
"Aku baik baik saja El."
"Kau mungkin baik baik saja, tapi aku yang terluka." Elis semakin terisak.
"Aku terluka, aku merasa tak berguna saat suamiku terluka dan aku nampak seperti seorang wanita bodoh yang tak mengetahui apapun. Kau anggap apa sebenarnya diriku Arjuna?" Elis kembali membenamkan wajahnya di perpotongan lututnya sendiri.
"Kau istriku Elis. Kau istriku." Arjuna mengangkat kepala Elis dan membingkainya dengan kedua belah tangannya.
"Yang ingin ku bagi denganmu hanya kebahagiaan, bukan luka maupun penderitaan. Ini hanya luka kecil El. Beberapa hari lagi akan sembuh. Tenanglah aku sudah mengobatinya." Arjuna benamkan tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.
"Ini bukan perkara besar kecilnya lukamu. Tapi tentang kau yang tidak terbuka terhadapku." Elis menolak pelukan Arjuna, hingga tanpa sengaja tangannya menekan luka suaminya hingga pria itu mengaduh kesakitan.
"Awww shhh ..." Arjuna berdesis saat Elis tak sengaja memukul lukanya terlalu kuat.
"Ya Tuhan. Maafkan aku." Elis segera melihat luka Arjuna beruntung luka itu tidak kembali mengeluarkan darah.
"Ku mohon El, jangan marah lagi ya. Aku tidak papa sungguh. Aku hanya tak ingin kau khawatir." Arjuna menampilkan wajah memelasnya, berharap Elis tidak melanjutkan marahnya. Baru saja hubungannya membaik masa harus kembali di rusak oleh sesuatu yang menurutnya hal kecil.
Arjuna tidak tau jika hal kecil terus di pupuk oleh ke bohongan juga di lakukan secara berulang ulang, hal itu akan semakin besar, bahkan bisa jadi melebihi hal besar sesungguhnya.
Elis meluluh. Tak terhitung lagi berapa banyak Elis memaafkan Arjuna, namun demi kelangsungan juga ketentraman hubungan mereka yang baru saja membaik, Elis memilih memendam segala jenis kekecewaan pada diri suaminya. Ia juga menghibur kecewa di hati dengan mengatakan jika sesuatu yang di sembunyikan darinya merupakan hal yang sepele.
Untuk itu Elis mengalah lagi. Sekali lagi Elis kembali memberikan maaf untuk Arjuna.
.
"Aku pulang!"
Yudhistira berlakon tidak mengetahui apapun. Pria itu berpura pura baru pulang sesaat setelah memastikan Soraya memasuki rumah yang mereka tinggali.
Tidak hanya itu Yudhistira juga membawakan cup cake kesukaan Soraya. Namun di karnakan ia tidak membawa racun miliknya ia terlebih dulu mampir ke lab miliknya yang berada di bangunan di sebrang rumahnya untuknya mencampurkan racun miliknya bersama makanan yang sudah ia sediakan.
"Aku pulang."
Sekali lagi Yudhistira berujar, langkah kakinya mulai membawa tubuh tegapnya ke kamar miliknya, yang juga di tempati oleh Soraya.
Yudhistira mulai membuka pintu kamarnya, dan matanya langsung tersita langsung ke arah ranjang. Yang mana di sana sudah terbaring Soraya yang telah berganti pakaian, wajahnya juga terlihat tak mengenakan riasan, sepertinya Soraya memang sudah merencanakan semua itu.
Senyuman sinis tergelincir di sudut bibir Yudhistira. Ia pikir Soraya adalah wanita yang polos, rupanya di balik manjanya wanita itu terdapat sisi mengerikan yang baru Yudhistira sadari.
"Kau tidur?" Yudhistira berjalan ke arah ranjang, berpura pura tidak mengetahui akan Soraya yang tengah bersandiwara. Tak ada maaf bagi Soraya, wanita itu sudah melakukan sesuatu yang sangat fatal. Bukankah pembunuhan berencana tidak termaafkan sekalipun di pihak berwajib. Dan hukumannya sampai hukuman mati, dengan cara itu pula Yudhistira akan memberikan hukuman kepada Soraya.
__ADS_1
Sebenarnya ingin Yudhistira memperpanjang jangka waktu hidup soraya dengan cara menyiksa wanita itu lebih dulu. Namun Soraya pernah mengingatkannya akan adik kecilnya. Seorang gadis kecil yang di culik beberapa orang saat adiknya berumur lima tahu, Yudhistira yang kala itu masih berumur sebelas tahun tak kuasa untuk melawan orang orang itu. Entah bagai mana nasib adiknya kini, yang ia ingat dari adik manisnya yang bernama Lisa memiliki tanda lahir berupa tahi lalat berwarna kehijauan, bentuknya hampir menyerupai bulan sabit. Namun hingga hari ini Arjuna tidak dapat menemukan adiknya, dan semua itu juga karna kelalaian ayahnya Wisnu yang tidak memberikan penjagaan terhadap ia dan adiknya setelah ibunya tiada.
Ya adiknya yang hilang itu memiliki ibu dan ayah yang sama dengannya.
"Soraya ..."
"Soraya ..."
Beberapa kali Yudhistira memanggil istrinya, dan wanita itu berpura pura menggeliat dan mengerjapkan matanya, bahkan Soraya berpura pura mengucak kedua matanya yang tidak merah sama sekali.
Dasar ceroboh! Soraya bahkan tidak mencopot lensa di matanya saat berpura pura tertidur. Yudhistira mengkritik akting Soraya yang buruk di dalam hati.
