Ketika Aku Memilih Diam

Ketika Aku Memilih Diam
54.Nafas Buatan.


__ADS_3

Setelah Anyelir berhasil membuka kedok semuanya, dia belajar bahwa mencintai seseorang itu sewajarnya saja, karena orang yang menurut kita bisa dipercaya bahkan dibela sampai habis-habisan saja tega mengkhianati kita, apalagi yang hanya cinta sepihak pikirnya.


Dan saat ini yang menjadi prioritasnya bukanlah suaminya, melainkan masa depan Kanaya dan juga dirinya sendiri, bahkan jika suaminya tetap ingin kembali dengan Jenny setelah pengkhianatan itu terjadipun dia tidak perduli lagi.


"Anye.. Anyelir, kamu dimana?" Saat Kalandra sadar, orang pertama yang dia cari adalah Anyelir.


Rasa sayangnya kepada Kalandra memang tidak mudah terhapuskan begitu saja, namun Anyelir bisa menyimpan dan menguburnya dalam-dalam, jadi saat ini dia bersikap masa bodoh saja dengan keberadaan Kalandra.


"Kenapa? apa kamu butuh sesuatu?" Tanya Anyelir yang sebenarnya juga lega, karena suaminya baik-baik saja, dia pun tidak ingin merasa bersalah gara-gara ada orang lain yang sekarat karena dirinya.


"Aku cuma butuh kamu dan Kanaya." Jawab Kalandra dengan suara paraunya.


"Dokter tadi berpesan, kalau kamu sudah sadar, kamu harus makan dan minum obat, aku siapkan makanannya dulu." Jawab Anyelir yang tidak lagi baper saat mendengar kata-kata manis, karena dia sudah terbiasa menerima sebuah luka dari suaminya.


"Anyelir, kenapa kamu tidak membiarkan aku mati saja?" Ucap Kalandra yang mulai kembali berulah.


"Kanaya sayang, tolong bantu Bunda bilang sama Bibi buat nyiapin makanan untuk Ayah ya?" Anyelir tidak ingin, anaknya tumbuh dengan mendengarkan segala perdebatan orang tua yang membuat psikisnya terganggu, jadi dia menyuruh Putrinya untuk pergi dari kamar itu.


"Okey Bunda." Dan Kanaya pun patuh dengan ucapan Bundanya.


"Setelah itu, kamu cuci kaki, cuci tangan lalu bobok siang sama si Mbak ya?" Ucap Anyelir kembali.


"Tapi Bun, aku masih mau nemenin Ayah." Renggek Kanaya yang sedari tadi memang menangis melihat Ayahnya pingsan.


"Ayah baru saja sadar, kamu bobok dulu nanti setelah bangun kamu boleh nemenin Ayah sampai sore, okey?" Sebisa mungkin Anyelir akan terlihat baik-baik saja didepan Kanaya.


"Okey, Daa Ayah, jangan galak-galak sama Bunda ya, nanti Bunda jadi ngajakin Kanaya pergi loh, trus Ayah jadi jomblo, mau?" Celoteh Kanaya dengan wajah imutnya, walau hanya beberapa kali mendengar bentakan Ayahnya, namun anak kecil seperti dia memorinya sangat kuat sekali dan akan terus mengingatnya.


"Nggak mau." Jawab Kalandra yang langsung menggelengkan kepalanya, sambil mengusap kepala putrinya yang semakin menggemaskan itu.


"Ya sudah, pelankan suara Ayah, jangan pernah membentak Bunda lagi, okey Ayah!" Dia memang selalu dilatih untuk mandiri dan bijak dengan keadaan sedari kecil oleh Bundanya.


"Okey." Jawab Kalandra dengan senyuman, itu kenapa Kalandra sangat menyayangi Kanaya, walau dulu Jenny melarangnya, karena bagi Kalandra putrinya itu selalu bisa menghibur dirinya disaat rasa lelah melanda jiwa.


"Pffthh... Anak kecil aja tahu." Umpat Anyelir sambil menahan senyuman melihat kecerdasan putrinya.


"Anyelir kamu belum jawab pertanyaanku." Saat Kanaya sudah keluar, Kalandra kembali berbicara serius.


"Apa sih?" Jawab Anyelir yang selalu mencoba santai saat ini, apapun yang terjadi dia tidak ingin dianggap lemah oleh siapapun,agar tidak ada orang yang mampu menindas dirinya lagi.


