Ketika Aku Memilih Diam

Ketika Aku Memilih Diam
34.Ya Sudahlah!


__ADS_3

POV Anyelir


Suara perempuan dari ponsel suamiku itu mengingatkan aku dengan tragedi yang selalu membekas dalam ingatanku sampai saat ini.


Dia Jenny, aku masih bisa mengingat suaranya dengan jelas, hanya saja suaranya sekarang terdengar lebih manja, mungkin karena dia berpikir kalau yang mengangkat ponsel itu adalah suamiku.


Hancurkah hatiku? Itu sudah pasti, apalagi perempuan itu memanggil suamiku dengan sebutan 'Sayang'.


Aku yang sudah lima tahun menjadi istri sahnya saja tidak berani memanggilnya dengan sebutan itu, namun yang lebih membuat aku penasaran, kenapa dia harus sembunyi dariku, jika memang mau balas dendam, balas saja, tak perlu bermain petak umpet denganku seperti ini bukan?


Maaf aku tutup dulu, soalnya aku masih dalam perjalanan, kamu tunggu saja aku diruang tunggu terdekat dari parkiran bandara sayang..


Satu pesan telah aku kirimkan ke nomor itu setelah aku memutuskan panggilan telpon itu, untung saja ponsel suamiku tidak di kunci sandi, karena memang tidak ada yang berani menyentuh barang pribadi miliknya dirumah, sekalipun itu aku istri sahnya, sebenarnya ada rasa sebak saat aku sendiri yang menulis kata sayang disana, tapi ya sudahlah!


Hanya itu cara agar Jenny tidak curiga nantinya, aku ingin memastikan sendiri bahwa perempuan yang sepertinya janjian dengan suamiku itu adalah Jenny.


Karena pakaianku sudah compang-camping tidak karuan, aku menyuruhnya menunggu ruang tunggu yang ada didekat parkiran, agar aku bisa melihat dia dari kejauhan terlebih dahulu.


Karena walau Kalandra melupakan ponselnya itu dan aku yang mengirimi dia pesan juga pasti tidak akan curiga, karena menunggu didekat parkir kan hal yang wajar.


Dengan rasa penasaran yang memuncak, aku menambah laju kecepatan mobil, bahkan aku mencari jalan pintas menuju Bandara, agar tidak didahului oleh Kalandra.


Berulang kali aku menghela nafas panjang, mencoba mempersiapkan diri, menguatkan hati dan perasaan dengan kemungkinan yang akan terjadi diantara Kalandra dan Jenny.


Perlahan aku memutarkan mobilku di area parkir dan memasang kedua mataku ke arah pintu masuk untuk mencari keberadaan perempuan yang sudah membuat hidupku setengah hancur karena semua tuduhannya.


Degh!


Seperti percaya atau tidak, tapi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, ada sosok perempuan yang berhasil membuatku mati penasaran sampai saat ini, dia sedang duduk di kursi ruang tunggu sendirian.

__ADS_1


"Bukannya itu Jenny? tapi dia terlihat baik-baik saja? Lalu kenapa Kalandra bilang aku membuat hidupnya hancur?"


Aku melihat dia berpakaian bagus, bahkan menggunakan kaca mata hitam karena memang matahari sedang terik-teriknya.


Kalaupun dia Buta juga tidak mungkin, karena dia tadi bisa menelpon, tapi entahlah, sampai detik ini aku masih belum bisa menebak alur mereka.


"Aish... aku bisa ketahuan kalau naik mobil ini, lebih baik aku keluar saja, tapi pakaianku bagaimana?"


Aku tidak bisa mendengar dengan jelas jika nanti mereka ngobrol dan saat aku melihat di kursi mobil suamiku yang paling belakang, ada jacket milik Kalandra yang tergantung disana.


"Untung jacketnya besar, nggak pakai bawahan pun tidak masalah!"


Aku segera memakainya dengan rapat, hanya itu yang bisa aku pakai, karena rok yang aku pakai tadi pun ikut sobek karena ditarik kasar oleh suamiku, namun walau hanya menggunakan jacket saja, tapi panjang Jacket itu diatas lutut, jadi tidak terlalu memalukan jika aku pakai itu saja.


Dengan langkah mengendap-endap aku bersembunyi didekat ruang tunggu, agar bisa melihat dan mendengar perbincangan mereka dengan jelas nantinya.


