
Arjuna membawa 5 bungkus bubur ayam ke rumahnya, lengkap dengan sate telur puyuh kesukaan ketiga putrinya, serta beberapa sate jeroan kesukaan istrinya.
Nampak di dalam rumah tengah rusuh Si sulung Rose terlupa mengerjakan pekerjaan rumahnya, sehingga membuat Elis kadang kadang menjadi singa yang menunjukan taringnya.
"Mine tolong ambilkan penghapus Kakak." ujar Rose kepada adik keduanya.
"Vale tolong jangan berisik kakak gak bisa kosentrasi." ujar Rose kembali.
"Ma, tolong matiin televisinya." Rose tidak bisa berpikir.
"Mine tolong ..."
"Vale tolong ..."
Arjuna menghela nafas, dan meletakan dua kantung makanan di hadapannya. Ia memperhatikan anak sulungnya yang tengah mengerjakan PR nya.
"Rose sayang boleh Papa memberi sedikt nasihat untuk putri cantik Papa ini." Arjuna berujar lembut di kala putrinya memasukan semua alat tulisnya ke dalam tasnya.
"Nasihat apa? Tentu Papa boleh memberikan putri Papa nasihat." Rose mendekat dan duduk di hadapan Papanya.
"Kurang kurangi meminta tolong terhadap orang lain! Karna Di tangan yang salah, hutang budimu akan di ungkit secara berutal." Ujar Arjuna. Tentu saja Arjuna mengatakan itu atas dasar pengalamannya sendiri.
"Tapi kan Rose minta tolong kepada Mama dan adik adik Rose sendiri." ungkapan polos Rose membuat Arjuna tersenyum.
"Sekalipun dengan orang terdekatmu. Selagi kau bisa melakukan segala sesuatunya sendiri lakukan saja. Jangan selalu gatal ingin mendapatkan bantuan orang lain. Karna yang dapat kau andalkan adalah dirimu sendiri. Apa kau mengerti?" Arjuna menatap wajah teduh putrinya.
"Ya. Papa Rose akan mengingat nasihat Papa." ujar Rose menyauti.
"Berarti Mine akan kesulitan jika tidak boleh meminta tolong." Jasmin memberenggut dengan bibir mengerucut gemas.
"Bukan tidak boleh. Papa hanya mengatakan di kurang kurangi Mine." Elis sudah membawa teh manis hangat di hadapan Arjuna juga ketiga putrinya.
Elis mengerti mengapa Arjuna menyatakan hal itu kepada putrinya.
"Ayo sarapan dulu. Nanti Papa yang antar sekolahnya." Arjuna juga memberikan uang jajan kepada ketiga putrinya.
"Ma, uang belanjanya Papa letakan di atas kulkas." ujar Arjuna sebelum berangkat mengantar putri putrinya.
Elis terpaku, menatap banyaknya uang di atas kulkas. "Dia pikir bisa menyogokku dengan uang." meski berkata demikian Elis mengambil semua uangnya dan berniat menabungnya. Wanita memang sama saja jika menyangkut uang selalu lemah iman.
.
Saat Arjuna pulang mengantar anak anaknya dari sekolah Elis sudah bersiap. Kini dirinya tengah menyisir rambut miliknya, Arjuna tersenyum saat todak mendapati sejumlah uang yang ia letakan di atas kulkas.
__ADS_1
Arjuna menyerahkan satu buah kartu di hadapan Elis. "Sesekali pergilah ke salon atau berbelanja. Kau juga tidak usah bekerja lagi, kau cukup diam di rumah menungguku pulang, atau bersenang senang. Biarkan aku yang mencukupi kebutuhanmu dan anak-anak." Arjuna berujar sungguh sungguh, tak sedikitpun Arjuna ingin membebankan kebutuhan putri putrinya terhadap Elis.
"Aku juga ingin mencoba menghasilkan uang meski tak seberapa. Aku ingin mencari pengalaman, agar tidak hanya tau meminta saja." Elis berujar.
"Tidak apa jika meminta padaku. Asal jangan pada pria lain." Arjuna menyerahkan kunci motornya pada Elis.
"Sesekali berangkatlah denganku." Arjuna mengajak Elis berangkat bersama.
"Aku takut ada yang mengetahui jika kita mempunyai hubungan lalu ada orang yang ingin mencelakaiku. Aku tak mau itu terjadi, lagian kau itu banyak musuh sekali." setelah Arjuna kembali Elis tak lagi membawa bekal makanan ke tempat kerjanya, ia tak khawatir lagi masalah uang.
"Kau tenang saja, aku tengah menyelidiki siapa pelakunya."
"Ayo berangkat bersamaku." Arjuna menggandeng tangan Elis, berjalan beriringan menuju ke mana tempat mobilnya terparkir.
Elis berjalan mengendap saat keluar dari mobil Arjuna sedangkan Arjuna melanjutkan mobilnya menuju ke suatu tempat, tempat yang mna sudah ada Asisten Jo di sana.
"Ada apa kau mengajakku bertemu di sini Jo?" Arjuna langsung menodong asistennya dengan pertanyaan.
