
Ketika udara malam terasa semakin menusuk, Kalandra masih menikmati secangkir kopi miliknya yang bahkan sudah terasa dingin di Balkon rumah milik keluarga Anyelir, sambil menatap bulan sabit yang sudah dikelilingi awan hitam.
Hampir setengah bungkus rokok dia habiskan, untuk melampiaskan segala rasa yang tertanam dihatinya saat ini.
"Kamu merokok Kala?" Mama Anyelir datang mengagetkan Kalandra, dengan membawa selimut tebal ditangannya.
"Eh.. Mama, kenapa belum tidur?" Tanya Kala sambil mematikan puntung rokoknya, walau baru terbakar sedikit saja.
"Apa kalian berdua sedang bertengkar?"
Tiba-tiba Mama Anyelir duduk sambil memeluk selimut itu untuk sekedar menjadi pendengar dari pihak menantunya.
"Emm... Iya Ma, tapi akan segera aku selesaikan." Jawab Kalandra yang seolah tidak bisa menutupinya dari Wanita yang sudah melahirkan istrinya ini.
"Setiap rumah tangga itu pasti ada yang namanya pertengkaran, karena semakin tinggi pohon akan semakin kuat guncangan anginnya, namun asalkan akar rumah tangga kalian kuat, pasti semua akan baik-baik saja." Dia sudah tahu, bahkan sedari awal, namun dia memilih memantau keadaan saja sampai saat ini.
"Ma, besok saya dan Anyelir mau pergi ke suatu tempat dan kemungkinan akan menginap, pulangnya lusa, jadi Kalandra nitip Kanaya ya Ma." Kalandra sekalian ingin pamit saja, karena besok pagi dia akan berangkat dengan Anyelir ke suatu tempat yang indah dan tidak akan dia lupakan sepanjang perjalanan hidupnya.
"Tidak masalah, tapi kalian mau kemana?" Jawab Mama Anyelir yang memang tidak keberatan sama sekali, karena memang sudah lama dia merindukan cucu pertamanya.
"Bulan madu Ma, hehe." Jawab Kalandra yang mencoba melawak agar suasana tidak terlihat kaku.
"Anak sudah besar baru mau bulan madu kalian ini, dulu ngapain aja coba?" Ledek Mama Anyelir sambil tersenyum kiring, namun jauh didalam hati dia merasa senang, jika Kalandra memang ingin membahagiakan putrinya.
"Maaf Ma, dulu aku terlalu sibuk dengan dunia kerja, bahkan tidak kepikiran untuk bulan madu." Jawab Kalandra dengan wajah sendunya, memang benar karena kerja tapi itu seperskian persen saja, dan lainnya semua karena Jenny.
"Ya sudah, tidak masalah, honeymoon itu bukan hanya setelah pengantin baru saja, bahkan lebih sering itu lebih baik agar keharmonisan dalam rumah tangga kalian tetap terjaga." Jawab Mama Anyelir sambil tersenyum.
"Mama, terima kasih banyak ya."
Setelah mengambil nafasnya dalam-dalam, Kalandra kembali membuat perhatian Mama Anyelir teralihkan.
"Untuk?" Tanya Mama Anyelir dengan menaikkan kedua alisnya.
"Terima kasih karena dulu sudah menginzinkan Kalandra untuk menikahi wanita sebaik Anyelir." Kalandra mengucap dengan raut wajah yang terlihat sendu dan kedua mata yang terlihat sayu.
"Ada apa ini?" Tanya Mama Anyelir yang ikut menghela nafasnya perlahan.
"Nggak papa Ma, Kala cuma mau minta maaf ke Mama, kalau selama pernikahan kami, Kalandra belum bisa membahagiakan putri Mama." Entah mengapa saat berbicara dari hati ke hati dengan Mama Anyelir dia merasa santai, seolah ngobrol dengan ibu kandung sendiri.
