
Hampir satu jam lebih, namun meeting Kalandra tak juga selesai, Anyelir sudah bolak-balik mengintip pintu ruang meeting itu, namun belum juga terbuka sedari tadi.
"Aish... entah apa saja yang mereka bicarakan, sudah hampir satu jam lebih, nggak kelar-kelar, apa gue coba masuk aja ya, tapi---"
Berulang kali dia mengacak rambutnya sendiri dengan wajah penuh dengan keraguan, mau menelpon juga tidak ada gunanya, karena ponsel Kalandra dia tinggal di ruangannya tadi sebelum meeting di mulai.
"Aku sudah telat setengah jam ini, apa aku tinggal aja ya? tapi kalau nanti Kala ingkar janji gimana?"
Anyelir kembali dibuat bingung, ini kesempatan dia satu-satunya untuk memergoki Jenny dan suaminya, namun ada saja halangan untuk dirinya.
"Masuk ajalah, perusahaan Kalandra kan bekerja sama dengan perusahaan Papa, jadi tidak masalah dong pewaris tunggalnya ikut meeting?"
Tanpa berpikir panjang lagi, Anyelir langsung membenahi pakaiannya agar terlihat lebih rapi, dia oleskan juga sedikit lipstik ke bibiirnya agar tidak terlihat pucat.
"Fuh... kalau sampai mereka hanya ngobrol biasa dan melupakan janjinya denganku, siap-siap aja, aku akan kabur dengan Kanaya!" Umpat Anyelir dengan wajah penuh kekesalan menuju ruang meeting.
Tok
Tok
Tok
Ceklek!
Sebelum ada yang mempersilahkan Anyelir masuk, setrlah mengetuk pintu tiga kali, Anyelir langsung saja membuka pintu ruangan meeting itu.
Glek!
Anyelir hanya bisa menelan ludahnya sendiri, saat semua mata di ruangan itu tertuju kepadanya.
"Maaf, saya tidak tahu kalau meetingnya belum selesai." Ucap Anyelir dengan keringat yang mulai mengalir di keningnya.
"Kamu mencariku?" Kalandra langsung memutarkan kursinya ke arah Anyelir dengan senyum tipisnya.
"Iya." Jawab Anyelir sambil tersenyum malu, karena ternyata mereka semua benar-benar masih fokus dengan materi meeting bahkan dengan beberapa orang penting berjas hitam disana.
"Cih... nggak sabaran sekali, baru ditinggal satu jam saja, sudah kayak cacing kepanasan!" Ledek Kalandra yang malah mengartikan hal lain.
"Dia siapa pak Kalandra?" Tanya salah satu kliennya yang ikut terkejut tadi.
"Dia istri saya, dia juga putri dari salah satu pemegang saham dalam proyek ini juga, tapi beliau tidak bisa hadir dan diwakilkan kepada saya." Jawab Kalandra yang membuat Anyelir melongo sesaat.
Sesungguhnya ada rasa haru, ketika Kalandra memperkenalkan siapa dia, saat mereka di Rumah dia memperlalukan Anyelir dengan semena-mena, namun didepan para koleganya, bahkan tanpa ragu dia mengatakan kalau Anyelir adalah istrinya.
"Kalau begitu silahkan masuk, apa Anda akan menggantikan Ayah Anda?" Ucap salah satu klien disana.
"Emm... sebenarnya tidak, saya hanya sedang mencari suami saya saja tadi, boleh saya bicara sebentar dengan suami saya, ada hal penting soalnya."
"Silahkan saja, biar kami break dulu." Jawab mereka dengan senyuman, karena tahu siapa Anyelir disana.
"Tidak usah pak, saya hanya perlu sebentar saja dengan suami saya." Anyelir langsung menggandeng lengan suaminya ke pojokan ruangan.
"Ada apa, baru satu jam aku tinggal, apa kamu sudah rindu denganku?" Tanya Kalandra dengan tatapan mengejek ke arah Anyelir.
"Aku sudah tidak berminat merindu denganmu lagi, apa meetingmu masih lama?" Jawab Anyelir sambi berbisik.
"Cih... kalau iya, emang kenapa? bilang saja kalau kamu hanya ingin melihatku kan, biar aku suruh asistenku mengambilkan kursi untukmu." Ucap Kalandra kembali dengan gaya sombongnya, merasa bahwa Anyelir hanya akan tergila-gila dengan dia seorang.
"Tidak perlu, tapi jadwal Dokterku sebentar lagi, kalau aku terlewat karena menunggumu bisa-bisa aku dapat nomor antrian terakhir tahu nggak?" Ucap Anyelir yang hanya mencari alasan saja.
"Kita atur saja lain waktu, gitu aja kok susah." Kalandra tidak akan peduli hal-hal seperti itu.
__ADS_1
"Nggak mau, aku akan pergi duluan saja, setelah kamu selesai meeting langsung susul aku ke rumah sakit, okey?"
Tidak ada pilihan lain selain itu, dia tidak akan melewatkan bukti nyata ini pikirnya.
