi nggak enak loh Yank?"


"Kamu mau ikut aku apa ikut keluargamu!" Kalandra bahkan langsung melirik ajam ke arah Anyelir.


"Huft, ya sudah, aku ikut kamu saja Yank."


Anyelir mengingat kembali pesan dari Mamanya untuk sekalu berada disisi Kalandra apapun yang terjadi, karena dalam rumah tangga moment susah senang pasti ada, namun harus tetap bertahan demi kebaikan semuanya.


Namun setelah Kalandra dan Anyelir memasuki hotel yang sudah Kalandra booking, raut wajah Kalandra langsung berubah drastis menjadi datar, seolah kembali mengingatkan Anyelir kepada wajah Kalandra saat masih di bangku sekolah menengah atas dulu.


"Sayang, kita mandi dulu yuk?" Ajak Anyelir sambil berbasa-basi, dia ingin malam pertamanya terkesan istimewa seumur hidupnya.


"Kamu saja dulu, aku mau istirahat!" Jawab Kalandra bahkan tanpa memandangnya.


"Ayolah, kita mandi bareng yuk, kalau sudah Sah, mandi bareng disunnah kan juga loh?" Rayu Anyelir kembali.


"Apa telingamu sudah tuli, aku bilang mandi sendiri ya pergi sendirilah, apa kamu tidak punya tangan untuk mandi sendiri, HAH!"


Degh!


Anyelir langsung memegang dadanya dan memundurkan langkahnya, baru selang beberapa jam setelah acara selesai, kenapa perangai suaminya tiba-tiba sudah berubah drastis seperti itu pikirnya.


Kenapa?


Apa salahku?


Apa yang terjadi?


Kenapa Kalandra sudah berubah?


Apa benar kata Adinda dan Alenka, kalau Kalandra hanya ingin balas dendam denganku saja?


Banyak kata tanya yang langsung bersarang di otak Anyelir dan ketakutan demi ketakutan mulai terlihat dari wajah cantik Anyelir, yang kini sudah mulai memucat karena suara bentakan keras dari suaminya.


Hujan tak selamanya deras, matahari tak selamanya terik, dan langit tak selamanya biru. Sebab di dunia ini tak ada yang abadi, semuanya pasti akan berlalu seiring berjalannya waktu.


Ayo, jempol mana jempol bestiekuh😊

__ADS_1


__ADS_2