Ketika Aku Memilih Diam

Ketika Aku Memilih Diam
38.Jeritan sebuah Doa.


__ADS_3

Walau belum akhir pekan, kusus hari ini Sean bisa liburan gratis, bahkan mendapatkan bonus gajian pula itu, namun yang lebih membuat Sean merasa bahagia, rasa rindu terhadap almarhumah adeknya bisa terobati dengan melihat Kanaya.


"Permisi Nyonya Anyelir, apa anda sudah siap?"


Saat Sean datang, pintu rumah mewah itu sudah terbuka, namun seolah tidak ada penghuninya.


Dugh!


"Sudah aku bilang, panggil aku Anyelir saja." Tiba-tiba sepatu Kanaya sudah teronggok dihadapan Sean dan berhasil membuat Sean kaget.


"Astaga Anye, kamu ngapain duduk klesotan di lantai seperti itu?" Sean hanya bisa melongo melihat Anyelir yang duduk seperti gelandangan di rumah mewahnya sendiri sambil memegang sepatu Kanaya yang hanya tinggal sebelah.


"Capek aku bujuk si Kanaya, tapi dia tidak mau membuka pintunya kalau bukan Ayahnya yang datang."


Sedari tadi Anyelir sudah membujuk putrinya dengan berbagai cara dan iming-iming liburan, namun tidak mempan sama sekali.


"Apa Anda sudah mencoba menghubungi suami Anda?" Tanya Sean yang malah ikut duduk lesehan dengan santainya seperti di warung pecel lele.


"Untuk apa aku menghubungi orang yang sedang selingkuh, lagian ponsel dia tertinggal di mobil kemarin." Umpat Anyelir dengan wajah kesalnya, dia pun tidak bisa berbuat apa-apa, kalau mengingat suaminya hanya ada rasa sakit yang mendera.


"Owh iya, maaf lupa." Sean merasa tidak enak hati, karena harus mengingatkan kejadian ķemarin yang pastinya terasa sangat berat bagi Anyelir.


"Gimana dong, Kanaya nggak mau buka pintu, aku takut dia kenapa-kenapa didalam kamar, mana dia belum makan dari kemarin, apa kita dobrak saja pintunya?" Anyelir takut jika putrinya nekad kalau sudah ngambek, sebelumnya dia tidak pernah seperti ini.


"Jangan mengajarkan kepada anak tentang kekerasan Anyelir, bujuk dulu dia dengan cara baik-baik." Ucap Sean yang lansung berjalan mendekat ke arah pintu kamar Kanaya.


"Aku sudah melakukannya sedari tadi Sean, tapi dia tetap tidak mau membuka pintunya." Umpat Anyelir yang seolah sudah kehabisan cara.


"Boleh aku coba?" Tanya Sean meminta izin terlebih dahulu.


"Aku yang brojolin dia ke dunia ini saja ditolaknya, gimana dengan kamu? tapi coba dulu aja deh, kalau kamu berhasil bonus kamu nambah lagi." Ucap Anyelir dengan wajah pasrahnya.


"Anda ini, apa-apa langsung disangkut-pautkan dengan uang, tapi okeylah, aku pun suka." Celetuk Sean dengan senyum gilanya, dia sudah membayangkan nomor rekeningnya bulan ini akan banyak angka didalamnya.


"Haish... Dasar perjaka yang satu ini." Anyelir memang tidak pernah pelit jika menyangkut tentang materi, bahkan sejak dia masih di bangku sekolah dulu.


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


"Kanaya, ini Om Tampan yang kemarin, Om boleh ngobrol sama kamu nggak?" Sean langsung mengetuk pintu kamar Kanaya perlahan.


"Cih, Tampan lah konon?" Anyelir langsung tersenyum miring saat mendengarnya, namun dia tetap menyimak juga, dia pun penasaran akankah pria lajang sepertinya berhasil membujuk anak kecil seperti Kanaya pikirnya.


"Kanaya, Om ada tiket pergi ke kebun binatang, kamu mau nggak nemenin Om pergi?" Ucapnya kembali saat belum ada sahutan dan jawaban dari Kanaya.


Brak!


"Nggak mau, pergi aja sendiri!" Tiba-tiba terdengar suara benda keras yang menghantam pintu kamar itu dari dalam.


"Tuh kan, sedari tadi gitu dia, mungkin semua barang-barangnya didalam sudah berserakan di lantai." Umpat Anyelir yang hanya bisa geleng kepala.


"Aku rasa dia ngikut emaknya!" Ledek Sean yang malah tersenyum saat tadipun sepatu Kanaya terlempar ke arahnya saat dia datang.


"Enak saja kamu ini!" Anyelir mengelak, walau dalam hati dia mengiyakan juga, namanya juga anak kandung, yang namanya buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya.


"Kanaya, masak nggak mau nemenin Om sih, nggak kasihan apa sama Om, saat ini Om Tampan lagi jomblo Kanaya?" Ucap Sean dengan nada melasnya.


"Katanya Tampan, kok bisa Jomblo?" Celetuk Kanaya dari dalam yang membuat Anyelir kembali terkekeh sendiri.


