Ketika Cinta Istriku Habis

Ketika Cinta Istriku Habis
Menolong musuh suami


__ADS_3

Aida mengerjapkan matanya beberapa kali, wanita itu langsung mengedarkan pandangannya saat matanya terbuka secara sempurna. Ia mencari sosok yang sudah menyelamatkannya dari maut. Namun sekuat apakun Aida mencari tak sedikitpun siluit pria pujaanya terlihat.


"Kau sudah sadar? Kau ingin minum?" Mama Sri segera menunduk dan mengusap kening putrinya. Nyaris saja ia kehilangan putri kandungnya.


"Dimana Arjunaku?" Aida mengklaim jika Arjuna miliknya. Ia tau jika Arjuna dan orang orangnya yang melepaskannya dari cengkraman pria mengerikan itu.


"Arjuna sudah pulang." Jawab Mama Sri, tergambar jelas kesedihan di wajahnya.


"Pulang? Mengapa dia tak menungguku sadar? Padahal aku ingin melihat wajahnya juga di peluk olehnya. Dia menyelamatkanku Ma." Adu Aida kepata mama Sri.


"Ya Mama tau. Mamalah yang sudah menyuruh Arjuna untuk menyelamatkanmu."


Aida membatu. Ia tak beergeming di tempatnya, Aida kira Arjuna menyelamatkannya atas dasar kemauan Arjuna sendiri, rupanya dugaannya salah pria itu benar benar tak ingin lagi memulai apapun dengannya. Besar harapan Aida jika Arjuna akan iba terhadapnya dan mau menerimanya seperti sekian tahun yang lalu.


"Arjuna menuruti keinginan Mama?"


Mama Sri mengangguk atas pertanyaan putrinya.


"Ma tolong mohonkan pada Arjuna agar dia mau kembali terhadapku."


"Tidak bisa Aida, Arjuna sudah melakukan banyak hal untuk Mama, mama tak bisa terus terusan menekan Arjuna, dia putraku aku tak bisa terus menerus melihatnya tertekan atas kemauanku." Mama Sri bahkan meninggikan suaranya. Karna kecerobohan Aida beberapa kali Mama Sri harus melukai Arjuna tanpa sengaja.


"Mama membentakku! Katanya Mama menyayangiku tapi buktinya mama selalu tak bisa membuat Arjuna agar menetap denganku. Aku ingin Arjuna Ma! Sangat ingin." Aida berteriak dengan sisa sisa tenaga yang ia miliki.


"Berhenti Aida! Sadar dirilah! Saat dirimu lengkappun Arjuna tak mau denganmu, apa lagi saat dirimu cacat seperti ini! Kau sangat tak layak jika ingin bersanding dengannya." Mama Sri terpaksa menghina fisik Aida berharap putrinya akan sadar dan berhenti menginginkan dan memaksakan kehendaknya terhadap Arjuna. Setelahnya Mama Sri keluar dari ruang inap Aida dengan emosi yang sudah meninggi.


.


"Tuan apa kita tidak lapor polisi tentang tindak kriminal yang di lakukan oleh oleh Yudhistira?" Asisten Jo akhirnya mengusulkan, ia heran terhadap Tuannya yang tidak melapor sama sekali. Padahal mereka sudah mengetahui markas Yudhistira, kedok tentang gudang barang rongsok rupanya menjadi tempat meracik beberapa obat terlarang juga beberapa racun yang Yudhistira produksi tanpa ijin legal.

__ADS_1


Arjuna menghembuskan nafas kasar sebelum menjawab. "Akan sangat percuma Jo. Yudhistira memiliki sekutu yang sepertinya dari pemerintahan sendiri. Akan sia sia jika kita melapor, hukum pun akan berbelit belit atau bisa jadi langsung tumpul saat bersinggungan dengannya. Aku sudah memikirkan hal ini matang matang, jadi kita tak mempunyai pilihan selain membiarkan Yudhidtira melakukan apapun selagi tidak merugikan kita." papar Arjuna.


Saat mereka tengah berbincang, Elis masuk ke ruangan Arjuna dengan tanpa permisi. Beruntung Asisten Jo yang langsung peka menghentikan ucapannya dan lebih memili meluar ruangan.


