
Ketika dirasa harapan sudah mulai menghilang, percayalah bahwa rencana Allah itu lebih sempurna dari harapan kita.
Saat ini Anyelir benar-benar merasa lega, karena apa yang dia takutnya ternyata tidak menjadi kenyataan.
Dan kini suasana hatinya benar-benar sangat bahagia, bahkan dia bersenandung ria sambil mengguyurkan tubuhnya dibawah shower kamar mandi, padahal biasanya dia selalu menumpahkan air matanya saat berada didalam kamar mandi, agar tidak ada seorang pun yang tahu kalau dia sedang menangis.
"Aduh.. aku lupa belum bawa baju ganti." Saat sudah selesai mandi Anyelir baru teringat kalau dia hanya membawa handuk saja dan meninggalkan baju gantinya diatas tempat tidur, akhirnya perlahan dia keluar dari kamar itu dengan handuk yang sudah terlilit ditubuhnya
"Kenapa berjalan mengendap-endap seperti maling?" Celetuk Kalandra yang tiba-tiba muncul dihadapannya.
"Heh, awas jangan melihatku, aku mau ambil bajuku dulu." Anyelir langsung menyilangkan kedua tangannya diatas dadaanya dan mengambil bajunya dengan langkah gesit.
"Ambil saja, kenapa harus terburu-buru?" Tanya Kalandra sambil tersenyum heran, ada saja tingkah istrinya yang terkadang membuatnya tertawa geli.
"Jangan menatapku seperti itu?" Ucap Anyelir yang langsung melotot kearah suaminya.
"Kenapa sih, apa kamu malu? bahkan aku sudah sering melihat semuanya wahai istriku?" Ucap Kalandra yang malah sengaja ingin menggodanya.
"His.. kamu ini memang mesvm sekali!" Umpat Anyelir yang langsung melengos dan ingin berlari kearah kamar mandi.
"Awas lantai itu lic--"
Brak!
Belum juga Kalandra selesai bicara, namun Istrinya benar-benar terpleset dan jatuh terlentang didepan kamar mandi.
"Aw... kenapa lantainya licin sekali?" Anyelir hanya bisa meringis saat merasakan pinggangnya yang sedikit nyeri karena terbentur, bahkan lilitan handuknya langsung lepas tanpa dia sadari dan akhirnya tanpa sengaja Anyelir menampilkan segalanya diruang terbuka bahkan dengan suasana terang benderang.
Glek!
Walau Kalandra sudah melihat berkali-kali, namun kenyataannya jakunnya sontak naik turun berulang kali saat melihat pemandangan didepan mata, bahkan kali ini tubuh istrinya terlihat lebih istimewa, apalagi masih tersisa percikan air disana, membuat kemolekan tubuh istrinya seperti buah ranum segar yang baru saja dipetik dari pohonnya.
Grep!
Jiwanya sebagai lelaki sejati langsung tergerak, Kalandra langsung mendekat dengan gesit dan menggendongnya kedalam dekapannya untuk dibawa keatas ranjang di villa itu.
"Istriku, mau dapat pahala nggak?" Tanya Kalandra sambil berbisik dengan mesra.
"Enggak, ini masih siang, lagian kamu yang banyak dosanya bukan aku, jadi jika pahalaku sedikit tentang itu pun tidak masalah." Jawab Anyelir yang sudah curiga dengan arah pandangan kedua mata suaminya.
"Aku tahu, bahwa selama ini aku memang banyak sekali membuat dosa denganmu, tapi aku juga manusia sayang, yang tak luput dari khilaf dan dosa, lalu apa aku tidak boleh memperbaikinya dan berada dijalur yang benar?" Kalandra meletakkan Anyelir diatas ranjang perlahan dan mengungkungnya dengan kedua tangannya yang kokoh berotot itu.
"Bukan seperti itu juga, tapi--"
Cup!
Kalandra seolah tidak membiarkan istrinya mencari alasan, dia langsung menyambar saja bibiir mungil yang jarang dia cicipi itu.
"Tapi kamu yang menggodaku terlebih dahulu dan aku sudah tidak tahan lagi sayang." Bujuk Kalandra dengan segala rayuan mautnya, sejak pertama kali dia menyentuh Anyelir, tubuh istrinya itu memang seolah candu baginya, walau dia pergunakan secara paksa sekalipun, namun karena egonya yang tinggi dan rasa dendam yang salah, dia selalu menahannya.
