Ketika Aku Memilih Diam

Ketika Aku Memilih Diam
58.PELAKOR


__ADS_3

Bahagia itu terkadang bukanlah sesuatu yang harus terlihat sempurna, namun bahagia itu saat kita pandai bersyukur dengan apa yang kita punya. Dan kini Kalandra benar-benar merasakan apa itu arti bahagia menurut versinya.


Walau perusahaannya seolah dalam keadaan morat-marit, namun entah mengapa Kalandra seolah tidak memusingkan akan hal itu, bahkan hari ini dia memberikan reward kepada putrinya Kanaya karena telah membelanya kemarin, dengan memenuhi satu keinginannya selama ini yaitu untuk jalan-jalan bertiga seperti keluarga-keluarga yang lainnya, walau pun ada babysitter Kanaya yang mengikutinya dari belakang.


"Ayah, nanti aku mau nonton film animasi 3D di bioskop, beli mainan, trus puas-puasin main di Time Zone ya?" Celoteh Kanaya yang berjalan riang gembira dalam gandengan tangan kedua orang tuanya.


"Boleh dong sayang, apapun yang kamu mau pasti akan Ayah turuti." Jawab Kalandra dengan senyum yang tidak pernah pudar sedari tadi.


"Jangan terlalu memanjakannya seperti itu, nggak baik juga Kala." Bisik Anyelir perlahan, karena dia selalu mengajarkan mandiri sejak kecil kepada Kanaya.


"Dia kan putriku." Jawab Kalandra yang memang selalu memanjakannya.


"Aku tahu, tapi sesuatu yang berlebihan itu tidak mendidik."


"Kalau nggak boleh manjain dia, berarti manjain kamu boleh?" Ucap Kalandra yang membuat Anyelir langsung menoleh kearahnya.


Ser!


"Kenapa jadi aku?" Dia pura-pura cuek, padahal jantungnya cukup ser-seran karenanya.


"Jadi maunya siapa?"


"Terserah sajalah, suka-suka hati kamu, itu kan pilihan kamu!" Umpat Anyelir yang tidak ingin menjadi bucin seperti dulu lagi, karena menurutnya terlalu bucin dengan manusia hanya akan berakhir dengan luka.


"Eherm... kalau nanti malam boleh nggak?" Tanya Kalandra dengan wajah yang sudah berubah menjadi sedikit genit.


"Boleh apa?"


"Tidur bareng."


"Dengan aku?"


"Iyalah, kan kamu istriku, nanti aku tidur dengan yang lain kamu ngambek lagi." Ucap Kalandra yang sengaja ingin menggoda istrinya.


Cih... sok banget dia, mentang-mentang pernah punya yang lain, okey... kamu salah nantangin orang boskuh!


"Kalau kamu memang pengen banget tidur berdua denganku boleh kok." Jawab Anyelir dengan santainya.


"Seriusan?" Kalandra terlihat begitu excited karenanya


"Dengan satu syarat." Ucap Anyelir selanjutnya.


"Apa itu, aku pasti akan memenuhinya." Jawab Kalandra yang seolah terlihat yakin.


"Kita tidur tanpa pakai apa-apa."


"SETUJU, memang harusnya seperti itu Istriku." Kalandra ingin sekali bersorak, saat bayangan yang indah-indah seolah menguasai pikirannya, apalagi mengajak hal itu tanpa harus memaksa.


"Tapi, kamu tidak boleh sama sekali menyentuhku dan juga lampu tidak boleh padam sampai pagi, gimana?" Tawar Anyelir yang membuat rasa semangat Kalandra melempem, seperti kerupuk yang terkena air.


"Haish, kamu hanya ingin mempermainkan aku saja kan!" Umpat Kalandra yang langsung melengis, karena bayangan indahnya sudah buyar.


"Mau nggak?"


"NGGAK USAH!" Tolak Kalandra dengan kesalnya.


"Pfftthh... Kenapa nggak mau, ayolah." Dan dengan gilanya Anyelir malah menggoda Kalandra yang terlihat sangat kesal karenanya.


"Asal kamu tahu saja, sakit tahu nggak nahan begituan, mana kalau dikeluarin sendiri takut lecet lagi, pegel juga tanganku!" Umpat Kalandra yang langsung menggerutu, karena mau tidak mau kemarin dia terpaksa melakukan hal itu di pojokan kamar mandi, karena Anyelir benar-benar membuat si Jaka bangun sampai titik terakhir, jadi daripada belalainya terus hidup, dia terpaksa harus bersolo karir sendiri dengan segala umpatannya.