"Kenapa kamu tidak membiarkan aku mati saja?" Tanya Kalandra, padahal saat Anyelir terlihat diam saat dia melukai satu tangannya sendiri tadi, dia sudah berpikir bahwa Anyelir sangat membencinya dan pasti ingin dirinya mati saat itu juga.


"Memangnya kamu sudah siap buat mati? Sudah merasa cukup dengan amal kebaikan kamu selama ini yang mau kamu bawa ke Akhirat nanti, padahal kamu aja banyak dosa sama aku." Celetuk Anyelir tanpa rasa takut sedikitpun.


"Itu urusanku." Jawab Kalandra yang kembali menjunjung egonya.


"Kamu ini benar-benar nggak tahu diuntung, sudah ditolongin masih aja protes." Umpat Anyelir yang langsung ingin pergi saja dari sana, daripada harus meladeni ucapan-ucapan Kalandra yang hanya bisa memancing emosinya saja.


"Aku tidak menyuruhmu menolongku, bahkan aku lebih baik mati daripada hidup sendiri, jadi kamu harus menerima resikonya." Ucap Kalandra yang membuat mulut Anyelir langsung terngaga.


Mana ada orang yang menolong harus menerima Resiko, apa dia sudah gila?


"Cih... Resiko apa?" Saat ini dia bahkan malah jadi menyesal karena menolongnya tadi.


"Karena kamu membiarkan aku hidup, jadi kamu harus bertanggung jawab tentang aku selamanya." Ucap Kalandra dengan penuh keyakinan.


"Maksudnya gimana ini?" Anyelir mulai curiga jika suaminya pasti menginginkan suatu hal darinya.


"Pokoknya kalian berdua harus tetap tinggal bersamaku apapun yang terjadi, siapa suruh kamu tidak membiarkan aku mati saja."


Tuh kan?


"Kalau kamu takut hidup sendiri, ajaklah wanita yang kamu bangga-banggkan itu, cari dia dan bawa dia ke kehidupanmu!" Ucap Anyelir yang sebenarnya takut jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.


"Aku tidak mau!" Jawab Kalandra dengan yakin.


Tumben, baru kali ini dia menolak Jenny, kemana rasa cintanya yang selangit dulu?


"Kenapa? Apa karena dia sudah bersuami, jadi kamu tidak mau diduakan begitu, makanya kalau nggak mau diduakan jangan menduakan, karena hukum karma itu masih ada." Jawab Anyelir yang seolah puas mengatai suaminya seperti itu.

__ADS_1


"Aku sudah tidak mau lagi dengan dia." Jawab Kalandra dengan jujur.


"Kenapa, habis manis sepah dibuang ya?" Ledek Anyelir sambil tersenyum miring oleh kata-kata Kalandra.


"Apanya yang manis, bukannya kamu lebih manis?" Celetuk Kalandra sambil menatap tajam wajah istrinya, sebenarnya sudah sedari dulu dia juga sempat mengangumi kecantikan Anyelir, bahkan sejak masih di bangku SMA, namun Kalandra dulu tipe orang yang jaimnya nggak ketulungan, kalau punya satu ya satu aja, apalagi dia sudah punya Jenny dihatinya.


Dulu saat Jenny menyuruhnya untuk menikahi Anyelir sebenarnya dia menolak, karena dia sebenarnya menjunjung prinsip setia, namun Jenny terus saja memaksanya, membuat dirinya sulit untuk menolaknya.


Eeh?


"Eherm... Maksud aku, setelah kamu sudah puas ngapa-ngapain dia, kamu jadi mudah untuk melepasnya bukan?" Jauh didalam hati dia penasaran juga, apa suaminya itu juga memperlakukan Jenny layaknya seorang istri dalam hal kebutuhan batin.


Karena kalau iya, kenapa Kalandra selalu meminta hal itu dengannya, kenapa tidak dengan Jenny saja pikirnya.


"Bukan, aku nggak pernah ngapa-ngapain dia kok?" Jawab Kalandra dengan mantap.


Meragukan!


"Bohong!" Jawab Anyelir yang langsung tidka percaya, karena mereka menjalin hubungan dibelakangnya bukan sebentar, bahkan bertahun-tahun, jadi tidak mungkin kalau tidak celap-celup dengannya, apalagi hubungan mereka atas dasar cinta.


"Kenapa aku harus berbohong?" Tanya Kalandra dengan tatapan tajamnya, dia terus saja memperhatikan gerak-gerik Anyelir


"Karena selama ini kamu selalu membohongiku!" Jawab Anyelir dengan penuh penegasan.


