
Semua yang terjadi saat ini, bisa dikatakan sebagai mukjizat atau mungkin juga ini adalah doa-doa dari Anyelir dan keluarganya, juga usaha pihak medis tentunya, karena Jenny akhirnya sadar dari koma dan sudah bisa melewati masa-masa kritisnya.
Dan begitu mendengar informasi itu, Papa dan Mama Anyelir langsung menyiapkan keberangkatan dan kepindahan Anyelir ke luar negri.
Tentang masalah kejadian saat itu kedua Orang tua Anyelir meminta damai saja, terlepas dari siapa pun yang bersalah, mereka tidak terlalu memusingkan hal itu, yang terpenting kedua gadis itu bisa selamat dan orang tua Anyelir yang akan bertanggung jawab tentang semuanya, karena memang Anyelir juga masih sekolah, mereka juga menanggung biaya pengobatan Jenny sampai dia bisa dibawa pulang nantinya, bahkan akan memberikan tunjangan kecelakaan untuk Jenny secara pribadi.
"Sayang, kamu berangkat sendiri nggak apa-apa kan? soalnya Mama dan Papa harus mengurus banyak hal disini, nanti kalau sudah selesai semuanya, Mama dan Papa akan mengunjungi kamu di rumah Oma." Ucap Mama Anyelir sambil membantu membereskan koper dan tas yang akan Anyelir bawa.
"Seminggu sekali ya Ma?"
Sebenarnya hati Anyelir sungguh berat ingin meninggalkan negara ini, begitu banyak kenangan indah dirinya bersama keluarganya, bersama teman-temannya, namun karena rasa ketakutannya yang berlebihan, membuat dirinya memberanikan diri pergi jauh dari semua orang orang dia sayangi.
"Iya, nanti kalau kamu rindu Mama sama Papa kan kamu bisa pulang juga, tinggal ngomong aja sama Oma." Kedua mata Mama Anyelir pun sudah memerah, dia sebenarnya tidak tega, namun demi kondisi psikis putrinya dia pun rela harus hidup berjauhan dengan putri semata wayangnya.
"Aku tidak mau pulang lagi ke sini." Anyelir memalingkan wajahnya, karena perkataan itu sebenarnya bukan dari hatinya, dia sebenarnya enggan, bahkan dia takut jika harus hidup di negara asing dengan orang baru, budaya baru bahkan makanan-makanan yang belum tentu sesuai dengan lidah Anyelir.
"Loh, kenapa?" Mama Anyelir tahu betul, bahwa putrinya itu pun tersiksa dengan hal ini, jiwanya benar-benar tertekan dengan tragedi itu.
"Disini banyak orang bermuka dua, aku malas melihatnya lagi." Dadanya kembali terasa sesak saat mengingat Jenny, yang kelihatannya pendiam, namun kenyataanna dia begitu aroggant dan ingin menangnya sendiri.
__ADS_1
Terlebih lagi saat Anyelir mengingat sosok Kalandra, orang yang begitu dia suka, orang yang begitu dia puja-puja, bahkan seolah tiada celah di mata Anyelir, ternyata bisa begitu kasar menghujat dirinya, padahal dia belum tahu kondisi saat kejadian itu terjadi.
Sangat sulit mencari bukti nyata disana, karena di atap gedung itu tak ada CCTV, apalagi itu hanya gedung belakang yang kosong, jarang dipakai untuk aktivitas pelajaran, karena saat itu pernah ada beberapa murid yang kesurupan di gedung itu, jadi gedung itu jarang dipakai, namun tukang kebun disana masih sering merawatnya.
"Jangan hanya karena satu atau dua orang yang bersalah kamu jadi membenci tempat dimana kamu dilahirkan nak, itu tidak baik." Mama Anyelir tidak ingin Anyelir menjadi sosok gadis pendendam, apalagi dengan takdir Tuhan yang telah ditetapkan.
"Hanya Adinda dan Alenka yang baik denganku, dan juga suster itu yang percaya kalau memang aku tidak bersalah, yang lainnya pasti akan berfikir buruk tentangku dan melimpahkan semua kesalahannya kepadaku Ma, aku tidak akan sanggup bertahan dalam kondisi seperti itu." Dia membuang pandangan kosongnya jauh kedepan dan menghela nafas beratnya.
