Ketika Aku Memilih Diam

Ketika Aku Memilih Diam
65.No Debat!


__ADS_3

Pagi ini Kalandra seolah benar-benar tidak ingin membuang-buang waktunya walau hanya sekejab saja, bahkan saat Kanaya masih terlelap, Kalandra sudah bersiap dengan style baju simple namun tetap terlihat begitu menawan.


Kemeja putih polos dipadukan dengan celana jeans biru dan sepatu snikers berwarna putih, membuat gaya Kalandra seolah kembali berjiwa muda, apalagi ditambah menggunakan kaca mata hitam yang bertengger dihidung mancungnya, sungguh membuat wanita manapun yang melihatnya pasti akan menoleh dua kali kearahnya.


"Istriku, apa kamu sudah siap?" Kalandra melonggokkan kepalanya kembali ke kamar istrinya karena dia memilih mandi di kamar bawah agar tidak harus bergantian.


Ya ampun, kenapa dia tiba-tiba menjadi sangat tampan?


"Su-sudah, ehh--"


Bahkan Anyelir sampai terpesona saat melihatnya, dia teringat dengan Kalandra saat masih remaja dulu, karena biasanya dia hanya melihat Kalandra dengan setelan jas berwarna gelap setiap harinya, kalau tidak pasti suaminya itu hanya menggunakan kolor atau baju tidurnya saja, tidak pernah bergaya se-keren ini.


"Kenapa, ada yang salah dengan penampilanku? biar aku benahi jika kamu tidak suka melihatnya." Ucap Kalandra sambil mengamati tubuhnya, karena Anyelir terus saja memandangi dirinya.


Sukak, bahkan aku suka banget, tapi semua yang istimewa pada dirimu, kini sudah tak ada gunanya lagi, karena setelah ini kita akan berpisah.


"Sudahlah, apapun penampilanmu aku tidak perduli, ayo kita berangkat sebelum Kanaya bangun dan merengek karena kita tidak mengajaknya." Anyelir langsung memaksa menyadarkan diri dari angan-angan yang terasa muatahil baginya.


Apa sebegitu bencinya kamu denganku, bahkan aku sudah berusaha yang terbaik untukmu, namun seolah tak berarti sama sekali?


"Hmm."


Kalandra sebenarnya merasakan sesak dihatinya, namun dia mencoba menghibur diri, karena hari ini dia ingin benar-benar menyisakan satu kenangan indah untuk istrinya, agar setidaknya Anyelir pernah merasakan kebahagiaan saat menikah dengan dirinya walau hanya satu hari.


"Loh.. kenapa ada taksi menunggu didepan?" Tanya Anyelir saat mereka baru saja keluar dari rumah.


"Aku yang memesannya." Jawab Kalandra sambil menenteng tas miliknya.


"Kenapa? dirumah banyak mobil, tinggal pakai aja mau yang mana." Ucap Anyelir yang merasa heran sendiri.


"Kita akan pergi jauh, siapa nanti yang mau bawa mobil kita, ayok kita berangkat sekarang." Ucap Kalandra sambil merangkul bahu istrinya, padahal dia memang sengaja tidka ingin menggunakan mobil pribadi, agar Anyelir tidak bisa pergi atau mengajaknya pulang sesuka hatinya.


"Aku bisa jalan sendiri Kala." Anyelir tidak terbiasa diperlakukan seperti itu oleh Kalandra, jadi dia malah merasa aneh saja.


"Untuk hari ini, ingat janjimu untuk melupakan semua kenangan buruk kita, jadi jangan membantahku, jangan memasang tampang judesmu itu, aku rindu Anyelir masa sekolah dulu yang sering menggodaku, merayuku dan selalu berusaha dekat denganku." Ucap Kalandra yang terus saja merangkulnya sampai mereka masuk kedalam Taksi.


"Ckk... Apaan sih, aku sudah bukan Anyelir yang dulu lagi." Jawab Anyelir sambil berbisik.


