Ketika Aku Memilih Diam

Ketika Aku Memilih Diam
63.Istri Idaman


__ADS_3

Kalandra sudah berdiri didepan gerbang sebuah rumah yang menjulang tinggi tiga tingkat, dengan perasaan yang sudah tidak karuan.


Berulang kali dia menghela nafasnya secara kasar, seolah belum siap menghadapi sebuah kata pisah dari Anyelir.


"Pak Kala, apa kita salah rumah?" Asisten Kalandra masih setia berdiri disampingnya sebelum Kalandra menyuruhnya pulang.


"Tidak."


"Lalu kenapa bapak tidak masuk?" Tanya Asisten itu dengan tampang heran.


"Sebenarnya aku sedikit takut." Ucap Kalandra yang sedari tadi berjalan maju mundur dengan ragu.


"Takut? Apa rumah ini berhantu? mau saya panggilkan dukun atau pak Ustad gitu?" Asisten Kalandra malah berpikiran lain, karena selama dia mengenal Kalandra seolah dia tidak takut menghadapi manusia model apapun kecuali makhluk halus.


"Kamu ini!" Ingin sekali dia meninju asistennya yang seolah bercanda diwaktu tidak tepat.


"Seriusan pak, saya kenal banyak dukun pengusir hantu biar saya panggilkan kemari untuk menemani bapak." Ucapnya kembali yang langsung mendapatkan pukulan ringan di lengannya.


"Disini mana ada hantu, kamu itu hantunya!" Umpat Kalandra kembali, dia merasa kesal namun lucu juga melihat tampang Asistennya.


"Lalu bapak takut sama siapa? bukannya mertua bapak adalah rekan bisnis kita juga, selama ini beliau juga sangat baik orangnya." Asisten Kalandra juga tahu bagaimana sifat dari Papa Anyelir.


"Itu karena dia tidak tahu saat aku memperlakukan putrinya dengan sangat kejam, apalagi saat ini aku rasa Anyelir sudah menceritakan semuanya karena dia ingin bercerai dariku, jadi aku tidak bisa membayangkan betapa marahnya beliau dengan aku." Hal itulah yang membuat dirinya lemah saat ini, dulu dia bahkan tidak berpikir sejauh ini, karena prioritasnya adalah Jenny, asalkan Jenny bisa bahagia dia akan melakukan apa saja, namun kenyataannya dia yang dianggap istimewa dulu, ternyata membuatnya kecewa.


"Bapak kan belum mencobanya, kenapa sudah mengambil kesimpulan seperti itu."


"Siapapun yang berada diposisi Anyelir pasti akan melakukan hal itu, istri mana yang bisa tahan punya suami kayak aku, pernah menduakan dia, setiap hari memarahinya, dan sekarang aku juga tak punya apa-apa lagi bahkan untuk hidup yang berkecukupan saja entah bisa atau tidak, lalu apa alasan dia untuk bisa terus bertahan denganku." Sebagai seorang lelaki rasa rendah diri itu pasti ada, karena suamilah yang berkewajiban menafkahi istrinya dan memenuhi segala kebutuhannya.


"Jodoh dan rezeki itu rahasia Tuhan pak, jangan menyerah begitu saja, ayo semangat pak, mau aku temankan?" Asisten itu langsung menawarkan diri.


"Tidak perlu, aku tidak ingin kamu melihat aku dalam kondisi terpuruk disaat-saat terakhir aku menjadi atasanmu." Jawab Kalandra yang langsung menolaknya.


"Astaga pak, kalau begitu setelah ini anggap saja saya sebagai rekan anda, gimana?"


"Kamu tidak malu?" Tanya Kalandra yang langsung tersenyum, ternyata masih ada orang sebaik asistennya, walaupun dia tahu betul bahwa kini dirinya sudah bangkrut.