"Kenapa jadi melow begini sih?" Mama Anyelir langsung memalingkan wajahnya, takut jika dia malah meneteskan air matanya.
"Maafkan Kalandra Ma, jika Kala tidak bisa menjadi suami yang baik untuk Anyelir." Ucap Kalandra dengan suara paraunya, sambil meraih tangan kanan Mama Anyelir dan menempelkannya di kepalanya.
"Kamu ini ngomong apa Kalandra, Mama kok malah jadi takut ini." Mama Anyelir sontak menarik tangannya, karena tangisannya hampir pecah karena kelakuan Kalandra.
"Ma... jika nanti Kalandra tidak bisa selalu dekat dan bersama Anyelir, tolong bantu Kala untuk menjaga Anyelir ya Ma, Kanaya juga." Air mata Kalandra pun mengalir begitu saja dan sulit tertahankan, karena sebenarnya dia sangat takut kehilangan kedua wanita itu dihidupnya.
"Emang kamu mau kemana? apa kamu terkena penyakit berbahaya, atau sudah stadium akhir? Kalandra jangan menakut-nakuti Mama okey?" Sebagai orang tua dia malah jadi berpikiran tentang hal lain
"Tidak Ma, Kalandra sehat kok, hanya saja dengan keadaan ekonomi Kalandra yang seperti sekarang ini, Kalandra tidak yakin bisa membahagiakan Anyelir dan Kanaya sampai akhir." Jawabnya kemudian.
"Maksud kamu apa Kalandra, tidak semua wanita itu kesetiaannya diukur hanya dengan uang dan materi tau nggak!" Mama Anyelir langsung melotot, rasa harunya berganti dengan rasa kesal karena merasa tidak sependapat dengan Kalandra.
"Aku tahu Ma, aku pun tidak menuduh Anyelir seperti itu, namun Kalandra merasa sakit sekali, jika nanti harus melihat Anyelir tersiksa karena hidup bersamaku dalam keadaan susah begini." Jawab Kalandra yang memang terlihat putus asa.
"Trus mau kamu apa?" Teriak Mama Anyelir yang ingin tahu apa yang dia rencanakan selanjutnya.
"Kalandra tidak berharap apapun Ma, Kalandra hanya ingin melihat Anyelir dan Kanaya bahagia itu saja, jadi jika Kalandra tidak bisa terus disisinya untuk menemaninya, Kalandra minta tolong kepada Mama untuk selalu menghibur Anyelir dan Kanaya." Kalandra mencoba menenangkan suasana yang terasa memanas, karena takut suara teriakan Mama Anyelir membangunkan yang lainnya.
__ADS_1
"Kamu tidak ingin pindah Planet kan Kalandra?" Umpat Mama Anyelir kembali.
"Tentu saja tidak Mama."
"Lalu apa kamu akan meninggalkan putriku?" Mama Anyelir langsung bicara tanpa basa-basi.
"Aku sama sekali tidak berharap begitu Ma, sungguh!" Ucap Kalandra yang merasa serba salah, bimbang dan juga ragu.
"Jadi?" Suaranya benar-benar sudah tidak bersahabat, karena merasa kecewa dengan ucapan Kalandra yang seolah menyerah dengan mudahnya, karena memang bukan seperti itu yang Mama Anyelir harapkan.
"Emm... Aku hanya mau minta tolong kepada Mama, untuk menggantikan aku menghibur Anyelir disaat aku tidak bisa selalu disampingnya."
"Sudahlah Kala, nggak usah ngomong yang macem-macem, jika kita berusaha bertahan dalam keterpurukan pasti akan ada jalan keluar dalam setiap pertengkaran antara suami istri." Mama Kalandra langsung membawa selimut itu kembali.
"Iya Ma." Dan Kalandra memilih menyudahi obrolannya saja, karena takut jika nanti malah membuat keributan malam-malam begini.
