
Dengan suara gelak tawa yang menggelegar, mereka bertiga akhirnya masuk kedalam mobil dan segera pergi meninggalkan Cafe itu.
"Nanti kalau suatu saat kita bertemu mereka lagi diluar gimana, trus mereka balas dendam dengan kita, apa yang harus kita lakukan gaes?" Anyelir tiba-tiba merasa risau, karena mereka sedang berada di negara lain, bisa saja mereka tidak terima dan memberi pelajaran kepada mereka, karena sebenarnya rumah Oma tak begitu jauh dari Cafe itu.
"Tidak ada kata suatu saat, setelah wisuda kita langsung pulang ke negara kita saja!" Ucap Adinda dengan mantap, seolah dia sudah memikirkan masa depan yang cemerlang di negara nenek moyang sendiri.
"Balek Kampung... ooo... Balik Kampung! Aduh udah rindu banget gue sama makanan di negara kita, dari Bakso Tumpeng sampai Bakso Beranak yang tak tahu bapaknya dimana, trus mie ayam, somay, cilok, batagor, aaaaaaa... aduh jadi lapar gue!" Celoteh Alenka yang begitu merindui jajanan khas pinggir jalan saat mereka masih menuntut ilmu di bangku sekolah dulu.
Cekit!
Tiba-tiba Anyelir langsung mengerem mobilny mendadak dan menepikan mobilnya di bawah pohon yang cukup rindang di pinggir jalan.
"Emm... kalian berdua aja nanti yang balik, gue mau menetap disini saja nemenin Oma." Wajah Anyelir langsung terlihat lemas, hal inilah yang paling ditakutkan jika ia sudah selesai menuntut ilmu di bangku kuliah.
"Anyelir, kamu kok gitu sih?" Adinda langsung menatap jengah ke arah Anyelir, karena dari sorot matanya saja sangat terlihat bahwa seolah dia kembali merasakan ketakutan jika sudah menyangkut tentang apa yang terjadi di masa belia nya dulu.
"Maaf gaes, tapi aku nggak mau pulang!" Anyelir pun bingung, harus mencari alasan apa di setiap tahunnya jika Adinda dan Alenka mengajaknya untuk pulang mengunjungi kedua orang tuanya.
"Anyelir, ini sudah beberapa tahun berlalu, gosip kamu pun sudah tertimbun dengan ribuan atau bahkan jutaan gosip yang baru, ayolah gaes, move on, jangan selalu terjebak dengan masa lalu kamu, okey?" Adinda tahu betul, sebenarnya sahabatnya itu juga pasti sangat merindukan semua tentang tanah kelahirannya.
"Iya Anye, sudah bertahun-tahun kamu menahannya sendiri, itu bukan sepenuhnya salah kamu kan, jelaskan dong kepada semua orang jika mereka ingin tahu, agar mereka tidak salah paham lagi denganmu." Alenka langsung menawarkan bahunya agar sahabatnya itu bisa bersandar, dia tahu betul beratnya masalah itu.
"A-aku sudah nyaman tinggal disini!" Anyelir mencoba mencari alasan yang terdengar masuk akal, walau raut wajah tidak bisa ia sangkali.
"Bohong!" Jawab kedua sahabatnya dengan kompak, mereka tidak percaya dengan ucapan Anyelir.
"Kami sudah menemanimu disini, rela meninggalkan semuanya, masak kamu nggak mau nemenin kita pulang?"Adinda pun tak mau kalah, dia takut Anyelir hanya terlalu menaruh harapan kepada satu orang pria di masa lalunya, sedangkan dia saja belum tahu rencana Tuhan yang sebenarnya.
__ADS_1
"Maaf!" Dan Anyelir hanya bisa kembali menundukkan kepalanya.
Bahkan sampai sekarang dia seolah masih terbayang-bayang akan kejadian kala itu, terkadang juga sampai terbawa mimpi.
"Bahkan aku rela meninggalkan Aa Rico, sampai hubungan kami harus putus, apa pengorbanan kami tidak cukup untukmu?" Hal yang tidak pernah Alenka ungkit selama ini akhirnya terpaksa dia lakukan, walau sebenarnya dia tidak tega.
"Tolong jangan paksa aku Gaes!" Anyelir sebenarnya sedang berperang batin, karena ayah dan ibunya pun menyuruhnya untuk pulang, karena siapa lagi penerus keluarganya kalau bukan dirinya.
