
Kegiatan les pribadi pun selesai dengan sangat membosankan bagi geng Tiga A, tidak ada satupun soal esay dari Jenny dan Kalandra yang mampu mereka jawab dengan benar.
Bahkan Kalandra hanya bisa tersenyum getir saat menjelaskan kepada mereka, namun seolah tidak ada satupun materi yang nyangkut di otak mereka.
Ketika mulut mereka bertiga diam saat Kalandra menjelaskan, ketiga wanita itu bukannya paham, tapi malah rasa kantuk yang mendera, walaupun sudah diatasi dengan coffe kemasan kaleng dingin pun seolah tidak membuat mata dan otak mereka sejalan.
"Pelajaran kali ini selesai, stok kesabaranku sepertinya sudah menipis, kita lanjut besok, itu pun kalau darahku tidak naik drastis gara-gara kalian."
Kalandra berulang kali menghela nafas berat dan mulai mengemasi buku-buku miliknya kedalam tas.
"Jangan ngomong gitu dong Kal, kami juga sudah berusaha semaksimal mungkin ini." Jawab Anyelir dengan nada lembutnya, dia memang sudah berusaha, tapi rasa malasnya lebih mendominan.
"Astaga, apa seperti itu sudah maksimal kalian?" Kalandra seolah tidak percaya, kalau ketiga wanita cantik itu memiliki otak kosong jika sudah menyangkut tentang pelajaran sekolah.
"Hah, maksudnya?"
Pura-pura tidak paham adalah cara untuk menahan malu yang sering Anyelir dan kedua sahabatnya lakukan.
"Ya sudahlah, tidak apa-apa, jangan lupa belajar saja, kami pulang duluan, ayo Jen." Kalandra langsung mengajak Jenny pulang.
"Kal, aku boleh nebeng nggak?" Dan modus adalah cara terbaik untuk pedekate menurutnya, karena tidak ada cara lain.
"Kamu kan bawa mobil?" Ucap Kalandra sambil menatapnya heran, lain halnya dengan Jenny, dia memang anak orang sederhana, jadi Kalandra pasti akan mengantarnya.
"Mobilku diservis, tadi aku berangkat sama Alenka dan Adinda." Ucap Anyelir dengan wajah yang terlihat serius, walau memang benar adanya tapi kalau dia mau, bisa saja Anyelir menyuruh sopirnya mengantarkan mobilnya ke sekolah sekarang juga.
"Ya sudah, bareng sama mereka aja, biasanya juga begitu kan?" Ucap Kalandra yang tetap menolaknya walau dengan bahasa yang halus.
"Yaelah Kal, rumah kita kan searah, daripada mereka bolak-balik ya kan, ini kan udah sore." Pinta Anyelir yang langsung mendapat tatapan lain dari Jenny.
"Maaf Anyelir, kami harus pergi ke suatu tempat dulu." Jenny kembali mengeluarkan suara yang sudah seperti emas mahalnya.
"Kemana Jen?" Jiwa Kepo Anyelir langsung muncul disana.
__ADS_1
"Ada, pokoknya kami sedang ada perlu." Ucap Jenny kembali tanpa mau mengaku.
"Aku bisa menunggu kok?" Rengek Anyelir yang sudah mendapat tatapan jengah dari kedua sahabatnya.
"Anyelir, jangan memaksa, biar kami saja yang menghantar kamu pulang!" Adinda langsung memelototkan kedua matanya, baginya dengan alasan apapun salah satu dari gengnya tidak boleh ada yang mengemis-ngemis soal apapun itu.
"Lain kali saja ya Anye, kami memang harus pergi ke suatu tempat dulu." Dan Kalandra sebenarnya merasa tidak enak hati, namun lirikan mata dari Jenny untuknya membuat Kalandra tetap menolaknya.
"Ya sudahlah!" Jawab Anyelir dengan suara lemah dan pasrahnya.
Brak!
Glodak!
Namun saat tiba-tiba Anyelir balik badan dan ingin kembali ke tempatnya, kakinya berpijak di lantai yang basah dan akhirnya terpeleset dan terhantuk kaki meja kayu jati tua yang memang keras sekali.
"Aw.. aw.. kakiku!" Anyelir langsung terduduk sambil memegangi kakinya yang terasa nyeri sekali.