"Hmm." Kalandra hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Kalau sampai kamu nggak datang, kamu tidak akan pernah bisa melihat aku dan Kanaya lagi, karena aku tidak butuh alasan dalam bentuk apapun." Ucap Anyelir dengan penuh penekanan, lama-lama dia sudah mulai pandai bicara saat ini, mungkin karena keadaan yang terus mendesaknya.
"Kamu mulai berani mengancamku, hah?" Dan Kalandra langsung melotot kesal setelahnya, baru kali ini dia merasa diancam seseorang, dan pahitnya dia memang mengkhawatirkan akan hal itu.
"Kenapa tidak? aku bicara serius kali ini!" Jawab Anyelir dengan mantap, walau tetap berbisik.
"Anyelir?" Bahkan tangannya langsung menarik pinggang istrinya dan mulai menekankan ke tubuhnya.
"Jangan begini, banyak klien penting yang melihat kita!" Anyelir langsung menghempaskan tangan suaminya, walau dengan perlahan, karena dia tidak ingin membuat mereka yang ada di ruangan itu berasumsi lain.
"Terima kasih atas waktunya, maaf sudah menggangu, saya permisi terlebih dahulu."
"Silahkan."
"Eherm... aku permisi dulu suamiku tersayang, selesai meeting aku tunggu loh, bye?" Bahkan tanpa segan, Anyelir mengusap pipi suaminya dengan mesra, sebelum dia beranjak pergi dari ruangan itu.
"Eherm." Dan itu berhasil membuat Kalandra merasa segan.
"Wah... ternyata kalian pasangan yang romantis ya, aku bangga padamu pak Kalandra, selain hebat menjadi Pembisnis muda, ternyata anda seorang suami romantis dan idaman juga." Puji klien perempuan yang ada di ruangan itu.
"Ahaha... Terima kasih Buk, mari kila lanjut meetingnya, soalnya saya masih punya janji dengan istri saya tadi." Jawab Kalandra dengan raut wajah yang sulit dilukiskan, antara malu tapi juga senang.
"Tentu saja pak."
Sedangkan Anyelir langsung buru-buru mencari Taksi untuk pergi ke rumah sakit yang sudah dia janjikan.
Namun saat Dia berlari menuju ke ruangan Dokter Kandungan yang sudah dia sarankan, dia melihat Jenny sedang menelpon di luar ruangan sambil berkata-kata sengak disana.
Cekrik!
Anyelir langsung mengerutkan keningnya sambil sengaja mengabadikan foto Jenny saat ini, saat Jenny terlihat seperti orang yang sedang panik, perlahan Anyelir langsung mendekat sambil mengenakan masker dan menutupi sebagian wajahnya dengan rambut panjang miliknya agar tidak kelihatan.
"Aku tidak tahu kalau dia membawaku ke Dokter Kandungan, katanya dia mau bertemu rekannya disini, tapi ternyata kami yang akan cek kesehatan, cepat kamu urus semuanya! Aku tunggu di ruang pendaftaran, sekarang juga!" Ucap Jenny sambil berjalan maju mundur tanpa henti.
Anyelir langsung melebarkan senyumannya setelah Jenny berjalan terburu-buru meninggalkan kursi tunggu di ruangan itu.
"Pasti ada yang tidak beres ini!"
Seketika Anyelir langsung berlari menuju ruangan saudaranya yang juga menjadi seorang Dokter di rumah sakit itu, karena itu memang rencananya sejak awal.
"Permisi Paman, aku Anyelir!" Teriak Anyelir saat dia sudah berada didepan ruangannya.
"Masuk Anye, ada apa? Kenapa terburu-buru begitu, apa suamimu sudah datang?" Anyelir sudah menceritakan kisahnya dengan pamannya ini karena ingin meminta pertolongan darinya.
"Paman, apa rekanku yang aku bilang tadi sudah melakukan pemeriksaan dengan istrinya?" Tanya Anyelir sambil mengatur nafasnya yang masih terlihat ngos-ngosan.
"Sudah, tapi hasilnya belum keluar, mungkin sebentar lagi!" Jawab Paman Anyelir.
"Antarkan aku mengambil hasilnya terlebih dahulu Paman, jangan sampai mereka dulu yang melihatnya." Anyelir menangkap ada banyak hal yang mencurigakan saat melihat Jenny.
"Sekarang?"
"Iya, tolong Paman, ini soal penting!" Ucap Anyelir sambil memohon untuk meminta bantuannya.
"Okey, kamu tunggu disini saja, karena hanya Dokter yang boleh masuk kedalam sana." Ucap Paman Anyelir kembali.
__ADS_1
"Siap Paman, aku tunggu disini ya, jangan sampai mereka tahu." Anyelir pun paham dengan aturan di rumah sakit besar seperti itu.
"Okey, wait a minute!"
Anyelir berharap dia tidak terlambat, karena dia ingin tahu hasilnya seperti apa, dia merasa curiga saat wajah Jenny seperti orang yang ketakutan tadi.
ceklek!
Pintu ruangan paman Anyelir kembali terbuka dan muncullah pamannya dengan wajah penuh keheranan.
