
Setelah Anyelir memutuskan untuk nekad bekerja saat itu, dia sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan-kemungkinan lain, seperti halnya kejadian hari ini.
Karena Anyelir sudah terbiasa mendengar ocehan dan hujatan dari Kalandra, dia seolah sudah mati rasa dan lebih memilih diam.
Entah ada Setan darimana yang hinggap di tubuh suaminya, karena tiba-tiba Kalandra sudah muncul didalam ruangannya saat dia sedang bersenda gurau dengan Sean sang asisten barunya.
"Lebih baik kamu dirumah saja, kamu butuh uang berapa untuk biaya hidupmu, katakan saja berapa maumu!" Bentak Kalandra sambil menyodorkan ponselnya agar Anyelir mengetik sendiri berapapun nominal yang dia inginkan dalam aplikasi mobile banking miliknya.
Lima tahun.. Ngana sa tinggal..Ngana pigi.. Bertahan.. Basiksa.. Basiksa basiksa lagi.. Mati.. mati rasa.. Rasa mo mati.. Mo mati mo mati..
"Duh.. kok malah jadi pengen nyanyi!" Entah mengapa didalam hati Anyelir malah bersenandung sendiri, sambil mengamati ponsel suaminya tanpa mau menyentuhnya.
"Anyelir! Kamu dengan kata-kataku tidak!" Kalandra kembali terpancing emosi saat ponselnya diabaikan begitu saja oleh Anyelir.
"Sean adalah asisten Papa, karena aku masih baru jadi Papa menyuruhnya untuk membantuku dalam hal pekerjaan di Kantor, apa itu salah?" Jelas Anyelir sambil mengalihkan pandangannya dan memilih memutarkan kursi miliknya hntuk menghindar.
"Kenapa sekarang kamu berani membantahku, hah?" Teriak Kala sambil menarik kursi milik Anyelir agar menghadap dirinya.
"Aku tidak membantahmu Kala, aku hanya menjelaskan apa yang kamu tanyakan saja." Jawab Anyelir yang berusaha tetap tenang, walau setelah bertahun-tahun dia mendapatkan siksaan batin dari Kalandra, namun tidak memudarkan rasa sayangnya.
"Pulang kamu sekarang!" Perintahnya dengan suara yang melengking.
"Aku mau kerja." Jawab Anyelir dengan pura-pura tegar, padahal tangannya sudah mencengkeram rok nya agar dia bisa menjadi sosok wanita yang kuat.
"Kerja saja dirumah, aku bisa menggajimu lebih dari yang perusahaan ini berikan kepadamu, asal kamu tahu itu!"
Karena memang perusahaan Papa Anyelir dan Ayah Kalandra saling berkolaborasi bersama, jadi Kalandra memang sering bolak-balik ke perusahaan itu.
Kebetulan dia sedang berkunjung kesana, dan masih ada sedikit waktu, jadi dia ingin memastikan apakah istrinya benar-benar bekerja disana atau hanya ingin mencari alasan karena bosan dirumah pikirnya.
__ADS_1
"Ini bukan masalah gaji Kalandra!" Ucap Anyelir dengan tatapan jengahnya.
"Lalu masalah apa? Asistenmu tadi? Kamu ingin bebas bermain-main dengan pria lain, begitu?" Dia langsung menuduh Sean sebagai pihak ketiga diantara mereka.
"Apa kamu masih perduli jika aku dekat dengan pria lain? bukannya selama ini kamu membenciku?" Anyelir langsung membalikkan ucapan suaminya.
"Diam kamu!" Teriak Kalandra kembali, karena dia sendiri pun bingung, kenapa dia marah sekali saat melihat istrinya bisa tertawa lepas dengan pria lain, bahkan berani menyentuh lengan pria itu, walau aslinya menoyor karena merasa lucu.
"Kalandra, apa selama lima tahun ini kamu belum puas menyiksaku? masih butuh berapa lama lagi agar kamu bisa puas membalas dendam denganku?" Anyelir mencoba memberanikan diri menatap kedua bola matanya untuk melihat kejujuran darinya.
"Terserah aku dong, ini belum seberapa!" Jawab Kalandra sambil membuang pandangannya, sesungguhnya dia pun tidak sanggup jika kedua mata mereka saling bertemu dan saling bertatap, karena selama ini Anyelir selalu menunduk saat dia memarahinya.