"Pffthh... makanya, punya pikirannya itu jangan mesvm aja!" Ledek Anyelir.


"Aku mesvm juga karena kamu, tega-teganya sama suami kayak gitu, aku ini masih normal tau nggak, kamu pamer shockbreaker gila-gilaan tanpa boleh aku sentuh, sakit sekali rasanya kepala bawah aku, wahai Istriku!" Ingin sekali Kalandra mencubit gemas seluruh tubuh istrinya itu, namun pasti akan ditolaknya mentah-mentah.


"Ahaha... Syukurin!"


Setelah sekian lama, akhirnya Anyelir bisa tertawa lepas karena Kalandra, bahkan Kanaya yang tidak tahu tentang apa yang mereka bicarakan pun ikut tertawa bahagia karena akhirnya dia bisa melihat kedua orang tuanya bisa akur begini.


"SAYANG!"

__ADS_1


Degh!


Mereka bertiga terdiam ditempat, seolah waktu di dunia ini berhenti berputar setelah mendengar suara panggilan 'sayang' dari belakang tubuh mereka.


"Kalandra sayang, aku rindu kamu." Ternyata Jenny muncul kembali setelah kejadian hari itu.


"Fuh..."


Dengan perasaan yang sangat sulit digambarkan, akhirnya Anyelir memastikan tebakan darinya tentang siapa wanita itu.


"Kalandra, apa kamu tidak mendengarku, aku ingin menjelaskan sesuatu denganmu Sayang?" Ucap Jenny dengan suara yang terdengar centil.


Kalandra sama sekali tidak menoleh, bahkan dia langsung memeluk tubuh mungil Kanaya dihadapannya dan langsung menyembunyikan wajah Kanaya di perutnya agar dia tidak melihat wanita itu.


"Mbak, tolong bawa putriku bermain didepan sana." Pinta Kalandra kepada babysitter Kanaya.


"Biar aku saja yang membawanya bermain, kamu urus saja dia!" Namun Anyelir langsung ingin mengambil alih.


"Nggak, kamu ikut denganku!" Kalandra langsung menarik tubuh Anyelir dan membawanya disisinya.


Kalandra tidak ingin usahanya merayu Anyelir sia-sia hanya karena kedatangan Jenny yang sudah menipunya habis-habisan.


"Tapi---" Anyelir seolah malas saat harus berurusan dnegan Jenny kembali.


Cup


"Kamu istriku, jadi kamu harus selalu menemaniku!"


Namun Kalandra seolah meyakinkan dirinya, bahkan dia memberikan kecvpan didepan Jenny secara live.


"KALANDRA!" Teriak Jenny yang merasa tidak terima, karena pria yang selama ini selalu ada untuknya secepat ini berpaling dengan musuhnya.


"Ayo Mbak, kita main dulu aja, biarkan saja mereka berantem, mumpung lagi libur sekolah ya kan?" Celetuk Kanaya dengan lucunya, dia tersenyum lega saat Ayahnya mencivm bibiir Bundanya didepan Jenny.


Wuidih... Seru nih, putriku aja seneng nonton pertunjukan ini, kasih yang lebih pedes lagi deh, biar tambah panas, karena cemburumu adalah semangatku! muehehe...


"Okey, aku temenin, tapi mau lagi yang kayak tadi." Dan perubahan mimik wajah Jenny seolah membakar semangat dari diri Anyelir.


"Mau kiss lagi, sayang." Rengek Anyelir yang langsung berpura-pura manja sambil mengusap dadaa bidang suaminya.


Dengan senyum yang merekah, Kalandra langsung merangkul pinggang istrinya dan menarik dagunya, untuk memberikan apa yang Anyelir pinta.


"Kalandra, HENTIKAN!" Teriak Jenny dengan wajah penuh emosi.


Jenny berusaha ingin memisahkan mereka namun Anyelir sengaja semakin mempererat pelukannya, bahkan dia membalas civman dari Kalandra dengan syahdunya, juga melilitkan lidahnya agar Jenny semakin terbakar disana.


"Eherm... suamiku, nanti kita mandi bareng lagi ya, sambil mijit mau nggak, punggungku sedikit pegal-pegal, nanti aku kasih service kelas A deh?" Anyelir kembali melanjutkan tingkah gilanya.


"Kelas A, apa itu?" Kalandra sebenarnya paham sandiwara dari istrinya, namun dia sengaja membiarkan saja, apapun itu yang penting Anyelir suka pikirnya.


"Rahasia, yang pasti kamu akan menyukainya." Ucap Anyelir yang semakin membuat Jenny mengipasi wajahnya yang seolah terbakar.