"Tidak, aku selalu bicara jujur denganmu, kalau aku bilang tidak, berarti memang tidak aku lakukan, bahkan selama ini aku juga jujur tentang balas dendam itu kepadamu." Ucap Kalandra kembali.


"Kamu memang pria kejam!" Umpat Anyelir sambil memukul kaki Kalandra sekuat yang dia bisa, seolah melampiaskan kekesalannya disana.


"Aku tahu, aku salah!"


Heh?


Dan pengakuan dari Kalandra kali ini benar-benar membuat Anyelir merasa aneh, orang yang selalu menjunjung ego dan harga dirinya mau mengakui kalau dia salah.


"Baguslah itu, dalam mata pelajaran kalau ada kata yang salah itu seharusnya dihapus, begitu juga kamu, karena sebelum menikah juga kamu menipuku!" Anyelir kembali mengingat janji manis Kalandra yang hanya berupa isapan jempol semata.


"Tapi kan aku juga kena tipu, bukan hanya kamu saja!" Dia tidak mau disalahkan begitu saja.


"Aku tahu, bukannya tadi aku sudah mengakuinya kalau aku bersalah, tapi kan aku tidak pernah ngapa-ngapain sama Jenny." Jelasnya kembali, seolah dia takut kalau Anyelir berpikiran lain tentang nafkah batin.


"Kamu bohong juga aku mana tahu, aku kan tidak bersama kalian, orang kalian aja pamer kemesraan didepan umum, bahkan cium-ciuman tanpa punya rasa malu, padahal bukan dengan yang halal!" Anyelir benar-benar mengeluarkan semua kata-kata yang membuat hatinya dongkol saat ini.


"Emang kamu pikir, aku tega ngapa-ngapain orang yang aku kira cacat? Saat melihat dia duduk di kursi roda saja aku sudah tidak tega, apalagi mau menindihnya!" Ucap Kalandra sambil tersenyum miring, karena memang dia tidak pernah melakukan hubungan suami istri dengan Jenny.


Jadi mereka belum---? Masak sih, kayak nggak percaya gue!


"Cih?" Dan Anyelir tidak bisa berkata-kata, dia hanya mengamati kedua mata Kalandra saja, untuk mencari kejujuran disana.


"Aku tahu apa yang kamu pikirkan, tapi sungguh kali ini aku tidak berbohong, saat aku tidak pulang kerumah itu, aku mengantar Jenny check-up ke rumah sakit di Singapura, setelah selesai aku juga langsung pulang." Jelas Kalandra dengan sejujurnya.


"Nggak singgah ke hotel dulu?" Pancing Anyelir kembali.


"Singgah." Jawab Kalandra dengan cepat.


"Cih, sama aja bohong!" Anyelir langsung kembali melengos kesal, karena mungkin masih ada sedikit rasa cemburu dihatinya.


"Tapi cuma makan di Restaurantnya saja, sambil menunggu keberangkatan pesawat kami." Ucap Kalandra sambil emnahan senyuman, dia suka kalau Anyelir terlihat cemburu seperti itu. Karena maknanya dia masih ada dihatinya, walau mungkin sedikit terselip saat ini.


"Sudahlah, terserah kalian saja, aku sudah tidak perduli lagi dengan itu semua!" Anyelir merasa malu sendiri.


"Anyelir?" Kalandra langsung menggapai kedua tangan Istrinya yang membuat Anyelir langsung keringat dingin, karena baru kali ini Kalandra memanggil namanya dengan suara lembut.


"Aku mau ngecek masakan di dapur dulu, kamu harus minum obat!" Dia langsung berpikir untuk kabur saja, takut nanti tidak kuat menerima serangan dari Kalandra.


Grep!


"Anyelir, jangan pergi!"


Benar saja, Kalandra langsung menarik tubuh Anyelir dan memelulnya dengan erat.

__ADS_1


"Aku hanya ingin ke dapur Kala, jangan sok manja deh!" Anyelir berusaha menghindar sebisa mungkin.


"Sungguh, aku tidak pernah menyentuh Jenny selayaknya seorang suami dengan istrinya, memang aku sering menciumnya, tapi hanya sebatas itu saja, tidak lebih, karena nafkah batin itu hanya aku minta darimu saja!" Kalandra sadar bahwa ternyata dia sangat takut kehilangan Anyelir, walau mulutnya seolah tidak mampu mengatakan rasa cintanya, namun hatinya berkata lain.


