Ketika Aku Memilih Diam

Ketika Aku Memilih Diam
6.Curiga


__ADS_3

Disaat Anyelir masih menghalu gara-gara sentuhan lembut dikepalanya oleh seorang pria tampan idola dihatinya, entah mengapa Adinda dan Alenka malah merasa ada yang aneh dengan mereka berdua.


"Hei Anye, udah puas menghalunya belum?" Adinda sengaja mengeraskan suaranya agar Anyelir tersentak dalam lamunan panjangnya.


"Apaan sih gaes, siapa juga yang menghalu, ini semua nyata dan fakta tau nggak!" Sedangkan Anyelir terus menggangap pria idamannya itu selalu sempurna dalam segala hal.


"Elu nggak merasa ada yang aneh gitu?" Alenka juga ingin meyakinkannya, karena dia tidak ingin sahabat baiknya itu terluka nantinya.


"Aneh apaan? dia beneran menyentuh rambutku tadi gaes, dan kalian tau nggak, yang disentuh emang bagian kepala tapi terasa sampai di hati." Wajahnya masih terlihat bersemu merah jambu dan hatinya seolah sudah muncul bunga bertebaran dimana-mana.


Plak!


"Sadar woi, tidak semudah itu!" Adinda langsung memukul lengan Anyelir agar dia tidak menggila hanya karena seorang pria yang bahkan belum punya status apa-apa dengan Anyelir.


"Kenapa sih kalian ini, pada jealous atau gimana kalau aku bisa dekat dengan Kalandra?" Dan Anyelir masih ngotot, jika kedua sahabatnya seolah memojokkan Kalandra.


"Hoerk! maap-maap ni ye, biarpun dia tampan tapi bukan selera gue, karena gue pecinta pria yang lebih dewasa, paham anda!" Jawab Alenka dengan cepat, itulah alasan dia menerima Rico dihidupnya, karena memang dia suka pria yang bisa mengemong dirinya, memanjakan dirinya dan bukan sebaliknya.


"Gue pun sama,biar jomblo tapi bahagia, daripada pedekate sama pria modelan dia, makan hati doang karena banyak saingan!" Umpat Adinda yang memang tidak pernah memikirkan akan hal itu.


"Trus kenapa ribut aja daritadi, apa masalahnya?" Tanya Anyelir sambil mendengus ke arah mereka.


"Emang elu nggak curiga?" Adinda mulai merapatkan tubuhnya disamoing Anyelir.


"Apa yang perlu gue curigain coba?" Dan Anyelir jika sudah suka dengan seseorang tidak mau melihat sisi lainnya, seolah semua sudah tercover dengan apa yang dia suka.


"Kayaknya mereka berdua ada hubungan deh?" Adinda langsung menatap kososng ruang kelas mereka, seolah disana ada bayangan Kalandra dan Jenny yang sedang berduaan, padahal hanya ada mereka bertiga disana.


"Maksud Elu, Kalandra sama Jenny?" Anyelir menjelingkan tatapannya ke arah Adinda, seolah dia tidak percaya dengan dugaannya.

__ADS_1


"Yoi." Adinda menggangukkan kepalanya dengan cepat.


"Gila lu pada ya, mereka aja tahunya belajar, belajar dan belajar setiap harinya, mana sempat mereka pacaran?" Sanggah Anyelir dengan senyuman meremehkan.


"Tapi feeling gue juga sama kayak Adinda, kenapa coba tiba-tiba Jenny marah saat kamu merayu Kalandra tadi." Alenka langsung ikut menempel disisi Anyelir juga, agar lebih asyik posisi menghibahnya.


"Tul... kenapa juga Kalandra langsung terlihat panik saat Jenny tiba-tiba pergi dengan wajah masamnya, hayow?" Adinda mengingat kejadian tadi, jika sudah curiga, dia akan menjadi pengamat yang jitu.


"Mereka walaupun terlihat dekat tapi selalu bersaing untuk mendapatkan juara pertama di kelas kita, nggak mungkinlah saingan jadi pacaran?" Anyelir terus saja menyangkalnya, karena dia tidak mencium bau-bau keromantisan seperti orang pacaran dengan mereka berdua.


"Why not?" Alenka langsung menaikkan kedua bahunya.


"Nggak mungkin!" Dan Anyelir menggelengkan kepalanya, untuk tetap tidak percaya.


"Anyelir, open your eye please! tidak semua orang sepolos yang kamu pikirkan, masalah juara ya juara aja, masalah hati lain ceritanya!" Adinda merasa gemas sendiri, kenapa sahabatnya itu susah sekali dibilangin pikirnya.


