Ketika Cinta Istriku Habis

Ketika Cinta Istriku Habis
Jangan memberikannya Pelampung tanpa seijinku


__ADS_3

"Mamaa ..." Elis dan Arjuna berujar bersamaan.


Tarlihat di hadapan Arjuna, Elis dan Ita. Seorang wanita laruh baya yang mesih mengatur Nafasnya setelah sepertinya wanita itu berlari sebelumnya.


"Ita, kau boleh pulang sekarang!" Arjuna berujar datar. Sebelum ia menanyakan apa yang terjadi kepada Mamanya terlebih dahulu Arjuna meminta teman istrinya untuk pulang. Ia tak ingin hal apapun di ketahui orang lain selain keluarganya.


"Ita ayo!" ajak Elis, wanita yang baru pulih itu sudah berdiri, meskipun masih pusing ia akan mengantar Ita sampai ke depan rumah.


"Tapi-" Ita masih belum ingin pulang, banyak hal yang ingin ia tanyakan, namun ia pun tak bosa memaksa untuk tetap tinggal di sana saat sang Tuan rumah menyuruhnya pulang.


"Nanti kau boleh bertanya. Tapi sekarang pulanglah lebih dulu." Elis berbisik kemudian menarik tangan Ita, dan mengabaikan mama mertuanya yang sudah duduk meski belum di persilahkan.


"El, tolong antar Ita kedepan." Pinta Arjuna kepada istrinya, jelas terlihat perbedaan nada bicara yang Arjuna tunjukan kepada ibu dari anak anaknya.


Elis berlalu mengabaikan ibu mertuanya yang kini sudah duduk di atas kursi meskipun belum di persilahkan. Elis masih sangat kesal kepada mama mertuanya yang sudah menjadi pemicu utama hubungannya dan Arjuna memburuk beberapa tahun lalu. Elis tak akan bisa lupa akan hinaan dan makian ibu mertuanya terhadap ia dan ketiga putrinya.


Selepas kepergian Elis untuk mengantar Ita ke depan. Arjuna mendekat ke arah Mamanya dan menanyai kabar dari wanita yang sudah membesarkannya, Arjuna bahkan menyalami dan memeluk wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri.


"Gawat Arjuna. Gawat!" Mama Sri berujar dengan gelisah. Matanya terlihat tak tenang bahkan jemarinya saling bertautan antara satu dengan yg lainnya.


"Ada apa Ma?" Arjuna meraih tangan ibunya menggenggam serta mengusapnya secara perlahan, untuk mencoba menenangkan kegelisahan yang terlihat jelas di maniknya.


"Aida, Aida. Yudhistira menangkap Aida. Dia menginginkan seluruh harta peninggalan Papa juga harta yang mama miliki. Di samping itu Yudha, Yudha juga ingin mengambil semua harta mendiang kakekmu Arjuna. Mama akan miskin dan menjadi seorang gembel. Mama tidak mau itu terjadi dalam hidup mama." Mama Sri menangis sesegukan di hadapan putra yang sudah ia besarkan.


Arjuna diam, ia meneliti wajah ibunya, terlihat jelas kantung mata mama Sri yang menghitam. Sudah bisa di pastikan jika Mama Sri tidak tidur lebih dari satu malam.


"Bantu Mama bebasin Aida Juna!"


"Maaf Ma, Arjuna tak bisa. Tolong mengertilah, ada beberapa keterbatasan yang Juna miliki." Berharap mamanya akan mengerti.


"Tapi."


"Ma. Berikan saja hak Yudhistira juga haknya Yudha. Untuk apa mama mengumpulkan banyak harta? Semua itu tak akan di bawa mati Ma. Hidup mama juga tidak tenangkan?" Arjuna mencoba menyadarkan Mamanya.

