
Tidak selamanya mundur itu kalah, karena dalam permainan Tarik Tambang, mundur itu adalah Sang Pemenang.
Memberikan satu pelajaran dalam hidup jangan cuma setengah-setengah, lakukan sepenuhnya agar hasilnya bisa maksimal, dan hal itulah yang akan Anyelir lakukan saat ini.
Setelah kejadian di Rumah sakit kemarin, Kalandra bahkan belum pulang ke rumah sama sekali sampai siang ini.
"Kanaya, sudah selesai berkemas belum nak?" Tanya Anyelir saat Kanaya hanya termenung melihat Koper miliknya yang tidak bisa ditutup karena kepenuhan.
"Belum Bunda, koperku tidak muat ini!" Rengek Kanaya sambil yang malah membanting tubuhnya diatas kasur empuk miliknya.
"Nggak usah dibawa semua nak, bawa yang penting-penting aja, itu bonekanya nggak usah dibawa." Anyelir langsung memeriksa koper putrinya yang hanya berisi boneka dan mainannya saja.
"Tapi boneka dari Om Tampan ini juga penting Bunda, nanti kalau nggak dibawa aku mainnya sama siapa?" Kanaya mulai memonyongkan bibir imutnya sebagai ajang protesnya.
"Sama Bunda kan bisa?" Putrinya ini jika sudah berkemauan tidak bisa dilarang.
"Trus Boneka dari Ayah ini juga gimana?" Padahal Boneka itu besarnya melebihi koper miliknya.
"Apalagi itu, buang saja, lagian itu Boneka sudah nggak ngetrend, nanti Bunda belikan lagi yang baru, okey?" Karena itu pemberian Kalandra, seolah dia melampiaskan kekesalannya kepada benda mati itu.
"Tapi Bun---?" Dia seolah tidak rela melepasnya.
"Mau pergi kemana kalian berdua!" Tiba-tiba terdengar suara nyaring dari arah pintu kamar Kanaya.
"Aish... kenapa dia sudah pulang? jadi nggak seru ini ceritanya." Umpat Anyelir yang seolah jengah melihat suaminya sendiri, namun sebenarnya dia lega juga karena suaminya pulang dalam keadaan utuh.
"Ayah, Kanaya sama Bunda mau pergi ke---" Sebenarnya Kanaya mau pamit, namun saat mendengar kata pergi Kalandra langsung naik darah.
"NGGAK BOLEH!" Teriak Kalandra yang langsung tersulut emosi.
"Fuuh... Dengerin dulu kalau anaknya itu mau ngomong!" Ucap Anyelir yang hanya bisa terduduk lesu melihat pria yang sudah mengobrak-abrik hati dan jiwanya itu.
"Tidak ada yang boleh keluar dari rumah ini, mengerti kalian!" Teriaknya lagi, suaranya serak-serak tak karuan, bahkan tercium bau alkohol disana.
"Terserah kau saja lah, tapi kami tetap mau pergi!" Anyelir merasa sudah malas mau menanggapi tingkah suaminya itu.
"ANYELIR!" Kalandra langsung mendekat kearah Anyelir, namun seketika Anyelir langsung beringsut mundur, seolah enggan tersentuh oleh suaminya sendiri.
"Itu memang namaku dari dulu, tapi nggak usah keras-keras juga ngomongnya, aku masih belum kehilangan pendengaranku ini." Jawab Anyelir yang langsung bangkit berdiri.
"Anyelir, bisa kita bicara berdua?" Pinta Kalandra yang seolah maaih bertanya-tanya tentang kejadian kemarin, karena sepertinya istrinya itu ikut andil dalam kejadian kemarin.
"Aku sedang tidak punya waktu, karena aku harus pergi!" Jawab Anyelir dengan ketus.
"Kanaya, main dulu sama Mbak sana?"Kalandra tidak ingin anaknya mendengar apa yang mereka bicarakan nantinya, karena ini bukan sebuah teladan tapi larangan dalam sebuah hubungan.
"Nggak, Kanaya mau aku ajak pergi!" Anyelir langsung menggandeng tangan putrinya, dia benar-benar enggan meladeni Kalandra saat ini.
"Anyelir! Bisa nggak jangan membantahku!" Umpat Kalandra sambil dengan wajah masamnya.
"Aku sudah lelah mengikuti semua kemauanmu, maaf aku harus pergi, ayo Kanaya!" Anyelir tetap tidak menghiraukan kemarahan suaminya.
Praaanggggg!