__ADS_1
"Siapa yang menggodamu, aku itu terjatuh tadi." Umpat Anyelir yang hanya bisa mencubit pinggang suaminya, karena tubuhnya sudah terhimpit dengan tubuh Kalandra.
"Aku janji, tidak akan menjadi Kalandra yang kasar seperti dulu lagi." Walau terkadang dengan sedikit paksaan memang ada sensasinya tersendiri.
"Kalandra, ini masih siang, bahkan kita tadi pesen makanan juga kan?" Anyelir ingin pergi dari sana, namun dia tidak bisa.
"Masih lama, dan aku sudah haus." Kalandra mulai menundukkan kepalanya.
"Ya sudah, awas biar aku ambilkan minum saja!" Anyelir ingin mendorong tubuh suaminya, namun lagi dan lagi dia tidak kuat.
"Aku mau ini." Rengek Kalandra sambil menenggelamkan kepalanya diantara dia bukit kembar yang menantangnya sedari tadi.
"Jangan, ehh.. emh!"
Namun Anyelir tidak bisa mencegahnya, saat Kalandra sudah seperti orang yang berada di padang pasir yang terik dan kurang asupan air.
Setelah meninggalkan bekas-bekas bibiirnya mengelilingi dua gunung itu, Kalandra mengusap lembut wajah istrinya dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Anyelir.
"Anyelir, maafkan aku, tolong jangan larang aku untuk mendapatkan hakku menjadi suamimu." Walau semua seolah sudah tidak tertahan, tapi dia tidak mau memaksakan kehendaknya hari ini, dia ingin benar-benar meninggalkan kesan yang indah untuk istrinya.
"Lalu bagaimana dengan hakku sebagai istrimu?"
"Aku pasrah aja, kamu mau ngapain aku juga terserah, tapi kamu tahu sendiri kondisi keuanganku seperti apa, jadi selain kemewahan aku bisa memberikan apa yang kamu mau."
Plak!
"Kamu pikir aku Matre! aku bahkan lebih kaya raya dibanding kamu!"
Plak!
"Jangan bandingkan aku dengan Jenny, mengerti kamu!" Anyelir kembali memukul wajah suaminya dengan gemas.
Ya ampun, selama ini ternyata aku sudah menyia-nyiakan bidadari sepertinya, sudah cantik, baik, bahkan dia tidak gila harta.
"Sakit sayang, kenapa kamu tega memukul suamimu?" Rengek Kalandra sambil memonyongkan bibiirnya.
"Benarkah? Maaf, aku pikir tidak terlalu keras tadi." Anyelir langsung mengusap pipi suaminya saat wajah Kalandra seolah benar-benar tersakiti.
"Kamu jahat!" Umpat Kalandra sambil kembali nyungsep dipelukan hangat istrinya.
"Heleh... begitu doang kamu bilang jahat, seharusnya aku menamparmu lebih keras daripada itu, saat kamu selingkuh dengan Jenny."
"Sayang, itu kenapa ada Tokek diatas sana?" Saat mendengar kata Jenny Kalandra langsung mengalihkan pembicaraan mereka.
"Mana? masak Villa bagus ada Tokeknya, emh!"
Dan saat Anyelir teralihkan dengan si Tokek, ternyata Kalandra langsung melahap buah ranum yang ada didepan matanya kembali, bahkan dia sudah seperti anak Balita yang sedang kehausan tanpa mau memberikan jeda walau hanya sebentar saja dan itu cukup membuat kedua mata Anyelir merem melek karena menahan segala rasa, titik kelemahannya memang ada di dua benda itu, jika sudah tersentuh dengan penuh penjiwaan, seolah dia bisa menggila seketika.
Lama kelamaan hawa diruangan itu seolah mulai memanas, angin sepoi-sepoi dari Lautan seolah masuk kedalam Villa kecil namun sangat asri itu.
__ADS_1
"Kala, aku---"
Anyelir seolah sudah tidak berdaya saat tangan Kalandra mulai merayap dan menyusup mencari celah-celah tersembunyi dihadapannya.
