
"Cari Aida!"
Aida sangat mengenali suara itu, pria yang selalu ia sebut dalam do'anya kini datang untuk menyelamatkan dirinya. Tuhan mengabulkan doanya untuk kali ini, Aida tak tau jika seandainya Arjuna datang kepadanya atas campur tangan Mama Sri.
Beberapa suara kini mendekat juga ke arahnya. "Cepat bawa bersembunyi wanita sundal itu." Kali ini Aida yakin jika yang berbicara adalah Yudhistira, namun sedikitpun Aida tak bisa melakukan apapun, tubuhnya sangat lemah juga kepalanya yang terasa berat.
Saat derap langkah mendekat kearahnya, Aida tak memiliki kekuatan lain selain berpura pura tak sadarkan diri. Ya Aida berpura pura pingsan.
Suasana seakan mencengkam, ia tak tau kekejaman apa lagi yang akan di lakukan oleh Yudhistira yang gila itu. Kemarin ia kehilangan harga diri dan sebelah tangannya, entah apa lagi yang hari ini akan di hilangkan pria itu darinya. Sungguh Aida hanya bisa pasrah saja seandainya ia harus tewas di tangan Yudhistira, yang terpenting ia tau jika Arjuna perduli terhadapnya dan mau menyelamatkannya.
"Jo angkat dia!" Suara tegas Arjuna terdengar samar samar di pendengaran Aida yang nyaris tak sadarkan diri.
Asisten Jo sudah bersiap untuk merengkuh tubuh Aida namun sebuah tembakan mengagetkannya dari arah belakan.
Duar ...
Nyaris saja asisten Jo kehilngan nyawa. Jika saja dirinya tak mengelak tepat waktu mungkin saja tengkorak kepalanya akan pecah, pecah saat itu juga, beruntung peluru yang melesat ke arahnya hanya mampu melukai telinganya saja.
"Sial!" Asisten Jo tak jadi membopong Aida, ia lebih dulu harus melawan karna hanya pistol di gemggamannya yang masih memiliki peluru.
"Tuan. Bawa Aida saya yang akan menghadapi para anak buah Yudhistira." ujar Jo dengan darah yang sudah mengotori pakaiannya karna memang asisten Jo terluka di beberapa anggota tubuh termasuk telinganya.
Arjuna terlihat masih kuat, tidak terdapat sedikit memar di wajahnya karna memang Arjuna menghindari terluka agar Elis tak curiga, juga dengan gaya petarung Arjuna yang handal, bidikan bidikannya nyaris sempurna melumpuhkan lawannya. Dari banyaknya peluru yang ia miliki tak ada satupun peluru yang meleset, semuanya tepat sasaran mengenai kaki para lawannya bertujuan untuk membatasi ruang gerak dari lawannya.
Sebenarnya Arjuna bisa saja membidik di dada maupun kepala orang orang Yudhistira, dan melenyapkan musuh musuhnya, namun ia tak ingin gegabah juga tak ingin menimbulkan dendam di kemudian hari, seandainya kedatangannya di sambut baik oleh Yudhistira ia tak berniat sama sekali mengacau atau melukai orang lain. Ya Arjuna terpaksa menggunakan senjatanya untuk bertahan diri, orang orang yang Arjuna bawapun merupakan orang terlatih sehingga benar benar membantunya.
Namun sebenarnya Arjuna terluka di bagian pinggangnya. Arjuna tak sempat menghindar ketika seseorang yang ia ketahui bernama Yudhistira menyabetkan belati ke pinggangnya saat pertama kali datang ke tempat itu. Beruntung lukanya tidak terlalu dalam sehingga Arjuna mampu terlihat baik baik saja. Semoga saja belati yang Yudhistira pergunakan tidak beracun dan tidak mengancan keselamatannya.
"Tuhan. Aku memiliki banyak kewajiban tolong lindungi aku." Arjuna membawa tubuh Aida yang terlihat tak sadarkan diri dalam gendongannya.
__ADS_1
Kesadaran Aida nyaris hilang sebenarnya namun masih Aida pertahankan agar tidak hilang.
Aida dapat mencium aroma tubuh pria yang amat ia puja selama ini. Ya Aida mengenali aroma tubuh pria idamannya. "Apa aku harus terluka lebih dulu agar kau mau menyentuhku? Jika Iya aku rela Arjuna. Jangankan hanya kehilangan sebagian tanganku. Jika terdapat pilihan Aku rela kehilangan seluruh tanganku hanya agar aku dapat bersamamu." Bathin Aida menjerit. Dari sela kelopak matanya mengalir buliran bening air mata.
Aida menghirup lambat lambat aroma tubuh yang berada di depan wajahnya. Ia tak perduli tubuhnya terombang ambing karna Arjuna membawanya dengan tidak hati hati.
"Asalkankan bersamamu sekalipun kau membawaku ke dalam jurang aku rela Arjuna." Batin Aida.
Duar ...
Duar ...
Letusan senjata kembali terdengar.
Arjuna benar benar menantang maut kali ini. Hanya demi membalas budi untuk yang terakhir kalinya kepada ibunya ia rela berada situasi yang berbahaya seperti ini, semoga saja setelah ini Mamanya mau mengerti dan menjauh dari keluarga kecilnya.