"Aku mengerti, tapi hanya hari ini saja, aku ingin lihat Anyelir yang dulu lagi, aku mohon istriku?" Pinta Kalandra dengan wajah memelasnya.


Andai kamu tidak kembali bersama wanita itu lagi, saat ini aku pasti akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini.


"Fuh... ya sudahlah, kamu mau apa?" Jawab Anyelir yang kembali badmood saat mengingat peristiwa kemarin.


"Mau banyak, tapi untuk mengawali hari ini, cukup kamu panggil aku 'Sayang' dulu, buruan!" Ucap Kala yang seolah tidak menggangap sopir Taksi itu ada.


"Dih... kenapa jadi maksa?" Umpat Anyelir sambil melotot kearah suaminya.


"Kamu itu kalau nggak dipaksa sering nggak mau, jadi lakukan saja apapun perintahku hari ini, atau kamu tidak akan pernah mendapatkan apa yang kamu inginkan!" Ancam Kalandra kalau sudah kehabisan kata-kata.


"Suka-suka hatimu ajalah, yang penting besok aku lepas!" Jawab Anyelir sambil melengos.


"Emm... kok aku jadi sedih dengernya ya, tapi ya sudahlah, mungkin ini jalan yang terbaik, pokoknya hari ini kita happy-happy sayang." Ucap Kalandra yang langsung menghujani kecvpan diwajah Anyelir.


Cup


Cup


Cup


"Heh?" Anyelir langsung melotot, apalagi saat sopir Taksi itu tersenyum dalam diam didepan sana.


"Nggak boleh nolak, kita kan mau bulan madu, tidurlah dalam pelukanku, nanti kalau sudah sampai aku bangunkan kamu, karena kamu butuh banyak energi untuk melayani aku hari ini." Kalandra langsung merengkuh tubuh istrinya dengan paksa agar memeluk dirinya.


"Apa sih?" Umpat Anyelir, dia ingin menolak namun dekapan Kalandra begitu erat, membuat dirinya tidak bisa bergerak.


"Fix, no debat!"


Sesungguhnya jauh didasar hati Anyelir, dia pun bahagia, setidaknya untuk satu hari ini gayungnya seolah bersambut, impiannya sejak dari bangku sekolah dulu untuk memiliki Kalandra akhirnya bisa terealisasi, walau hanya satu hari.


Sebuah Villa mini ditepi Pantai sudah Kalandra sewa, dia sengaja memilih yang kecil saja, karena uang yang dia punya tidak banyak yang tersisa, yang terpenting dia bisa berduaan dengan Anyelir tanpa ada penggangu.


"Maaf ya, aku tidak bisa menyewa Villa atau resort yang mewah, kamu tahu sendiri kan aku sudah miskin sekarang." Ucap Kalandra dengan jujur, karena memang itu kenyataannya, sebenarnya untuk menginap satu hari satu malam bersama istrinya masih kurang, namun untuk berhari-hari uangnya tidak cukup, karena maaih banyak tanggungan yang harus dia selesaikan.


"Sudah miskin tapi masih berlagak." Celoteh Anyelir perlahan.


"Hah, kamu ngomong apa sayang?" Tanya Kalandra yang tidak begitu jelas saat mendengar umpatannya.


"Nggak ada, aku mau jalan-jalan ke tepi pantai dulu." Ucap Anyelir yang langsung melenggang pergi, apalagi melihat pasir putih di luar sana, dia sudah tidak sabar untuk menginjaknya.

__ADS_1


Grep!


"Kalandra?" Anyelir kembali ngedumel saat Kalandra memeluknya dari belakang.


"Panggil aku sayang dulu?" Ucap Kalandra dengan manjanya.


"Iya S-A-Y-A-N-G." Jawab Anyelir walau terlihat dipaksakan.


Cup


"Kalau begini kan manis, kamu cantik sekali hari ini istriku?" Dan Kalandra malah merasa semakin gemas karenanya.


