Ketika Aku Memilih Diam

Ketika Aku Memilih Diam
21.Dia?


__ADS_3

Saat menginjak usia dewasa, seseorang akan dihadapkan dengan permasalahan hidup yang semakin rumit dan pelik. Saat hari itu tiba, kata menyerah bukanlah sebuah pilihan. Karena sejatinya, seseorang yang dewasa itu akan berani dan mampu menghadapi segala resiko yang ada di hadapannya.


Seseorang yang sebenarnya sangat dia rindukan, namun juga tak ingin dia temui adalah Kalandra Sailendra.


Bagi Anyelir, pria itu masih sangat mempesona, dia bahkan masih tetap bertahta didalam hatinya sampai saat ini, walau kenyataannya pria itu jugalah yang sudah menorehkan luka begitu dalam, bahkan menusuk hatinya dengan segala ucapan kasarnya terdahulu.


POV ANYELIR


Betapa terkejutnya hatiku, ingin rasanya aku menangis karena terlalu merindukannya, aku bahkan ingin sekali berlari untuk menghampiri dirinya dan memeluk tubuhnya dengan sangat erat, namun kenyataannya aku hanya mampu berdiri mematung ditempat.


Rasa itu masih sama, bahkan diantara gempuran pria-pria bule tampan yang selalu menggoda aku di Kampus, seolah tidak ada pria satupun yang mampu mengantikan dia didalam hatiku.


"Aku yakin, kamu pasti akan sulit menolaknya." Ucap Ayah Kalandra yang terdengar di telingaku, tatapanku hanya terarah kepada Kalandra seorang, seolah tak rela jika harus melewatkannya walau hanya sedetik saja.


"Dia putra dari rekan bisnis Papa, sekaligus penerus perusahaannya, namanya Kalandra, katanya dulu dia teman sekelas kamu juga kan, apa kamu masih ingat?" Ucap Papaku yang mungkin tidak tahu jika pria itu yang sudah menjelek-jelekkan aku, saat dulu aku masih dirawat di rumah sakit.


Entah bagaimana ekspresi Papa jika dia tahu Kalandra pernah menghujat aku sekejam itu, walau kejadian itu sudah bertahun-tahun lamanya berlalu, namun bagiku semua kata-katanya masih terekam dipikiranku, entah sampai kapan.


"Kamu menyukainya bukan, apa Mama bilang, selera kita itu pasti tidak jauh berbeda, karena buah jatuh tidak jauh dari pohonnya." Ledek Mama yang langsung menyadarkan aku dari lamunan panjangku.


"Itu sudah pasti, sedari tadi matanya tak berkedip sama sekali saat melihat Kalandra datang." Imbuh Papaku yang seolah mampu membaca pikiranku saat ini.


Memang aku menyukainya bahkan sangat mengaguminya, namun entah bagaimana perasaan Kalandra saat ini, aku masih belum bisa menebaknya, ketika dia tahu akan dijodohkan dengan wanita yang selalu dia tuduh menjadi penyebab terjadinya musibah yang menimpa kekasih hatinya di jaman SMA dulu.


Aku pun tak tahu, bagaimana kisah kelanjutan hubungan Kalandra dengan Jenny saat ini atau lebih tepatnya aku yang memang tidak mau ambil tahu, karena selain menambah luka juga hanya akan menambah beban dipikiranku saja.


"Selamat sore Om dan Tante, bagaimana penerbangan hari ini, apa cukup lancar?" Sapa Kalandra dengan senyuman yang begitu menawan, entah makanan apa yang dia makan, kenapa tubuhnya bisa Atletis begitu dan wajahnya bahkan dua atau tiga kali lipat lebih tampan dari jaman kami masih ABG dulu.

__ADS_1


"Semua lancar, aman tanpa ada kemacetan." Jawab Papaku yang terkadang memang suka membanyol seperti diriku.


"Ya iyalah Om, mana ada macet di langit sana, bahkan traffic light pun tidak ada, Om ini bisa aja." Jawab Kalandra dengan lurusnya.


Aku kira dia akan marah dan melampiaskan kekesalannya dengan orang tuaku, namun ternyata senyumannya begitu ramah saat menyapa kedua orang tuaku. Dan itu membuat hatiku kembali bergetar karenanya.


Andai musibah itu tidak pernah terjadi diantara kami, sudah pasti aku akan bersorak gembira karena dijodohkan dengan pria sempurna seperti Kalandra.


"Kedua orang tuanya aja nih yang disapa, calon istrimu yang cantik itu enggak?" Ucap Ayah Kalandra sambil menyenggol lengan putranya.


"Hai Anyelir, gimana kabarmu, lama kita tidak berjumpa?" Dia mengulurkan jemarinya ke arahku, namun aku hanya bisa melongo saja saat menanggapinya.


