
"Menolong? Apa maksudmu?!" Kali ini Elis meninggikan suaranya karna Aida tak jiga menjawab pertanyaannya. Wanita cacat itu malah menyunggingkan senyuman misterius.
Elis masih menggenggam tangan mungil Rain, ia tadinya ingin mengantarkan Rain pada Yudha untuk melihat proses pemakaman Soraya yang akan di lakukan beberapa saat lagi. Ia tak mengira jika akan mendengar ucapan terimakasih dari mulut Soraya kepada suaminya.
"Kau tidak tau jika suamimu menolongku dari penjahat?" Aida semakin senang, ia merasa tengah berada di atas awan sekarang. Sepertinya sesaat lagi akan ada perang besar.
Elis semakin mengerutkan keningnya dalam, ia sungguh tak mengerti dengan apa yang Aida katakan.
"El. Mana Valery? Ayo kita temani Valery takutnya dia bangun." Arjuna sudah meraih pergelangan tangan Elis yang sebelumnya tangan itu di genggam oleh Rain.
Karna penasaran oleh Aida, Elis menepis tangan Arjuna yang menggenggam tangannya.
"Menolongmu dari penjahat? Apa maksudmu aku tak mengerti?"
"El jangan dengarkan dia! Ayo kita pergi." Arjuna sudah berkeringat dingin.
"Diam!"
Elis meninggikan suaranya.
"Katakan!"
"Kau lihat ini!" Aida menunjukan sebelah tangannya yang cacat ke hadapan Elis. "Ini sebagai bukti jika aku tak berbohong mengenai penjahat yang menawanku." Aida melirik Arjuna yang menampilkan wajah paniknya.
"Aida ayo kita pergi! Kau jangan terlalu banyak berbicara kau baru sembuh." Srikandi berusaha untuk mengajak pergi Aida, ia tak ingin jika Arjuna salah paham kepadanya, dan menganggap jika pernyataan Aida adalah perintahnya.
"Tunggu sebentar Ma! Aku ingin mengatakan kebenaran tentang putra Mama yang baik hati, terhadap istrinya." Aida menghindar dari jangkauan Mama Sri. Ia malah semakin mendekat ke arah Elis.
"Arjuna dengan gagah berani menyelamatkanku dari penjahat itu. Dia menggendongku dari gudang penyekapan dan membawaku keluar, dan kemudian di membawaku kerumah sakit. Bahkan dia terluka di pinggang kirinya demi menyelamatkan aku. Apa dia tak mengatakannya kepadamu? jika dia sudah menolong mantan madu istrinya. Ups maksudku mantan istri keduanya." Aida terkekeh ringan, menyaksikan keterkejutan yang di dominasi kekecewaan di wajah Elis.
Aida sangat yakin jika Elis baru tau tentang kebenaran ini.
__ADS_1
Elis bergeming, banyak praduga yang memenuhi isi kepalanya. Tentang bagai mana Arjuna membohonginya menimbulkan satu kesimpulan yang berusaha Elis sangkal, tapi bisa saja Aida membual kan, jadi biar tidak salah paham Elis harus menanyai kebenarannya kepada Arjuna saat ini juga.
"Arjuna apa benar yang di katakan Aida jika kau menyelamatkannya? Juga mengenai lukamu, benarkah jika luka itu kau dapatkan saat menolong Aida?" Elis kini menghadap Arjuna dengan memincingkan matanya. Mencoba menyelami mata Arjuna yang bergulir gelisah.
Sebenarnya tanpa Arjuna menjawab pun Elis sudah mengetahui arti dari tatapan mata itu.
Tanpa Elis cari tau, tanpa ia menyelidiki apapun, suatu kebenaran telah mengecewakannya kembali. Tuhan selalu memiliki cara untuk menunjukan kebenarannya, tanpa hal yang tidak ia sangka sangka.
"Aku memiliki Alasan El. Aku-"
"Aku tidak bertanya mengenai alasan!" Bentak Elis, sampai beberapa orang melirik ke arahnya, meski ia tau kebenarannya namun tetap saja ia ingin mendengar jawaban dari mulut Arjuna. Dan berharap suaminya mengatakan jika semua pernyataan Aida adalah bualan semata. Namun semuanya terpatahkan saat Arjuna mengangguk pelan.
"Ya itu benar."
Jadi luka yang di dapat Arjuna demi menyelamatkan Aida. Wanita yang paling Elis tidak sukai seumur hidupnya. Sunghuh sempurna kebohongan Arjuna terhadapnya.
Beberapa kali Elis menghirup nafasnya yang ia rasa sangat sesak. Liurnya pun terasa alot saat ia telan, ini seperti penyakit sesak napas. Tangan Elis mengepal erat dengan tatapan yang sulit untuk di artikan siapapun, Elis sudah bersiap untuk menumpahkan amarah yang merasuk di dadanya.