"Dibelakang kita, siapa yang tahu kan?" Adinda tetap saja kekeh, entah mengapa feeling nya mengatakan seperti itu.


"Aku lebih suka tempe, emang siapa yang kalian ghibahin?" Tiba-tiba Kalandra masuk kembali ke kelas mereka dengan membawa satu kantong kresek berisi beberapa minuman dan cemilan.


"Ehehe... enggak kok Kal, bukan siapa-siapa?" Anyelir langsung kembali tersenyum saat melihat wajah tampannya.


"Bukannya aku tadi menyuruh kalian buat membaca rumus? kenapa malah menggosip, kalian mau belajar, apa mau jadi pembawa acara infotaiment?" Umpat Kalandra yang langsung duduk dihadapan mereka, karena mereka sengaja menyatukan dua meja dengan kursi mengelilingi meja itu, agar lebih mudah saat mendengarkan penjelasan dari Kalandra.


"Hehe... iya, cuma iklan sebentar kok tadi." Jawab Anyelir yang tetap tidak menaruh curiga sama sekali.


"Kalau begitu kita mulai sekarang, minum sama makan cemilannya nanti kalau sudah selesai belajar, okey!" Kalandra meletakkan kantong kresek itu jauh-jauh dari meja mereka.


"Hmm..." Jawab mereka bertiga dengan wajah yang berubah menjadi lesu, jika sudah menyangkut materi pelajaran sekolah.

__ADS_1


"Jen, kamu buatin soal buat mereka?"


Dan Jenny tidak menjawab ataupun memberikan respon lain, sedari dia datang bersama Kalandra dia sama sekali belum membuka suara, namun tangannya langsung menuliskan beberapa soal dilembar kertas dengan fasehnya.


"Sepertinya dia marah?" Bisik Alenka dengan merapatkan kembali tubuhnya dengan Adinda.


"Atau bisa jadi cemburu tadi kan?" Adinda pun sama, soal provokator dia emmang juwaranya.


"Tapi si Anye, seolah sudah dibutakan olehnya!" Sindir Alenka sambil tersenyum sinis.


"Kita bantu awasi dia, kalau perlu kita selidiki hubungan mereka." Bisik mereka berdua sambil menatap wajah Kalandra yang terlihat serius membuka buku.


"Yoi, lebih baik tau boroknya sekarang daripada kelamaan dan sudah terlalu jauh hubungan mereka akhirnya terlanjur sayang jadi bisa bahaya kalau sampai menjadi orang ketiga, karena lukanya akan semakin dalam lagi." Celetuk Alenka yang langsung disetujui oleh Adinda.


"Ssstth... kalian ini ngobrol apaan sih, nggak jelas banget!" Anyelir merasa heran sendiri, kenapa mereka seolah kepo akan diri Kalandra.


"Kalian berdua mau belajar atau mau menggibah orang? kalau kalian berdua memang tidak berminat untuk les pribadi, silahkan tinggalkan kelas ini." Kalandra langsung menatap Adinda dan Alenka dengan tatapan kesal, karena bisikan suara mereka terdengar di telinganya, walau agak samar-samar.


"Apa dia mendengarnya?" Bisik Alenka kembali, dia tidak takut dengan siapapun, apalagi cuma Kalandra pikirnya.


"Mungkin." Semakin mereka dilarang, seolah semakin menjadi.


"Adinda! Alenka!" Teriak Kalandra yang berhasil membuat mereka terkejut bukan kepalang, karena mereka baru kali ini mendengar Kalandra mengeraskan suaranya, sebab Kalandra dikenal pria yang santun, bukan seperti preman yang suka marah-marah.


"Iya-iya, kami akan diam, sepertinya memang benar apa yang kita duga."


Semakin Kalandra kesal, semakin Adinda dan Alenka merasa curiga karenanya, saat itulah Anyelir ikut merasakan ada yang janggal, jika memang umpatan mereka salah, seharusnya Kalandra tidak akan merasa tersinggung.


Jangan lemah, hidup sedang mengajarimu bagaimana bertahan dengan baik. Ketika kamu jatuh, bangunlah untuk memegang impianmu kembali. Ketika kamu ragu, kuatkan doamu karena saat itu hanya rasa percaya kepada Tuhan yang mampu menghilangkan ragumu terhadap apa yang kamu ragukan itu.

__ADS_1


__ADS_2