
POV Anyelir.
Aku tipe orang yang akan duduk di kamar mandi dan menangis, tapi kemudian berjalan keluar seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Dan saat ini genap lima tahun sudah perjalanan rumah tanggaku bersama Kalandra.
Bahagiakah aku?
Jangan pernah kalian tanyakan apa itu arti bahagia setelah aku menikah, karena selama bertahun-tahun aku tidak pernah merasakan hal itu, namun jika kalian ingin tahu betapa pedihnya menjadi seorang wanita yang tidak dianggap, datanglah padaku, mari kita ngopi bersama dan menangis berjamaah.
Namun aku tidak pernah menampakkan sisi sedihku kepada orang lain, hanya kedua sahabatku Adinda dan Alenka saja yang tahu, itu pun karena mereka tidak sengaja memergoki aku bertengkar dengan Kalandra.
Bahkan kedua orang tuaku dan kedua mertuaku mengira rumah tangga kami baik-baik saja dan harmonis, karena didepan mereka Kalandra memperlihatkan sosok romantis sebagai seorang suami.
"Bunda, aku berangkat sekolah dulu ya?" Suara merdu bocah itu yang selalu menguatkan aku setiap harinya, kalau tidak ada dia mungkin aku tidak akan bertahan selama ini.
Aku hanya tidak ingin putriku menjadi anak yang sensitif karena keluarganya nanti broken home, dia anak yang cerdas, tidak pernah menyusahkan kedua orang tuanya, jadi aku ingin dia tetap bisa bahagia dengan versinya sampai dia tumbuh dewasa, tidak seperti nasip miris dari Bundanya.
Pedomanku adalah biarkan aku menderita, asalkan anakku bisa hidup bahagia, karena dulu seumuran putriku, aku sudah merasakan kebahagiaan dari kasih sayang Papa dan Mama, dan itu sudah cukup bagiku.
"Iya sayang, sekolah yang pinter ya nak, nanti kalau Bunda belum pulang kerja, kalau mau apa-apa minta sama si Mbak ya dan jangan main keluar rumah sendirian, okey Kanaya?" Putriku harus melihatku tersenyum setiap harinya, dia tidak boleh tahu kalau Bundanya terus tersiksa batin setiap harinya.
"Kenapa Bunda harus bekerja? bukannya Ayah sudah bekerja untuk kita?"
Pertanyaan yang sulit untuk aku jelaskan kepada putriku, soal nafkah lahir memang Kalandra tidak pernah mengabaikannya, dia rutin memberiku uang bulanan, bahkan lebih dari cukup untuk kebutuhan aku dan Kanaya.
Tapi setelah Kanaya sudah sekolah, aku merasa sangat kesepian di rumah, yang ada kerjaanku hanya menangis saja setiap harinya, karena mengingat perlakuan Kalandra yang sesuka hatinya terhadapku.
Jadi atas saran Adinda dan Alenka, aku memilih untuk bekerja di kantor Papa, lagi pula aku anak tunggal, kalau bukan aku siapa yang akan meneruskan perusahaan keluargaku kalau Papa sudah pensiun dari dunia kerja nantinya.
"Bunda harus bantuin Kakek, karena Kakek sudah semakin tua, lagian Kanaya kan sudah sekolah, Bunda pulangnya siang kok nak, ngak sampai sore, jadi saat kamu bangun dari tidur siang, Bunda pasti sudah ada di rumah."
Hanya itu alasan yang paling pas dan tidak menimbulkan kecurigaan dari putri kesayanganku itu.
"Okey deh kalau begitu, jangan capek-capek ya Bun, nanti Bunda sakit, kalau bunda sakit nanti yang nemenin aku bermain siapa, kan Ayah selalu sibuk dan lembur kerja terus setiap harinya?" Celotehnya dengan pipi tembem yang berwarna merah jambu.
"Iya sayang, sini Bunda peluk dulu nak!"
