
Dengan wajah masam dan penuh kekesalan, Jenny berjalan menuju kamar mandi dengan ditemani oleh pria Bule itu.
"Sayang, don't go anywhere okey!" Karena kamar mandi itu khusus wanita, jadi pria Bule itu tidak bisa menemaninya masuk kedalam.
"Okey Baby, aku tunggu kamu disini." Dan si pria Bule itu pun menurut dia berdiri didepan kamar mandi wanita sambil bersandar di dinding.
"Excuse me."
Tak lama kemudian Alenka langsung menyusul masuk kedalam kamar mandi itu sendirian, dia sengaja tidak mengajak Adinda, karena nanti pria Bule itu bisa curiga, sebab Adinda tadi sempat beradu mulut dengan Jenny.
Dan dari kejauhan Anyelir sudah mulai mengatur strategi.
Itu dia mangsa gue, apa yang harus gue lakukan ini, kalau pura-pura jatuh lagi nanti dia curiga dong, masak aku sama Adinda modusnya jatuh semua, eits... aku ada ide.
"Dalam hidup ini, memang harus ada sebuah pengorbanan untuk bisa mendapatkan sebuah kemenangan!"
Klek!
Anyelir langsung menginjak sepatu hak tingginya sekuat tenaga, hingga hak sepatu miliknya itu hanya tinggal terpaut sedikit dengan sepatunya.
"Fuh... sory ya Din, sepatu mahal pemberian kamu harus jadi korbannya!"
Anyelir kembali memakainya dengan perlahan dan mulai berjalan dengan sedikit menyeret kakinya agar saat terlepas nanti momentnya pas didepan pria Bule itu.
Krek!
"Aish... Sial, sepatu bodoh, dasar laki-laki brengs€k, dia pasti membelikan aku sepatu palsu ini, argh... Dia sungguh keterlaluan sekali!" Umpat Anyelir dengan wajah kesalnya seolah merutuki seseorang dan melampiaskan dengan sepatu miliknya.
"Hai nona, can i help you!" Dan benar saja, pria Bule itu langsung datang menghampirinya.
"Aduh, malu sekali aku, ada yang lihat lagi, ketahuan kan sepatuku palsu!" Umpat Anyelir dengan suara keras yang memang dia sengaja.
"Don't worry, santai saja okey, hal seperti ini sudah biasa terjadi." Jawab Pria Bule itu dengan senyum manisnya.
"Eherm... maaf, ini pasti ulah kekasih saya yang sok kaya itu, dia bilang sepatu ini brand ternama, tapi kenapa hak nya mudah patah, bikin malu saja!" Anyelir bahkan sampai pura-pura duduk lesehan di lantai, agar sandiwaranya terlihat meyakinkan.
"Emm... sepertinya ini Asli, saya pernah membelikan My Wife sepatu merk ini dan ini asli."
Aduh... Dia paham pula merk sepatu ternama, pasti Jenny yang sering minta shoping brand mahal seperti ini, ehh.. tunggu, dia panggil Jenny apa tadi?
"MY WIFE?" Anyelir bahkan sampai membelalakkan kedua matanya saat mendengar panggilan itu.
"Yes, My Wife, apa ada yang salah, jika saya memberikan sepatu bagus untuk istri saya?" Ucapnya kembali.
Woah GILA! apa mereka sudah menikah? atau hanya nama panggilan saja? Aku harus cari tahu tentang itu.
"No.. maksud saya bukan begitu, tapi aku yakin sepatu yang ini palsu, jaman sekarang banyak yang bisa bikin merk palsu, lagian gaji pacar saya kecil, dia tidak mungkin beli yang asli, aku tidak masalah dikasih yang palsu, tapi lebih baik jujur daripada malu seperti ini kan, aduh.. kenapa kakiku sakit sekali?"
"Apa ada yang terluka?" Setelah mendengarkan celotehan Anyelir pria itu langsung berjongkok dihadapan Anyelir saat dia mengaduh kesakitan.
"Aduh... sepertinya kakiku sedikit terkilir gara-gara haknya patah tadi, aish... mana mau ke tempat parkiran mobil jauh lagi." Umpat Anyelir kembali.
"Kamu mau pergi ke tempat Parkiran?" Tanya pria Bule itu kembali.
"Ya, tapi aku malu kalau jalanku pincang-pincang begini, trus nanti kalau jatuh ditempat umum mau ditaruh dimana mukaku ini."
"Emm... kalau begitu mari saya bantu anda untuk pergi ke Parkiran lewat pintu belakang."
