
Aku hanya bisa mengusap kasar wajahku yang seolah sudah memucat kehabisan aliran darah, karena merasakan kecemburuan yang entah pantas atau tidak untuk aku lakukan.
"Gimana dong sayang, aku tidak bisa jalan tanpa tongkatku?"
"Ya sudah, kalau begitu aku gendong saja, nanti disana pasti sudah disediakan tongkat atau kursi roda, okey?"
Bahkan aku saja tidak pernah di gendong, dulu bahkan impianku adalah bisa bermanja-manjaan dengan Kalandra setiap harinya, nyatanya memang harus menjadi impian yang tidak pernah terwujud, entah sampai kapan.
"Iya Sayang." Jawab Jenny dengan senyum yang merekah, bisa saja dia memang sengaja meninggalkan tongkatnya, agar dia bisa meminta gendong dengan suamiku, dia sungguh wanita yang menyebalkan.
Dengan perlahan akhirnya Kalandra menggendong Jenny bak seorang putri raja, dan yang membuatku lebih tertekan batin lagi, dia tersenyum dengan begitu tampannya, senyuman yang sangat aku ingin lihat didalam pernikahanku selama ini, tapi tidak pernah dia tunjukkan kepadaku, sedangkan dia begitu romantis dan manis saat bersama dengan Jenny.
"Huft.. Apa mereka juga sudah menikah? tapi saat dulu aku menikah, Kalandra masih tercatat statusnya sebagai Lajang di kantor catatan sipil?"
Hubungan mereka masih seperti teka-teki sampai saat ini, dan masih menjadi pertanyaan besar bagiku, kalau memang mereka saling mencintai kenapa tidak menikah saja, apa iya mereka rela berhubungan diam-diam hanya karena ingin balas dendam denganku? Bagiku, pemikiran mereka berdua itu sangat picik sekali.
"Sayang, maaf aku selalu merepotkan kamu ya?" Ucap Jenny yang memeluk leher suamiku dengan mesranya.
Tanganku langsung terkepal, seolah aku ingin mencekik leher suamiku saat teringat dia yang sering menghentak-hentakkan pedang pusakanya denganku tanpa ampun.
"Tentu saja tidak sayang, aku akan selalu ada untukmu, sampai kapanpun itu."
Ingin sekali aku memuntahkan isi perutku diatas wajah suamiku saat ini, aku benar-benar muak dengan kata-kata gombalannya itu.
"Jangan pernah tinggalkan aku ya Kalandra, karena aku tidak bisa hidup tanpamu?" Dia menyembunyikan wajahnya didada bidang suamiku, sedangkan aku menyembunyikan tubuhku diantara orang-orang yang seliweran disana.
"Pasti, karena kamu adalah wanita yang paling berharga didalam hidupku."
Itu sangat manis, namun sayang kata itu bukan tertuju kepadaku, saat ini aku memang istri Kalandra, tapi mungkin aku yang menjadi pihak ketiga diantara mereka. Pihak ketiga sebagai sasaran kebencian mereka berdua.
__ADS_1
"Terima kasih sayang, love you."
Cup
Kalandra kembali menghujani kecupan di bibiirnya, ingin sekali rasanya aku menyepak kedua kaki suamiku itu, agar mereka jatuh telungkup secara bersamaan, namun itu tidak mungkin terjadi karena nyaliku tidak sebesar itu.
"Hmm... kita langsung chek in saja ya, sepertinya pintu pesawat sudah terbuka, kita harus segera masuk sayang."
Sempat merasa aneh, saat Kalandra ternyata tidak membalas ucapan cinta dari Jenny, apa cintanya sudah terbagi denganku?
Owh... aku tidak berani berharap, karena seolah itu mustahil bagiku, buktinya dia jadi Kang Nyosor sekarang, walau dia juga sering melakukan hal itu saat kata ahh sudah keluar dari mulutnya, namun bedanya dia melakukan hal itu kasar saat denganku.
"Okey sayang."
Saat ini kakiku benar-benar melemas, seolah tulang kakiku tidak bisa lagi menyangga tubuhku yang beratnya tidak seberapa ini.
