Ketika Cinta Istriku Habis

Ketika Cinta Istriku Habis
Yudhistira dan Elis bertemu tanpa sengaja


__ADS_3

Arjuna membiarkan Mama Srikandi dan Aida bertengkar, orang orang jahat tak lantas membuat Arjuna turut ikut merubah kepribadiannya.


"Kau sudah bersama anakmu sekarang. Jangan libatkan aku dalam apapun yang terjadi padamu. Sungguh aku tak ingin melihatmu lagi." Arjuna menatap Mama Srikandi dengan tatapan penuh kebencian.


"Jika kita bertemu di suatu tempat, jangan menyapaku apa lagi mendekat ke arahku! Menjauhlah semampu yang kau bisa. Anggap saja kita orang asing yang tak pernah saling mengenal. Tak apa jika kau ingin mengecapku sebagai anak durhaka. Nyatanya sebanyak apapun aku berbakti tak akan mengubah setatusku sebagai anak pungut."


"Arjunaaa ..." Mama Sri berujar parau, wajahnya sudah di linangi air mata.


"Rasanya aku enggan melihat wajahmu kembali sekalipun kau mati!" Ucap Arjuna ketus. Ia terlanjur kecewa akan setiap kelakuan Mamanya.


"Junaaa ..."


Arjuna tak menyaut maupun menengok ia segera berlalu mengabaikan ibunya yang menangis di atas lantai dengan Aida yang masih memaki wanita tua itu.


Ya Arjuna lebih memilih pergi meninggalkan Mama Srikandi.


Arjuna mengendarai mobilnya menuju rumah sewa Elis.


"Mengapa susah sekali membuat para wanita mengerti?"Arjuna memukul stir kemudinya kemudian mengumpat beberapa kali.


"Mama selalu ingin menguasaiku, perintahnya selalu mutlak untuk ku laksanakan. Dan Elis, dia tidak mau mendengarkan penjelasanku. Dia selalu merasa benar dengan pemikirannya sendiri. Kapan keduanya akan berdamai?" Arjuna menyandarkan kepalanya di kursi mobil saat tiba di lapangan parkir umum.


"Sudahlah. Sepertinya keputusanku memutus hubungan dengan Mama adalah keputusan yang paling baik." Arjuna kini melangkahkan kakinya menuju rumah Elis. Di depan gang ia bertemu dengan orang suruhannya yang tengah berjaga.


"Apa nyonyamu ada keluar?"


"Tidak Tuan. Sejak tadi sore Nyonya masih di rumahnya, bahkan motornya masih terparkir rapi di teras rumahnya." Pria berjaket hitam itu berujar sigap.


Tanpa mengatakan apapun lagi Arjuna melanjutkan langkahnya menuju rumah sewanya. Benar apa yang di katakan pegawainya, motor Elis masih ada di sana.


Arjuna bermaksud untuk kembali membujuk Elis, ia akan mengatakan jika ketiga putri mereka terus menangis menanyakan keberadaan ibunya. Semoga saja Elis meluluh jika nama putrinya yang ia gunakan.


"El."


Arjuna langsung membuka pintu yang ternyata tidak di kunci.


 "El."


Arjuna memanggil Elis berkali kali, tapi tak mendapat sahutan dari wanita itu. Sebelum memasuki kamar Arjuna lebih dulu mencari Elis di dapur dan kamar mandi, namun Arjuna tak dapat menemukan keberadaan istrinya. Arjuna kemudian memasuki kamar, koper yang tadi hendak Elis bawa tergeletak begitu saja di dekat lemari plastik berwarna hijau toska. Karna koper hitam itu tertutup, Arjuna sama sekali tak berpikir jika Elis sudah pergi dari sana sesaat setelah dirinya meninggalkan rumah sewa.

__ADS_1


"Kemana perginya Elis?" Arjuna keluar dan duduk di atas kursi sofa. Mata tajamnya tak sengaja menemukan selembar kertas dengan coretan berwarna dastuly pink yang menyerupai sebuah pesan.


Tubuh Arjuna seketika menegang saat membaca tulisan istrinya.


"Elis pergi meninggalkan aku dan anak anak? Bagai mana bisa dia berbuat kejam seperti ini?" Kaki Arjuna melemas. Sedangkan kedua tangannya meremas sebuah kertas yang Elis tinggalkan.


"Sekali lagi kau meninggalkanku El." Seraknya penuh kekecewaan.


Arjuna meraih ponselnya dan segera menghubungi orang yang ia tugaskan untuk berjaga di depan gang.


Selang beberapa menit berlalu, pria bertubuh besar itu tergopoh mendatangi rumah sewa majikannya.


"Dasar bodoh. Mengapa kau kecolongan hah? Istriku melarikan diri! Dan kau tak tau?" Maki Arjuna.


"Melarikan diri?" Orang itu malah membeo ucapan atasannya.


"Dasar bodoh!"


Bugh ...


Bugh ...


"Maaf Tuan!"


"Segera cari istriku! Kabari orang orangku untuk membantumu mencarinya! Temukan dia dalam jangka waktu kurang dari 1x24 jam jika tidak kepalamu akan ku hilangkan!" Ancam Arjuna, secara repleks pria itu meraba tengkuk lehernya.


Arjuna terduduk kembali. Dengan pikiran yang mulai berkelana.