Ingin rasanya aku kembali menangis saat putriku yang masih sekolah TK ini mengkhawatirkan kesehatan diriku, sedangkan Kalandra dia sama sekali tidak perduli denganku, mau aku sakit atau bahkan sekarat sekalipun, karena setiap harinya dia sering pulang terlambat, bahkan sering lembur dan tidak pulang ke rumah.
__ADS_1
Entah apa yang membuatnya gila kerja, aku tidak berani bertanya, karena nantinya hanya akan ada
pertengkaran diantara kita, lagian selama ini kami sudah terbiasa hidup masing-masing, dia bekerja seharian, aku di rumah mengurus anak, tanpa tahu kegiatannya di Kantor.
"Bye Bunda." Lambaian tangan mungilnya membuatku kembali tersenyum, wajahnya sangat mirip dengan masa kecilku.
"Bye sayang, hati-hati ya Mbak, jaga Kanaya." Aku sengaja mencarikan babysitter khusus untuknya, agar aku tidak was-was meninggalkan dia di rumah saat aku bekerja.
"Iya Nyonya."
Setelah mengantar kepergian putriku aku langsung bersiap-siap untuk pergi ke Kantor, karena hari ini adalah hari pertama aku kerja di Kantor Papa.
"Mau kemana kamu pagi-pagi gini sudah dandan menor, ingat kamu sudah punya anak, nggak usah sok bergaya seperti bocah ABG, sudah nggak pantas kamu!"
Entah kapan Kalandra pulang ke rumah ini, tiba-tiba saja dia sudah berdiri didepan pintu kamarku dengan pakaian yang kemarin dia pakai.
"Kanaya sudah berangkat sekolah tadi, pulangnya siang, ada si Mbak juga yang jagain dia di sekolah." Jawabku dengan santai, sambil melanjutkan riasan dibawah kelopak mataku, karena aku harus menutupi kantong mataku agar tidak terlihat menyedihkan karena selalu kurang tidur setiap harinya.
"Aku tanya kamu mau kemana, bukan Kanaya!" Teriaknya dengan nada sengak, seperti itulah perangai dia setiap harinya, kalau tidak ada Kanaya diantara kami.
Bahkan terkadang aku ingin selalu berada disamping Kanaya, agar tidak selalu mendengarkan kata-kata kasar darinya, namun Kanaya sudah semakin besar, dia juga harus menempuh pendidikan di sekolah umum, jadi bekerja memang adalah solusi terbaik untuk menjaga kewarasan diri saat ini.
Brak!
Dia langsung menendang pintu kamarku, entah apa yang membuat dia marah seperti itu, padahal kami sudah sepakat untuk tidak mencampuri kehidupan masing-masing selain urusan tentang Kanaya.
"Ngapain kerja segala, hah!" Bentaknya dengan keras, dia seolah merasa tidak terima dengan keputusanku bekerja.
"Kenapa emangnya kalau aku bekerja, lagian di rumah juga sudah ada Bibi, ada si Mbak juga." Jawabku dengan wajah yang tetap terlihat tenang, wakau sebenarnya hatiku sudah kembali berdebar, bukan karena jatuh cinta, tapi karena rasa ketakutanku yang mulai menjalar.
Sedari kecil aku tidak pernah dibentak oleh kedua orang tuaku, namun setelah menikah setiap harinya aku selalu mendapatkan kata-kata kasar darinya, dan itu cukup membuatku trauma dalam diam, namun aku terus menutupinya.
"Urungkan niatmu itu, kamu mau mempermalukan aku didepan orang tua kita, dan menganggapku sebagai suami yang tidak bisa membiayai kehidupan istrinya, sehingga kamu harus bekerja begitu!" Teriaknya kembali.
Ternyata itu alasannya, dia marah karena tidak ingin terlihat buruk dan ada cela di mata orang tua kami, tapi keputusanku sudah bulat, mulai sekarang aku akan belajar tidak perduli sepertinya.