Hatiku begitu sesak saat mendengarkan perbincangan mereka yang begitu manis, bahkan dengan beberapa kecupan diwajah Jenny tanpa harus dia minta dan mengingat hal itu mereka lakukan selama lima tahun pernikahanku dengan Kalandra, seolah pengorbananku terasa sia-sia.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku pun tidak bisa lagi menguping pembicaraan mereka, karena aku tidak membawa Pasport dan identitas diri lainnya, sedangkan mereka sepertinya ingin berpergian ke luar negri.
"Kenapa ini sakit sekali Tuhan? rasa-rasanya aku sudah tidak sanggup lagi, hiks.. hiks."
Aku bahkan memukul-mukul dadaku agar nafasku tidak terus terasa sesak, namun seolah pukulanku itu tidak membuat rasa sakit ini berkurang.
Padahal dalam pernikahanku ini aku tidak pernah meminta yang lebih, cukup saling mengerti, saling memerima, tapi jika memang sudah tidak kuat lagi untuk bertahan, cukup lepaskan aku saja, jangan memenjarakan hidupku hanya karena rasa dendam mereka.
Tak apa jika dia mau membenciku, tapi jangan lah terus menyiksa batinku seperti ini, aku pun manusia yang tak luput dari salah dan dosa, Tuhan saja Maha Pemaaf, lalu kenapa mereka terus saja membenciku.
Grep!
__ADS_1
"Astaga, Nyonya Anyelir? kemana celanamu!"
Tiba-tiba ada seseorang yang memelukku dan langsung menyelimuti tubuh, juga pahaku yang memang cukup terekspose karena jacket yang aku pakai tertarik ke atas saat aku terduduk di lantai.
"Sean? kenapa kamu ada disini?" Tanyaku sambil mengusap air mataku yang masih menetes deras di kedua pipiku, aku benar-benar terkejut, apalagi Sean melihatku saat keadaanku terpuruk seperti ini.
"Kita ngobrol didalam mobil saja, sebelum orang-orang melihat tubuh Anda Nyonya!"
Saat ini pikiranku benar-benar kalut, dan kedatangan Sean mungkin adalah sebuah pertolongan dari Tuhan yang diberikan untukku.
Dia memapah tubuhku yang melemah ini, setelah mengikatkan jas miliknya di pinggangku, sambil merapatkan tubuhnya agar kaki jenjangku tidak menjadi perhatian khalayak ramai disana dengan wajah yang begitu panik.
Sean adalah pria yang baru aku kenal, tapi dia seolah perduli akan diriku, tidak seperti suamiku yang seolah masa bodoh dengan keadaanku.
Andai waktu bisa aku putar kembali, mungkin aku lebih baik menjomblo seumur hidup saja, agar tidak terikat dengan siapapun di dunia ini, juga agar tidak terlalu merasakan kesakitan dalam diri karena sebuah perselingkuhan.
Tapi ya sudahlah, mungkin ini adalah suatu hukuman yang harus aku terima atas kelakuanku yang pernah lari dari masalah saat aku masih remaja dulu.
Aku pun tidak bisa membayangkan saat menjadi Jenny yang harus selalu dibantu dengan tongkat dan kursi roda setiap harinya, sebenarnya aku tidak tega, aku merasa prihatin juga akan hal itu.
Namun yang membuat aku kecewa, kenapa mereka harus memperlakukan aku begini, kenapa mereka tidak menikah saja, jika memang mereka saling cinta seharusnya mau menerima kekurangan pasangannya, kenapa harus menyiksa aku dulu, apa tidak bisa kita hidup berdampingan dengan masa lalu, sampai kapan mereka harus hidup penuh dengan rasa kebencian dan rasa ingin balas dendam seperti itu, sehingga membuat hidupku benar-benar terlihat miris seperti ini.
Ada beberapa kata maaf yang harus selalu kita tunjukkan agar hati kita bisa menjadi lebih tenang.
Ada beberapa kejadian yang meskipun masih berputar dalam ingatan, tapi harus kita kendalikan agar tidak membenci manusia yang ada didalamnya.
Karena hidup dalam gemuruh kebencian dan amarah itu tidak akan membuat kita berada di tingkat teratas, sebab penenang dari segala kebencian dan kemarahan adalah rasa IKHLAS didalam hati kita.
Jempol mana Jempol Bestikuh😊
__ADS_1