__ADS_1


"Tidak Arjuna Mama tak akan memberikan sepeserpun harta yang Mama miliki kepada mereka, mereka semua tidak berhak. Baik Yudha maupun Yudhistira tak bisa menuntut Mama karna mereka anak tidak sah. Mereka anak di bawah tangan itulah sebabnya Yudhistira nekad menyekap Aida. Dia mengancam akan menghabisi nyawa adik seayahnya jika saja Mama tak memberikan semua harta peninggalan papamu dan perusahaan. Tapi Mama tidak mau, mama sudah membayar orang untuk melacak keberadaan Aida." Mana Sri terlihat menyuatkan dirinya sendiri, mencoba mengobati ketakutan yang kini tengah menggerogoti jiwa dan raganya.


"Ma. Yudhistira orang yang nekad Ma. Juna sarankan turuti kemauannya jika mama ingin Aida selamat."


"Hemm..." Elis sudah berada di ambang pintu dengan deheman yang sengaja ia keraskan. Saat Arjuna membahas Aida tentu saja sudut hatinya yang lain terasa sedikit ngilu. Mau di tampik bagaimanapun Arjuna sempat menikahi wanita itu, dan hal itulah yang membuat Elis selalu di kelilingi rasa cemburu.


"Mak-maksudku jika Mama ingin Aida baik baik saja lebih baik mama berikan saja apa yang Yudhistira inginkan. Kalau aku, aku sudah tidak perduli akan hidup dan mani wanita itu." Mata Arjuna melirik ke arah Elis yang tengah berdiri di ambang pintu.


"Tidak bisa. Enak saja dia ingin hartaku." Mama Sri memang sangat keras kepala, ia tak ingin memberikan sebagian hartanya secara cuma cuma jepada anak dari selingkuhan suaminya. Nasibnya memang buruk, ayah dan suaminya kompak memberikannya penghancur. Tak tanggung tanggung ia bahkan hidup tak tenang sampai setua ini.


"Terserah mama jika seperti itu." Arjuna membuang wajah, sungguh Mamanya tidak bisa di bujuk jika sudah memutuskan sesuatu. "Tapi jangan menyesal jika terjadi sesuatu dengan putri Mama itu." ujar Arjuna.


"Mama ingin menghubungi Yudhistira, mama ingin mengatakan jika Aida adalah saudarinya. Semoga saja ia tak akan menyakiti Aida, bagaimanapun darah mereka sama. Tapi Mama tidak tau bagai mana caranya, pria itu sangat terampil dalam melakukan kejahatan."


Saat Arjuna dan mamanya tengah berbincang Elis pergi ke dapur untuk mengambilkan minuman, ia membuat dua gelas teh panas untuk ibu mertua dan suaminya.


Ingin sekali rasanya Elis mencampurkan sianida ke minuman milik mertuanya, namun Elis berpikir jika apa yang terlintas di otaknya hanya akan menyakiti Arjuna saja, mengingat pria itu menyayangi ibunya, terlepas dari kenyataan tentang sang ibu yang merupakan ibu angkatnya.


"Ini Ma, minumnya."


"Arjuna, apa yang kau lihat darinya? Kau begitu tergila gila terhadapnya. Lihatlah dia tak secantik wanita wanita lajang di luar sana." sarkas Mama Sri, mulutnya masih lemes seperti beberapa tahun lalu, tak sedikitpun berubah meski ini adalah pertemuan ia dan Elis.


Jika saja Elis tak menghormati Arjuna ingin rasanya Elis mencekoki mertuanya menggunakan nampan yang baru saja ia letakan di atas meja. Kapan strokenya si ibu Sri ini? gerutu Elis dalam hati.


"Cantik tidaknya istriku, aku tan meminta mendapat Mama. Bagiku dia tetap yang terbaik. Jangan lagi menyinggung istriku Ma, jika mama tak bisa bersikap baik kepada istriku lebih baik Mama pulang."


Bolehkah Elis besar kepala?


Tunggu ini nyata atau mimpi? Untuk pertama kalinya Arjuna membela dirinya di hadapan ibunya sendiri. Arjuna berkata tegas dan bahkan menyuruh mamanya pulang jika berkata buruk tentangnya. Beginikah rasanya di bela seorang suami? Elis benar benar bersorak dalam hati, Arjuna tak lagi terlihat lembek saat berbicara dengan mamanya.


