Ketika Aku Memilih Diam

Ketika Aku Memilih Diam
13.Aku Bukan Pembunuh.


__ADS_3

Tidak akan ada manusia di belahan dunia manapun yang menginginkan terjadinya musibah dalam kehidupannya, begitu juga dengan Anyelir.


Dia memang anaknya urakan, tidak pernah takut dengan siapapun dan selalu bertingkah sesuka hatinya bahkan sesuai dengan kemauannya.


Namun jika menyangkut tentang nyawa, dia tidak pernah main-main, karena segila-gilanya kelakuan dirinya selama ini, Anyelir tidak pernah punya niatan mau mencelakai orang, apalagi sampai mempertaruhkan nyawa seseorang demi apapun itu.


Saat kecil dulu dia sering sakit-sakitan dan keluar masuk rumah sakit, dan saat itu Anyelir juga melihat betapa sedihnya, betapa terlukanya hati Papa dan Mamanya yang bahkan sampai berkata dengannya, 'Nak, andai sakitmu bisa dipindahkan, lebih baik Mama yang merasakan sakitnya, bukan kamu, maafkan Mama Anyelir'.


Dan sejak saat itu dia selalu menjaga dirinya agar tidak kelelahan, supaya tidak mudah sakit, dan Anyelir sungguh tidak ingin kembali ke masa itu, apalagi kini membuat seseorang berada dalam keadaan seperti itu.


"Selamat pagi, hari ini kondisi nona Anyelir sudah membaik, jika memang dia menginginkan untuk pulang tidak masalah, nanti bisa rawat jalan saja." Ucap Dokter itu setelah melakukan pengecekan pagi itu.


Sudah dua hari berlalu sejak kejadian itu, dan saat Anyelir terbangun dia selalu menginginkan untuk pulang, dengan wajah yang terlihat seperti orang ketakutan.


"Baik Dokter, terima kasih banyak." Jawab Mama Anyelir yang akhirnya bisa tersenyum dengan lega.


"Kalau begitu saya permisi, silahkan anda mengurus biaya administrasi Nona Anyelir dan juga menebus obatnya di Apotek rumah sakit." Ucap Dokter itu kembali.


"Baik Dokter, emm... sayang, kalau Mama tinggal sebentar ke ruang administrasi dan Apotek gimana, Papa kamu sedang dalam perjalanan menuju kemari." Tadi pagi-pagi sekali Papanya Anyelir pamit pulang karena harus pergi ke Kantor sebentar, dan memang belum tahu kalau Anyelir boleh pulang hari ini.


"Iya Ma." Jawab Anyelir sambil menyandarkan kepalanya di bahu ranjang rumah sakit.


"Kamu tunggu dulu disini ya, jangan kemana-mana, biar nanti kalau Papa sudah datang kita bisa langsung pulang, okey." Mama Anyelir pun sebenarnya tidak betah jika tinggal berlama-lama di rumah sakit, walau ruangan itu tidak seperti bangsal-bangsal di ruangan lainnya, namun tetap saja suasananya tidak nyaman.


"Baik Ma." Anyelir menggangukkan kepalanya perlahan saat Mamanya pergi meninggalkan dirinya sendiri di ruang VVIP itu.


"Permisi Nona Anyelir, Anda sudah boleh pulang hari ini, jadi kami akan melepas selang infusnya ya." Tak selang beberapa lama ada seorang perawat yang masuk kedalam ruangannya.


"Iya Suster, owh ya.. boleh saya tanya sesuatu Sus?"

__ADS_1


Keadaan Anyelir sudah mulai stabil, dia tidak sehisteris seperti kemarin, karena berulang kali Dokter memberikan suntikan obat penenang untuknya, sehingga tubuhnya tidak mempunyai banyak tenaga.


Jadi demi kebaikan psikis pasien, Dokter memang sengaja mengambil keputusan untuk memulangkan Anyelir, lagipun semua lukanya sudah ditangani dengan baik.


"Tentu saja boleh, tanyakan saja Nona Anyelir." Jawab Perawat itu sambil melakukan tugasnya.


"Apa suster tau bagaimana keadaan teman saya?" Walau ragu dan bimbang, dian ingin tahu keadaan Jenny yang sebenarnya.