"Arjuna aku ijin pulang ya? Aku tiba tiba merindukan anak-anak." Semenjak Arjuna sudah mengumumkan pernikahan mereka, juga memberikan sangsi kepada para pelaku yang kerap kali merundung Elis untuk memberikan efek jera Terhadap mereka. Sejak saat itu Elis bisa kapan saja datang dan pergi dari kantor suaminya, karna yang menjadi prioritas untuk Elis saat ini adalah anak anaknya.


"Tapi aku ada rapat setelah ini jadi tak bisa mengantarmu, aku akan minta Jo untuk mengantarmu pulang." Arjuna sudah hendak menghubungi asisten Jo. Namun Elis menghentikannya.


"Ah, tidak usah. Lagi pula aku membawa motor. Aku tak akan lama, setelah memastikan anak anak aku akan segera kembali." tutur Elis.


"Karna sudah terbiasa juga jarak kantor yang tak terlalu jauh, Arjuna membiarkan Elis untuk pergi."


"Hati-hati! Kabari aku jika sudah sampai." Arjuna mengecup pelipis Elis. Tanpa Arjuna ketahui Elis tengah mencurigainya, karna akhir akhir ini Arjuna seperti tengah menghindarinya.


Arjuna kini sudah melakukan aktifitas seperti biasa, ia mengabaikan luka yang berada di pinggangnya. Meskipun ia tersiksa karna tak bisa leluasa membuka pakaian atasnya di hadapan Elis, sebelum lukanya sembuh atau Elis akan bertanya banyak hal dan mencemaskannya. Arjuna tak ingin terlalu banyak membohongi Elis dengan mengatakan beberapa kebohongan lain sebagai alasan.


Bahkan saat bercintapun Arjuna akan tetap mengenakan bajunya, dan hal itu membuat Elis semakin curiga. Arjuna terus melakukan terapi sentuhan terhadap Elis seperti saran psikiater, meskipun kadang kadang Elis akan tetap mual.


.


Selain bermain di dunia gelap Yudhistira juga merupakan ahli racun, itu sebabnya Arjuna waswas saat dirinya terluka oleh belati Yudhistira takutnya ia terkena racun dari pria itu. Beruntung Arjuna tidak sampai kenapa napa.


Musuh Yudhistira juga bertebaran di mana-mana, pria bertato itu seakan hidup diantara banyaknya orang yang ingin melenyapkannya. Ia juga kerap kali tak tenang karna musuhnya bisa datang kapan saja mengancamnya.


Entah apa yang membawa Yudhistira sampai ke tempat di mana di kota itu Arjuna dan keluarga kecilnya berada. Yang jelas ia akan menemui seseorang di tempat itu, yang berkaitan dengan bisnis haramnya. Sedikitpun Yudhistira tak tau jika Arjuna berada di kota itu.


Saat Yudhistira di suatu taman ia berjalan dengan terpincang - pincang keluar dari dalam mobilnya. Kaki Yudhistira belum sembuh benar, sehingga ia kesulitan untuk sekedar berjalan. Namun tiba tiba tubuhnya terasa kaku juga setiap sendi yang luar biasa terasa sakit, seketika Yudhistira terjatuh di atas kaki pincangnya berpijak. Tubuhnya tidak bisa di gerakan sama sekali, mulutnya masih mampu mengeluarkan suara pelan. Tapi Yudhistira tak mampu mengeluarkan suara yang lebih besar dari gunaman dan lirihan. Tenggorokannya terasa tercekik.


Yudhistira tau jika reaksi dan ciri ciri yang di timbulkan dari tubuhnya merupakan raksi dari racun yang ia buat sendiri. Racun yang mana langsung menyerang sistem kerja otak dan membekukan pembulu darah. Ya tidak salah lagi Yudhistira mencicipi racun ciptaannya sendiri, tapi bagai mana bisa, ia tak mungkin dengan sengaja memasukan racun itu ke dalam tubuhnya dengan sengaja. Karna Yudhistira faham betul akan akibatnya.

