
Sebenarnya Anyelir sudah merasa baikan dan bisa jalan sendiri, karena kakinya hanya lecet dan memar-memar saja, namun Suster itu tidak mau mengambil resiko, jadi dia memilih untuk membawa Anyelir ke ruangan ICU dengan menggunakan kursi roda saja.
"Sebentar saja ya Nona Anyelir, kita tidak boleh lama-lama disana, lagipula kondisi kamu belum pulih sepenuhnya." Ucap Suster itu sambil mendorong kursi roda itu melewati beberapa lorong.
"Baik Sus, aku pun hanya ingin melihatnya saja, owh ya, dimana alamat rumah Suster?" Tanya Anyelir yang sudah pasti akan memberikan imbalan kepada siapa pun yang sudah membantunya.
"Kenapa?" Tanya Suster itu dengan santainya.
"Cuma mau tanya saja, siapa tahu rumah kita tetanggaan?" Jawab Anyelir yang berpura-pura.
"Aku tinggal di kontrakan, rumah ku aslinya di luar kota nun jauh disana." Jawab Suster itu dengan senyuman, baginya Anyelir sosok orang yang menyenangkan dan tidak sombong, walau dia tahu kalau penghuni ruangan VVIP sudah pasti orang kaya raya semua.
"Kontrakan dimana?" Tanya Anyelir kembali.
"Nggak jauh dari rumah sakit ini, rumah kontrakan yang paling ujung." Jawab Suster itu yang mengira Anyelir ingin berteman dengannya.
"Okey Sip, besok aku akan mengirimkan hadiah kenang-kenangan buat Suster." Celetuknya kembali, dia memang tidak pernah mau utang budi, walau hanya melakukan hal sekecil apapun kepadanya.
"Dalam rangka apa?" Tanya Suster itu yang merasa sedikit heran.
"Dalam rangka kebaikan Suster karena sudah mau mengantarku melihat temanku."
"Owh... Sebenarnya itu tidak masalah, lagian shift kerjaku sudah mau habis, setelah ini aku sudah bisa pulang, jadi kamu tidak perlu repot-repot begitu." Jawabnya dengan jujur, karena dia ikhlas melakukan hal ini, karena merasa prihatin karenanya.
"Tidak masalah, owh ya.. besok temanku ada yang ulang tahun, menurut Suster dari kedua tas ini mana yang lebih bagus?" Anyelir menunjukkan gambar tas bermerk dari ponselnya.
"Yang warna coklat, itu lebih elegan dan sepertinya cocok digunakan dalam acara apapun." Ucap Suster itu berkomentar sesuai isi hatinya.
"Hmm... Harga memang tidak pernah bohong ya kan Sus." Jawab Anyelir yang langsung memproses pembelian tas bermerk itu dari akun miliknya.
"Ya iya... Dimana ada harga, disana ada kualitas." Celetuk Suster itu yang memang sering membeli di penjualan Online.
"Okey, tas itu akan menjadi milik Suster besok." Tidak perlu menunggu ini itu, jika memang dia mau, semua bisa terselesaikan dengan mudah tanpa harus ribet.
__ADS_1
"Hah, tapi aku tidak sedang ulang tahun Nona." Jawab Suster itu sambil melongo, kenapa begitu besar imbalan dirinya, padahal hanya mengantarkan dia ke ruangan yang tak jauh dari kamar pasien pikirnya.
"Tidak masalah, anggap saja sebagai tanda perkenalan pertemanan kita."
"Nggak usah Nona, sungguh! Itu terlalu mahal loh?" Dia malah merasa tidak enak hati sendiri, walau sebenarnya dia pun sangat menyukai tas mahal itu.
"Jangan lihat harganya, lihat artinya, besok pasti sudah dikirim." Karena Anyelir pelanggan VIP sudah pasti pengiriman tidak akan lama.
"Ya ampun, terima kasih banyak Nona Anyelir."
"Sama-sama."
Anyelir ikut tersenyum saat hadiah yang menurutnya tidak seberapa itu bisa membuat Suster itu merasa terharu, karena harga tas itu memang melebihi gaji dari Suster di rumah sakit itu bahkan selama beberapa bulan.
"Kita sudah sampai, Nona Anyelir bisa berdiri untuk melihatnya dari kaca pintu saja."