"Apa kamu tidak capek? memangnya bagaimana keadaan Jenny sekarang? dimana dia? apa aku boleh melihatnya?" Anyelir selalu mencari tahu tentang Jenny, tapi tidak pernah menemukannya.
"Untuk apa kamu melihatnya, kamu hanya akan mengingatkan dia kepada perilaku gilamu itu!" Cecar Kalandra tanpa punya perasaan belas kasihan sedikitpun.
"Aku ada atau pun tidak ada, tapi kenyataannya Jenny sengsara karena ulahmu!" Pungkas Kalandra yang selalu tidak mau berbincang panjang soal hal itu.
"Kamu tidak boleh menyimpulkan satu masalah hanya dari satu pihak saja dong, ayo pertemukan aku dengan Jenny sekarang." Anyelir mulai memberanikan diri kembali, dia merasa semakin tertantang saat Kalandra terus menghindar saat membicarakan kejadian masa lalu itu.
"Jenny tidak ingin melihatmu untuk selamanya, paham kamu!" Hardiknya kembali.
"Tapi Kala, aku hanya ingin--"
"Jangan banyak bicara, kamu pulang sekarang juga!"
Kalandra langsung memotong pembicaraan Anyelir begitu saja, sebelum dia kehabisan kata-kata untuk menjawab semua pertanyaan Anyelir yang tidak seperti biasanya.
"Nggak mau, aku mau kerja!" Tolak Anyelir kembali, dia tidak mau mengalah begitu saja.
__ADS_1
"Kalau aku bilang pulang ya pulang Anyelir, jangan membantahku, aku ini suamimu!" Teriak Kalandra sambil meletakkan kedua tangan kokohnya di kursi Anyelir.
"NGGAK!"
"Owh... Jangan salahkan aku!" Kalandra langsung menarik tangan Anyelir dengan paksa.
"Kala, sakit tanganku!" Anyelir langsung mengaduh, saat cengkraman tangan Kalandra benar-benar kasar dengannya.
"Pulang sekarang, atau aku seret tubuhmu sampai kamu mau keluar dari gedung ini!" Teriak Kalandra kembali.
"Aku kerja nggak sampai sore atau bahkan lembur sampai nggak pulang kayak kamu!" Celetuk Anyelir yang langsung menyindirnya.
"Itu urusanku, aku pria! kalau kamu kan harus mengurus Kanaya!" Jawab Kalandra yang menjadikan putrinya sebagai alasan.
"Tapi dia anak kita, seharusnya bukan hanya aku yang mengurusnya, karena dia juga butuh kasih sayang dari kamu Kala!"
Sering sekali Kanaya mengeluh, kenapa dia tidak bisa seperti teman-temannya yang setiap akhir pekan bisa berlibur bersama kedua orang tuanya, hal itu begitu menusuk hati Anyelir, namun dia hanya bisa mencoba memberikan pengertian saja kepada Kanaya.
"Kenapa kamu jadi pandai bicara akhir-akhir ini, sekarang pulang dan jangan lagi membantahku!" Teriak Kalandra dengan amarah yang semakin meradang.
Ya Tuhan, bolehkan aku mengeluh? Terkadang aku benci sekali dengan diriku sendiri, dia begitu tega saat memperlakukan aku dengan jahat seperti ini, tapi kenapa aku masih sangat menyayanginya? sampai kapan aku harus begini Tuhan, tolong maafkan hambamu yang berlumuran dosa ini..
Lagi dan lagi, Anyelir hanya bisa mengeluarkan unek-uneknya didalam hati saja, padahal jantungnya seolah sudah berdegup kencang ingin membantahnya.
Kala benar-benar merasa tidak terima saat ucapannya dibantah oleh Anyelir, karena biasanya Anyelir sering memilih diam saja atau mengiyakan segala perintahnya. Namun kali ini Anyelir selalu punya jawaban untuk membantahnya, yang membuat diri Kalandra semakin kesal karenanya.
Titik terendah bukanlah tempat kita untuk menyerah. Tapi, titik terendah merupakan tempat untuk kita berpijak membangun kembali pondasi kokoh kehidupan. Jangan lelah untuk berjuang, hingga engkau jadi pemenang.
Jangan lupakan juga jempol kalian bestie😘
__ADS_1