"Janji ya?" Anyelir mengacungkan jari kelingkingnya.


"KALANDRA, kita harus bicara!" Jenny seolah sudah tidak tahan lagi.


"Nggak usah teriak-teriak mbak, kalau mau bicara ya bicara aja, nggak usah pake toac bisa kan, dasar Kampungan!" Umpat Anyelir dengan lirikan sadisnya.


"Kalandra, ada apa denganmu, kenapa kamu diam saja saat wanita ini mengataiku, apa kamu sudah lupa siapa dia?" Jenny ingin kembali menghasut Kalandra agar kembali berpihak dengannya.


"Bukan dia yang aku lupa, tapi kamu!" Jawab Kalandra dengan senyum tipisnya, sesungguhnya dia masih tidak percaya jika Jenny seperti itu, namun kejadian kemarin masih terekam jelas di pikirannya.


"Kalandra sayang, maafkan aku." Rayu Jenny kembali.


"Kamu bukan Jenny yang aku kenal dulu dan kamu bukan Jenny yang pernah aku suka." Ucap Kalandra yang seolah enggan tersentuh oleh Jenny walau hanya seujung kuku.


"Kalandra, wanita ini pasti menghasutmu kan, dia itu pandai bicara, aku menikah dengan Ken itu karena terpaksa." Dia mulai berdalih kembali agar misinya sukses.


"Heleh, drama! Suami elu nggak bilang tuh kalau kalian menikah terpaksa, bilang aja kamu iri karena Kalandra sering tidur denganku, tapi tidak pernah menyentuhmu, ya kan?" Anyelir semakin menambah bara didalam api kemarahan Jenny.

__ADS_1


"Diam kamu, dasar Pengecut!" Teriak Jenny dengan senyum liciknya.


"Kamu yang harusnya diam!" Kalandra langsung membela istrinya.


"Kalandra, wanita ini pasti menghasut kamu kan,dia itu penipu, dia itu pengecut yang selalu lari dari masalah dan tidak mau bertanggung jawab dengan segala perbuatannya, dia itu penjahat yang hampir membunuhku Kalandra, ayolah sadar Kalandra, kembalilah padaku, kita mulai semua dari awal dan aku sudah meninggalkan Ken demi kamu." Ucapnya dengan wajah yang dulu selalu membuat Kalandra lemah karena tidak tega.


"Heleh... Aku kok nggak percaya kamu yang meninggalkan, pasti juga Mr.Ken yang udah benci sama kamu!" Umpat Anyelir yang langsung meragukannya, tidak mungkin menikah paksa sedangkan Ken begitu terlihat sangat menyayanginya.


"Hei, jangan asal bicara kamu!" Teriak Jenny kembali.


"Cukup Jenny! kemarin aku sudah bilang, bahwa hubungan kita sudah usai dan jangan temui aku lagi, apa kamu lupa!" Saat Jenny bergerak maju ingin menyerang Anyelir, saat itu juga Kalandra langsung jadi penengahnya.


"Kalandra, apa kamu rela mengorbankan hubungan kita yang sudah terjalin lama demi wanita pengecut ini?" Jenny terus saja mengeluarkan senjata rayuannya.


"Hedeh... bener kata orang, Pelakor itu tidak perlu lebih unggul dalam segala hal dari istri Sah, tapi cukup nggak tahu diri aja." Celetuk Anyelir dnegan tatapan jengahnya.


"Tutup mulutmu Anyelir, dasar Rubah Betina kamu!" Hujat Jenny dengan kasarnya.


"Ahaha... Kalau aku Rubah Betina kamu apa? Mbak Pelakor gitu, perempuan j@l@ng otak kotor! sok-sokan main dua, kamu pasti hanya mengincar harta mereka berdua saja kan? Dasar cewek mata duitan, missquiin kamu!" Anyelir pun bisa membalas ucapan Jenny, bahkan lebih mengena di ulu hati.


"Diam kamu, aku dan Kalandra saling mencintai dari dulu, andai kamu tidak membuatku jatuh dari atap, mungkin sekarang aku sudah hidup bahagia dengan Kalandra." Teriak Jenny sekuatnya.


"Okey, mumpung kita bertiga ada disini, kita bisa cari tempat buat ngobrol bareng, biar kita perjelas masalahnya." Sudah lama sekali Anyelir ingin melakukan hal ini, namun selalu tak pernah punya kesempatan.


"Cuih... Aku tidak sudi berbicara dengan wanita pengecut sepertimu, aku hanya ingin mengambil kekasihku kembali." Jawab Jenny yang sudah pasti menolaknya.