"Hmm."
Grek!
Anyelir langsung memundurkan tubuhnya dan membungkam mulutnya sendiri saat melihat kondisi Jenny yang ada didalam ruangan itu.
"Nona Anyelir!"
Suster itu tanpa sadar langsung menjerit karena kaget dan segera menangkap tubuh Anyelir agar tidak terjatuh dilantai.
Anyelir tidak bisa berkata apa-apa, walau dari kejauhan saja, namun Anyelir bisa melihat tubuh Jenny yang terbaring diruangan itu dengan kondisi memprihatinkan sekali, kepalanya berbalut perban, dan mulutnya mengaga karena di pasangi selang untuk memperpanjang umurnya, bahkan dia dikelilingi alat-alat medis disamping kanan kirinya.
"Apa kamu baik-baik saja? sebaiknya kita kembali ke ruangan kamu saja, okey?"
Suster itu langsung membantu Anyelir untuk kembali duduk di kursi rodanya dan akan segera membawanya kembali ke ruangan VVIP tadi.
"Apa kamu sudah puas sekarang?"
__ADS_1
Tiba-tiba ada seorang pria yang menghalangi kursi roda Anyelir disana.
"PUAS KAMU, HAH!"
Dan orang itu adalah Kalandra, dia yang tertidur di kursi tunggu di ujung ruangan disana terbangun karena mendengar suara jeritan Suster tadi dan langsung bergegas menuju ruangan itu takut jika terjadi sesuatu dengan Jenny didalam ruangan itu, namun ternyata ada Anyelir disana.
"Maaf Mas, ada apa ini, tolong pelankan suara Anda, dia pasien juga disini." Ucap Suster itu yang langsung pasang badan untuk membela pasiennya.
"Kamu bisa tertawa sekarang, karena Jenny sudah koma dan terbaring lemah tak berdaya, apa itu maumu? apa itu rencanamu? Selamat kamu sudah berhasil membuat Jenny berada dalam ambang maut, puas kamu, hah!" Kalandra menekankan setiap perkataannya dengan suara yang tidak enak didengar telinga.
"Maaf ya Mas, jika ada masalah selesaikan dengan baik-baik, tolong minggir, saya harus membawa pasien saya pergi." Suster itu khawatir saat melihat Anyelir hanya terdiam membisu dengan mulut dan tubuh yang bergetaran.
Brak!
Namun Kalandra seolah tidak perduli dengan ucapan Perawat itu, dia bahkan menahan roda dari kursi roda yang Anyelir pakai dengan menginjaknya, membuat Anyelir semakin bergetar karena merasa ketakutan.
"Hei... Anyelir! Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Jenny, kamu akan tahu sendiri akibatnya."
Benci, kata itulah yang mungkin tertanam dihati Kalandra saat ini terhadap Anyelir karena pikirnya sudah membuat Jenny sekarat seperti itu.
"Cukup Mas, kami harus pergi sekarang!" Suster mencoba tidak berbuat kasar di kawasan rumah sakit, walau sikap Kalandra memang sedikit keterlaluan disana.
"Dan asal kamu tahu saja, orang yang kamu lukai itu, adalah Kekasih Hatiku, CAM KAN ITU!" Bahkan Kalandra sedikit mendorong kursi roda itu dengan kakinya, amarahnya begitu memuncak saat melihat Anyelir, apalagi dia dalam keadaan baik-baik saja sedangkan kekasihnya terbaring lemah dengan bantuan selang dimana-mana.
"STOP! Beri kami jalan, atau saya panggil Security sekarang juga!" Teriak Suster itu yang seolah sudah habis kesabarannya.
"Awas kamu Anyelir!"
Kalandra langsung memundurkan tubuhnya setelah memberikan satu ancaman kepada Anyelir, namun tatapannya masih tertuju ke arah wajah Anyelir yang hanya bisa terdiam dan terpaku, sambil meneteskan air mata dengan derasnya.
Baik atau Jahat, peduli atau tidak, orang lain tetaplah orang lain, bahkan sekalipun dia orang terdekatmu, yang paling mengerti dirimu sendiri hanyalah kamu.
Maka kuatkan betismu, mantapkan hatimu, lakukan yang terbaik sesuai versi dan porsimu.
__ADS_1