
Bugh !!!
"Lancang sekali kau! meminta seorang istri dari suaminya."
Arjuna melayangkan satu bogeman mentah di hidung Yudha hingga hidung itu langsung mengucurkan darah segar dan langsung mewarnai belahan bibir pria beranak satu itu.
"Apa masalahnya saat aku ingin memberikan seorang ibu untuk putraku?" tantang Yudha. Seakan apa yang ia ucapkan barusan adalah hal seprle, tidaklah Yudha tau jika apa yang dirinya ucapkan mampu mengundang amarah seorang suami, saat istrinya di minta cuma cuma.
"Salahmu karna kau ingin memberikan ibu untuk anakmu dari hasil merampas ibu dari anak lain. Dan aku tak akan membiarkan hal itu terjadi." Arjuna menatap bengis pria yang 5 tahun berada di atasnya, ia tak gentar sedikitpun jika harus berhadapan denga orang yang salah. Pasalnya ia memang merasa jika dirinya berada di posisi yang benar. Mempertahankan miliknya.
Yudha pula mengabaikan tatapan Arjuna ia lebih tertantang jika keponakan palsunya tetap ngotot tak ingin melepaskan Elis. Bukankah wanita itu sudah tidak mencintai Arjuna lagi? Ini adalah kesempatan yang sesungguhnya.
Dokter keluar dang mengatakan jika Elis sudah mendapatkan perawatan. Elis kekurangan nutrisi sehingga ia memerlukan selang infus.
"Cihh, suami macam apa kau sampai istrimu sakit? Kau tak mengurusnya dengan baik?" Sinis Yudha. Sedangkan Arjuna masih fokus berbincang dengan dokter.
"Ini juga karna dirimu Yudha. Istriku kelelahan karna harus mengunjungi anak manjamu." Arjuna berlalu ke ruangan Elis.
Dapat Arjuna lihat Elis sudah membuka matanya, menatap sekeliling langit langit rumah sakit.
"Kau yang membawaku ke sini?"
Arjuna tak langsung menjawab. Ia menempelkan punggung tangannya di kening dan pipi Elis. Masih panas ternyata.
"Ya, aku membawamu kesini. Aku tak tenang saat merasakan tubuhmu panas." Arjuna merapikan anak rambut yang membingkai kening hingga sebagian wajah Elis.
Pintu ruangan terbuka menampilkan sosok Yudha bersama putranya. Yudha amatlah licik sepertinya ia memanfaatkan rasa peduli Elis terhadap putranya.
"Rain." Elis tersenyum melihat wajah bocah laki laki yang mendatangi. Seulas senyum hangat ia sunggingkan di hadapan wajah bocah lugu itu.
Arjuna hanya mampu berdecak kesal akan kehadiran tamu yang tak di undang. Yang hadir bersama seorang anak kecil sebagai alibi si tersangka yang membuat Arjuna cemburu.
"Tante Elis sakit apa?" mata Rain sudah berkaca kaca dengan tangan yang menggenggam erat tangan Elis. "Tante jangan sakit. Rain sedih jika tante sakit." Rain menangis sesegukan melihat Elis yang tengah terbaring sakit.
Sekali lagi Arjuna mendengkus entah sejak kapan ia tak menyukai anak kecil, padahal selama ini Arjuna merupakan sosok yang menyayangi anak kecil. Tapi hanya pada Rain saja dirinya merasa kesal.
Elis menyadari jika Arjuna tak menyukai kehadiran Yudha di sana, sehingga Elis memutuskan untuk mendiamkan Yudha. Ia tak mau kembali memantik kecemberuan Arjuna. Sungguh Elis merasa kapok merasakan bagai mana kemarahan Arjuna terhadapnya semalam. Tapi ngomong ngomong ini di rumah sakitkan? Pasti ada dokter atau psikiaterkan? Dirinya perlu di sembuhkan. Ya Elis merasa jika ia tengah memiliki kelainan.
"El kau menginginkan sesuatu? Aku bisa membelikan atau mencarikannya." Yudha sudah berdiri tepat di sisi Elis, membuat Arjuna menyipitkan matanya.
"Tidak. Terimakasih atas tawarannya, aku tidak memerlukan apapun! Di sini ada suamiku aku bisa mengatakan apa yang ku inginkan padanya." Elis mencari aman saja. Lagi pula ada atau tidaknya Yudha tidak berpengaruh untuknya sama sekali. Sedangkan Arjuna. Ah pria itu selalu membuat Elis merasa di lema.
Sunggingan senyum penuh kepuasan ia sempatkan di bibirnya. Puas sangat dirinya, saat Elis berkata demikian.
__ADS_1
Yudha meringis dalam hati. Bukankah penyelidikannya selama ini membuktikan jika Elis sudah tidak mencintai Arjuna lagi. Bahkan tempo hari Arjuna pergi berlibur tanpa Elis, namun apa yang ia dengar berusan Elis mengatakan jika Arjuna masih suaminya.
"Arjuna suamimu?" tanya Yudha tanpa sadar.
"Ya Elis masih istriku, memang sejak kapan kita tak memiliki hubungan? Hubungan kami baik baik saja, jadi jangan coba coba menjadi duri di pernikahanku." Sarkas Arjuna.
