
"Tak mungkin Yudha menikahi istriku kan?"
Pertannyaan bodoh itu terlontar begitu saja dari mulut seorang yang bernama Arjuna.
Ketiganya keluar dari dalam mobil, dengan beberapa senjata yang di bawa Yudhistira untuk berjaga jaga, Asisten Jo juga membawa senjata api miliknya. Hanya Arjuna saja yang tak membawa apun, ia mengatakan takut khilaf dan malah membuat Rain menjadi yatin piatu.
Astaga, Arjuna masih saja memikirkan orang lain.
"Arjuna, khilaf dalam hal ini di halalkan. Tuhan akan mengampunimu jika sampai kau membunuh orang lain." Yudhistira memasukan satu senjata di balik jaket jeans Arjuna.
"Atau justru kau yang akan ku lenyapkan jika terjadi sesuatu kepada adikku." ancam Yudhistira.
"Yudhis, aku akan memberikan Yudha penawaran, aku akan memberikan apapun untuk menukahkan dengan istriku."
"Kau pikir Yudha ingin apa Hah, selain Lisa? Harta dan tahta pria itu miliki."
Benar juga, pikir Arjuna.
Mereka tak langsung memasuki rumah, karna memang mereka memarkirkan mobil mereka jauh dari rumah.
Yudhistira membakar susuatu yang menyerupai petasan, asapnya tidak kentara sama sekali, kemudian pria itu melemparkan benda itu ke beberapa anak buah Arjuna yang berkerumun termasuk seorang penghulu dan temannya, tak lama dari itu mereka jatuh tak sadarkan diri, bergelimpangan di hadapan rumah Yudha yang baru.
"Apa yang kau lakukan?" Arjuna menatap Yudhistira dengan oenuh pertanyaan. "Jangan katakan kau melenyapkan mereka dengan racun buatanmu."
"Merak tak akan mati, hanya tak sadarkan diri hingga 6 jam saja. Aku tak ingin membuang banyak tenaga demi menghajar mereka."
Setelah itu Yudhistira, Arjuna dan Asisten Jo berjalan menuju kearah rumah.
Manjur sekali benda itu, bahkan orang lewat yang jaraknya lumayan jauh yurut pingsan oleh aromanya yang tercium wangi.
"Tuanbtapi mengapa kita tak pingsan?" Jo bertanya polos kepada Tuannya.
" Tentu saja karna kita sudah menelan penawar yang di berikan kakak iparku." Arjuna sengaja berujar untuk meledek Yudhistira.
"Tidak usah memaksakan lidahmu untuk berkata manis terhadapku, kau tak layak." ketus Yudhistira.
Suasana rumah dengan pintu terbuka itu cukup sepi, tak terlihat orang lain di sana kecuali Rain yang tengah terduduk di kursi ruang tamu di rumahnya.
__ADS_1
"Om Juna." Rain tampak terkesiap juga panik saat mendapati Arjuna berada di sana, bocah laki laki itu hendak lari ke arah tangga, sayangnya Asisten Jo segera menangkapnya,
"Paman Wily. Paman Wily." bocah itu berteriak memanggil pamannya, namun orang yang di panggil tak kunjung datang, karna asisten dari papanya Rain sudah tak sadarkan diri di luar rumah itu.
"Om Juna, jangan ambil Mamaku! Jangan ambil Mamaku!" Rain melarang Arjuna yang tengah menaiki tangga.
Namun Arjuna tak menghiraukan bocah itu, ia terlalu khawarltir akan keadaan istrinya.
Yudhistira yang tak sabar segera menyuntikan sesuatu ke tengkuk bocah itu hingga beberapa detik tubuh mungil itu melemas dengan sendirinya. Namun sebelum Rain pingsan ia melihat sebuah senjata api berada di balik jaket Arjuna yang tengah menaiki anak tangga.
.
"Yudha, apa yang kau lakukan? Menjauh dariku Sialan!" Elis memaki dan memberontak saat Yudha terus mendekat kearahnya. Pria itu bahkan sudah menanggalkan pakainnya atasnnya.
"Meski kau tak bisa ku nikahi dalam waktu dekat, kau tetap harus kumiliki." Seulas senyum puas tergelincir di wajahnya. Yudha sempat mendengar putranya berteriak memanggil nama asistennya, tapi setelah ia mencoba memfokuskan pendengarannya suara Rain tak terdengar lagi mungkin ia salah dengar.