"Paman, bagaimana? apa kita telat?" Tanya Anyelir yag sudah risau saat melihat ekspresi wajah Pamannya.
"Paman heran dengan Dokter yang ada disana tadi, kenapa dia bersikekeh tidak mau memberikan hasil tes mereka dengan Paman!" Ucapnya dengan wajah lesu.
"Aish... aku sudah curiga, pasti ada yang tidak beres soal itu, jadi Paman tidak bisa membawakan aku hasilnya?" Anyelir sudah menduga, Jenny pasti sudah bertindak.
"Maaf Anyelir, aku sudah berusaha, tapi karena aku bukan dokter kandungan jadi dia yang menjadi pemenangnya."
"Astaga, sia-sia sudah!" Anyelir menghempaskan tubuhnya di kursi ruanan itu.
"Tapi jangan panggil aku Pamanmu jika tidak bisa mendapatkan apa yang kamu mau, Paman memang tidak bisa mengambil kertas hasilnya, tapi Paman berhasil mengambil fotonya, karena paman kenal baik dengan petugasnya." Ucap Paman Anyelir dengan senyum tampannya.
"Woah... Paman memang terbaik, paman mau hadiah apa?" Anyelir langsung mengacungkan kedua jempolnya dengan bangga.
"Beneran nih nawarin hadiah?" Ledek Paman Anyelir.
"Hu um, apapun yang Paman mau bilang aja, tapi sama Papa, aku kan pengganguran, haha!" Jawab Anyelir dengan tawa yang renyah.
"Kamu ini, nggak niat ngasih hadiah ngomong aja!" Mereka berdua memang jarang bertemu, api saat acara keluarga memang mereka berdua dekat.
"Bercanda Paman, lain kali kita bahas tentang hadiah untuk Pamam, tapi sekarang kasih tahu dulu apa hasilnya ini, banyak banget tulisannya, nggak ngerti aku!" Dia tidak paham dengan tulisan di foto itu.
"Aku tidak begitu tahu detailnya ya, tapi aku sempat tanya juga untuk hasil tes kesuburan pria, disini hasilnya cukup bagus, dan tidak tertulis ada gangguan yang serius."
"Apa? coba lihat lagi Paman, namanya Kendrick apa bukan?" Anyelir seolah tidak percaya akan hal itu, dia takut salah orang.
"Iya, orang yang cek kesuburan hari ini cuma mereka kok, namanya juga jelas tertera ini."
"Tapi kenapa kemarin Mr. Ken bilang kalau dia yang bermasalah dengan kesehatannya? Coba yang punya Jenny?" Anyelir semakin bingung karenanya.
"Dia juga bagus, tapi hasil USG nya tertulis disini dia sedang menggunakan IUD untuk program KB." Jelasnya kemudian, karena saat USG terlihat disana.
"APA! woah... benar-benar buaya betina licik dia, pasti itu akal-akalan dia, agar bisa memutar balikkan fakta hingga Mr. Ken yang terpojokkan, ini pasti sudah dia rencanakan sebelumnya, dan tadi pasti dia tidak tahu rencana suaminya, emm... kirim foto itu ke nomorku sekarang Paman dan dapatkan Hadiahnya!" Ucap Anyelir yang terlihat bersemangat sekali.
"Kamu pikir ini kuis?" Ucap Paman Anyelir sambil mengirimkan foto-foto ke nomor Anyelir.
Grep!
"Ahehe.. Pokoknya terima kasih Paman, tanpa Paman aku tidak akan mendapatkan bukti bagus dari Wanita Pendosa itu!"
Yes... sudah cukup kamu membuat aku menderita selama ini Jenny, sekarang giliran kamu yang akan sengsara, bagaimana kalau Mr. Ken sampai tahu kamu membohonginya dengan ikut program KB, dan bagaimana reaksi Kalandra kalau tahu kamu ternyata juga sudah menikah? pasti akan semakin seru drama ini, sebentar lagi akan aku pertemukan kalian berdua dan rasakan penderitaanmu!
Anyelir langsung berlari dan memeluk Pamannya dengan riang gembira, karena kalau Pamannya tidak gerak cepat, sudah pasti dia akan ketinggalan dengan tingkah licik Jenny, karena diam-diam dia punya banyak kaki tangan untuk melancarkan segala keinginannya.
"ANYELIR, LEPASKAN DIA!"
Saat Anyelir masih memeluk Pamannya dan membayangkan apa yang akan terjadi dengan Jenny selanjutnya, ternyata suara Kalandra sudah menggema diruangan Pamannya, karena memang dia tadi sudah janjian di ruangan itu.
"Hedeh, kumat lagi dia!"
Dengan sigap Anyelir langsung menggangkat kedua tangannya ke udara, bahkan Pamannya pun ikut melakukan hal yang sama dengan Anyelir, mereka seolah seperti pelaku kejahatan yang berhasil diringkus oleh Polisi.
__ADS_1
Dalam sebuah hubungan jangan hanya mengandalkan Hatimu saja, gunakan juga Logikamu, karena Hati punya keinginan, namun Semesta punya Kenyataan.