Darah yang berada di pinggang Arjuna semakin banyak mengeluarkan darah karna tertekan oleh badan Aida dalam gendongannya. Aroma tak sedap juga menguar dari tubuh Aida, entahlah bau apa saja yang Arjuna cium di indra penciumannya, Aida sangat bau juga kotor dengan tangan kanan yang sudah tak utuh.
Dengan seluruh kekuatan yang ia miliki juga ketanggapan asisten Jo dan orang orangnya, Arjuna dapat meloloskan diri dari sana meskipun dengan susah payah dan berdarah darah.
Yudhistira kalah kali ini. Ia hanya bisa membiarkan Arjuna membawa pergi tawanannya. "Sebenarnya siapa yang di cintai Arjuna? Aida atau wanita yang di maksud Aida? Atau jangan jangan Aida hanya membual untuk mengecohku. Dasar wanita sial!" Berkali kali Yudhistira mengumpati wanita yang lolos dari pantawannya.
Yudhistira merasa bodoh, kenapa tidak memperhitungkan jika Arjuna akan menemmukan tempat persembunyiannya, ia tidak memasang orang orang handal yang ia miliki. Yudhistira pikir Arjuna masih sebodoh dulu, namun kali ini pria itu sangat pandai bela diri juga bermain senjata.
"Sial. Seandainya aku tau Arjuna akan kemari aku akan menyiapkan belati beracunku. Kemunculannya benar benar membuatku terkejut. Ini benar benar sial. Aaa ..." Yudhistira memegangi kakinya yang terluka oleh senjata api milik pria itu.
"Bodoh. Aku juga belum memasang alat pelacak di tubuh *** *** itu." Yudhistira merasa bodoh. Sangat bodoh.
.
__ADS_1
Arjuna segera menghubungi orang orangnya setelah sampai di mobilnya, melalui sebuah alat yang terpasang di telinganya. Untuk menanyakan keselamatan orang orangnya. Inilah yang membuat Arjuna di segani dan orang orangnya setia terhadapnya, Arjuna selalu mengutamakan keselamatan orang suruhannya. Beruntung tak ada yang gugur, hanya saja luka luka kecil tak bisa di hindari.
"Jo, segera hubungi ibuku. Suruh dia untuk datang ke rumah sakit." Arjuna sedikit membanting tubuh lemas Aida, di sana Aida sudah tak sadarkan diri. Ia kehilangan kesadarannya beberapa waktu lalu.
.
"Aku sudah menyelesaikan baktiku! Berhenti mencampuri urusanku. Dan ingat jangan sampai istriku mengetahui hal ini!" Arjuna memperingatkan Mamanya sebelum meninggalkannya.
"Bukan hal mudah untuk menyelamatkan putrimu dari kuasa Yudhistira. Aku juga nyaris kehilangan nyawaku saat melawannya." Arjuna mengangkat pakaiannya yang berlumuran darah, menampilkan luka menganga di balik kemeja putih itu.
"Tapi sepertinya diruku tak bernilai apa apa untukmu." Suara Arjuna memberat.
"Arjunaaa ..." Lirih Mama Sri. Bohong jika dirinya tidak khawatir terhadap putra angkatnya itu.
"Seandainya saja aku tau jika Mama akan menjadikanku sebagai sapi perah, sepertinya akan lebih baik Mama melenyapkanku saja dulu." Rasa sakit karna luka di pinggangnya berbanding jauh dari rasa sakit di hatinya. Perlakuan Mama Sri sangat menekan mental Arjuna.
"Junaaa, ayo kita pergi ke dokter." Mama Sri mendekat, wajahnya terlihat sangat cemas, tidak ada yang berdusta tentang perasaannya sebagai ibu, yang khawatir terhadap putranya.
"Tidak usah berakting seolah kau mengkhawatirkanku. Bukankan dia anakmu? Aku hanyalah angat pungut." Arjuna menunjuk Aida yang terbaring di atas brankar dengan mata terpejam.
"Arjuna Mama juga menyayangimu Nak." Sunghuh Mama Sri mengatakan yang sebenarnya. Tapi di dalam hati ia menyalahkan Elis, karna wanita itu yang merubah putranya yang penurut menjadi pemberontak.
"Jangan berbohong lagi. Tak ada seorang ibu yang mendorong putranya dalam bahaya. Tak ada seorang ibu yang menginginkan kehancuran rumah tangga putranya. Hal ini semakin menyadarkanku, jika kau mengurus dan membesarkanku hanya karna kau akan memanfaatkanku." Sebulir cairan bening lolos dari mata Arjuna, juga darah yang sedari tadi terus menerus keluar dari pingganggangnya.
"Mama menyayangiku hanya karna menurut Mama aku bisa di pergunakan. Aku mohon berhenti ikut campur urusanku. Aku sudah mengerjakan bakti terakhirku sebagai anak." Pecah sudah tangis Arjuna yang tak mampu lagi ia bendung.
"Juna, ayo obati lukamu! Jangan membuat Mama merasa berdosa Nak." Mama Sri turut meneteskan air matanya, darah Arjuna kini sudah mengotori lantai."
"Tapi aku rasa kau tak benar benar perduli terhadapku. Aku pamit. Ingat apa yang ku lakukan semata-mata karna dirimu. Bakti terakhirku sebagai anakmu."
__ADS_1
Mama Sri hanya diam membisu seribu bahasa. Matanya tak berhenti mengeluarkan air mata sedari tadi.