"Kau tidur? Mengapa masih mengenakan lensa?" tanya Yudhistira sengaja.
Soraya terlihat gelagapan, jelas sekali terlihat di riak wajahnya jika dirinya tengah kesulitan mencari jawaban atas pertanyaan yang Yudhistira tanyakan.
Yudhistira menaruh papper bag yang berisikan beberapa cup cake di dalamnya.
"A,aku tidak tidur. Hanya memejamkan matanya sebentar." Jawab Soraya pada akhirnya.
"Kau baik baik saja?"
"Ya aku baik baik saja. Tidak kekurangan sesuatu apapun." ucap Yudhistira datar. Tangannya bahkan sampai terkepal saat mengatakan hal itu, mengingat tentang bagai mana dirinya hampir saja meregang nyawa jika tidak ada Elis yang menolongnya.
Kemarahan dan kekecewaan Yudhistira berusaha ia redam sebisanya.
"Makanlah." Yudhistira menyerahkan beberapa cup cake di hadapan Soraya.
Soraya ragu-ragu untuk meraih cup cake itu dari hadapannya.
"Kenapa kau terlihat ragu seperti itu?" Yudhistira menaikan satu alisnya.
"Aku, aku tidak papa."
Meski Soraya merasa heran karna tak biasanya Yudhistira membelikan sesuatu untuknya. Tapi untuk menghilangkan ke raguan Yudhistira, Soraya meraih dan memakan cup cake yang di berikan Yudhistira padanya.
Soraya terheran heran mengapa Yudhistira terlihat baik baik saja padahal ia yakin dan sudah memastikan jika Yudhistira sudah mengkonsumsi racun yang pria itu ciptakan sendiri.
Sembari menunggu reaksi racunnya, Yudhistira memilih untuk membersihkan tubuhnya, juga akan mengistirahatkan tubuhnya beberapa saat sebelum menyaksikan pertunjukan Soraya meregang nyawa.
Setelah membersihkan diri, Soraya menghampiri Yudhistira, mencoba merayu suaminya untuk melakukan percintaan dengannya. Ia memiliki suatu rencana. Namun di luar dugaannya Yudhistira menolaknya kali ini.
__ADS_1
"Aku lelah Soraya. Aku ingin istirahat." Yudhistira bahkan merasa jijik saat tangan yang kini menyentuhnya, beberapa saat lalu mencoba melenyapkan nyawanya. Ingin rasanya Yudhistira mematahkan tangan itu sekarang juga.
Yudhistira mengabaikan Soraya dan lebih memilih menidurkan tubuhnya di atas ranjang setelah lebih dulu mengenakan pakaiannya.
Beberapa saat telah berlalu.
Yudhistira terlihat tertidur sangat nyenyak. Hingga Soraya tergugah untuk untuk kembali melanjutkan rencananya melenyapkan Yudhistira.
Soraya keluar untuk mencari sesuatu yang bisa ia pergunakan untuk melenyapkan Yudhistira. Jika ia membekap Yudhistira dengan bantal, ia tak akan bisa menandingi tenaga pria kekar itu. Sehingga Soraya berpikir untuk mencari senjata untuk melenyapkan Yudhistira, sebelum rahasia dan upayanya menyingkirkan Yudhistira terbongkar. Ya Soraya sadar jika Yudhistira tidak bodoh, pria itu pasti akan mengetahui kebusukannya cepat atau lambat.
Soraya berniat memasuki ruang kerja Yudhistira untuk mencari senjata api milik pria itu, atau beberapa koleksi senjata beracun pria itu. Namun rupanya ruangan itu terkunci rapat. Sehingga Soraya lebih memilih untuk pergi dari sana menuju dapur, Soraya berniat mengambil pisau dapur, ia ingin menikam Yudhistira saat ini. Terserah apapun yang penting Yudhistira harus mati hari ini.
Soraya kembali ke kamarnya, dengan sebilah pisau dapur di genggaman tangannya.
Yudhistira terlihat masih memejamkan matanya dengan posisi seperti sebelumnya. "Mungkin dia benar benar lelah." pikir Soraya, ini merupakan kesemptan emas untuknya melenyapkan Yudhistira.
Secara perlahan Soraya yang belum mendapatkan reaksi racun yang diberikan Yudhistira mendekat ke arah ranjang. Ia sudah bersiap dengan pisau di genggamannya.
Soraya sudah mengangkat tinggi tinggi pisau itu dan saat mengarahkan pisau itu dengan kuat ke arah dada sebelah kiri Arjuna.
Dan ...
Di saat pisau itu hampir menyentuh dada Yudhistira, tiba tiba ...
Mata Yudhistira terbuka lebar, dengan tangan kira yang menggenggam mata pisau. Darah menyucur di antara sela telapak tangan Yudhistira yang menggenggam pisau.
Soraya terkejut, wanita itu bahkan mundur dan menjauh dari Yudhistira.
"Beraninya kau!"
Soraya mengigil ketakutan, bagai mana caranya ia meloloskan diri dari cengkraman Yudhistira yang kejam.
Yudhistira dengan santai bangun dari posisi terbaringnya, ia mengabaikan lukanya, dan menyalakan sebatang nikotin di antara bibirnya.
"Mulailah menghitung waktu kematianmu. Soraya!"
"Ma-maksudmu?"
Tak lama dari itu Soraya tiba-tiba terjatuh dengan tubuh yang nyaris kaku.
"Matilah kau!" Desis Yudhistira.
__ADS_1