"Kenapa harus malu, bapak sudah mengajarkan banyak hal kepada saya dalam dunia bisnis,dan itu sulit aku dapatkan dengan bos lain, dalam hidup ini wajar kita pernah melakukan salah, tapi jangan pernah menyerah." Dia sedikit menyelipkan sedikit motivasi, agar Kalandra tidak terlalu rendah diri.


"Kamu sudah cocok jadi bos, kalau begitu pulanglah, sampai jumpa esok hari." Jawab Kalandra yang seolah bersyukur karena masih ada orang baik disekitarnya.


"Baik pak, semangat pak, kalau butuh bantuan halus hubungi nomor saya pak, kita cari ajian jaran goyang bareng-bareng, hehe." Dia mencoba membuat lawak agar perasaan Kalandra bisa lebih tenang.


"Kamu ini, sana pulang aku akan berjuang sebisa mungkin,namun jika keadaan memaksaku untuk menyerah, aku hanya bisa pasrah." Kalandra paham posisinya, dia mulai sadar diri.


"Jika dia jodoh bapak, sampai kapanpun itu akan menjadi milik bapak, percayalah pak Kala."


"Hmm.. Terima kasih, hati-hati dijalan." Jawab Kala sambil menggangukkan kepalanya.


Setelah kepergian Asistennya, dia kembali menatap pagar rumah itu dan perlahan mulai membukanya.


Kalandra mencoba berlatih untuk tersenyum, walau bayangan amukan dari kedua orang tua Anyelir sudah membayangi seluruh isi dalam pikiran Kalandra kali ini.


Tok


Tok


Tok


Kalandra mulai mengetuk pintu rumah itu dengan detak jantung yang sudah tidak karuan rasanya.


"Eh... Anak Mantuku datang rupanya, ayo masuk nak Kalandra, sudah lama kita nggak kumpul bareng kan?" Dan orang yang membukakan pintu itu ternyata Mama mertuanya.


"Hah?" Kalandra sontak melongo saat melihat reaksi dari Ibu Mertuanya, padahal dia sudah membayangkan wajah ibu mertuanya itu yang akan berubah menjadi sinis dengan dirinya.


Namun ternyata dirinya malah disambut dengan suka cita, seolah tidak pernah terjadi apa-apa antara dirinya dan Anyelir.


"Kok hah? Ayo masuk, Anyelir dan Kanaya ada didalam, mereka bilang ingin menginap disini karena kamu sibuk bekerja." Jawab Mama Anyelir yang berhasil membuat Kalandra mengerutkan kedua alisnya.


"Anyelir hanya bilang itu Ma?" Tanya Kalandra yang masih mencoba memastikan.


"Huft... Mama tahu perusahaanmu sedang tidak baik-baik saja, jadi kamu memang banyak kerjaan bukan? dan takut jika Anyelir dan Kanaya kesepian di Rumah, makanya kamu mengijinkan mereka untuk menginap disini beberapa hari."


Disanalah tubuh Kalandra mulai kembali melemas, ternyata apa yang dia takutkan tadi sama sekali tidak terjadi.


"Anyelir hanya bilang soal itu Ma?" Tanya Kalandra kembali.

__ADS_1


"Memang ada hal lain yang belum dia ceritakan? Tentang apa, katakan dengan Mama, siapa tahu kami bisa sedikit membantumu?" Tanya Mama Anyelir yang malah terlihat iba dengan anak menantunya.


"Emm... tidak Ma, saya hanya kepikiran mereka saja tadi."


"Percayalah, kalau rezeki itu sudah ada yang mengatur, kalau perusahaanmu memang sudah tidak bisa diselamatkan, lepaskan saja, anak perusahaan dari Papa Mertua kamu kan banyak, kamu bisa milih salah satu untuk mengurusnya, jangan terlalu dipikirkan okey?" Bahkan Mama Anyelir tetap tersenyum dengan santainya, seolah tidak jadi masalah jika anak menantunya kini jadi miskin dan tidak punya apa-apa.


