
Anyelir tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut untuk pulang dari Kantor, padahal saat jam makan siang saja masih jauh.
Dia hanya takut nama baik keluarganya akan tercemar dan hancurnya rumah tangga Anyelir akan menjadi konsumsi publik di perusahaan Papanya, jika Anyelir nanti nekad melawan dan Kalandra benar-benar menyeret tubuhnya agar keluar dari Kantor, hal itu tidak bisa Anyelir bayangkan, karena sudah pasti malu sekali.
"Aku akan pulang naik mobilku saja." Ucap Anyelir saat mereka berdua sedang berjalan menuju tempat parkir di lantai bawah tanah.
"Nggak! Kamu pulang denganku saja, jangan coba-coba cari alasan untuk pergi sesuka hatimu!" Ucap Kalandra dengan segala ancamannya.
"Itu aku bawa mobil sendiri Kala!" Anyelir menunjuk mobilnya yang terparkir tidak jauh dari mobil Kalandra.
"Nanti aku suruh orang untuk membawa mobilmu pulang!" Kalandra kembali menarik lengan Anyelir karena dia terus saja menolaknya.
"Tapi--?"
"Masuk cepat!" Kalandra langsung membukakan pintu untuk Anyelir dan memaksanya untuk masuk kedalam mobil.
"Kenapa sih kamu selalu memaksaku, sebenarnya aku ini kamu anggap apa sih?" Umpat Anyelir dengan wajah lelahnya, bukan karena capek bekerja, namun karena lelah saat menghadapi perangai suaminya.
"Kamu lupa siapa aku?" Kalandra seolah mempertegas siapa dirinya.
"Aku tidak lupa siapa kamu, tapi sebenarnya apa arti aku bagi kamu, kenapa kamu harus melarang-larang keinginanku jika kamu tidak pernah menggangap aku di hidupmu!"
"Kamu ingin tahu aku menggangapmu sebagai apa?" Darah Kalandra kembali naik karena Anyelir terus saja menjawab ucapannya.
"Tentu saja, sebagai wanita aku--- hmpt!"
Kalandra langsung menyambar bibir Anyelir agar dia berhenti bicara.
"Aku akan tunjukkan, siapa aku bagimu!"
Karena saat itu masih jam kerja, parkiran di perusahaan itu sangat sepi, apalagi mobil Kalandra parkir di tempat para petinggi perusahaan, sudah pasti jarang dijamah karyawan lain. Sehingga otak mesum Kalandra tiba-tiba datang bergelora.
"Kala, jangan disini.. emh!" Anyelir mencoba menahan kepala Kalandra saat dia ingin mencari sumber mata air panas milik dirinya.
"Terserah aku mau meminta hakku dimana saja bukan?" Jawab Kalandra yang langsung menarik kemeja istrinya dengan paksa agar memudahkan jalannya menuju dua bukit barisan.
"Kala... jangan gila kamu, kalau ada yang melihat nanti bagaimana?" Anyelir merasa ketar-ketir sendiri, karena ini ditempat umum pikirnya, apa kata orang jika ada yang memergoki anak pemilik perusahaan bercocok tanam di parkiran, masak anak orang kaya raya nggak mampu sewa hotel.
"Kaca mobilku gelap, jangan menolakku ketika aku mau!" Ucap Kalandra dengan senyum bengisnya, setelah kedua tangannya berhasil memegang sesuatu yang empuk dihadapannya.
"Kala, jangan!" Anyelir menghindar, namun ruangan di mobil itu tidak luas, jadi gerakannya terbatas.
__ADS_1
Krak!
Setelah kemeja Anyelir yang jadi korbannya, kini baju onderdil dalamnya pun ikut terbelah jadi dua.
"Aish... Aku sungguh membencimu!" Umpat Anyelir walau hanya di mulut saja, andai suaminya itu memintanya dengan lembut bahkan dengan gerakan santai, Anyelir pasti akan sangat bahagia karenanya.
"Apa kamu bilang!"
"AKU BENCI KAMU!"
"Setelah kamu mengenal pria lain, kamu jadi berani membenciku, hah? Awas saja kamu!"
Baru kali ini Kalandra mendengar kata benci keluar dari mulut Anyelir, namun entah mengapa seolah nafsunya malah semakin meningkat.
Akhirnya saat tadi Kalandra hanya berniat untuk bermain-main dan ngerjain Anyelir, namun kini rasa inginnya terlihat begitu menggebu.
Kalandra langsung merebahkan kursi milik Anyelir dan membawanya ke kursi belakang dengan paksa. Dengan buru-buru dia menindih tubuh Anyelir dan mulai melepas semua pakaian yang tersisa ditubuh istrinya.