Tiba-tiba Kalandra langsung menedang vas bunga yang ada disudut ruangan itu dengan satu kali terjangan kakinya saja.
"Kalau begitu, kalian lihat dulu aku pergi, baru kalian boleh pergi!"
Kres!
Entah apa yang ada dipikiran Kalandra saat ini namun dia benar-benar menyayatkan pecahan keramik dari vas bunga itu ke tangan kirinya hingga memancurkan cairan berwarna merah dengan cukup deras.
"AYAH!" Teriak Kanaya yang langsung menjerit saat melihat darah Ayahnya menetes sampai ke Lantai.
Drama apalagi ini Tuhan, aku sudah Lelah dengan semua ini.
"Sini nak!" Nakun Anyelir tetap menahan tangan putrinya dan menariknya agar tetap berada disisinya.
__ADS_1
"Tapi Ayah berdarah Bunda!" Jerit Kanaya kembali.
"Kalandra, bisa nggak sudahi saja dramamu itu, entah apa yang kamu inginkan dalam hidupmu sebenarnya!" Umpat Anyelir yang langsung melengos dan menghela nafasnya.
"Kamu masih istriku Anyelir, bahkan ISTRI SAHKU! Seharusnya kamu mendengarkan apa kataku!" Umpat Kalandra sambil menegaskan kata-kata 'istri sahku' agar Anyelir sadar diri.
"Aku tahu, sebagai seorang istri aku memang harus mematuhi segala aturanmu, namun jika seorang kepala keluarga berada dijalan yang salah, aku sudah tidak wajib lagi untuk memenuhi dan mengikuti semua apa yang kamu inginkan dariku dan jika memang menyakiti dirimu sendiri itu hal yang menurut kamu tepat, lakukanlah! karena itu keputusanmu sendiri, aku tidak akan perduli!" Anyelir tidak mau terus berada dalam sangkar emas itu, dia ingin terbang bebas jika memang tidak dianggap selayaknya seorang istri pada umumnya.
"Okey, jika memang kamu sudah tidak mau perduli lagi denganku, dan kamu tidak sudi lagi untuk mengikuti, biar arwahku yang akan mengikuti kemanapun kamu pergi!" Kalandra seolah memberikan ultimatum dengan keras kepada Anyelir.
Kress!
"AYAH!"
Kanaya langsung berlari memeluk Kalandra saat kedua pergelangan tangan Ayahnya mengeluarkan darah semuaa dengan begitu derasnya.
"Kanaya sayang, maafkan Ayah, tapi cukup kamu tahu, bahwa Ayah sangat menyayangi kamu dan Bu-Bun-Bundamu." Ucap Kalandra dengan terputus-putus.
Bruuk!
Karena darah Kalandra sudah banyak yang keluar, kesadarannya pun mulai hilang, tubuhnya terasa limbung dan akhirnya dia jatuh ambruk di Lantai dengan bermandikan darah yang keluar deras dari kedua pergelangan tangannya.
"Astaga!"
Hanya dimulut saja Anyelir merasa kesal, sedari tadi dia sudah menahannya, namun saat melihat suaminya tergeletak begitu dia juga langsung tidak tega.
Kraaak!
Anyelir langsung menyobek kemeja miliknya menjadi dua bagian, dan langsung melilitkan ke pergelangan tangan milik Kalandra kanan dan kiri untuk melakukan pertolongan pertama, agar darahnya tidak semakin keluar dengan derasnya.
"AYAH, jangan tinggalkan Kanaya Ayah!" Teriak Kanaya yang langsung histeris, karena baru kali ini Kanaya melihat Ayahnya pingsan didepan kedua matanya.
"Ayahmu belum pergi, dia hanya pingsan, kamu jagaian Ayah dulu ya nak, Bunda panggil Dokter pribadi kita agar segera kemari menolong Ayahmu, jangan panik okey?" Sesungguhnya Anyelir pun panik, namun dia pura-pura tenang didepan Kanaya agar dia tidak terus menerus histeris.
"Cepetan Bunda, Kanaya nggak mau jadi anak yatim." Celetuk Kanaya dengan tangisannya.
Anyelir sengaja tidak membawa suaminya pergi ke Rumah Sakit, karena Dokter pribadi suaminya pasti akan segera sampai, dia memang dibayar mahal untuk itu, jika Anyelir membawanya ke rumah sakit, takutnya nanti beritanya malah tersebar kemana-mana, apa kata orang nanti jika kabar suaminya masuk didalam berita, bahwa 'seorang Pembisnis Muda nekad bunuh diri di rumahnya sendiri'.
