
Tuk ... Tuk ...
Ketukan sepatu menggema di lorong kantor polisi, Arjuna berjalan dengan raut wajah mencekam.
Ayah dari empat anak itu memang terlihat berwibawa, raut lembut serta penuh kasih sayangnya keni tertunda hanya karna kemarahannya.
Remang lampu lorong itu seakan terpadamkan oleh aura gelap yang menyertai langkah Arjuna.
"Rose,"
Anak sulungnya mengangkat wajah ketika ayahnya memanggil dengan suara yang terdengar tegas, gadis 23 tahun itu menautkan kesepuluh jemarinya, ia takut karna raut wajahnya mencekam.
"Nona Rose, sudah melakukan tes urin, Nona tak terbukti mengkonsumsi obat terlarang itu." terang Wira.
Wiratama seorang pria dewasa berumur 32 tahun yang merupakan pengawal ketiga putri Arjuna, sejak putranya yang bernama Abimanyu lahir.
Arjuna mengetahui watak ketiga putrinya, terlebih Rose, gadis itu kerap kali merundung para pengawal yang berusaha mengekangnya, dan para pengawal yang Arjuna tugaskan untuk menjaga putri harus berakhir mengundurkan diri, karna beberapa hal ekstrim yang di lakukan si sulung keluarga Barata itu.
"Kau tak perlu berbicara, tetaplah menjadi bisu!" Rose mendelikan mata kearah Wira, sang bodyguartnya.
"Berhenti bergaul dengan para teman keparatmu Rose! Atau tanpa segan aku akan memotong tangan Wira, bukan kah kau sangat menyayanginya?" Arjuna memang terlihat menyeramkan saat berkata demikian.
Cih, dari mana Papanya menyimpulkan jika dirinya menyayangi pria bisu itu?
Bukan tanpa alasan Rose mengatakan pengawalnya bisu, pria itu nyaris tak pernah berbicara saat bersamanya, padahal saat sedang bersama kedua adik dan papanya Wiratama terlihat seperti orang normal.
__ADS_1
"Kenapa Papa malah mengancamku dengannya? Papa bisa memotong tanganku jija aku bersalah, bukan malah ingin mengkambing hitamkan orang lain yang tidak terlibat dengan kesalahanku." Rose melipat tangan di perutnya, dagunya terangkat angkuh sekalipun di sana ada ayahnya.
"Justru itu Wira bersalah karna lalai dalam menjagamu, hingga kau tertangkap di sini." Arjuna tampak meneliti ruangan yang hanya terdapat satu bangku dengan dua kursi itu.
"Kemana para petugas?" Arjuna bertanya kepada pria yang merupakan pengawal putrinya.
"Para petugas beristirahat, ini sudah larut Tuan. Para petugas sudah menyuruh kami pulang, sayangnya Nona Rose ingin menunggu Tuan. Padahal saya sudah menyelesaikan segala sesuatunya." Wiratama menunduk sopan.
"Pulanglah kalian! Aku ada urusan." Arjuna berlalu meninggalkan keduanya, selain Asisten Jim, Wiralah orang terbaik yang ia miliki.
"Tau begini aku pulang naik taksi tadi." Rose menggerutu.
Sedangkan Wiratama kembali ke mode bisu, sekalinya pria itu berbicara hanya akan ada kalimat kalimat pedas nan tajam yang akan di keluarkan pria itu. Benar benar menyebalkan.
Rose menyesal keluar rumah malam ini, nyatanya niat hati ingin menghilangkan penat karna masalah kantor justru Rose malah mrnambah masalah dan beban ayahnya sendiri.
Rose menenggak air itu hingga tandas, gadis cantik itu bahkan menyusut bibirnya menggunakan punggung tangannya, hal itupun tak luput dari perhatian Wiratama, pria dewasa itu bahkan tak berkedip saat tengah menatap Rose.
"Buka pakaianmu!"
Rose menyuruh pria itu membuka pakaiannya, Wiratama berpaling dengan wajah yang semerah kepiting rebus, ia sangat malu oleh gadis cabul yang duduk di sampingnya, apa apaan gadis itu? Menyuruh seorang pria dewasa membuka pakaiannya, apa gadis itu waras?
Ataukah Rose ingin mengajaknya bercinta di dalam mobil? Sialan bisa bisanya otaknya berpikir keparat.
Menyadari raut aneh yang di tampilkan Wiratama, Rose segera meralat ucapannya, ia tak ingin pria itu salah paham.
__ADS_1
"Aku kedinginan, jadi kupinjam jasmu. Jangan verpikir macam macam. Kita beda kasta, aku tak memiliki rencana hidup dengan seorang pengawal. Aku menginginkan pria yang merupakan keturunan bangsawan ataupun penguasa."
Seperti biasa Wiratama tak menyaut, ia hanya menampilkan smirk di bibirnya.
.
"Jo. Apa yang baru saja kau katakan? Maksudmu Wiratama bukan orang biasa?"
"Ya Tuan. Besar kemungkinan dia seorang pangeran dari negri Zurham yang melarikan diri beberapa tahun lalu." negri Zurham merupakan negara yang besar, meski jarang tersorot publik, rakyatnya terkenal makmur dengan lapangan pekerjaan yang sangat tersedia banyak di negri itu, sehingga para rakyat di sana sangat kecil angkanya bekerja di negara lain.
Arjuna mengingat kembali pertemuannya pertama kali, kala itu di acara pernikahan ia dan Aida, seorang remaja 16 tahun dengan keadaan kumal menghampirinya di parkiran, ia yang hendak menyusul Elis yang pulang lebih dulu tertahan karna anak itu. Yang dalam vayangan Elis, Arjuna menghabiskan malam bersama dengan Aida padahal Arjuna justru membantu remaja itu.
Arjuna memasukan pemuda itu kesebuah asrama agen ternama dengan perjanjian ia harus bekerja padanya di saat sidah menyelesaikan pendidikannya.
Dan di saat umurnya 20 tahun Wira sudah menyelesaikan pendidikannya, lebih tepatnya saat ibu Sri meninggal Wira pulang kerumah Arjuna.
Jika para reader lupa Wiralah yang menemukan jenazah bibi Dora yang berada di dalam kolam.
"Ya Tuhan, jika benar Wiratama adalah pangeran Steven itu artinya kita sudah memperkerjakan seorang pangeran." Arjuna tak bisa menghentikan langkahnya yang terlihat gelisah, ia tak tenang apa lagi perlakuan Rose terhadap Wiratama venar benar di luar batas.
"Ya Tuan. Setidaknya kabar itu yang di sampaikan Tuan Yudhistira setelah kunjungan bisnisnya dari negri Zurham."
"Lalu dari mana pangeran itu mendapatkan nama lokal itu?" Arjuna tak habis pikir, nama Steven dengan Wiratama tak ada hubungannya sama sekali.
"Tuan Yudhistira mengatakan sewaktu pangeran Steven masih kanak kanak, ia nyaris kehilangan nyawanya, beruntung seseorang bernama Wiratama menyelamatkan nyawa pangeran Steven, namun beliau harus tiada karna aksi heraik penyelamatannya, sehingga raja dan ratu Zurham menambahkan nama Wiratama sebagai bentuk penghargaan pria lokal tersebut, selain itu Raja Zurham memakmurkan keluarga pria itu."
__ADS_1
"Jo, katakan padaku apa yang harus kulakukan saat aku memperkerjakan seorang pangeran?" Arjuna terlihat gelisah. Sialnya di masa lalu ia mempercayai pengakuan Wiratama yang mengaku sebatang kara.
"Jo lakukan sesuatu!"