"Aku cinta kamu." Kalandra tersenyum sambil meneruskan kata-kata istrinya menurut versinya.
Dia melakukan semuanya dengan lembut, menggunakan teknik menjiwa, sehingga Anyelir hanya bisa menggelinj@ng ke kanan dan ke kiri saat menerima setiap sentuhan darinya.
"Kala STOP!"
Saat tusuk sate itu hampir saja melesat melewati daging-daging selain hewan, dengan sekuat tenaga yang tersisa Anyelir langsung menahannya.
"Sayang.. si Tokek sudah pening ini!" Tampang Kalandra langsung terlihat kusut, karena harus gagal saat semua mesin sudah menyala dan siap terbang.
"Aku tidak perduli, sebelum kamu janji satu hal denganku?"
Wanita memang paling bisa menahan segala rasa dan menyembunyikannya dengan rapat, walau sebenarnya rasa itu lebih besar dari seorang pria.
"Katakan, aku sudah on air ini." Umpat Kalandra sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Berjanjilah, jangan ada wanita manapun dihidupmu selain aku."
Titik permasalah rumah tangganya dengan Kalandra itu memang hanya Jenny, soal harta, jabatan dan kekayaan itu tidak pernah menjadi masalah bagi Anyelir.
"Kalau Kanaya?" Tanya Kalandra saat mengingat putrinya.
"Itu anak kita Tokek, bisa serius nggak atau aku kabur nih!" Anyelir malah jadi kesal sendiri, karena Kalandra malah terlihat bercanda, apalagi senyumnya begitu cerah saat mengatakannya.
"Sayang, aku memang manusia yang punya ribuan kesalahan, dari kesalahanku padamu dan pada diriku sendiri dan penyesalan memang tidak ada gunanya, tapi hanya itu yang bisa aku lakukan untuk sekarang ini, dan serapuh-rapuhnya aku saat dikadalin sama Jenny, nggak mungkinlah aku mau masuk ke lubang kesalahan untuk yang kedua kalinya?" Kalandra langsung menangkupkan kedua tangannya di wajah cantik istrinya.
"Kamu tidak akan mengulanginya lagi bukan?" Anyelir seolah masih merasa trauma, namun dia juga tidak rela jika Kalandra dimiliki wanita lain lagi, karena rasa sayangnya masih tersimpan rapi didalam hatinya.
"Aku kan sudah janji tidak akan mengulangi kesalahan terbodoh dalam hidupku, berikan aku kesempatan sekali lagi, untuk bisa mencintaimu lebih dari sebelumnya, tolong maafkan aku." Kalandra menautkan kening mereka, dia begitu bahagia saat melihat ada rasa cemburu lagi di sosok istrinya yang kemarin hampir tidak memperdulikan dirinya.
"Jika kamu mengulanginya, jangan harap kamu bisa hidup dengan tenang!" Ucap Anyelir dengan rasa yang seolah menggebu-gebu.
Bruk
Entah ada bantuan darimana, namun Anyelir berhasil menggulingkan tubuh suaminya yang tadinya menindihnya hingga dia berada diposisi atas saat ini, dan tanpa disengaja senjata milik Kalandra pun berhasil tertanam didalamnya, bahkan masuk dengan sempurna.
Slep!
"Ehh... emh... lanjutkan sayang, kamu hebat sekali!" Dan senyum Kalandra langsung mengembang, saat tubuh mereka kini sudah menyatu.
"Hah, ehh.. Tokek!"
Apa salahnya menyenangkan hati suami, itung-itung cari pahala, apalagi sama-sama endull, ternyata part duahh memang nikmat terasa.
Awalnya Anyelir merasa sangat malu saat menyadarinya, namun saat melihat senyum kebahagiaan dari suaminya, dia mulai menggerakkan tubuhnya maju mundur cantik, hingga pertempuran itu dimenangkan oleh Anyelir sebagai pemimpin permainan.
__ADS_1
Dalam kehidupan rumah tangga, jika keduanya sudah bisa saling memahami dan memaafkan, hanya dengan berhubungan di ranjang saja sudah mampu meredakan amarah dan mengembalikan mood pasangan, itulah kelebihan jika kita sudah menikah.
Yang pada nggak punya Tokek, silahkan cari di Kebon😂