"Benarkah? apa ada pintu belakang di gedung ini?" Anyelir merasa dewi fortuna begitu berpihak dengan dirinya kali ini.
__ADS_1
"Tentu saja, mari saya antar." Ucap Pria Bule itu yang bahkan membantu Anyelir untuk berdiri.
"Emm... maaf saya jadi merepotkan, tapi bolehkah saya minta tolong untuk dipapah sampai mobil saya, soalnya kakiku sakit sekali." Anyelir kembali membuat drama, padahal kakinya baik-baik saja.
"Apa perlu saya panggilkan mobil ambulance?" Pria Bule itu langsung mengeluarkan ponselnya untuk menawarkan bantuan.
"NO, tidak perlu, aku bisa malu nanti, kalau ramai orang yang tahu kakiku terkilir gara-gara sepatu palsuku yang patah ini." Anyelir jelas langsung menolaknya, kalau petugas medis yang membawanya pasti kakinya langsung di rongsen, sudah pasti akan langsung ketahuan kalau dia berbohong.
"Baiklah, mari saya bantu jalan sampai mobil kamu saja." Pria Bule itu mungkin paham, karena wanita kan memang sering gengsi gede-gedean kalau sudah menyangkut tentang fashion.
Yes!
"Terima kasih banyak ya Mr."
Untuk sementara ini rencana Anyelir berjalan sangat mulus, bahkan Pria Bule itu benar-benar membantu memapah tubuh Anyelir sampai di mobil Adinda.
"Apa kaki kamu sudah baik-baik saja?" Tanya pria Bule itu kembali.
"Masih sedikit nyeri sih, sepertinya harus ke tukang pijat dulu, tapi masih nunggu temen, mereka soalnya masih didalam sana, acaranya kan masih lama." Ucap Anyelir sambil mengusap-usap kakinya sambil pura-pura nyengir kesakitan.
"Wah... bisa bengkak nanti kakimu kalau terlalu lama menunggu, mau saya bantu pijat tidak?" Dia langsung mendudukkan tubuh Anyelir di mobil itu dan mengamati kaki Anyelir.
Bagus, aku jadi punya banyak waktu untuk bertanya-tanya dengan dia.
"Emang Mr. bisa memijat?" Tanya Anyelir kembali.
"Bukan ahli, tapi bisa sedikit, dulu kalau saya main sepak bola, sering jatuh seperti lalu terkilir lalu saya pijat-pijat sendiri bisa membaik, setidaknya sebagai pertolongan pertama."
"Kalau begitu mohon bantuannya ya Mr." Ucap Anyelir dengan senang hati, karena memamg hal ini yang dia harapkan.
"Okey, permisi ya saya coba bantu pijat sedikit."
"Emm... apa Mr. sudah menikah?" Anyelir mulai menginterogasi secara umum dulu, agar dia tidak curiga.
"Sudah." Jawabnya singkat.
Wow, hot news ini, apa Kalandra tau soal ini?
"Apa sudah memiliki anak?" Tanya Anyelir kembali.
"Emm... Belum, kata orang sih belum ada rezeki." Ucapnya dengan ekspresi yang terlihat sedih.
"Owh iya, benar sekali itu, yang namanya rezeki anak itu tidak ada yang tahu, semangat Mr. suatu saat nanti kalau semua sudah siap, pasti akan dikasih kok, kita hanya perlu sabar saja." Anyelir merasa tidak enak hati, pertanyaan itu memang terkadang bisa menjadi sensirif saat yang ditanya belum punya anak, jadi dia sedikit menghiburnya.
"Iya, terima kasih." Jawabnya dengan senyum yang jadi terlihat terpaksa.
"Apa Mr. sudah lama menikah? sepertinya Mr. masih sangat muda loh?"
"Pernikahan kami sudah hampir tiga tahun."
Duar!
Oh Ternyata, tiga tahun bukan waktu yang sebentar loh, si kadal itu ternyata juga dikadalin, haha!
"Baru tiga tahun kok, tak apalah, emang nama istri Mr. Siapa sih?"
"Why?" Dia langsung melirik tajam wajah Anyelir, saat dia terlihat banyak bertanya tentang hal pribadinya.
"Owh maaf, apa saya terlalu banyak bertanya?" Anyelir pun langsung minta maaf, agar dia tidak curigai.
__ADS_1
Krek!
Aduh.. kaki gue, jangan-jangan malah jadi patah beneran ini!
"Aw... Aw... sakit, cukup-cukup!" Kali ini dia benar-benar merintih kesakitan, bayangkan saja kakinya yang normal langsung menerima pijatan keras seperti itu.
