
Suara sirine mobil ambulance mulai berdatangan di gedung sekolah elit itu dan segera memberikan pertolongan pertama kepada Jenny dan Anyelir.
Saat tragedi itu terjadi Tukang Kebun di sekolah itu sedang bersih-bersih rumput di halaman belakang dan tiba-tiba keranjang rumput miliknya dijatuhi oleh dua tubuh murid dari atap gedung belakang sekolah itu.
Apesnya, kepala dan tulang belakang Jenny terhantuk pembatas besi disana, sedangkan Anyelir jatuh diatas tubuh Jenny dan hanya mengalami luka-luka saja, tapi mereka berdua sama-sama tidak sadarkan diri.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka berdua?" Adinda terduduk di lantai bersama Alenka didepan ruang Unit Gawat Darurat di rumah sakit terdekat dari sekolah mereka.
"Entahlah, aku benar-benar menyesal meninggalkan mereka berdua." Jawab Alenka yang ikut lemas melihat kondisi teman-temannya.
"Aku pun sudah curiga sedari awal, tidak biasanya Jenny mau ngobrol dengan siswa lain, apalagi hanya berdua dengan Anyelir." Adinda mencoba menerka-nerka apa yang terjadi, namun dia seolah masih tidak percaya hal ini akan terjadi.
"Pasti terjadi sesuatu dengan mereka, aish... kenapa bisa sampai jatuh dari atap gedung coba?" Walaupun gedung belakang sekolah itu tidak terlalu tinggi, namun jika mereka tidak jatuh di keranjang rumput sudah pasti kepala mereka akan pecah semua.
"Sudahlah, kita doakan mereka berdua baik-baik saja, terlepas siapa dulu yang memulai semua itu." Adinda sedang malas ribut, apalagi mereka ada di rumah sakit umum saat ini.
"Kamu sudah menghubungi kedua orang tua Anyelir?" Tanya Alenka yang ingin memastikan.
"Sudah, tapi wali Jenny aku tidak punya nomornya, jadi aku suruh saja Kalandra yang datang kesini." Ucap Adinda tanpa pikir panjang.
"Kenapa harus Kalandra?" Alenka mempunyai firasat buruk akan kedatangan Kalandra.
"Kenapa rupanya kalau aku yang dihubungi, memangnya apa yang sebenarnya terjadi, pasti teman kalian itu yang bikin onar kan!"?" Tiba-tiba Kalandra datang dan menyela perbincangan mereka dengan tampang ngos-ngosan, dan sudah Adinda dan Alenka pastikan bahwa tadi dia pasti mengkhawatirkan Jenny.
"Kalandra?" Adinda merasa tidak terima, sahabatnya dituduh begitu saja tanpa adanya bukti.
"Harusnya bukan dia yang kamu hubungi Alenka!" Bisik Alenka sambil mengeratkan barisan gigi putihnya.
"Ckk... aku panik, dan yang aku ingat cuma Kalandra, karena dia orang yang paling dekat dengan Jenny." Jawab Adinda yang sedikit menyesal, dia lupa dengan kedekatan mereka berdua.
"Apa teman kalian itu yang membuat ulah?" Tuding Kalandra kembali.
"Kalandra, jangan menuduh Anyelir sembarangan dong?"
"Lalu apa kamu pikir seorang Jenny yang memulai semua ini terlebih dahulu?" Kalandra merasa sudah mengenal dengan dekat siapa Jenny, jadi dia tidak percaya kalau Jenny yang membuat perkara terlebih dahulu.
"Bisa saja, kita tidak pernah tahu sifat asli seseorang kan?" Umpat Alenka, karena sifat orang tidak bisa hanya dilihat dari luarannya saja pikirnya.
__ADS_1
"Hei... aku cukup mengenal baik siapa itu Jenny, dan dia tidak akan pernah mau mencari keributan dalam hidupnya, paham kalian!" Emosi Kalandra langsung naik, apalagi dia belum tahu bagaimana kondisi Jenny saat ini.
"Itu kan didepanmu, siapa tahu didepan orang lain beda?" Adinda langsung menaikkan kedua bahunya.
"Jangan sembarangan kamu menuduh Jenny, apa kamu tetap akan membela sahabatmu itu walau dia yang bersalah?" Kalandra tetap mengira Anyelir lah dalang dari ini semua, apalagi sifat Anyelir yang memang sering sembrono seolah tidak takut apapun.
"Kalandra, diantara kita tidak ada yang melihat kejadian itu, jadi jangan menuduh orang sembarangan."
"Jenny itu orangnya lembut, kalem, penyabar dan nggak urakan seperti sahabat kalian itu, jadi sudah pasti sahabatmu itu yang melakukan hal itu." Tuduh Kalandra kembali.