"Kenapa lantainya bisa basah sih, kakiku kayak kram banget deh!" Anyelir terlihat menahan rasa sakit yang teramat sangat.
"Ckk.."
Jenny langsung melengos saat melihat Anyelir, dia menganggap itu hanya tipu muslihat belaka dari Anyelir untuk mencari perhatian dari Kalandra.
"Aduh, gimana ini?" Adinda ikut panik, tidak tahu harus bagaimana memberikan pertolongan pertama untuk sahabatnya itu.
"Coba sini aku periksa." Kalandra awalnya ragu dan punya prasangka buruk juga kepada Anyelir, namun saat kedua mata Anyelir benar-benar mengeluarkan air mata, dia tidak tega jadinya.
"Jangan, ini sakit! Hiks.. Hiks..!" Rengek Anyelir yang langsung menangis.
"Makanya sini aku lihat, coba luruskan dulu kakinya!" Kalandra langsung berjongkok dihadapannya.
"Nggak bisa, sakit banget rasanya." Ucap Anyelir yang langsung memegangi tangan Kalandra.
__ADS_1
"Ini sepertinya kakinya benar-bensr kesleo, agak miring itu posisinya." Kalandra sedikit banyaknya tahu, karena dia adalah salah satu pemain bola wakil dari sekolahannya jadi tahu kaki mana yang benar-benar cedera atau hanya berpura-pura saja.
"Aaaaaaa... aku nggak mau kalau jalanku jadi miring, gimana ini?" Anyelir sudah membayangkan yang tidak-tidak.
"Ya sudah, kita bawa ke tukang urut saja." Kalandra tahu dimana tempat urut langganan club sepak bolanya.
"Kalau kakiku patah gimana?" Rengek Anyelir kembali.
"Sepertinya tidak, ini pasti hanya kesleo saja." Kalandra mencoba menghiburnya, agar Anyelir tidak semakin panik.
"Tapi?"
"Sudah sini, ayo aku gendong!" Kalandra langsung berinisiatif untuk menggendongnya, karena kalau dipaksakan jalan bisa tambah parah kakinya.
"Kalandra!"
Sangat terlihat sekali dari wajah Jenny bahwa dia tidak suka jika Kalandra menggendongnya seperti itu, apalagi Anyelir langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Kalandra.
"Tapi ini darurat Jen, kita anter dulu Anye ke tukang urut ya, kalau kelamaan menunggu kasian nanti pasti akan melepuh kakinya." Ucap Kalandra yang tetap menggendong Anyelir dan membawanya kedalam mobil miliknya.
"Kalau kalian berdua mau pergi nggak papa, biar nanti aku panggil sopirku kemari saja." Adinda yang punya tingkat ego paling tinggi langsung merasa sensitif dan merasa tidak terima jika pertolongan untuk sahabatnya itu hanya terpaksa saja.
"Sopir kamu ada di parkiran sekolah?" Tanya Kalandra dengan menghentikan langkahnya.
"Enggaklah, masih dirumah!" Jawab Adinda kembali.
"Aish.. kirain ada disini, sudahlah kita bawa Anyelir ke tukang urut sekarang, kasian kalau harus menunggu." Ucap Kalandra yang kembali mendekap tubuh Anyelir dan membawanya keluar dari ruangan itu, tanpa memperdulikan tatapan tajam dari Jenny yang memang sangat terlihat tidak suka, seolah dia iri saat melihat mereka berdua.
Namun hal itu semakin membuat diri seorang Anyelir semakin tergila-gila oleh sosok Kalandra, seolah kekaguman Anyelir kepada diri Kalandra semakin bertambah saja.
Dan kecemburuan dari Jenny pun begitu terlihat dari sana, Alenka dan Adinda pun sedari tadi sudah menduga, mereka berdua seolah mengawasi setiap perubahan mimik wajah dari Jenny yang memang sangat ketara, namun kali ini Adinda dan Alenka mereka lebih mementingkan keadaan Anyelir terlebih dahulu dan mengabaikan apa yang membuat diri mereka curiga dengan bagaimana keadaan Jenny disana.
Diri adalah cerminan hidup. Semakin keras bola yang dilempar ke dinding, akan semakin keras pantulannya ke wajah, begitu sebaliknya, semakin pelan dan lembut bola yang dilempar maka makin lembut pula pantulan bolanya.
__ADS_1