Dan yang paling mengerikan adalah disaat netizen berhasil mencari tahu aib dari suaminya bahkan sampai terbongkar di depan publik, dia juga pasti akan menanggung malu dan pasti akan berimbas dengan perusahaan keluarga mereka.
Anyelir tidak ingin kedua keluarganya harus ikut menanggung akibat dari keretakan rumah tangga mereka.
Saat Anyelir sudah memastikan Dokter itu dalam perjalanan, Anyelir menyuruh asisten rumah tangganya dan juga babysitter dari Kanaya untuk membantunya mengangkat Kalandra ke kamar tamu, karena kalau dia sendiri tidak akan kuat mengangkatnya.
Tak selang beberapa lama Dokter itu sudah datang dengan membawa beberapa perlengkapan dan juga selang infus didalam tasnya, karena Anyelir sudah memberitahukan keadaan Kala saat di telpon tadi.
"Nyonya Anyelir, pendarahannya sudah berhenti, untung anda segera mengikat kedua tangannya tadi." Ucap Dokter itu setelah selesai melakukan penanganan terhadap Kalandra.
"Terima kasih banyak Dokter, untung saja Anda juga bisa langsung segera kemari."
"Itu sudah tugas saya Nyonya, tapi sepertinya kondisi Pak Kalandra masih lemah, karena cukup banyak kehilangan darah." Ucapnya kembali.
"Tapi keadaannya sudah membaik kan Dokter?" Tanya Anyelir yang ikut merasa risau juga.
"Iya, nanti kalau sudah bangun, usahakan makan dan minum obat penambah darahnya, pasti kondisi akan segera pulih." Jelas Dokter itu sambil memberikan beberapa jenis obat kepada Anyelir.
"Baik Dokter."
"Kalau begitu saya pamit, kalau ada apa-apa Anda bisa menghubungi saya kembali."
"Terima kasih Dokter."
"Sama-sama."
Setelah Anyelir mengantarkan Dokter itu keluar, dia kembali melihat keadaan Kalandra didalam kamar tamu itu.
"Maaf ya Kala, bukannya aku tega tidak membawa kamu ke rumah sakit, tapi aku yakin kamu baik-baik saja, aku hanya ingin menjaga nama baikmu saja, apalagi jaman sekarang, gosip yang beredar pasti disangkut pautkan dengan hal lain biar menjadi trending topik."
__ADS_1
Anyelir membenahi selimut Kalandra dan mengusap poni rambut suaminya yang menjuntai kedepan, entah mengapa dia suka bergaya rambut seperti anak boy band, yang hanya mencukur habis tepinya dan membiarkan rambut atasnya rimbun dengan belahan rambut di tengah, tapi memang membuat dia menjadi terlihat lebih muda dan tampan.
"Tapi aku nggak nyangka loh, kamu beneran nekad mau bunuh diri, atau jangan-jangan karena kamu putus dari Jenny, tapi nggak mungkin dia kan cinta berat sama buaya betina itu?" Saat mengingat wanita itu Anyelir langsung menyentil kening suaminya dan juga keningnya, kapan lagi dia bisa berbuat seperti itu, apalagi kalau suaminya dalam kondisi sadar, itu pasti mustahil baginya.
"Aish... entahlah! Aku masih belum mengerti bagaimana jalan pikirannya, mungkin dia sudah prustasi, atau mungkin dia dulu nggak ikut tes psikotes kali ya, jadi mentalnya tidak kuat, tapi kenapa kalau menyiksa batinku itu dia terlihat pandai sekali ,seolah akan hidup selamanya di surga tanpa takut dengan api Neraka, bahkan tak segan-segan saat melakukannya." Celoteh Anyelir yang seolah mengeluarkan unek-unek dihatinya.
"Bunda, bagaimana keadaan Ayah sekarang?" Kanaya langsung mendekati Bundanya dengan kedua mata yang sudah sembab.
"Sudah Bunda bilang, Ayahmu nggak papa Nak, dia masih hidup, jangan bersedih okey?" Dia tersenyum melihat Kanaya langsung berbaring dan memeluk tubuh Kanaya.
"Aku hanya takut jika tidak punya Ayah lagi."
Ya Tuhan, semoga anakku kelak dimasa depan tidak merasakan hal yang sama denganku.
"Tidak Kanaya, karena Ayah dan Bunda akan selalu menemani kamu hingga kamu dewasa nanti, kamu tetap akan punya orang tua lengkap, walau mungkin tak lagi sama." Sebagai seorang ibu, dia sangat berharap anaknya bisa hidup normal dan bahagia layaknya anak pada umumnya.