"Iya Ma." Kalandra kini merasa semakin malu, saat mengingat betapa jahatnya dirinya kepada putri dari orang tua sebaik Mama Anyelir.


"Anyelir, suami kamu datang, buatkan dia minuman dan siapkan makan malam untuknya." Teriak Mama Anyelir yang begitu bahagia saat rumah besar mereka tak lagi sepi, karena biasanya hanya ada dia dan suaminya saja.


"Ya Tuhan, entah kebaikan apa yang tidak sengaja aku buat, sehingga kamu memberikan aku istri yang begitu istimewa, padahal kesalahan aku begitu besar, tapi istriku sama sekali tidak menceritakan aib dan masalah kami dengan kedua orang tuanya." Ucap Kalandra perlahan sambil mengusap dadaa bidangnya.


Kalandra masih mematung ditempat dengan kedua mata yang sudah memanas dan mulai mengeluarkan air matanya, hatinya begitu tersentuh saat menyadari bahwa Anyelir adalah seorang istri idaman.


Karena sebaik-baiknya istri adalah dia yang tidak menceritakan aib suaminya atau masalah rumah tangganya dengan siapapun, bahkan dengan kedua orang tuanya sendiri.


Dengan kedua sahabatnya saat itupun Anyelir sebenarnya tetap merahasiakannya, namun karena kedua sahabatnya memergoki sendiri kelakuan Kalandra, jadi terpaksa Anyelir memberitahunya, karena kedua sahabatnya itu juga yang banyak membantunya.


"Ayah!"


Saat Kalandra masih menahan rasa sesak didadaa, tiba-tiba Kanaya berlari menyambut kedatangan dirinya.


"Hai sayang, kamu belum tidur nak?" Kalandra langsung menangkap dan membawa Kanaya kedalam pelukannya.


"Aku belum ngantuk, apa ayah datang sendiri?" Tanya Kanaya sambil melihat arah pintu.


"Iya, Ayah datang sendiri, emang kenapa nak?" Tanya Kalandra yang pura-pura tegar didepan anaknya.


"Ayah tidak membawa wanita itu kan?" Tanya Kanaya sambil menjelingkan kedua matanya.


"Wanita yang mana sayang?" Kalandra belum paham dengan maksud dari putri semata wayangnya.


"Wanita yang datang dan duduk berdua dengan Ayah di Kafe tadi siang." Celetuk Kanaya dengan wajah serius.


Degh!


Astaga, jadi Kanaya benar-benar melihat aku bersama Jenny tadi siang?


"Tentu saja tidak, emm... Dia kan hanya---" Kalandra ingin menjelaskannya, namun Anyelir sudah datang mendekatinya dan langsung memotong ucapannya.


"Tapi aku mau ngobrol sama Ayah dulu." Jawab Kanaya yang seolah belum menemukan jawaban yang dia inginkan.


"Besok lagi ya, Ayah capek baru pulang kerja, okey?" Anyelir pun selalu bisa bersandiwara untuk kebaikan psikologi putrinya.


"Tapu Bun--"


"Katanya kalau nginep di ruamh Nenek mau nurut, hayow mana janjinya?"


"Ckk... Ya sudahlah, Kanaya tidur duluan ya Yah, nanti Ayah juga menginap disini kan?"


"Emm... Ayah--" Kalandra terlihat bingung, dan akhirnya dia menoleh ke arah Anyelir untuk meminta pendapatnya walau tidak secara langsung.


"Ayah banyak kerjaan sayang, jadi jangan paksa Ayah, sekarang temui Nenek dan Kakek diatas." Ucap Anyelir yang langsung membantu menjawabnya.


"Baik Bunda."


Kalau Anyelir sudah melotot, Kanaya pasti sudah takut duluan dan langsung memilih turun dari gendongan Ayahnya dan berlari ke akmar neneknya.


"Anyelir, bisa kita bicara sebentar?" Saat Anyelir ingin melenggang pergi, Kalandra langsung memanggilnya.