"Karena Om terlalu tampan, jadi mereka nggak ada yang minat sama Om, masak kamu nggak mau nemenin Om, nggak kasihan apa, Om sendirian loh nggak punya teman." Rengek Sean yang seolah menjadi bocil seumuran Kanaya.


"Luar biasa perjaka yang satu ini modusnya?" Dan Anyelir hanya bisa menatap wajah Sean dengan gelak tawa, karena bujang yang satu itu benar-benar menjiwai perannya.


"Kanaya, Om sedih banget loh kalau kamu nggak mau nemenin Om jalan-jalan, bisa-bisa nanti Om ditertawain sama binatang-binatang di kebun binatang itu karena jalan sendirian."


Namun kembali tidak ada suara yang menyahut dari dalam kamar itu, walau Sean sudah berekspresi menyedihkan sekalipun.


"Sudahlah Sean, sepertinya ini tidak akan berhasil, kita berangkat ke kantor saja yuk, mungkin nanti kalau si Mbak yang bujuk dia mau, kalau sama aku dia sering manja." Anyelir langsung berdiri dan ingin bersiap ke Kantor saja, daripada stres meladeni rengekan Kanaya tentang ayahnya.


"Tapi--" Sean seolah masih merasa khawatir dengan Kanaya.


Ceklek!

__ADS_1


Namun tiba-tiba pintu kamar itu terbuka, dan membuat Anyelir kembali memutarkan langkahnya.


"Karena aku baik, okeylah.. aku mau nemenin Om jalan-jalan." Celetuk Kanaya dengan wajah datarnya, tanpa merasa bersalah sama sekali.


"Benarkah?" Sean langsung tersenyum riang karenanya, wajah Kanaya benar-benar membuat rasa rindunya terobati dengan adeknya, karena mereka sama-sama menggemaskan.


"Hmm... Aku sudah ganti baju juga tadi." Ternyata saat suasana didalam hening, Kanaya sedang berganti pakaian, dia bahkan sudah keluar dengan membawa tas slempang mungilnya.


"Woah... kamu cantik sekali, mau nggak jadi pacar Om Tampan?" Ledek Sean sambil berjongkok dan mengusap wajah imut Kanaya.


"Sean, jangan ngajarin anak kecil nggak bener kamu!" Anyelir langsung menyenggol lengan Sean.


"Karena Om Tampan jomblo, aku mau deh, daripada nanti Om nangis kan?" Jawab Kanaya dengan santainya.


"Yeay... akhirnya Om Tampan nggak jomblo lagi, yuk Kanaya kita kencan berdua." Sean mengulurkan tangannya untuk menggandeng tangan mungil Kanaya.


"Hayuk Om Tampan, nanti belikan aku es krim ya?" Ucap Kanaya dengan bibiir monyong imutnya, sambil mengandeng tangan Sean.


"Asiap Tuan Putri, jangan kan es krimnya, gerobaknya juga Om beli buat kamu." Jawab Sean sambil berjalan bergandengan keluar dari rumah itu tanpa memperdulikan Anyelir yang melongo menatap kepergian mereka.


"Cie... Om Tampan bisa romantis juga, tapi kok masih Jomblo, haha!" Pergaulan anak jaman sekarang memang terkadang sudah melebihi batas umur, apalagi anak kecil jaman sekarang sudah pandai bermain ponsel, walaupun belum lancar membaca sekalipun.


"Awas kamu kalau sudah gede nanti, Om pacarin beneran kamu Kanaya!" Ledek Sean sambil mencubit pipi Kanaya dengan gemasnya.


"Ini orang dibilangin jangan ngeracunin pikiran bocah, ngeyel ya!" Anyelir yang membuntuti langkah mereka jadi kesal sendiri dengan ucapan Sean.


"Lari Om, nanti Bunda marah!" Teriak Kanaya sambil menarik lengan Sean.


"Ayo kita kawin lari Kanaya, ahahaha!" Dan Sean pun meladeni permintaan Kanaya dengan ucapan-ucapan gilanya.


"Hayuuk Om, ahaha!"


Seolah kesedihan Kanaya langsung terhapuskan dan tergantikan dengan tawa bahagia, saat dia bersama Sean.


"Astaga mereka berdua ini, kenapa bisa kompak begini, tapi syukurlah setidaknya Kanaya tidak marah lagi."


Jauh didalam lubuk hati Anyelir, dia merasa sangat bersyukur sekali, disaat cobaan berat datang menghampirinya, selalu ada seseorang yang Tuhan kirimkan untuk dirinya, dulu saat dia masih gadis ada Adinda dan Alenka yang selalu ada untuknya, dan kini saat Anyelir sudah punya Kanaya, ada Sean yang datang membantunya.

__ADS_1


Allah tau kamu lelah dan ingin menyerah. Allah tahu posisimu saat ini berada diposisi yang tersulit tapi tenanglah, karena Allah akan selalu mendengar jeritan doa-doamu.


Yakinlah Allah tidak akan mengujimu diluar batas kemampuanmu, karena mungkin ini cara Allah mendidik hati dan jiwamu agar kamu menjadi hamba yang kuat dan selalu dekat dengan-NYA.


__ADS_2