"Dan kau." Arjuna menghampiri Rain, serta berjongkok di hadapan anak itu. "Berhenti menginginkan perhatian dari tante Elis, dia juga memiliki tiga anak yang membutuhkan perhatian. Dia sampai sakit karna kesulitan membagi waktu. Jika kau menginginkan seorang ibu, carilah ibu lain jangan ibu dari anak anakku!" Tekan Arjuna tegas. Ia tak perduli sekalipun Rain mulai menitikan air matanya.
"Arjuna!" Yudha sudah mengepalkan jemari tangannya. Ia tak menduga jika Arjuna akan berkata demikian terhadap anak sekecil Rain.
"Papa." Lirih Rain.
Arjuna tak perduli sekalipun Elis marah padanya.
"Tega sekali kau berkata begitu kepada putraku!" Yudha yang tak tega melihat raut kesedihan di wajah putranya menegur Arjuna yang kini sudah berdiri dari posisi sebelumnya.
"Hay. Aku sudah memperingatkanmu supaya kau mengingatkan putramu! Tapi kau sangat bebal Yudha. Aku bukan lah seorang pria penyabar." Arjuna melipat tangan di dada.
"Arjuna, Rain masih kecil dia belum mengerti." Elis berujar pelan. Ia tau Arjuna tengah emosi, sehingga ia tak berani berucap kasar atau justru malah akan merendahkan harga diri Arjuna.
"Justru karna dia masih kecil aku memperingatkannya supaya dia tidak di manfaatkan oleh orang dewasa yang licik." Arjuna bermaksud menyindir Yudha. Sedangkan yang di sindir mengatupkan mulutnya rapat.
"Maafkan Rain karna membuat tante Elis sakit." Anak itu berucap tulus. "Maaf juga Om, Rain tidak bermaksud untuk membuat tante Elis sakit. Rain sayang tante Elis." Bocah itu berkata sebelum berlalu pergi, di susul oleh langkah Yudha, namun sebelum berlalu Yudha membisikan sesuatu tepat di telinga Arjuna. Sebuah bisikan yang membuat Arjuna mulai mengibarkan bendera perang antara ia dan pria yang sudah ia anggap sebagai Omnya sendiri.
"Apa kau sudah mulai membaik?" Arjuna mendekat serta menarik kursi ia duduk di sebelah berankar pasien istrinya.
"Kau tak kerja?" Elis menjawab pertanyaan Arjuna dengan pertanyaan lainnya.
"Aku bossnya. Bolos sehari atau setahun tak akan membuatku miskin." ujar Arjuna santai.
"Cih sombong. Ingat kata orang bijak jika kau mau sombong pergi ke dapurmu dan lihat tabung gas mu, baca tulisan putih yang berada di tabungmu." Sindir Elis.
"Jika di tabung gas di rumahku aku tak menemukan apapun El. Kecuali jika tabung gas di rumah kontrakanmu. Makanya kau yang tidak boleh sombong kepadaku." Arjuna menyahut telak. Apa masalahnya, dia memang kaya kan? Wajar jika sombong.
"Dimana ponselmu?"
Arjuna mengambil dan menyerahkan ponsel misiknya yang semula ia kantongi.
Elis menggeleng pelan "Maksudku, ponselku yang di berikan olehmu." Ralat Elis.
"Oh. Sepertinya tertinggal di rumah." Sahut Arjuna tak acuh.
"Aku perlu menghubungi Ita, untuk mengatakan jika aku ijin sakit. Agar aku tidak akan di tegur atasanku."
__ADS_1
"Tak ada yang akan menegur istri dari pemilik perusahaan."
"Merekakan tidak tau jika aku istrimu."
"Perlu ku umumkan?"
"Tidak." Saut Elis.
"Lalu inginmu bagaimana?"
"Pinjam ponselmu. Aku akan mengirimkan pesan. Tidak tidak aku akan menghubungi temanku supaya mengatakan jika aku sakit." Elis meminjam ponsel Arjuna dan menghubungi Ita melalui sambungan telepon. Entah lupa atau bagai mana. Elis tak berpikir jika apa yang ia lakukan akan menghebohkan temannya.
"Hallo."
Sapa Elis. Saat sambungan teleponnya terhubung.
"El kaukah itu?"
Terdengar sahutan dari sebrang.
"Ya ini aku. Aku ijin tak masuk aku tengah sakit Ita. Tolong katakan pada bu Sisca."
Hening.
Elis tidak tau jika Ita tengah memastikan sesuatu.
"Ita Hallo. Kau masih di sana?"
"Ita."
"El. Nomor siapa yang kau gunakan?" pancing ita.
"Nomor Papa dari anak anakku." Saut Elis jujur.
"Arjuna Barata."
"Tentu saja, memangnya siap-" Elis tak melanjutkan ucapannya saat ia menyadari sesuat. Dan langsung membungkam mulutnya ia juga langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Ya Tuhan bagai mana ini?" Elis terlihat panik, sedangkan Arjuna hanya mengulum senyumnya.
"Bagaimana apanya? Kau sudah mengaku jika aku Papa anak anakmu."
"Arjunaaa bantu aku."
__ADS_1