"Sudahlah, kamu tidak perlu memikirkan hal itu lagi, Papa sudah mengurus kepindahan sekolah kamu, walau agak sulit namun akhirnya bisa juga." Hal itu tidak mudah, karena tinggal satu semester lagi sebenarnya dia akan memasuki ujian kelulusan tingkat SMA.
Apalagi mencari sekolah baru di luar negri hanya satu semester saja, jika bukan menggunakan orang dalam pasti tidak akan bisa, atau bahkan harus mengulang ajaran baru tahun depan, tapi sudah pasti Anyelir akan menolaknya.
"Baru pergi ke sekolahmu yang dulu, mengurus sesuatu disana." Jawab Mama Anyelir dengan senyum kepedihan.
"Tapi aku belum bertemu dengan Adinda dan Alenka Ma?" Wajahnya kembali sendu saat mengingat kedua sahabatnya yang gokil itu.
Dia sudah membayangkan betapa garing dan hampanya hidup Anyelir, saat kesehariannya tidak bersama kedua sahabatnya itu, mungkin senyum dan tawanya akan redup, kebahagiaannya pasti akan pudar seiring berjalannya waktu.
"Apa lebih baik tidak jadi pindah saja? Ujian tinggal beberapa lagi loh, nanti kalau pindah kamu harus adaptasi dengan lingkungan baru dulu, ditambah dengan pelajaran yang berbeda, kamu juga belum punya teman dekat kan nak, Mama sebenarnya khawatir nak, sayang banget loh tinggal satu semester lagi, apa kamu tidak bisa bertahan disini saja?" Mama Anyelir mengusap lengan putrinya, masih mencoba merayu disaat detik-detik menjelang keberangkatan Anyelir.
__ADS_1
"Nggak bisa Ma, ini terlalu berat." Nafas Anyelir mulai tersengal, dia begitu sedih namun harus mencoba untuk tetap terlihat kuat.
"Berat kenapa Nak, kamu tidak sendiri, masih ada Mama dan Papa yang selalu ada bersamamu, juga kedua teman kamu itu nak, kamu pasti bisa melewati ini semua." Andai dia bisa mengambil alih, sudah pasti Mama Anyelir rela menjadi pihak yang dicaci maki atau dihujat sekalipun, asal bukan anaknya, karena Anyelir masih terlalu belia, untuk menghadapi masalah seberat itu.
"Tapi aku nggak mau sekolah disini lagi Ma." Air matanya kembali menalir dengan deras.
"Bagaimana kalau masih tetap disini tapi pindah sekolah lain?" Tanya Mama Anyelir mencoba memberikan ide.
"Sama saja, pasti aku akan bertemu dengan salah satu dari siswa di sekolahku di berbagai tempat dan akan menghujatku sesuka hatinya, dan aku nggak mau itu terjadi Ma!"
Gosipnya sudah pasti akan menyebar diseluruh penjuru sekolah, dan pikiran Anyelir sudah kemana-mana, dia seolah merasa ketakutan sendiri dengan bayangannya.
"Huft.. ya sudahlah, mau gimana lagi, kalau ada apa-apa hubungi Oma, biar saudara kamu yang disana yang membantumu, okey?" Jika dengan alasan itu, Mama Anyelir tidak lagi bisa berbuat apa-apa, walau niat hati tidak perduli dengan ucapan orang, namun kenyataannya ucapan julid orang memang lebih pedas daripada cabe satu kwintal.
"Sampaikan salamku, kepada Adinda dan Alenka ya Ma, jangan lupa kasih tahu nomer baruku kepada mereka nanti." Keputusannya sudah bulat, sanggup tidak sanggup dia harus bisa menghadapi kenyataan pahit itu.
"Iya sayang, jaga diri baik-baik ya, jangan jadikan masalah ini sebagai beban, apapun yang terjadi kamu harus kuat, kamu harus bertahan, untuk kebaikan kamu sendiri nantinya."
Akhirnya hanya pelukan hangat dari seorang ibu lah yang bisa menyejukkan hati seorang anak, masalah seberat apapun jika masih ada ibu, bebannya akan terasa sedikit berkurang.
__ADS_1
To Be Continue...