"Sudahlah, jangan berdebat lagi, yang penting sekarang kita doakan saja untuk kesembuhan mereka berdua." Alenka pun tidak yakin, namun dia pun mengenal Anyelir sudah lama, walaupun dia memang suka ceplas-ceplos kalau berbicara, namun dia paling tidak suka main tangan, apalagi sampai membahayakan nyawa seseorang.
"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Jenny, aku tidak akan segan-segan membuat perhitungan dengan Anyelir!" Kalandra langsung mengepalkan kedua tangannya, bahkan rahangnya mengeras, otot-otot di lengannya pun bermunculan.
"Jangan terlalu yakin, kita bisa tanya kronologinya nanti."
"Tukang kebun kita disekolah juga bilangkan, kalau tubuh Jenny terlebih dulu yang jatuh, dan Anyelir jatuh menimpa tubuh Jenny, apa bukti itu kurang jelas, sudah pasti Anyelir yang mendorongnya terlebih dahulu!" Dia sempat mengkonfirmasi di tempat kejadian sebelum ke rumah sakit.
"Sudahlah, kita mengalah saja, mungkin dia sedang diliputi rasa emosi." Alenka mengusap bahu Adinda.
"Lalu, apa kamu mau jika sahabat kalian itu tinggal di jeruji besi?" Kalandra seolah mengancamnya.
"Hei Kala, jangan ngomong sembarangan kamu, mereka berdua sama-sama jatuh, pakai sedikit hati nurani kamu bisa nggak?"
"Kalian bertiga itu sama saja, egois semua!" Teriak Kalandra yang seolah tidak mau tahu.
"Loh.. Loh.. kenapa jadi kita ikut dibawa-bawa, orang memang nggak ada saksi disana sebelum mereka jatuh kok!"
"Dengan keluarga nona Anyelir?" Saat mereka masih ingin berdebat tiba-tiba pintu ruang unit gawat darurat itu terbuka dan muncullah seorang Dokter disana.
"Iya Dokter, kami berdua saudaranya, kalau kedua orang tuanya baru dalam perjalanan kemari." Jawab Adinda yang langsung mengambil alih.
"Baiklah, saudara pun tidak masalah, nona Anyelir dalam keadaan baik-baik saja, hanya luka-luka dan ada retakan di pergelangan tangannya, tapi sudah kami rawat, hanya tinggal masa pemulihan saja." Jelas Dokter itu.
"Terima kasih Tuhan, terima kasih juga dokter."
"Sama-sama, kalau begitu nona Anyelir akan kami bawa ke ruang rawat inap, apa kalian sudah menyelesaikan administrasinya?"
__ADS_1
"Sudah Dokter, kami pesan ruangan kelas VVIP." Tanpa orang tua Anyelir pun kedua sahabatnya itu bisa mengurus biaya administrasi rumah sakit.
"Baik, kalau begitu nona Anyelir akan segera kami pindahkan."
"Dokter, lalu bagaimana keadaan Jenny, dia juga baik-baik saja kan?" Kalandra langsung mendekati dokter itu.
"Emm... untuk nona Jenny masih dalam perawatan intens, kondisinya sedikit parah, ada benturan di kepalanya dan patah di area tulang belakangnya, beberapa Dokter kami sedang menanganinya." Raut wajah dokter itu terlihat sedikit prihatin.
"APA!" Teriak Kalandra dengan wajah panik.
"Astaga, lalu apa dia akan baik-baik saja Dokter?" Alenka merasa kasian juga saat mendengarnya.
"Kita doakan saja, yang pasti pihak rumah sakit sudah melakukan tindakan semaksimal mungkin, kalau begitu kami permisi terlebih dahulu."
"Baik Dokter, sekali lagi terima kasih."
"Sama-sama, mari."
Dokter itu langsung pamit pergi untuk segera memindahkan Anyelir di ruang rawat inap.
Bugh!
Tiba-tiba Kalandra meninjukan kepalan tangannya ke tembok dengan sangat keras sekali.
"Astaga Kalandra!" Adinda tersentak karenanya.
"Kamu sudah gila ya, sabar dong Kala, lihat jarimu jadi berdarah itu?" Alenka paling ngeri kalau sudah melihat darah.
"Coba sini aku lihat, nanti biar aku ambilkan kotak p3k." Ucap Adinda yang nggak tegaan juga sebenarnya.
"JANGAN SENTUH AKU!"
Wajah Kalandra berubah berwarna merah, bahkan kedua matanya terlihat berapi-api setelah tahu kondisi Jenny dari Dokter unit gawat darurat tadi.
Bahkan Adinda dan Anyelir langsung memundurkan langkah mereka dan berpelukan satu sama lain, karena takut menjadi bahan pelampiasan kemarahan dari Kalandra.
Hidup dan mati ada dalam genggaman Ilahi, Takdir adalah kepastian, namun hidup harus tetap berjalan, proses kehidupan adalah hakikat, sementara hasil akhir adalah syarikat, Tuhan itu akan menilai dari ketulusan perjuangan manusia, bukan hasil akhirnya.
__ADS_1