"Kalau begitu istirahatlah, jangan banyak merokok, tidak baik untuk kesehatan, katanya mau bulan madu, awas aja pulang nggak bawa bibit adeknya Kanaya, dan ingat satu hal lagi." Dia kembali menoleh keluar ruangan dengan tatapan tajamnya.
"Apa itu Ma?" Tanya Kalandra yang langsung mengusap air mata yang tersisa, entah mengapa dia begitu lemah saat ini.
"Bila ingin melihat ikan di dalam kolam.. Tenangkan dulu airnya sebening kaca.. Bila mata tertuju pada gadis pendiam.. Caranya tak sama menggoda dara lincah.. Hei.. Jangan, jangan dulu.. Janganlah di ganggu.. Biarkan saja biar duduk dengan tenang." Dengan santainya Mama Anyelir bersenandung ria didepan Kalandra dengan tujuan memberikan nasehat lewat lagu itu.
"Asyek... suara Mama keren juga." Kalandra langsung mengacungkan jempolnya dengan sedikit senyuman, Mama mertuanya itu ternyata tak kalah luar biasa.
"Mama yakin kamu bisa menakhlukan hati putri Mama, jangan menyerah okey!" Teriak Mama Anyelir kembali sebelum dia hilang dibalik tembok.
Namun Kalandra hanya menjawabnya dengan sedikit senyuman saja, dia merasa bersalah sekali karena harus terjebak dalam permainannya sendiri seperti ini.
Setelah meninggalkan Kalandra yang sepertinya masih ingin termenung memikirkan nasipnya di Balkon, Mama Anyelir langsung sedikit berlari menuju ke Kamarnya.
"Sudah, kamu kenapa panik begitu, apa ada hantu di rumah kita?" Tanya Papa Anyelir yang merasa heran.
"Bahkan ini lebih menyeramkan daripada hantu." Celetuk Mama Anyelir yang membuat wajah suaminya sedikit menegang.
"Apa sih Ma, jangan nakut-nakutin Papa?" Ucap Papa Anyelir yang langsung menjauh dari ranjang, takut jika Kanaya terbangun karena suara mereka.
"Pah, apa sebaiknya Papa sudahi saja permainan itu, kembalikan lagi keadaan perusahaan Kalandra seperti semula, kasihan dia Pa!"
Dan yang menjadi dalang dari bangkrutnya perusahaan Kalandra yang sebenarnya adalah Papa Anyelir.
"Baru juga merasakan kebangkrutan beberapa hari, kenapa kamu sudah kasihan begitu? Ini belum seberapa dengan kelakuan dia terhadap anak kita selama ini Mah, apa Mama sudah lupa." Ucap Papa Anyelir yang memang baru tahu akhir-akhir ini saja tentang masalah yang menimpa putrinya,namun begitu beliau tahu, dia langsung bertindak dengan cepat dan halus, seolah bukan dia pelakunya.
__ADS_1
"Nggak baik loh Pah balas dendam seperti itu, lalu apa bedanya kita dengan dia kalau begini jadinya?" Ucap Mama Anyelir yang merasa risau sendiri.
"Papa nggak balas dendam Mah, Papa itu hanya sedikit memberikan pelajaran kepada Kalandra, agar dia tidak menyepelekan orang lain, apalagi dia anak Papa, bisa-bisanya dia membela wanita lain dan menyakiti hati putri kesayangan kita, kalau Anyelir memilih diam, bukan berarti aku harus seperti itu, aku dulu susah payah bergadang untuk membuat Anyelir, tapi Kalandra yang dapetin dia saat udah ranum dan enak dimakan kok sampai berani-beraninya menyakiti hati putriku, hati Papa juga ikut sakit tau nggak Ma." Sebagai Ayah biologis, wajar jika dia melakukan hal itu, walaupun caranya salah, tapi memang hanya dengan cara itu saja, agar Kalandra merasa jera.
"Tapi Pah, aku takut Kalandra akan meninggalkan Anyelir." Dia curiga dengan perkataan Kalandra dengannya tadi.