"Teman kamu yang mana?" Tanya Perawat itu yang langsung menaikkan kedua alisnya.


"Namanya Jenny, dia masuk ke rumah sakit ini bersamaan dengan saya?" Walau sedikit gemetaran, bahkan satu tangannya terlihat mencengkeram sprei, namun dia mencoba memberanikan diri untuk tahu keadaan Jenny saat ini.


"Owh... yang jatuh dari atap Gedung itu ya?" Tanya Perawat itu kembali mengingat-ingat.


Degh!


"I.. iya Sus." Saat mendengar kata-kata itu, jantung Anyelir berdebar-debar, bukan karena jatuh cinta, namun karena rasa takut dalam dirinya yang berlebihan, bahkan kini keringat dingin mulai membasahi keningnya.


"Apa dia terlihat parah?" Tanya Anyelir dengan nafasnya yang terlihat mulai naik turun.


"Sampai saat ini kondisi pasien belum sadar, jadi belum bisa memastikan keadaan pasien sepenuhnya, apa Nona Anyelir mengenalinya?" Pemberitaan yang hebih di rumah sakit itu hanya Jenny saja, karena kondisinya parah dan saat ini masih dalam keadaan belum sadar atau koma.


"Iya, dia te.. temanku." Jawab Anyelir yang masih berusaha menetralkan rasa takutnya yang berlebihan.


"Owh begitu, kita doakan saja yang terbaik untuk Nona itu, kasian sekali dia masih sangat muda, entah bagaimana masa depannya nanti, semoga dia kuat menerima, okey.. sudah selesai Nona Anyelir, semoga anda cepat sembuh seperti


sedia kala, banyak-banyak minum susu berkalsium dan putih telur, agar pergelangan tangan Nona yang retak cepat pulih." Suster itu tanpa sadar mengucapkan rasa prihatinnya kepada Jenny, karena dia pikir Jenny adalah sahabat dekat Anyelir.


"Baik Suster." Anyelir berulang kali menghela nafas perlahan, mencoba menghibur diri, bahwa hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan dirinya semata.

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi." Pelayanan untuk kelas VVIP memang harus ramah dan yang terbaik, karena memang bayarannya cukup mahal, bahkan diruangan itu tidak bau obat sama sekali, suasananya hampir mirip di ruangan hotel berbintang.


"Suster, bisa tolong aku sebentar?" Anyelir menahan lengan Suster itu saat dia sudah selesai membereskan perlengkapannya.


"Bisa antarkan aku ke ruangan Jenny?" Pinta Anyelir.


"Hah?" Suster itu terlihat ragu, karena ini bukan termasuk dari tugasnya.


"Aku hanya ingin melihat kondisinya saja Sus." Rayu Anyelir yang mencoba meyakinkan hal itu.


"Tapi pasien itu ada di ruangan ICU, anda tidak boleh masuk tanpa seijin dokter?" Ucap Suster itu yang tahu betul bagaimana peraturan disana.


"Aku hanya ingin melihatnya dari luar kaca saja, tolong suster." Rengek Anyelir, yang membuat Suster itu tidak tega.


"Tapi?" Suster itu terlihat berpikir keras.


"Ayolah suster, sebentar saja, aku mohon." Pinta Anyelir dengan sangat.


"Apa dia sahabat baikmu?" Tanya Suster itu kembali.


"I.. iya." Anyelir mengiyakan saja, walau kenyataannya tidak seperti itu.


"Hmm... Baiklah!"


Suster itu terlihat tidak tega melihat wajah Anyelir yang sendu saat meminta bantuan darinya, dia fikir persahabat mereka sangat kental, jadi hati Suster itu seolah tersentuh untuk membantu Anyelir melihat kondisi sahabatnya, lagipun ruangan ICU tidak begitu jauh dari ruangan VVIP pikirnya.


Tuhan..


Tolong selamatkan Jenny, kalau sampai dia tiada, aku tidak mau dicap orang sebagai gadis Pembunuh, karena aku memang bukan Pembunuh!

__ADS_1


Anyelir memejamkan kedua matanya sesaat, dan berdoa didalam hati, serta mencoba menguatkan diri dan memberanikan diri untuk melihat kenyataan yang terjadi, sebelum dia mengambil satu keputusan untuk dirinya nanti.


__ADS_2