"Bukan begitu Kala, aku hanya---"
__ADS_1
Aku bahkan selalu memanggil dengan sebutan nama saat kami berdua, lain halnya didepan orang tua kami, aku selalu memanggilnya dengan sebuan 'Mas' agar terlihat mesra seperti pasangan pada umumnya.
"Apa uang yang aku berikan kepadamu tidak cukup, apa kamu hanya ingin bergaya sok sosialita, pura-pura menjadi wanita karier begitu, heh... ngaca dulu sono, kamu lebih pantas berada di Dapur sekarang!"
Seperti biasa, dia selalu menghujatku dan menghinaku sesuka hatinya, dan selama pernikahan kami berjalan lima tahun ini, dia sudah berhasil membalas dendam denganku dengan cara menyiksa batin dan ragaku secara pelan-pelan.
"Kenapa, apa aku sudah tidak cantik lagi dan apa aku sudah tidak pantas menggunakan baju dan tas bermerk lagi?" Tanyaku dengan nada pelan, walaupun aku marah dan kesal, aku mencoba untuk tetap mengontrol nada suaraku, agar kemarahan Kalandra tidak semakin menjadi.
"Kamu sudah berani melawanku sekarang! pakai kembali daster bulukmu itu, pergi ke dapur sana, buatkan aku sarapan!" Bentaknya dengan keras, dia bahkan seolah sudah mengalahkan kerasnya Raja Fir'aun.
"Sarapan sudah tersedia di meja makan, Bibi sudah menyiapkan semua makanan kesukaanmu, kamu hanya tinggal duduk saja dan Bibi akan melayanimu." Ucapku kembali.
"Lalu apa gunamu sebagai seorang istri, hah!" Dia mulai berkacak pinggang dengan wajah yang sudah berwarna kemerahan, disaat seperti ini bahkan aku takut jika dia mengalami serangan darah tinggi dan akhirnya stroke.
"Wow.. Apa selama ini kamu menggangap aku sebagai seorang istri?" Entah mengapa aku berani menjawabnya seperti itu.
"ANYELIR!" Dia mulai menarik daguku dengan emosi membara.
"Iya sayang." Jawabku dengan senyum yang aku buat semanis mungkin.
"Cuih.. aku jijik mendengar kamu memanggilku dengan sebutan itu, kamu tidak pantas memanggilku seperti itu denganku, mengerti kamu!" Dia langsung melepas cengkraman tangannya dan melengos.
"Begitu saja marah, lalu kalau tidak pantas kenapa tidak kamu ceraikan saja aku? daripada setiap harinya kamu harus jijik melihat orang sepertiku?"
"Diam kamu! apa kamu ingin menjadi wanita durhaka yang selalu melawan suamimu, hah!"
"Huft, aku pergi!"
Kata cerai sebenarnya adalah hal yang tidak ingin aku ucapkan sama sekali, namun kali ini entah mengapa aku tidak tahan saat dia mengucapkan kata jijik denganku, seolah aku ini adalah kotoran yang najis baginya.
"ANYELIR!" Teriaknya kembali dengan mata yang kembali melotot dan otot leher yang sudah mengeras karena amarahnya.
"Bye."
Kali ini aku benar-benar nekad untuk tidak mendengarkan perintah Kalandra, karena jika aku terus-terusan terkurung dalam rumah yang sudah seperti Neraka ini, mungkin tidak lama lagi aku akan menjadi penghuni Rumah Sakit Jiwa.
Ego tinggi, iri hati, tinggi hati, diri sendiri tidak bahagia, merasa tertekan, dan lain sebagainya adalah hal-hal yang menjadi ganjalan untuk dapat berdamai dengan diri sendiri.
__ADS_1
Berdamai dengan masa lalu juga merupakan hal yang memang sulit, tapi bukan berarti nggak bisa. Selama kita punya keinginan dan tekad kuat mengubah keadaan, masalah seberat apa pun pasti bisa terlewati.