"Kala, ehh... sayang, aku kok jadi gimana gitu denger kamu ngomong kayak gitu, bisa nggak kita kayak biasanya aja, aku malah jadi risih sendiri?" Jawab Anyelir yang sebenarnya tidak tahan melihat godaan terindah didepan mata.


"Maafkan aku, karena aku terlambat menyadari bahwa kamu adalah orang yang spesial, pake telor lagi."


"Kamu pikir aku nasi goreng?" Umpat Anyelir yang kembali mendelik karenanya.


"Hehe... jadi pengen makan nasi goreng, nanti kita pesan satu piring untuk berdua ya?" Ucap Kalandra sambil menggandeng tangan Anyelir sambil berjalan menyusuri pantai berpasir putih itu.


"Ya ampun, kamu bisa pesan apapun yang kamu mau, uangku masih banyak, jangan kayak orang susah deh." Anyelir bahkan tersenyum miring karenanya.


"Pffth.. kamu tambah cantik kalau sedang mengejekku seperti ini, tapi aku pesan satu piring berdua itu agar kita kelihatan romantis sayang, itu kan janji kita kemarin?" Kalandra bahkan bersikap yang tidak seperti biasanya.


"Itu bukan romantis, tapi ngirit atau lebih tepatnya pelit!" Ledek Anyelir tanpa ragu.


"Ckk... kamu ini, jangan terlalu jujur kenapa, aku kan jadi malu, aku tidak pernah semiskin ini sebelumnya." Jawab Kalandra sambil menurunkan kedua bahunya.


"Ahahaha... ternyata punya rasa malu juga kamu ya, aku kira makhluk sepertimu hanya bisa sombong saja!" Ejek Anyelir dengan tawa yang cukup menggelegar disana, karena reaksi Suaminya sungguh terlihat menggemaskan menurutnya.


Dan saat melihat Anyelir bisa tertawa lepas karenanya, seolah hati Kalandra merasa sangat bahagia, hari ini dia rela bersikap dan berbuat hal bodoh dan memalukan sekalipun, asalkan Anyelir bisa tertawa bahagia, lagipun tak banyak orang disekitar Villa itu, jadi harga dirinya tidak akan terinjak didepan orang lain.


Akhirnya mereka jalan-jalan menyusuri pantai itu, bahkan cukup jauh dari kawasan Villa, hingga membuat perut Anyelir mulai mengeluarkan suara-suara tanda orang lapar.


"Kamu lapar sayang?" Tanya Kalandra sambil mendekatkan kepalanya ke perut Anyelir.


Mampus gue, perut gue kenapa malu-maluin begini sih, tadi pagi emang nggak sempat sarapan sih?


"Emm... sedikit, ehh... ada Abang penjual Pentol itu, kita beli yuk?" Dan saat mereka cukup jauh berjalan ada beberapa penjual yang berjejer di rest area tepi pantai.


"Sayang, aku tahu kamu pasti kasihan karena aku sudah bangkrut dan miskin, tapi jangan siksa dirimu untuk memakan makanan yang nggak jelas seperti itu, karena aku masih mampu membelikan kamu makanan enak di Restoran sana." Kalandra langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher istrinya, harga dirinya seolah terinjak saat dia tidak bisa membelikan makanan mahal untuk istrinya, sedangkan dulu untuk Jenny dia rela mengeluarkan uang banyak tanpa pertimbangan.


"Tapi sayang?" Kalandra seolah tidak rela.


"Bang beli, dua puluh ribu jadi dua ya?" Ucap Anyelir yang langsung mendekat ke gerobak Abang itu.


"Siap Mbak?" Jawab Penjual itu dengan ramah.


Ya Tuhan, aku benar-benar salah menilai Anyelir selama ini, dia anak pengusaha kaya raya tapi bisa merakyat seperti itu, sedangkan Jenny yang berasal dari keluarga sederhana saja sering pilih-pilih makanan walau sudah aku bawa ke restoran mahal sekalipun.