Otakku kembali delay, seolah susah untuk berpikir, kenapa Kalandra bisa begitu santainya menyapaku, padahal jelas-jelas Ayahnya tadi mengatakan kalau aku adalah calon istrinya, atau dia sudah mengetahuinya sebelum ini dan apakah dia menerima perjodohan ini?


Atau aku hanya sedang bermimpi?


"Anyelir, kamu kenapa nak, apa yang terjadi denganmu?" Ayah Kalandra langsung mengomentari kelakuanku yang seolah tidak percaya dengan semua ini.


"Ahahaha... Dia pasti sedang menghalu tadi, Anyelir kamu tidak mimpi nak, dia memang calon suamimu, kami berdua sepakat untuk menjodohkan kalian." Mama selalu tepat saat menebak isi dalam kepalaku.


"Tapi Pa?" Banyak kata yang sulit untuk aku ungkapkan saat ini, puluhan kata 'Andai' seolah bersarang di otakku.


"Apa kamu tetap ingin menolak putraku?" Ucap Ayah Kalandra yang seolah sudha sangat yakin bahwa aku adalah pilihan tepat untuk putranya.


"Bukan begitu juga Om." Memang aku tidka bermaksud untuk menolaknya, tapi aku juga belum mau untuk menerimanya.


"Wah... berarti kamu menerima putra Om menjadi calon suamimu dong, syukurlah kalau begitu." Dan Om Hasan sudah menyimpulkan sendiri jawabannya.

__ADS_1


"Hah?" Untuk saat ini aku belum bisa berkata banyak, karena aku masih belum percaya dengan semua ini, semua terjadi di luar ekspetasiku selama ini.


Entah apa yang terjadi, atau mungkin Takdir sedang ingin bermain-main denganku? Sungguh aku hanya ingin berpasrah saja dengan segala kehendak Yang Maha Kuasa.


"Zulfikar, kita akan menjadi besan sekarang dan aku yakin jika perusahaan kita berdua bersatu, pasti akan maju pesat, dan sudah pasti akan menjadi perusahaan raksasa yang tidak terkalahkan dengan perusahaan lain." Sebenarnya entah karena alasan perusahaan atau apapun itu aku tidak perduli, karena memang sampai saat ini faktanya aku masih sangat menyukai sosok Kalandra.


"Benar sekali Hasan, hal ini memang yang aku tunggu-tunggu, tidak salah kita menjodohkan mereka berdua kan?" Papaku pun terlihat sangat bahagia sekali.


"Sepertinya kita harus syukuran besar-besaran ini nanti Pak Besan?" Apalagi Mama, pasti selalu heboh dengan jiwa emak-emaknya yang suka ngumpul-ngumpul dan makan enak.


"Tentu dong Bu Besan, niat yang baik harus disegerakan, lagian mereka berdua cocok, sama-sama rupawan dan sepertinya mereka berdua saling menyukai, apalagi putraku, baru kali ini dia tidak menolak saat aku perkenalkan dengan seorang wanita." Tutur Pak Hasan kembali.


"Benarkah?"


Mama pun seolah tidak percaya, sama seperti apa yang aku pikirkan, karena menurutku pasti banyak wanita cantik yang menyukainya diluar sana dan menginginkan menjadi pendamping hidupnya, masak ditolak semua, dan aku?


"Wah... Mungkin memang sudah ada cinta terpendam diantara mereka sedari dulu." Pak Hasan bahkan merengkuh bahu putranya dengan bangga.


"Bisa jadi, pokoknya kita harus pesta besar-besaran besok pagi, sekaligus acara pertunangan diantara mereka berdua."


"SETUJU." Ucap mereka semua dengan kompak dan perkiraanku sekarang mungkin hubungan Kalandra dengan Jenny sudah terpisah, aku berfikir mungkin ada salah satu diantara mereka yang masih labil, namanya juga masih percintaan jaman SMA, masih jauh dari kata serius, lain halnya dengan perasaanku yang bucinnya memang sering nggak ketulungan.


Dan saat ini, para orang tua kami begitu heboh saat membicarakan tentang aku dan Kalandra. karena Kalandra pun sama sekali tidak menolak perjodohan ini, bahkan tersenyum lebar saat mendengar pembicaraan kedua orang tua kami.


Akhirnya aku hanya memilih diam saja, karena aku masih belum bisa memahami, masih merasa bingung dan juga syock, seolah semua masih seperti dalam mimpi bagiku.


Jangan pernah berputus asa jika menghadapi sebuah kesulitan, karena setiap tetes air hujan yang jernih itu, berasal daripada awan yang gelap.

__ADS_1


__ADS_2