"Ada sesuatu yang janggal Tuan. Dokter Arief di nyatakan menghilang setelah kemarin dari kota ini. Jadi jika Tuan Arjuna mendatangi kantor polosi untuk melaporkan pengakuan dokter Arief kemarin, otomatis Tuan akan terlibat dengan hilangnya dokter Arief. Sejauh ini saya bisa mengatasi ketidak terlibatan Tuan." Asisten Jo memberikan pandangan.
"Sial, Jo. Ada seseorang yang ikut campur masalah ini."
"Aku menduga jika ini perbuatan dokter Aida Tuan. Tentu saja dia tak ingin di jerat masalah atas pengakuan dokter Arief."
.
Di tempat lain.
"Dokter Arief, aku sudah memperingatkanmu supaya kau jangan macam macam denganku. Lalu mengapa kau begitu abai?" Aida memainkan pisau bedah di jemarinya yang lentik.
"Sadar dokter Aida apa yang kau lakukan ini benar benar keterlaluan." Dokter Arief berteriak, dengan tubuh yang terikat di atas sebuah kursi kayu.
"Sejak awal memang aku sudah sadar jika yang ku lakukan adalah hal yang salah. Tapi apa peduliku? Tuhan saja mempermainkan hidupku, mengapa harus aku berada di jalannya. Aku pernah menjadi seseorang yang taat tapi apa yang ku dapat, hanya meminta satu makhluknya saja Tuhanku tidak memberikannya. Doa doa selalu ku lantunkan untuk meminta Arjuna agar menoleh ke arahku. Tapi apa buktinya? Hingga hari ini pria yang ku inginkan tak pernah melirik apa lagi menetap bersamaku." Ada ke getiran dalam hati Aida, air mata yang berusaha ia tahanpun bertumpah ruah.
"Dan kau Arief!" Aida mengacaukan sebilah pisau di hadapan wajah dokter Arief.
"Kau sudah menambah kebencian Arjuna terhadapku. Kau malah membuat aku terlihat sangat buruk di hadapannya."
Clas ...
Aida menorehkan pisau di wajah dokter Arief hingga pria tua itu mengaduh kesakitan.
"Awrghhh ..."
__ADS_1
Dokter Arief juga tak ingat bagai mana ia bisa berada di tempat menyeramkan seperti ini.
Blesh ,,, blesh ,,,
Aida layaknya orang ke setanan, mencabik dan membabi buta menyakiti dokter bertubuh tambun itu. Darah segar sudah mengotori area lantai bahkan tubuh Aida sendiri. Hijab wanita itu yang berwarna biru muda kini sudah ternoda dengan darah yang berasal dari tubuh dokter Arief.
"Hentikan dokter Aida! Ku mohon!"
Uhuk ... Uhuk ...
Dokter Arief bahkan terbatuk batuk, darah sudah berceceran di mana mana.
"Aku sudah memperingatkanmu Arief. Dan lihatlah ini." Aida menunjukan sebuah vidio yang mana di sana ada istri dan putri tunggalnya. Seseorang menyiramkan bensin dan langsung membakar hidup hidup kedua wanita beda usia itu.
"Tidak, tidak ..."
Dokter Arief berteriak, "Kau iblis Aida. Kau menyakiti dan melenyapkan orang yang tidak bersalah. Kau gila Aidaaa!!!" Dokter Arief berteriak, tak perduli dari mulutnya mengeluarkan banyak darah segar.
"Ya, Arief aku gila. Tapi kau tidak mengindahkan ucapanku." Aida kembali menyayat kulit wajah dokter yang pernah menghabiskan malam dengannya.
"Aaahhh ..."
"Sakit Arief?" Aida bertanya dengan tampang meledek serta menyebalkan.
"Memohon lah! Memohon untuk kematianmu Arief ..." Aida benar benar lepas kendali. Setan dalam dirinya seakan kini tengah di bangkitkan dan mencari tumbal bagi dirinya yang haus akan dendam.
"Karna dirimu juga aku kehilangan anak yang ku culik dengan susah payah." Bukan hanya Arief saja yang Aida sekap dari kemarin.
Aida juga menculik Rain, anak dari Yudha, tentu saja tujuannya untuk bekerja sama dengan pria yang gila harta seperti Yudha. Namun sayangnya dokter Arief malah membebaskan bocah mungil itu.
Aida termenung mengingat bayi yang sempat ia kandung tapi tak sampai ia lahirkan. "Aku juga dendam padamu Arief, harusnya saat aku pendarahan kau bisa menyelamatkan putraku. Tapi kau, kau malah tak bisa menyelamatkan putraku. Jika saja kau bisa menyelamatkan putraku mungkin hubunganku tak akan seburuk ini dengan Arjuna."
"Aku tak bisa menyelamatkan anakmu karna memang anakmu sudah mati dalam kandungan, harusnya kau berpikir dan bertaubat Aida! Bukan malah menjadi iblis seperti ini."
"Banyak bicara kau Arief! Pergilah kau ke neraka!"
Bleshh ...
Elis menancapkan sebilah pisau tepat di jantung Arif, hingga dokter itu meregang nyawa di tangan Aida.
"Ha ha ha ..."
Aida tertawa penuh kepuasan.
__ADS_1
"Inilah bukti kekejamanku Arief, aku tak pernah bermain main tentang menghancurkan hidupmu dan keluargamu."