"Eherm... awas, aku mau ke Dapur dulu!" Anyelir memilih kabur saja, karena jantungnya mulai tidak baik-baik saja.


Cup!


"Hmpt... Kala!"


Namun Kalandra langsung menarik dagu Anyelir dan menyosornya dengan cepat.


"Maafkan aku." Ucap Kalandra dengan begitu manisnya, bahkan dia menyelipkan sebuah senyuman yang jarang Anyelir lihat selama lima tahun ini.


"Ooo... Tidak semudah itu!" Ucap Anyelir sambil memalingkan wajahnya, karena jantungnya semakin berdetak tak menentu.


"Apa syaratnya?" Tanya Kalandra yang tetap santai memeluk tubuh Anyelir, bahkan dia menciumi pundak Anyelir disana.


"Banyak!"


"Apapun itu, asalkan kamu dan Kanaya tidak pergi meninggalkan aku." Ucap Kalandra sambil mengeratkan pelukannya.


Ini kesempatan baik buat gue!


"Kamu tidak boleh melarang-larang aku lagi!" Ucap Anyelir dengan mantap.


"Contohnya?"


"Aku mau bekerja lagi." Ucap Anyelir dengan cepat, karena hanya dengan cara itu dia bisa lebih merasa bebas bernafas seperti saat dulu kala.


"Okey." Kalandra langsung menggangukkan kepalanya, kalau hanya bekerja saja dia bisa terus mengawasinya, karena perusahaan mereka bekerja sama.


"Jangan pernah membentakku atau marah-marah lagi denganku!"


"Tergantung!" Jawab Kalandra kembali dengan senyuman tipisnya.


"Tergantung apa? Pokoknya jika kamu sekali saja membentakku, jangan harap kamu bisa melihat aku dan Kanaya lagi, saat itu juga aku akan langsung angkat kaki dari sini." Ancam Anyelir dengan tekad bulat, semakin Kalandra takut dia pergi, semakin Anyelir jadi punya banyak cara untuk menekannya.


"Tergantung, kalau kamu dekat dengan Lelaki lain diluar sana aku pasti marahlah!"


"Lelaki yang mana?" Tanya Anyelir yang memang tidak merasa dekat dengan lelaki manapun.


"Yang manapun! Jika kamu tidak ingin aku marah, maka berurusanlah hanya dengan wanita saja, mengerti!" Karena memang hanya itu yang dia takutkan selama ini.


Karena kehilangan Jenny tidak membuatnya setakut kehilangan Anyelir.


"Ckk... hanya sekedar Asisten pun nggak boleh?" Anyelir jadi teringat dengan Sean, karena kalau kembali bekerja dia pasti akan bertemu dia lagi.


"NGGAK!" Ucap Kalandra dengan tegas.


"Dih... Siapa kamu, kenapa aku harus kembali patuh denganmu!" Umpat Anyelir dengan ketusnya.


Grep!


Kalandra lansung menarik tubuh Anyelir yang ingin bangkit dari sana dan langsung menariknya dengan sekuat tenaga, jadi saat ini posisi Anyelir berada diatas tubuh Kalandra.


"Kalandra, apa-apaan ini!" Anyelir cukup terkejut, baru juga sadar kenapa dia sudah jadi sekuat itu pikirnya.


Cup!


Kali ini Kalandra bukan hanya sekedar menempelkan bibiir, bahkan dia memperdalam ciumannya, namun tidak dengan nafas terburu-buru atau dengan amarah, dia melakukannya dengan lembut walau kedua tangan Anyelir dia pegang erat-erat karena Anyelir terus saja berusaha untuk berontak darinya.


"BUNDA, apa Ayah pingsan lagi? Kenapa Bunda ngasih nafas buatan buat Ayah?"


Karena posisi tubuh Anyelir yang menindih Kalandra jadi Kanaya berpikir lain.


Duar!


Akhirnya Anyelir dan Kalandra hanya bisa memejamkan kedua matanya, dia sungguh tidak menyangka kalau ternyata Kanaya melihat adegan berbahaya bagi kanak-kanak seumuran Kanaya.

__ADS_1


Kita harus merangkul rasa sakit dan membakarnya sebagai bahan bakar untuk perjalanan kita kedepannya, karena dibalik setiap hal yang indah, ada semacam rasa sakit yang tidak bisa dihindari, cukup sudahi tangisanmu dan tersenyumlah, karena semua sudah berlalu.


__ADS_2