"Kenapa dia yang jadi ninggalin Anyelir?" Tanya Papa Anyelir dengan heran.
"Tadi bahkan Kalandra meminta maaf sama Mama dan meminta Mama untuk menghibur Anyelir, dia seolah ingin melepas Anyelir karena takut tidak bisa membahagiakan Anyelir dan Kanaya karena bangkrut." Jelas Mama Anyelir dengan raut wajah yang gelisah.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan!" Ucap Papa Anyelir yang masih belum puas memberikan pelajaran itu kepada Kalandra.
"Maksud Papa apa? Emang Papa tega melihat Anyelir jadi janda, mereka sekarang sudah terlihat saling menyayangi Pah." Sebagai orang tua dia pasti bisa menjadi pengamat yang jitu dengan melihat situasi saja.
"Kalau mereka memang saling menyayangi seharusnya tidak harus berpisah, jangan menyerah dengan keadaan, sama-sama berjuang, itu baru benar." Pendirian Papa Anyelir memang kuat, dia merasa memang Kalandra harus banyak belajar tentang arti hidup.
"Tapi Pa--" Namun sebagai seorang ibu yang mempunyai perasaan sensitif yang lebih banyak dia tetap saja tidak tegaan orangnya.
"Percayakan semua kepada yang Maha Kuasa, kalau memang mereka berjodoh, pasti akan ada jalan untuk mereka kembali bersama, tapi kalau tidak, biarkan itu sebagai pembelajaran untuk Kalandra, agar tidak menyia-nyiakan seorang wanita yang tulus menyayangi dia didalam hidupnya." Ucap Papa Anyelir yang sebenarnya sudah menahan rasa kesal sedari tadi, itu mengapa saat Kalandra datang dia sengaja tidak mengobrol banyak seperti biasanya.
"Terus nasip Anyelir gimana Pah?" Tanya Mama Anyelir yang terlihat khawatir, karena dimana-mana yang namanya perpisahan, anaklah yang akan menjadi korban dan dia tidak ingin Kanaya kehilangan kasih sayang dari salah satu orang tuanya.
"Biarkan dia dengan keputusannya, dia sudah dewasa, sudahlah ayo kita tidur, jangan bahas soal itu lagi." Papa Anyelir langsung melenggang pergi menuju ke ranjang miliknya yang sudah ditempati oleh Kanaya, karena rencananya mereka akan tidur bertiga malam ini.
"Astaga Papah, ya Tuhan... ampunilah dosa suami hambamu, dia hanya sangat menyayangi putrinya dan hanya tidak rela darah dagingnya disakiti oleh seorang pria, semoga Engkau memberikan jalan yang terbaik untuk Anyelir dan Kalandra, amin." Umpat Mama Anyelir yang tidak bisa berbuat apa-apa jika suaminya sudah berkehendak, jadi dia memilih berdoa saja untuk kebaikan hubungan putrinya.
Sebagai orang tua dia hanya mampu menasehatinya saja, namun segala keputusan ada di tangan putrinya, karena yang akan menjalani bahtera rumah tangga itu putrinya bukan dia, jadi dia tidak mau ikut campur terlalu dalam soal hati dan perasaan maaing-masing.
Sedari awal Papa Anyelir merencanakan hal ini, sebenarnya Mama Anyelir sudah tidak tega, namun saat Papa Anyelir menunjukkan bukti kepadanya dengan mengutus anak buahnya untuk membuntuti Kalandra dan Anyelir, dia juga jadi tahu tentang semuanya dan merasa tidak terima juga ternyata.
__ADS_1
Bukan hal yang sulit untuk merubah keadaan, apalagi Papa Anyelir tahu betul seluk beluk perusahaan Kalandra, dengan mudahnya dia bisa menghancurkan perusahaan itu, walau dia tidak berniat sampai akhir, akan tiba masanya nanti dia akan mengembalikan semuanya kepada Kalandra.