"Apa Bunda mau ninggalin Ayah saat dia sakit begini?"
"Bunda sebenarnya juga nggak mau ninggalin Ayah, tapi sepertinya Ayah kamu tidak membutuhkan Bunda Nak." Anyelir mencoba memberikan pengertian untuk kemungkinan terburuk dari hubungannya dengan Kalandra.
"Tapi Ayah melarang Bunda pergi tadi."
" Sayang, kamu masih terlalu kecil untuk memikirkan hal itu, satu hal yang cukup kamu tahu, bahwa Ayah dan Bunda akan tetap menyayangimu sampai kapanpun itu." Dia tidak ingin anaknya terlalu banyak berpikir.
"Hmm.. Janji ya Bunda."
"Bunda Janji, tapi jika suatu saat nanti Bunda dan Ayah terpaksa harus berpisah, Kanaya jangan sedih, kami hanya berpisah tempat saja Nak, tapi rasa sayang kami masih sama denganmu, tidak akan berubah, okey?"
"Kanaya nggak mau, Kanaya ingin tinggal bareng Ayah sama Bunda sampai nanti."
"Itu hanya soal tempat saja Nak, kamu bebas datang ke rumahh Ayah atau Bunda nantinya, tidak akan ada yang melarang kamu mau ketemu siapapun yang kamu mau."
"Tapi Kanaya mau Ayah dan Bunda selalu bersama, Kanaya nggak mau rumahnya sepi."
"Mungkin suatu saat nanti Kanaya punya Bunda baru, jadi Kanaya punya Bunda dua, dan nggak akan sepi lagi kan?"
"Nggak mau Bunda, Kanaya nggak mau punya Bunda baru, Kanaya maunya kalian berdua saja, tidak mau yang lainnya, hiks.. hiks.." Tangisan Kanaya kembali pecah dan itu membuat Anyelir pun tidak tega dan ikut bersedih.
Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan, aku tidak ingin Kanaya tersiksa batin kalau kami berpisah, tapi jika aku tetap berada dalam posisi ini, aku yang akan terus merana, aku pun tidak ingin menjadi penghalang untuk kebahagiaan Jenny dan Kalandra, jika memang mereka saling mencintai dan tidak pernah terpisahkan, aku rela melepasnya, aku akan mundur dari kehidupan mereka.
"Bunda, kenapa ikut menangis?" Tanya Kanaya sambil mengusap air mata Bundanya, padahal air matanya sendiri meleh kemana-mana.
"Bunda nggak nangis kok, cuma kelilipan aja." Jawab Anyelir kembali pura-pura tegar.
"Jangan pergi dari Ayah dong Bunda, kasihan Ayah, nanti dia mati." Celetuk Kanaya kembali.
Dasar anak Kalandra, kalau ngomong nggak pake sensor.
"Jangan ngomong gitu Nak, kamu jagain Ayah dulu ya, Bunda beresin kopernya ke kamar lagi, kita ke rumah Neneknya besok saja."
"Berarti ulang tahun Nenek ditunda jadi besok ya?"
Mereka berdua tadi sebenarnya mengemasi barang-barang untuk pergi ke rumah orang tua Anyelir karena Mamanya ulang tahun, dia berencana menginap beberapa hari sambil menenangkan pikiran, namun Kalandra pasti mengira kalau mereka akan pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.
"Cih... Kamu ini, bukan ulang tahunnya, cuma kita kesananya besok aja, katanya mau jagain Ayah?" Dia semakin gemas melihat Kanaya yang semakin pandai berbicara.
"Okey Bunda."
"Anye.. Anyelir.. jangan pergi."
Tiba-tiba mulut Kalandra menggumam perlahan dan menyebut nama Anyelir.
"Bunda, Ayah sudah bangun!" Jerit Kanaya dengan riang gembira, dia begitu bahagia saat kedua mata Ayahnya kembali terbuka.
"Huft... Back to Drama!"
Anyelir terdiam dan memejamkan kedua matanya sesaat untuk mengambil nafas dalam-dalam, karena menghadapi Kalandra cukup menguras otak dan juga tenaga baginya.
__ADS_1
Ada hal yang sebaiknya cukup kamu simpan dalam doa dan hati saja, tak perlu mengungkap rasa gemuruh itu pada manusia, sebab tak semua manusia punya pola pemikiran yang sama dengan kita.