"Kamu istirahatlah, jangan terlalu banyak jalan, nanti bisa di cek di rumah sakit kalau memang maaih terasa nyeri." Nasehat pria bule itu kembali.
Siaal, kenapa dia tidak mau menjawab pertanyaanku, padahal aku sedang merekamnya.?
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu, nanti My Wife bisa marah, kalau saya terlalu lama meninggalkan dia." Pria itu benar-benar terlihat baik dan perhatian dengan wanitanya, namun entah apa yang dilakukan wanitanya terhadap dia.
Belum, si Alenka pasti masih menahannya didalam kamar mandi, hehe..
"Wah... beruntung sekali istri Anda bisa mendapatkan suami sebaik Anda." Ucap Anyelir kembali.
"Tidak, dia pasti yang kurang beruntung karena memiliki saya, karena kesehatan saya yang bermasalah, jadi saya belum bisa memberikan keturunan kepada istri saya, walau kami sudah menikah selama bertahun-tahun."
Owh... apa ini alasannya, tapi apa Kalandra mau berbagi dengannya juga? benar-benar menarik kisah mereka?
"Jangan begitu Mr. tetap semangat, jangan lupa berdoa, jangan terlalu capek, owh iya.. aku punya dokter kandungan yang recomended sekali, banyak orang yang punya berbagai masalah kesehatan dan ikut program dengan dokter itu bisa hamil kok, apa Mr. mau saya perkenalkan dengan Dokter itu?"
"Benarkah?" Dari sorot matanya dia terlihat tertarik sekali.
"Tentu saja, tadi Mr. sudah banyak membantuku, jadi bantuan ini tidak seberapa, lagian saya kenal betul dengan dokter kandungan itu, karena dia masih kerabat jauh dengan saya, jadi kalau anda sibuk kapanpun anda punya waktu bisa menghubungi saya saja, biar Dokter itu yang menyempatkan waktu untuk Mr."
Jika memang pria itu mau, hal ini akan sangat menguntungkan bagi Anyelir untuk bisa membuka segala kedok Jenny.
"Owh ya... ini berita bagus, kalau begitu saya mau, tapi saya masih harus bolak-balik mengurus perusahaan keluar negri juga." Ucapnya dengan wajah yang kembali melemas.
"Tidak masalah Mr. biar nanti Dokter Kandungan itu yang menyesuaikan dengan jadwal padat anda, aku yang akan mengurusnya nanti." Apapun akan dia lakukan demi misi kali ini.
"Okey, kalau begitu berapa nomor kamu, nanti kalau saya ada waktu, saya akan menghubungi kamu." Pria itu langsung mengeluarkan ponselnya.
Yes... Tanpa harus merayu juga dia sendiri yang minta nomor gue, thanks God.
Padahal Anyelir sudah mempersiapkan banyak rencana, ternyata tanpa harus merayu atau menggoda pria Bule itu, dengan mudahnya dia mendapatkan nomornya.
"Okey Mr. silahkan hubungi saya kapanpun anda bisa, owh ya.. nama Mr. siapa?" Tanya Anyelir dengan semangat.
"Kendrick." Jawabnya dengan ramah sekali.
"Okey Mr. Kendrick, perkenalkan nama saya Bella." Dia sengaja menggunakan nama akhirannya, agar jika pria itu nanti bercerita dengan jenny, dia tidak langsung curiga.
"Okey, Bella.. Tapi sekarang saya harus pergi, sepertinya istri saya sudah selesai dari kamar mandi." Ucapnya sambil melihat jam dipergelangan tangannya.
"Okey Mr. Kendrick, sekali lagi terima kasih banyak ya."
"Sama-sama."
Pria bule itu langsung bergegas pergi, bahkan langsung berlari karena mungkin takut jika Jenny mencarinya nanti.
"Jenny... Jenny, ternyata hidupmu penuh dengan teka-teki, okey... akan aku atur pertemuan kalian bertiga, biar semakin seru permainan kalian!"
Anyelir langsung menselonjorkan kakinya dan mulai menghubungi Dokter Kandungan terbaik di kota itu dengan bantuan saudaranya.
Dia memang punya saudara Dokter, tapi bukan spesialis Kandungan, jadi dia akan mencari Dokter spesial paling handal, yang bisa bekerja sama dengan dirinya.
Tidak ada kehidupan tanpa rintangan dan tidak ada kehidupan tanpa kesulitan, cuma terkadang kita sering lupa, jika hidup ini adalah proses yang sangat memerlukan kesabaran.
__ADS_1