"Mama rasa kau terlalu banyak di guna guna dengan wanita itu Arjuna. Sadarlah."


"Ma. Tolong jangan membuat keributan di rumah kami."

__ADS_1


"Rumah? Bahkan ini lebih layak di katakan sebagai kandang Arjuna. Apa kau benar benar jatuh miskin saat memutuskan pergi dari rumah? Hehe ..." Kesombongan Mama Sri selalu di atas segalanya. Meski prihatin akan kondisi rumah putranya tapi ia juga ingin mengingatkan Arjuna jika hanya ia yang mampu memberikan ke kayaan untuk Arjuna.


Apa kisah sukses Arjuna yang di katakan orang orangnya dan Aida adalah isapan jempol belaka? Buktinya Arjuna tingfal di kontrakan kecil dengan kendaraan sepeda motor metik, ingin ranya Srikandi bertepuk tangan.


"Pulanglah kerumah Mama. Kau tak akan semenderita ini Arjuna."


"Mama salah sangka. Suamiku masih kaya raya, kami hanya bosan hidup kaya itu sebahnya kami mencoba hidup sederhana. Tidak usah berusaha ingin merusak kapal kami yang tengah berlayar, jika Mama mau tenggelam tenggelam saja sendiri. Jangan mengajakku dan suamiku." Sarkas Elis menggebu gebu.


"Arjuna. Jangan memberikan pelampung tanpa seijinku." Elis meninggalkan suami serta mertuanya, ia ingin memperingati ketiga putrinya supaya tidak keluar kamar dan menemui neneknya yang durhaka.


Arjuna memijat pangkal hidungnya yang terasa sakit, Elis istrinya sudah banyak berubah. Jika sebelumnya Elis hanya akan diam, dan menunduk jika di omongi mamanya, lain halnya kali ini Elis malah menjawab setiap perkataan Mamanya dengan berani.


"Si Elis itu benar benar berubah sekarang Arjuna. Bukankah kau mempertahankannya karna dia yang tunduk dan penurut? Lalu setelah dia berubah garang kau juga masih ingin bersamanya?" Mama Sri meloloskan pertanyaan yang menurut Arjuna sia sia, karna Arjuna yakin ibunya tau jawabannya.


"Meskipun Elis berubah bentuk menjadi macan betina sekalipun, Arjuna masih ingin menjadikannya istri Ma."


"Dasar sableng tidak waras." Ibu Sri langsung berdiri dan siap pergi.


Elis yang mendengar perkataan Arjuna tersenyum senang di dalam kamar.


"Mau Juna antar sampai depan?" tawar Arjuna.


"Tidak usah, kau urusi saja macanmu yang kurang ajar!" Mama Sri pergi begitu saja, dengan beberapa umpatan yang keluar dari mulutnya.


Selepas perkataan Mamanya, Arjuna merenung sendiri, ia mengingat kalimat Elis yang mengatakan jangan memberikan pelampung tanpa seijin Elis. Pelampung yang di maksud Elis adalah bantuan untuk mama. Tapi bagaimana bisa Arjuna membiarkan ibunya dalam bahaya atau membiarkannya begitu saja.


Arjuna mengirimkan pesan kepada orang orangnya untuk mengikuti Mamanya pulang dan memastikan keselamatan Mamanya sampai di rumah.


"Jika saja ada pesugihan dengan tumbal mertua aku akan menumbalkan mertuaku yang bermulut pedas itu." Gerutu Elis beruntung ketiga putrinya terlelap saat ia memasuki kamar, pantas saja mereka tidak terdengar suaranya.


"El minum obatmu!" Arjuna mendatangi istrinya dengan beberapa obat serta segelas air di tangannya.


"Jangan pikirkan apapun yang di ucapkan Mama. Jangan pula berkata buruk kepada mama, jika terjadi sesuatu tetap saja kita juga akan repot." ujar Arjuna bijak.

__ADS_1


"Hebat Arjuna seperti cenayang. Ia tau apa yangku katakan." Elis menggigit lidahnya sendiri karna sudah berkata buruk tentang mertuanya.


__ADS_2