Elis menutup matanya untuk beberapa waktu. Mencoba meredam semua amarah atas kebohongan Arjuna, apa selama ini Arjuna hanya menganggap ucapan Elis sebagai angin lalu saja? dan tak memperdulikan apa yang Elis katakan tentang memutus hubungan Arjuna, Aida dan Mama Sri. Tapi diam diam Arjuna masih terlibat, bahkan pria itu membohongi Elis nyaris satu bulan lebih lamanya. Pantas saja selama ini Elis selalu gamang, merasa ada sesuatu yang di sembunyikan pria itu. Rupanya perasaannya tidaklah salah.
"Kita akan bicara di rumah!" Elis berlalu tanpa memerdulikan apapun lagi. Ia juga tak perduli saat Rain memanggilnya beberapa kali. Elis pergi dengan banyak air mata yang keluar dari kedua matanya.
"Dasar wanita tidak tau diri!"
Sebelum Arjuna menyusul Elis, ia lebih dulu mengambil putri bungsunya di kamar Rain.
"Yudha, Rain. Maaf aku tak bisa menghadiri acara pemakaman Soraya ada sesuatu yang harus ku selesaikan." Arjuna segera berlalu dengan Valery di gendongannya.
"Dasar bodoh. Dasar bodoh!"
Arjuna terus memaki dirinya sendiri selama perjalanan menuju rumahnya. Elis benar benar marah, bahkan wanita itu sudah tak memperdulikan putri mereka. Elis langsung pulang tanpa mengatakan apapun lagi.
__ADS_1
"Papa kenapa?" Valery terlihat keheranan melihat papanya yang tengah memaki.
"Papa tidak papa sayang."
Arjuna menghubungi Asisten Jo juga pengasuh ketiga putrinya. Sementara ia harus mengungsikan ketiga putrinya lebih dulu. Jangan sampai Elis lebih dulu membawa ketiga putrinya untuk pergi. Arjuna sangat paham ke nekadan wanita itu, setidaknya ketiga putrinya bisa ia jadikan alat untuknya membujuk Elis agar mau memaafkan lagi.
Asisten Jo, membawa ketiga putri bosnya untuk pergi ke tempat yang sudah di katakan bosnya.
Setibanya di rumah Arjuna melihat ke hadiran Elis di ruang utama, yang sepertinya Elis memang tengah menunggu dirinya.
"El. Aku punya pembelaan mengapa aku menyelamatkan Aida." Arjuna langsung bersimpuh di hadapan Elis.
Elis langsung berdiri dengan raut menyesal.
"Ya. Kau selalu mempunyai pembelaan setiap kesalahanmu! Setiap sesuatu yang selalu melukaiku. Tidak bisakah kau menghargai perasaanku sedikit saja? Menuruti setiap kataku apa itu membuatmu mati atau sesak nafas?" Elis marah sangat marah, akan ia letupkan setiap kekecewaannya kali ini.
"El. Mama mengungkit jasanya dan aku di paksa menolong Aida sebagai bakti terakhirku." bela Arjuna terhadap dirinya sendiri.
"Ya masalahnya sejak awal kau memang tak bisa lepas dari pengaruh Mamamu. Bukankah sudah ku katakan agar tidak terlibat lagi dengannya? Jika kau terus seperti ini nikahi saja Mamamu atau Aida. Aku lelah Arjuna, aku sangat lelah. Kau selalu menyepelekan permintaan sederhanaku."
"El."
"Jika memang kau di paksa oleh mamamu. Mengapa kau tidak berdiskusi lebih dulu kepadaku? Kita bisa menyuruh orang untuk menyelamatkan Aida, tidak harus dengan dirimu sendiri kan? Kau sangat tau aku membencinya. Apa kau tak bisa mengapreasi ketidak sukaanku terhadapnya? Diantara banyaknya makhluk aku hanya melarangmu berurusan dengan Aida, tapi kau berkali kali mengabaikan keinginanku. Tidak cukupkah selama ini kau memberikan luka untukku?" Elis mengamuk, tangannya bahkan turut bereaksi mengambil beberapa barang untuk ia hancurkan demi meluapkan amarhnya.
"Aku lelah Arjuna. Kau selalu mengecewakan aku, kau selalu membuatku marah hampir dengan penyebab yang sama mamamu dan Aida. Cukup sudah kau menguji kesabaranku!"
"Elis aku minta maaf Elis. Aku janji, bila perlu bersumpah. Aku tak akan terlibat apapun lagi dengan Mama dan Aida. Tolong maafkan aku." Arjuna mengatupkan kedua tangannya membentuk permohonannya.
"Kesempatanmu sudah habis Arjuna. Kurang baik apa aku selama ini? Kau meminta maaf, aku selalu memaafkanmu. Kau meminta kesempatan aku berikan. Tapi lagi dan lagi kau melukaiku dengan sesuatu yang menurutmu sepele, tapi sungguh itu sangat melukaiku."
"Tidak El. Jangan ku mohon!"
__ADS_1
Permohonan Arjuna tak lagi berarti apa apa untuk Elis yang terlanjur mati rasa.