"Kopi dan makan malammu ada diatas meja, makanlah sebelum dingin." Jawab Anyelir tanpa mau menoleh kearahnya.


"Anyelir, aku ingin meminta maaf denganmu." Ucap Kalandra yang ingin menggapai jemari istrinya untuk membujuk namun langsung ditepis oleh Anyelir begitu saja.


"Besok saja kita bahas diluar, kalau kamu mau menginap gunakan kamar tamu dibawah, nanti biar bibi yang menyiapkan baju gantimu." Jawab Anyelir dengan juteknya.


"Anyelir, aku ingin menjelaskan sesuatu denganmu?" Ucap Kalandra kembali.


"Aku sedang tidak berminat mendengarkan segala ocehanmu, dan jangan mengajakku bertengkar dirumah kedua orang tuaku, mengerti kamu." Anyelir seolah memberikan ancaman untuknya.


"Fuh..."


Kalandra hanya bisa menjambak rambutnya sendiri, dia ingin menjelaskan semuanya, namun Anyelir seolah menutup diri, akhirnya dia menuju ke meja makan, karena tidak ingin kedua orang tua Anyelir curiga saat mendengar perdebatan mereka.


"Anyelir, kamu ini gimana, masak suaminya dibiarkan makan sendirian, kamu temani dia sana." Tak selang beberapa saat Mama Anyelir kembali muncul disana.

__ADS_1


"Aku sudah kenyang Ma." Jawab Anyelir dengan wajah datarnya.


"Mau kamu kenyang atau tidak, tapi saat suami pulang bekerja kamu harus menemaninya."


"Aku mau beres-beres Dapur dan kamarku juga Ma." Anyelir mencoba mencari alasan untuk menolaknya.


"Biar nanti Bibi yang beresin, tidak ada alasan untuk mengabaikan suami, layani dia sampai nanti dia tidur, mengerti kamu!" Mama Anyelir sedikit mengeraskan volume suaranya, agar putrinya tahu kalau ucapannya tidak main-main.


"Ma, aku--"


"Anyelir, bukannya Mama sudah mengajarkan saat itu, bahkan Surgamu nomor satu saat ini bukan lagi ditelapak kaki Mama, tapi ada pada suamimu, jadi layani suamimu saat dia membuka mata sampai dia memejamkan matanya saat malam tiba, bahkan jika saat dini hari suamimu terbangun, kamu pun harus melayaninya juga, si Kanaya itu sudah pantas diberi adek lagi, Mama mau punya banyak cucu tau nggak, biar rame!" Nasihat Mama Anyelir, walau diakhir kata membuat Anyelir langsung melengos saat mendengarnya.


"Pffth.." Entah mengapa Kalandra malah tersenyum sambil menyeruput kopinya, saat mendengar permintaan Mama Mertuanya.


"Kalandra, kamu menginap disini kan? nanti biar Kanaya tidur sama kami, dan kalian bisa membuat adek Kanaya tanpa ada gangguan, kalau perlu kalian tinggal disini sampai adek Kanaya jadi, okey?" Ucap Mama Anyelir yang seolah membuat keberuntungan di pihak Kalandra.


"Astaga Mama ini ngomong apa sih?" Anyelir langsung menatap jengah wajah Mamanya.


"Kanaya sudah besar Anyelir, jangan kayak Mama yang punya anak satu aja, setelah menikah rumah jadi sepi, jadi kalian harus punya banyak anak, kamu setuju kan Kalandra?" Ucap Mama Anyelir yang seolah membela anak mantu dibanding anak sendiri.


"Eherm... kalau itu terserah putri Mama saja mau apa enggak, karena akhir-akhir ini dia sering menolakku." Ucap Kalandra yang pura-pura polos.


"Astaga Anyelir, dosa nolak suami itu, mau apa kamu masuk Neraka, hah!" Teriak Mama Anyelir yang langsung memberikan wejangan.