"Kala, kamu boleh melakukannya, aku bahkan hanya menyerahkan tubuhku ini kepadamu, tapi jangan di mobil, tahan sebentar sampai kita pulang ke rumah okey?"
Anyelir memeluk tubuh Kalandra dengan erat, saat dia mulai menancapkan pedang pusakanya dengan unsur paksaan seperti biasanya.
"Kalandra, kamu tahu seberapa besar rasa sayangku kepadamu, tidak pernah berkurang walau kamu selalu tidak pernah menggangapku ada, tapi.. tidak bisakah sedikit saja kamu memaafkan aku atas segala kesalahanku yang tidak aku sengaja dulu?"
Degh!
Seketika Kalandra menghentikan aksi gilanya, walau masih dengan posisi menyatukan tubuh mereka.
"Kalandra, aku benar-benar tulus menyayangi kamu, apa tidak bisa kamu melupakan masa lalu kelam itu, aku pun jatuh bersama Jenny saat itu, bukan hanya Jenny saja yang terluka, aku pun juga kesakitan Kalandra!" Ucap Anyelir yang ingin mencoba bicara dari hati ke hati saat tubuh mereka masih menyatu.
"Tapi kamu baik-baik saja, sedangkan Jenny jadi cacat karenamu!" Tiba-tiba deru nafasnya kembali menggebu.
"Cacat bagian mana, ayolah Kala, tolong pertemukan aku dengan Jenny, sebentar saja?" Pinta Anyelir yang sebenarnya ingin sekali melihat kondisi Jenny saat ini.
"Kamu tidak perlu tahu, lakukan saja tugasmu sebagai istriku, jangan banyak mau kamu!"
Begitu mendengar nama Jenny kembali, emosi Kalandra kembali meradang, akhirnya kekuatan super pada dirinya kembali datang, sehingga dia lampiaskan segala amarah yang bercampur dengan nafsunya dalam sperskian menit, sampai kata ahh keluar dari bibiir Kalandra.
Dan Anyelir hanya bisa terdiam saja sambil menerima hentakan demi hentakan keras dari Kalandra dengan air mata yang kembali menetes, mengiringi genjotan Kalandra sampai tubuhnya tergeletak lemas diatas tubuh Anyelir.
"Kamu pulang bawa mobilku saja, kemejamu tadi sobek, aku harus pergi sekarang, gara-gara kamu aku bisa terlambat ini." Kalandra hanya tinggal membersihkan pedangnya dengan tissu saja dan langsung membetulkan celananya.
__ADS_1
"Tapi Kala!" Sedangkan tubuh Anyelir polos, dan bajunya sudah jatuh menyelinap dibawah kursi mobil, bahkan sudah sobek-sobek karena ulah Kalandra.
"Kalau sampai aku tahu kamu tidak pulang nanti, aku akan menyiksamu lebih kejam lagi, mengerti kamu!" Kalandra langsung menutup kembali pintu mobil itu dan berjalan kaki keluar dari area parkir mobil.
"Huh.."
Hanya helaan nafas berat saja yang bisa Anyelir lakukan saat ini, karena mau berlari keluar mengejar Kalandra pun juga tidak mungkin, karena memang bajunya sudah tidak bisa lagi dia pakai untuk menutupi tubuhnya itu dengan pantas.
Tulilut.. Tulilut..
Asisten Pribadi is calling...
Saat Anyelir terdiam sesaat dia mendengar suara ponsel dari kursi depan.
"Ponsel Kala ketinggalan ini?"
Nit!
Anyelir langsung menggeser panggilan telpon itu untuk menjawabnya.
"Sayang, kamu dimana? jam keberangkatan pesawatnya sebentar lagi, kamu sudah sampai mana?"
Suara itu?
Sebelum Anyelir menjawab, ternyata si penelpon sudah berbicara nerocos duluan.
Degh!
Anyelir langsung membungkam mulutnya, agar suara keterkejutannya itu tidak terdengar di ponsel itu, sayup-sayup dia mulai mengingat suara wanita yang berasal dari ponsel itu.
"Hallo Kalandra? Kamu sudah sampai dimana sayang? Aku menunggumu sayang!"
Entah Alam yang seolah ingin bekerja sama untuk membongkar kebusukan suaminya, atau memang Takdir yang ingin membuka semua rahasia yang telah suaminya sembunyikan selama ini.
Antara Takdir dan Doa, mana yang lebih kuat?
Jawabnya adalah sama-sama kuat, karena Takdir adalah kehendak-NYA, sedangkan doa adalah kehendak kita.
Kadangkala Allah mengubah kehendak-NYA hanya untuk mengabulkan kehendak kita.
Jadi jangan pernah bosan untuk terus selalu berdoa.
__ADS_1