"Alasan apa yang harus ku katakan kepada anak anakku. Mengapa aku sangat bodoh? Harusnya aku bisa membaca hal ini akan terjadi."


Arjuna mendongak, tangan kanannya memijat pelipisnya dengan enggan.


"Tuhan ku mohon! Jangan pisahkan aku dengan istriku lagi. Bukankah semua yang terjadi atas kuasa dan ijin darimu? Kembalikan Elis padaku. Sudah cukup kau menyiksaku selama empat tahun. Tuhan ku mohon! Lakukuan apa saja agar Elis tetap menjadi istriku."


Mata Arjuna terpejam, sedangkan air matanya meluruh, memaksa keluar dari kedua ujung matanya.


Karna perasaannya yang kacau, Arjuna terluka jika sebelumnya ia pernah menanamkan chips kecil di tengkuk Elis, untuk menditeksi keberadaan wanita itu, sewaktu Elis tengah di rawat di rumah sakit kala itu. Arjuna sama sekali tak mengingat jika dirinya pernah menanamkan benda asing di tubuh istrinya. Benda yang akan menjadi peta untuk menemukan Elis.


"Di antara banyaknya kehilangan aku selalu mencari jejakmu di beberapa halaman cerita lalu. Sekalipun samar, si bodoh ini melakukan banyak cara agar tidak melupa. Bahkan, di saat di sebrang sana- Aku adalah sebagian cerita yang sudah kau sobek halamannya.

__ADS_1


Elis. Aku tak tau, sedalam apa aku terkurung di sudut ini. Aku sempat membiarkan beberapa kali, membiarkan beberapa orang untuk menarikku supaya aku terbebas, luka sekaligus rasa menjadi tanya yang beberapa kali ku utarakan. Kenapa kau tidak membebaskanku dan justru malah membelengguku seperti ini?


Sekali lagi aku percaya pada pernyataan, bahwa setiap orang akan selalu jatuh hati berkali kali, tetapi jatuh yang paling dalam hanya akan terjadi sekali.


Dan padamulah aku menyadari jika debaran ini begitu menyenangkan, juga dengan kehadiranmulah yang menjadi penguatku. Saat kau tak lagi bersamaku aku tak bisa membayangkan akan sehancur apa lagi hidupku setelah kemarin." Arjuna meraung sendiri dalam keheningan malam.


Tubuhnya terasa lemas, jangankan untuk turut mencari Elis, untuk berdiri saja rasanya ia sangat tidak mampu.


Arjuna hanya menunggu kabar dari orang orangnya saja.


Beruntung Asisten Jo, mengingat jika bosnya pernah mengatakan telah memasang alat itu di bagian tubuh Elis, sehingga dengan sigap AsistenJo melacak keberadaan Nyonyanya.


.


Di tempat lain, Elis sudah semakin jauh berlari. Menghindar seseorang yang berstatus sebagai suaminya. Ini sudah malam, tak mungkin juga Elis terus melanjutkan perjalanannya.


Elis akhirnya memilih akan menginap di salah satu hotel yang dekat dengan sebuah apartemen mewah. Secara tidak sengaja Elis melihat sosok Yudhistira yang berada di lobi hotel.


Yudhistira berada di sana tentu saja untuk memantau kematian seorang wanita yang ia anggap sebagai istri dari Arjuna.


Elis masih berusaha memastikan penglihatannya, namun Yudhistira malah lebih dulu menyadari kehadirannya.


"Kita bertemu lagi tanpa sengaja."


Yudhistira sangat senang saat melihat sosok wanita yang pernah menyelamatkan nyawanya. Bukan senang karna tertarik akan sosok Elis yang rupawan, melainkan ada sesuatu hal yang tak bisa Yudhistira utarakan. Entahlah wanita itu berhasil menarik simpatinya juga seolah ikatan antara mereka lebih besar di bandingkan orang asing pada umumnya. Mungkin karna wanita itu sudah berjasa.


Belum sempat Elis menyapa Yudhistira, ia sudah di kagetkan dengan beberapa orang suruhan Arjuna yang berada di sana, termasuk asisten Jo.


Asisten Jo semakin panik saat mengetahui ada Yudhistira di hotel itu, jangan sampai Musuh tuannya bertemu dengan istri dari majikannya.


Dengan segera Elis mengenakan topi hoodie yang ia pakai agar dapat besembunyi dari orang orang suaminya. Elis menunduk berpura pura tangah berjalan, di saat orang orang Arjuna berpencar untuk mencarinya.


"Cari dan Temukan dia sekarang! Alatnya tak mungkin salah!" perintah Asisten Jo.


Jantung Elis berpacu sangat cepat saat orang orang itu semakin mendekat, bahkan ke resepsionis untuk menanyakan sesuatu. Apakah pelariannya akan gagal hari ini?


Yudhistira menyadari pergerakan Elis yang mencurigakan. Ia menebak jika Elis tengah bersembunyi dari orang-orang Arjuna.


Apapun alasan Elis di cari oleh orang orang Arjuna, yang terpenting ia harus bisa melindungi malaikatnya itu.

__ADS_1


"Ikut denganku! Jika kau ingin aman." Yudhistira menarik tangan Elis, juga mengambil alih tas ransel di punggung wanita itu.


__ADS_2