Yudha memang tengah marah, karna dirinya tak dapat menikahi Elis, hanya karna Elis masih bersetarmtus istri dari Arjuna, srkalipun pernikahannya di bawah tangan, dia bahkah memukuli penghulu itu agar bersedia menikahkannya dengan Elis. Tapi penghulu itu tetap menolak dan mengatakan jika dirinya sudah bersumpah dihadapan Tuhan, hal ini membuat Yudha murka kemudian menyuruh anak buahnya untuk melenyapkan penghulu ubdangannya, sayangnya sebelum hal itu terjadi, Yudhistira sudah membuat semua anak buahnya tak sadarkan diri.
"Menjauh dariku berengsek!"
"Namaku Yudha, Elis sebut namaku! Aku senang saat kau menyebut namaku, kau harus menyebut namaku saat mencapai nirwana nanti." Yudha terkekeh ringan, ia tak sabar untuk memiliki Elis sekarang.
"Apa dengan menyebut namaku lidahmu akan terbakar Elis?" Yudga kini membuka sabuknya dan terus mendekat kearah wanita bersuami itu.
Tak
Kail celana Yudha terbuka, pria itu kini menghimpit tubuh Elis dan terus mengecupi wajah dan leher Elis, Elis terus memberontak drngan tangan yang terus memukul punggung pria gila di hadapannya.
Yudha menggiring Elis ke arah ranjang, pria itu mendorong tubuh Elis hingga terlentang di atas ranjang yang sudah di hias layaknya ranjang pengantin.
"Tidak ..."
Elis menjerit saat Yudha merobek dan menarik paksa gaun yabg ia kenakan hingga hanya tersisa dalaman berwarna senada dengan gaun itu.
Yudha kini berada di atas tubuh Elis, dengan sentuhan sentuhan gilanya.
Brakk ...
__ADS_1
Pintu terbuka dengan kasar, menampilkan Arjuna yang kini berada di ambang pintu.
"Biadab!"
Pria itu langsung menyerang tubuh Yudha dengan membabi buta.
Tidak sekalipun Arjuna membiarkan Yudha membalas pukulannya, ia terus menghajar Yudha sampai pria itu babak belur.
"Aku memang selalu memaafkan, tapi perlu kau ketahu Yudha, saat kau menyentuh milikku, aku tak akan memaafkanmu."
Duak ...
Arjuna menghantukkan kepalanya ke wajah Yuha hingga gigi depan pria itu lepas dari tempatnya, tidak hanya itu, tulang hidung Yudha juga patah.
Arjuna benar benar kalaf sekarang, hasrat membunuhnya kini tiba di ubun ubunnya.
Arjuna memang pandai bertarung, hanya daja ia tak terlalu suka berkelahi jika tidak terdesak, kemampuan yang dirinya miliki hanya sebatas untuk pertahanan diri saja.
Senjata api yang Yudhistira bekali pada dirinya kini ia tarik dari balik jaketnya, Arjuna siap meledakkan kepala Yudha dari bentuknya.
Namun Elis memeluk pinggangnya dari belakang dengan sangat erat.
"Jangan lakukan hal itu Juna. Kumohon, jangan sampai pria baiku berubah menjadi iblis hanya demi aku. Tetaplah menjadi pria baik Arjuna."
Brukk.
Seketika tangan Arhuna melemas, hingga pistol itu jatuh keatas lantai, Arjuna membalik tubuhnya dan segera membenamkan tubuh Elis kedalam pelukannya.
Arjuna menangis, perasaannya terluka kala mendapati istrinya, wanita satu satunya yang ia cintai nyaris saja di lecehkan oleh Yudha, pria yang ia anggap sebagai saudara.
"Maafkan aku, maafkan aku. Aku lalai, aku ceroboh. Aku bersalah karnya kau hampir celaka. Kau boleh menghukumky sebanyak yang kau mau, tapi tolong jangan pergi. Aku, aku tak bisa tanpamu El." Arjuna memeluk tubuh mungil Elis yang terbalut selimut.
"Aku benar benar gila saat kau kembali hilang El," Arjuna terus berucap, mengungkapkan ketakutannya kepada sang istri.
"Kau nyaris saja di rusak oleh pria yang ku sayangi, pria yang kuanggap keluarga."
Yudha yang nyaris kehilangan kesadaran meraih pistol yang di jatuhkan Arjuna, dengan susah payah, ia memfokuskan pandangannya yabg berkunang untuk membidik Arjuna.
__ADS_1
"Kau harus mati di tanganku."
Dorr ...