"Tapi Ma,aku---"


"Mama nggak mau tahu, setelah suamimu selesai makan dan bersih-bersih cepat layani dia, jangan sampai Mama sendiri yang maksa kamu dan melihat kalian live didalam kamar itu, mengerti!" Mama Anyelir bahkan sampai berkacak pinggang agar putrinya patuh.


"Apa-apaan sih Mama ini!"


"Kalandra, kamu setuju nak!" Tanya Mama Anyelir yang seolah pro dengan Kalandra.


"Siap laksanakan Mama Mertua." Bahkan Kalandra memberikan tanda hormat untuknya.


"Bagus, Mama tunggu kabar baik dari kalian, pokoknya jika nanti malam Mama nggak mendengar suara desa han kalian berdua, Mama gedor pintu kalian dan Mama suruh live didepan Mama!" Tegasnya kembali.


"Ya Tuhan, Mama ini kenapa?" Dan Anyelir hanya bisa kembali menatap jengah kearah Mamanya yang luar biasa itu.


"Istriku, ayo makan lagi, karena main satu ronde saja tidak cukup agar adek Kanaya cepat jadi." Ledek Kalandra yang semakin membuat Anyelir kesal.


"Jangan mimpi kamu!"


"Ya sudah, aku ikut kamu aja, tapi kalau Mama masuk ke kamar kita dan menyuruh kita live didepan beliau jangan salahkan aku, karena aku tidak masalah jika melakukan hal itu denganmu, bahkan didepan siapa aja."


"KALANDRA!" Jerit Anyelir yang semakin kesal karenanya.


"MAMA, ANYELIR NOLAK KALA MA!" Teriak Kalandra yang langsung mengadu.


"Diam kamu, jangan curang dan jangan coba-coba cari kesempatan denganku!" Namun Anyelir lansung melompat dan membekap mulut suaminya.


"Aku sayang kamu Anyelir." Dan saat wajah mereka berada dalam jarak terdekat, Kalandra seolah mengungkapkan isi hatinya yang paling dalam.


"Cih... Aku tidak perduli lagi denganmu!" Anyelir langsung menjauh dari tubuh suaminya.


"Kamu ingin apa dariku?"


"Aku ingin kita pisah." Jawab Anyelir dengan cepat.


"Aku akan memenuhi keinginanmu, tapi ada syaratnya."


"Katakan!" Ucap Anyelir dengan judesnya.


"Aku ingin satu hari saja, kita melupakan semua hal buruk yang pernah terjadi diantara kita, aku ingin benar-benar menikmati hubungan kita sebagai pasangan suami istri yang romantis dan harmonis, bagaimana?" Kalandra tidak berani berharap lebih, dia hanya ingin satu kenangan indah bersama Anyelir dihidupnya.


"Kamu pikir ini kisah dalam dunia sinetron?"


"Jika kamu menolak, aku pun akan menolak keinginanmu, dan jangan harap kamu bisa lepas dariku, apapun yang terjadi." Kalandra sedikit mengancamnya agar Anyelir setuju.


"Kalandra!"


"Only one day, aku janji." Pinta Kalandra dengan suara yang kembali lembut.


"Ckk... Ya sudahlah, kamu atur aja, tapi setelah itu kamu urus surat perceraian kita, secepatnya!" Umpat Anyelir yang memilih mengalah saja, lagipun cuma satu hari saja pikirnya, setelah itu dia akan bebas lepas.


"Hmm."

__ADS_1


Kalandra sudah memikirkan hal ini, dia merasa semakin tidak pantas menjadi suami dari seorang perempuan sebaik Anyelir, dan kini dia hanya ingin satu hari saja merasakan indahnya berumah tangga bersama Anyelir sebagai istri Sahnya, walau setelah itu Kalandra mungkin akan merana, bahkan saat membayangkannya saja seolah dia tidak mampu.


__ADS_2