"Ahaha... Kamu pasti takut kan, karena semua yang kamu katakan dengan Suamiku itu hanya akal-akalanmu saja!" Ledek Anyelir sambil tersenyum miring.


"Enak saja,memang kenyataanya kamu yang membuatku jatuh kok, lalu kamu kabur dari negara ini dan berlindung dibawah ketiak orang tua kamu kan!" Hujat Jenny dengan berbagai alasan.


"Okey fine, saat itu aku memang pengecut karena memilih pergi, tapi yang pasti kecelakaan ini terjadi bukan hanya karena aku, bahkan kamu main tangan terlebih dulu dan kamu juga yang mendorongku saat itu, aku hanya reflek saja saat membalasnya." Jelas Anyelir.


"Nggak usah membela diri kamu!" Jenny mulai panik saat Kalandra sudah memelototi dirinya.


"Itu faktanya, aku memang membalas dorongan tanganmu, tapi tidak sampai jatuh, kamu sendiri yang meleset saat berjalan mundur dan menarikku saat aku berusaha menolongmu!"


"Sekali pengecut tetap pengecut, dimana-mana Penipu tak pernah mau mengaku!" Jenny langsung menentangnya habis-habisan.


"Demi Allah, aku tidak bermaksud ingin mendorongmu sampai jatuh, memang tidak ada CCTV disana, itu kenapa aku tidak bisa mengungkap kebenarannya di mata semua orang, tapi Allah tidak tidur, dia tahu siapa yang curang dan siapa yang penipu disini, apa kamu berani disumpah oleh Pak Ustad? Ayo kita lakukan berdua!" Tantang Anyelir yang semakin membuat Jenny panas dingin karena takut aibnya terbongkar.


"Cih... Aku sudah malas berurusan denganmu, karena pasti uang yang akan menyelesaikan segalanya." Jenny memang pandai berbicara jika seperti ini.


"Biar Kalandra yang mengurusnya, aku tidak akan ikut campur, bagaimana?"


"Aku sudah muak denganmu Anyelir, dan aku tidak sudi berhubungan soal apapun denganmu!" Jenny bahkan berteriak-teriak dengan kesal.


"Ahahaha... Lihatlah suamiku tersayang, dia pasti takut melakukan hal itu, karena memang dia penyebab utamanya, bukan aku!" Dan Anyelir memilih menggandeng lengan suaminya saat Jenny terus saja mencari pembelaan agar terlihat baik didepan Kalandra.


"Diam kamu Anyelir, aku benci kamu!" Teriak Jenny dengan lantamnya.


"CUKUP! Sudahlah.. sebelum kita mengundang kerumunan banyak orang disini, Jenny cepatlah pergi!" Kalandra seolah mengusir Jenny secara tidak langsung, karena mereka menjadi pusat perhatian di Lantai bertingkat itu.


"KALANDRA, aku sayang kamu, aku mau kita balikan sayang, jangan dengarkan ocehannya itu semua tidak benar sayang." Jenny mulai beraksi kembali.


"Selama ini mungkin aku sudah cukup menyiksa Anyelir demi kamu, dan sekarang aku sudah berjanji untuk membahagiakan Anyelir, bukan kamu lagi prioritasku Jenny, paham kamu."


"Kalandra, mana janjimu dulu ingin setia denganku, hah!" Jerit Jenny sok dramastis.


"Janji setiaku sudah hancur lebur saat kamu menipuku selama tiga tahun itu, pergilah sebelum emosiku meledak disini!" Umpat Kalandra yang seolah sudah tidak perduli lagi dengan segala tentang Jenny.


"Kalandra, aku---"


"PERGI KAU JENNY, AKU BENCI PENIPU SEPERTIMU!" Teriak Kalandra yang semakin terbawa Emosi karena Jenny terus saja merayunya.


"Kalandra, aku tetap akan menunggumu." Dan itu kata-kata terakhir dari Jenny sebelum dia pergi darisana.


"PERGI!"


Bahkan suara Kalandra melengking di lantai Gedung itu, membuat semua mata tertuju kearah mereka.

__ADS_1


Dia benar-benar murka dengan Jenny saat ini, dia bahkan tidak perduli mau siapapun yang salah dalam tragedi jaman sekolah dulu, tapi yang pasti Jenny adalah seorang penipu bagi Kalandra, dan menurutnya seorang penipu itu pasti akan kembali menipu untuk menutupi segala tipu daya yang lain dari dirinya.


__ADS_2