Kalandra benar-benar merasa terpukul dengan apa yang sudah terjadi dalam kehidupannya.


"Cobain dulu deh, kalau kamu nggak doyan buat aku semuanya, aak dulu!"


Anyelir bahkan menyuapkan satu tusuk pentol ke mulut Kalandra yang sedari tadi tertegun melihat kesederhanaan dirinya.


"Hmm... lumayan juga." Jawab Kalandra dengan rasa sesak didadaa.


"Aku bilang juga apa, makanan enak itu bukan hanya dari restoran mewah, dari Abang Gerobak juga tetap nikmat, asalkan kita selalu bersyukur." Anyelir terlihat lahap memakan jajanan pinggir jalan itu.


"Aku benar-benar malu denganmu sayang, maafkan aku ya?" Ucap Kalandra yang seoalh sulit menelan pentol itu, bukan karena nggak doyan, tapi karena begitu terharu melihat istrinya yang begitu rendah hati.


"Kenapa minta maaf, ini enak beneran kok." Jawab Anyelir dengan santainya.


Kalandra tak henti-henti berucap bersyukur karena nikmat hari ini, walau hanya dengan jajanan seharga dua puluh ribu saja, namun senyum istrinya tak pernah surut ketika menikmatinya.


"Makanlah, kalau masih kurang kita beli lagi, sekalian sama gerobaknya aja gimana?" Ucap Kalandra sambil mengusap bibiir istrinya yang penuh dengan saos.


"Sama Abangnya juga boleh nggak, manis juga itu Abangnya!" Ucap Anyelir yang pura-pura genit.


"NGGAK BOLEH! Kamu hanya punyaku seorang hari ini, jangan mencoba menggatal kamu, mau aku hukum disini kamu, hah!" Kalandra langsung memeluk pinggang istrinya dengan erat.


"Ahaha... aku hanya bercanda, lain kali kita bawa Kanaya kesini ya, dia pasti suka, karena impiannya berlibur bertiga dengan kita berdua." Anyelir seolah lupa sendiri dengan perjanjiannya dengan Kalandra, karena dia merasa sangat bahagia saat ini.


"Kanaya sudah besar sekarang, terima kasih ya sayang, karena sudah merawat Kanaya sampai dia tumbuh menjadi anak yang cantik dan pintar, maaf karena aku jarang bisa menemani kalian berdua selama ini."


"Itu karena kamu sibuk dengan--" Kata-kata Anyelir langsung terputus saat Kalandra tiba-tiba menyambar bibiirnya.


Cup!

__ADS_1


"Jangan sebut wanita atau siapapun selain keluarga kita, okey?" Kalandra langsung menautkan kening mereka, dia tidak ingin Jenny menjadi perusak moment kebahagiaan mereka hari ini.


"Ahahahaha..." Namun tanpa disangka, Anyelir malah tertawa cekikikan disana.


"Kenapa kamu malah tertawa, aku tidak sedang bercanda sayang!" Umpat Kalandra yang langsung cemberut.


"Bibir kamu terlihat lebih bagus pake lipstik saos?" Ledek Anyelir kembali.


"Aish.. ini semua gara-gara kamu, sini aku mau lagi!"


"Jangan Kala, malu dilihat orang itu!" Anyelir langsung memukul lengan suaminya.


"Emm.. rasanya lebih nikmat dari mulut kamu, mau lagi sayang!" Rengek Kalandra yang seolah sudah ketemu dengan pawang dihidupnya.


"Awas Kala, kamu pikir ini Pantai milik kamu sendiri apa!"


"Kita balik ke Villa yuk, aku pengen istirahat." Tiba-tiba Kalandra tersenyum penuh dengan makna.


"Nantilah, nggak mau mainan air dulu apa?"


"Nanti kita main air yang lain, okey?" Jawab Kalandra dengan senyum mesumnya.


"Tapi Kala?"


Hup!