__ADS_1


"To-long ... To- long ..." dengan susah payah Yudhistira berucap meski suaranya nyaris tak terdengar, di tempat yang sepi yang ia pilih untuk pertemuan bisnis haramnya pun ia sengaja memilih tempat ini, tempat yang jarang di kunjungi saat siang hari.


Tak ada orang sama sekali. Padahal jija ada ia bisa meminta tolong kepada orang itu untuk mengambilkan obat penawar dari racun itu yang Yudhistira ketakan di dalam dashboard mobil miliknya. Tapi sepertinya azalnya akan tiba sebentar lagi. Karna setelah sepeluh menit tanpa penawar racun itu dengan mudah mematikan mangsanya. Selain itu ia juga harus mendapatkan alat bantu pernafasan setelah mendapat penawar, tentu saja dirinya harus ke rumah sakit untuk mendapatkan tabung oksigen.


Yudhistira bahkan bertekad dalam hati jika ada seseorang yang menolongnya kali ini siapapun orangnya, ia siap mengabulkan apapun keinginan orang itu.


Lima menit sudah berlalu tapi tak ada tanda-tanda orang lewat di sana. Darah segar sudah mengucur di hidung serta mulutnya, pertanda jika dirinya tengah melemah. Yudhistira bertanya dalam hati apakah pertemuan ini merupakan jebakan untuk membunuhnya. Tapi siapa dalang di balik ini semua? Lalu bagai mana racun itu masuk ke tubuhnya? Apakah melalui Suntikan, makanan, minuman atau melalu udara yang ia hirup. Tapi kapan mengingat racun ini tidak membawa ciri ciri awal yang mengkonsumsinya, karna akan terlihat efeknya setelah 5 jam.


Yudhistira terus menggelepar dengan tubuh kakunya, dengan hidung dan mulut yang berlumuran darah matanya menatap nanar mobil miliknya. Seandainya bisa ia ingin berlari dan mengambil penawar di dalam mobilnya untuk kemudian ia tenggak untuk mengakhiri penderitaannya. Di saat saat terakhirnya Yudhistira mendengar derap langkah yang mendekat ke arahnya.


"Ya Tuhan. Kau kenapa?" Pekikan terkejut langsung memekak telinga Yudhistira.


"To-long a-ku!" lirih Yudhistira dengan suara terbata.


"Apa yang bisa ko tolong. Katakan saja!" wanita yang berseragam khas office girl mengabaikan motornya yang masih menyala ia kebingungan dan panik. Yang ada di pikirannya ia harus menolong pria itu.


"Am-bil-kan bo-tol ke-cil di da-lam dash-bo-ard mo-bil-ku yang itu. Hanya itu obatku." kata demi kata Yudhistira ucapkan dengan susah payah. Ia juga menatap mobil milikinya, karna di sana tak ada mobil lain selain miliknya.


Darah semakin banyak keluar dari hidung dan mulutnya, ia nyaris kehilangan nyawa.


"Baik." Elis segera berlari ke arah mobil pria itu. Ya orang itu adalah Elis, dia benar benar tidak tau jika orang yang hendak dia tolong adalah musuh dari suaminya sendiri.


Seandainya Elis tau jika pria bertato yang tengah sekarat itu adalah musuh suaminya, mungkin Elis akan membiarkan pria itu mati di depan matanya.


Mobil yang terkunci, juga Elis yang panik membuat wanita itu terlihat sibuk sendiri seperti tengah mencari sesuatu. "Mobilnya terkunci." desah Elis kencang, Yudhistira dapat melihat usaha Elis mencoba membuka mobil mewah miliknya.


"Maaf aku harus merusak mobil mu."


Pyar ...

__ADS_1


Elis mengambil batu besar dan menghancurkan kaca mobil di samping kemudi demi membuka mobil. Bahkan tangannya sampai terluka dan mengucurkan darah. Yudhistira melihat hal itu dengan jelas, begitu keras usia wanita asing itu untuk menyelamatkan dirinya. Sungguh untuk pertama kali, hati mati Yudhistira menjadi tersentuh atas perlakuan wanita itu. Wanita asing dengan kebaikannya, tak taukah wanita itu jika yang ia hendak selamatkan adalah monster dengan ribuan bahkan jutaan dosa? Bathin Yudhistira.


__ADS_2