"Kalau tidak dipaksa, seumur hidup kamu akan terjebak dalam masa lalu kamu, apa cita-citamu hanya mau menjadi sad girl?" Alenka tidak ingin sahabat baiknya hancur karena hal ini, umur mereka pun sudah semakin bertambah, pikiran mereka juga sudah lebih dewasa.
"Pokoknya setelah wisuda kita pulang, kita bekerja di negara kita, hadapi semua masalah yang ada, jangan lari kayak anak TK hanya karena berantem dengan teman satu kelasnya, mengerti!" Ucap Adinda yang memang sosok paling keras diantara mereka.
"NGGAK!" Jerit Anyelir sambil membuang pandangannya ke luar jendela mobil.
Maafkan kami Anyelir, ini tidak seperti yang kamu kira, tapi hal ini kami lakukan karena kami sangat menyayangimu.
"Pikirkan itu baik-baik Anyelir! karena sejatinya, seseorang yang sudah dewasa akan berani dan mampu menghadapi segala resiko yang ada di depan mata." Ucap Alenka kembali.
"ADINDA! ALENKA!" Anyelir langsung protes saat dirinya seolah dipojokkan oleh kedua sahabatnya.
"Bye!"
Mereka berdua langsung kompak memilih turun dari mobil terlebih dahulu dan mencari kendaraan umum saja.
"Astaga, kalian berdua ini kenapa, kembali woi?"
Anyelir hanya bisa meletakkan kepalanya di gagang stir mobil, saat kedua sahabatnya bahkan tidak mau lagi menoleh ke arah mobilnya, air matanya yang sudah lama tidak keluar kini mulai berjatuhan membasahi pipi mulusnya.
__ADS_1
A few moment later...
"Gue nggak tega sebenarnya Din!" Alenka seolah tidak tega saat melihat wajah kalut dari Anyelir tadi.
"Gue pun sama, tapi kita harus tetap melanjutkan rencana kita, dia harus berani menerima kenyataan dan menghadapi segalanya, agar tidak selalu menjadi beban berat didirinya, apa kamu mau dia menua dan mati dengan masa lalunya?"
Dua orang ini pergi ke Cafe untuk sekedar melepas lelah dan dahaga dari teriknya sinar mentari seharian tadi.
"Enggak juga sih, aku sebenarnya ingin kita bisa menikmati hari-hari tua dengan kalian seperti dulu lagi, tapi aku tidak mau terus-terusan berjauhan dengan orang tuaku. " Alenka mengingat masa-masa ceria ditempat-tempat favorit mereka saat masih sekolah.
"Ya sudah, pokoknya kita jangan goyah, kali ini misi kita harus berhasil, Tuhan tahu kalau kita hanya berbohong, tapi jika demi kebaikan seseorang, aku rasa kita dimaafkan, ya kan?" Adinda kembali meyakinkan Alenka agar tidak terbawa perasaan.
"Huft... maaf ya Anye, sebenarnya kami berdua hanya terlalu sayang dengan Elu dan ingin membantumu lepas dari belenggu masa lalu." Adinda menyandarkan kepalana dibahu Adinda sambil memejamkan kedua matanya.
"Kita lanjut aksi ngambek kita okey?" Adinda kembali menyemangati Alenka yang seolah sudah putus asa.
"Ya sudahlah, aku yakin setiap masalah yang pernah terjadi pasti akan memberikan kita kedewasaan yang lebih."
Setelah matahari mulai tenggelam, Adinda dan Alenka langsung berjalan bergandengan tangan menyusuri trotoar jalan dan berencana tidak ingin pulang kerumah Oma, agar Anyelir benar-benar mengira kalau mereka marah.
Mereka berfikir waktu tiga tahun lebih itu sudah sangat cukup untuk mengubur segala kenangan buruk Anyelir dan memulai kembali semua dari awal.
Walau ada Oma Anyelir yang berada disana, namun kedua orang tua mereka masing-masing tetap hidup menetap di negara tercinta, Adinda dan Alenka ingin tumbuh dewasa bahkan menua dan menikmatinya dengan melihat kedua orang tua mereka dalam jarak dekat, bukan antar negara seperti sekarang ini.
Terkadang Tuhan mengenalkan padamu orang yang membuat kamu menangis, agar engkau mensyukuri orang yang membuatmu tertawa.
Setelah beberapa hari nggak up, akhirnya Author kembali muncul dengan mengucapkan 'Selamat Hari raya Idul Fitri 1444 H, mohon maaf lahir dan batin' bagi yang menjalankan.🙏
__ADS_1
Mari kita lanjut menghalu berjamaah lagi Bestie2kuh🙂🙃