"Disuruh panggil sayang aja susah amat, sekarang rasakan hukuman dariku!" Karena Anyelir terus menolak dia langsung menggendong tubuh anyelir kedalam dekapannya.


"Turunkan aku Kala, kita jadi pusat perhatian orang itu!"


"Biarkan saja, apa aku perlu berteriak kalau kita ini suami istri?"


"Jangan!"


"HEI... EVERYBODY, WANITA INI MILIKKU, INI KESAYANGAN AKU, I LOVE YOU ISTRIKU!"


Semakin dilarang Kalandra malah semakin nekad, dia bahkan berteriak dan pamer istri disana.


"Huhuuuuuuuu."


"Piwwiiiiiiiittttttt."


Beberapa rombongan yang sedang makan disana ikut bersorak ria saat mendengarnya.


"Astaga! diam kamu, malu-maluin banget deh, lebay tau nggak!" Dan Anyelir hanya bisa menyembunyikan wajahnya didadaa bidang milik suaminya yang seolah sudah terputus urat malunya.


"Kenapa? Bahkan aku bangga bisa memilikimu, sesalku dulu karena aku menyia-nyiakan wanita sebaik dirimu."


"Heleh... Lalu kenapa kemarin kamu ngedate berduaan dengan Jenny!" Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Anyelir.


"Aku tidak ngedate sama dia, aku hanya ingin mengajaknya menikah saja!"


"APA! TURUNKAN AKU SEKARANG, AKU MAU PULANG!" Anyelir langsung berteriak karena terkejut mendengarnya.


"Dengerin dulu kelanjutannya, kamu ini kebiasaan belum melihat dan mendengar sampai akhir, tapi sudah marah-marah saja, kemarin juga begitu, padahal Asistenku juga datang disana." Jelas Kalandra sambil menahan tubuh istrinya yang sudah berontak.


"Aku tidak sudi dimadu, ceraikan aku dulu jika kamu mau menikah dengannya!" Umpat Anyelir dengan wajah yang sudah memerah karena kecewa dan marah jadi satu.


"Aku mengajaknya menikah hanya ingin mengetesnya saja, gimana reaksi dia kalau aku ajak nikah tapi setelah tahu kalau aku bangkrut dan miskin."


"Lalu?" Anyelir langsung menatap wajah suaminya.


"Dia langsung menolak ajakanku dan itu sudah cukup membuktikan bahwa Jenny selama ini hanya menginginkan hartaku saja."


"KAPOKMU KAPAN!" Teriak Anyelir dengan suara mantap disana.


"Hah? Kamu ngomong apa? kayak puas banget kamu nyumpahin aku?" Tanya Kalandra sambil tersenyum, dia senang kalau istrinya cemburu, karena maknanya masih ada rasa yang tersisa untuknya.


"Emang gue pikirin, emang enak ditolak karena miskin, kasihan deh loe!" Anyelir langsung turun dari gendongan suaminya.


"Awas kamu ya yank, berani meledekku, siap-siap aku berikan hukuman untukmu!"


"Bodo amat, ahahaha!"


Anyelir langsung berlari menuju Villa dengan perasaan riang gembira, karena ternyata kecurigaannya terhadap Kalandra kemarin hanya salah paham belaka.


"Woah... lihat saja nanti, kamu pasti akan memohon ampun denganku, LANJUT PART DUA!"


Kalandra langsung mengejar istrinya, dia merasa lega, karena setidaknya dia sudah bisa meluruskan kesalahpahaman dengan peristiwa kemarin, sudah tidak ada lagi yang mengganjal dipikirannya dan kini dia kembali bisa melihat wajah bahagia dari sang istri.

__ADS_1


Wanita tulus itu, ketika dia tahu kekurangan kamu, namun tidak meninggalkan kamu, walau dia tahu seberantakan apa hidupmu, tapi selalu ingin membantumu dan memperbaiki hidupmu, dan semakin dia tahu betapa lemahnya kamu, semakin dia ingin menguatkan dirimu.


__ADS_2