"Sayang! Maaf aku terlambat!"


Benar saja, terlihat suamiku keluar dari sebuah Taksi dan berlari ke arah Jenny sambil berteriak minta maaf,seolah dia merasa bersalah sekali membuat Jenny menunggu.


Sedangkan denganku, dia selalu tega membuat aku menunggu kepulangan dia setiap harinya, bahkan aku sering tertidur di sofa ruang tamu karena menunggu dia pulang, tapi kenyataannya tidak pulang bahkan tanpa sebuah pemberitahuan. Walau sudah berulang kali dia melarangku menunggu namun tetap saja aku khawatir, jika sesuatu terjadi dengannya.


Hatiku seolah tertembak dengan peluru tajam oleh sniper paling handal di muka bumi ini, karena bisa menembus tepat di jantungku dan berhasil membuat tulang-tulang dikakiku seolah melemah, hingga akhirnya tanganku bertumpu dengan sebuah tembok agar tubuhku tidak tumbang di bandara itu.


"Kamu kemana saja, pesawat kita sudah mau berangkat sayang?"


Kata 'Kita' seolah menjelaskan bahwa sepertinya bukan hanya Jenny yang akan pergi, tapi suamiku juga.


"Sial.. berarti selama ini jika dia sering tidak pulang itu pasti bukan lembur, tapi sedang berpergian bersama wanita itu."

__ADS_1


Aku tersenyum kecut sendiri melihat mereka, karena merasa tertipu oleh ucapan Kalandra selama ini, dan lebih bodohnya lagi aku percaya dengan semua yang dia katakan.Cinta benar-benar membuatku buta, bahkan menjadi lupa kewarasan diri walau selalu diabaikan.


"Maaf sayang, tadi ada urusan mendadak di Kantor yang tidak bisa aku tinggalkan." Kalandra seolah mengubah wajahnya dengan tatapan penuh penyesalan.


"Heleh.. urusan Kantor darimananya, yang ada juga urusan pemaksaan bercocok tanam denganku!" Aku hanya bisa melengos saja saat mendengarkan alasan Kalandra tadi.


"Aku kira kamu ingkar janji, aku takut sayang, karena aku cuma punya kamu saja didunia ini." Rengek perempuan itu sambil memeluk lengan suamiku yang jarang sekali aku sentuh, bahkan mungkin tidak pernah bisa aku sentuh jikalau dia tidak melampiaskan hasratnya denganku.


Cup


"Maaf sayang, maafkan aku!"


Barisan gigi putihku langsung bertaut bahkan mungkin sampai bersuara, saat melihat suamiku dengan terang-terangan mengecup bibiir Jenny, bahkan ditempat umum, walaupun itu hanya sekilas tapi rasanya begitu menusuk sampai ke ulu hati.


"Ya sudah, kalau begitu ayo kita segera check in, barang-barangku sudah ada didalam sana, tadi dibantu oleh pihak security bandara." Ucap Jenny dnegan wajah tersipu, wajarlah, karena semua wanita juga pasti bahagia saat diperlakukan seperti itu oleh lelakinya.


"Okey sayang, lalu mana kedua tongkatmu?" Tanya Kalandra sambil menoleh disekitar Jenny.


"Tongkat?"


Aku semakin menajamkan kedua telingaku saat Kalandra menanyakan perihal tongkat kepada Jenny.


Sepertinya hal itu yang membuat Kalandra ingin balas dendam denganku, karena mungkin Jenny tidak bisa berjalan dengan normal dan perlu bantuan tongkat atau kursi roda setiap harinya karena efek dari tragedi saat itu.


"Aku lupa memasukkan tongkatku ke dalam taksi tadi, jadi tertinggal didepan pintu Villa."


Tidak banyak yang berubah dari wajahnya, namun dia tidak terlihat pendiam seperti saat masih di bangku sekolah dulu.


Dan saat ini baru aku sadar, sepertinya Jenny tinggal disebuah Villa, pantas saja saat aku mencari tahu tentang keberadaannya tidak ada yang tahu, seolah dia hilang tertelan bumi, karena sepertinya Villa itu pribadi dan jauh dari keramaian orang sehingga aku sulit menemukannya.

__ADS_1


To Be Continue...


__ADS_2