
"Kita, kita mau kemana?" Elis menghentikan langkahnya meskipun Yudhistira masih menngenggam pergelangan tangannya.
"Kau bukan orang jahatkan?" tanya Elis penuh selidik. Ya Tuhan, sepolos itu Elis, sekalipun Yudhistira adalah orang jahat pria itu tak mungkin mengakui dirinya sendiri seorang pelaku kriminalkan?
Elis meneliti tubuh Yudhistira dari belakang. Takutnya pria itu membawa senjata atau apapun.
"Aku memang bukan orang baik. Tapi aku bersumpah tak akan melukaimu! Aku cukup tau diri dengan tidak membahayakan seseorang yang sudah membebaskanku dari maut." Yudhistira kembali menarik pelan tangan Elis menuju mobil miliknya.
"Gunakan masker ini." Yudhistira memasangkan masker yang ada di mobilnya sebelum melanjutkan perjalanan menuju hotel lainnya.
Yudhistira tak bisa pergi dari kota itu sebelum memastikan wanita yang bernama Riska itu mati, kemudian Yudhistira akan menyusun rencana lainnya.
"Aku tak tau apa yang kau perbuat, sehingga orang orang itu mencarimu tapi aku akan melindungimu dari mereka." Entah mengapa nalurinya sebagai pelindung muncul begitu saja.
"Aku tak bisa sekamar denganmu. Aku sudah menikah, kita harus beda lantai saat memesan kamar." Elis tetap memberikan batasan kepada pria yang tengah bersamanya.
"Tentu saja. Tapi jangan gunakan nama aslimu saat memesan kamar. Jika kau dalam pencarian seseorang." Yudhistira membiarkan Elis memesan kamar mana yang ia inginkan, untuk pertama kalinya Yudhistira tidak berniat jahat, tidak pula memikirkan keuntungan saat menolong wanita itu. Entahlah apa yang terjadi. Yudhistira seakan merasa terpaut dengan wanita itu.
"Aku berada satu lantai di bawahmu jika kau membutuhkan sesuatu. Nomor kamar 39." Yudhistira membiarkan Elis pergi menuju kamarnya sendiri.
Sedangkan Yudhistira terus memantau tentang wanita bernama Riska itu. "Kemana Arjuna? Harusnya obat itu sudah bekerja, tapi pria itu tidak membawa istrinya kerumah sakit?" Sebagai akhli racun sekaligus ahli obat Yudhistira memiliki akses dan kuasa khusus untuk memantau beberapa rumah sakit di beberapa daerah. Namun hingga 4 jam berlalu, tidak ada laporan rumah sakit yang ke datangan pasien dengan gejala alergi maupun keracunan.
"Tidak mungkin racunku tidak bereaksi." Yudhistira keheranan, tidak tau saja pria itu jika Riska tengah sekarat meregang nyawa di apartemen miliknya seorang diri.
.
Asisten Jo kini menghubungi Arjuna. Ia mengabarkan jika sebelumnya Nyonyanya, sempat singgah di suatu hotel. Arjuna baru ingat akan chips yang ia tanamkan di tengkuk Elis, semoga saja alat itu bekerja dengan baik sehingga ia bisa segera mengetahui keberadaan Elis dan segera membawanya pulang.
Arjuna segera mencari keberadaan asistennya sesaat setelah dirinya tiba di hotek yang alamatnya Jo kirimkan tadi ke ponselnya.
"Tuan kami sudah memeriksa, dan sepertinya Nyonya sudah berhasil lolos. Yang saya takutkan Nyonya bertemu dengan Yudhistira. Tadi saya sempat bertemu dengannya di lobi hotel sekilas. Saya segera menyembunyikan diri takutnya pria itu menyadari kehadiran kami."
"Kau yakin jika itu Yudhistira?" tanya Arjuna dengan raut cemas.
__ADS_1
"Saya sangat yakin." Terang asistenJo dengan mantap.
"Ya Tuham. Lindungilah istriku di manapun ia berada. Luluhkan hati setiap orang yang membenciku, juga semua musuhku bukan hanya Yudhistira saja, beri mereka rasa belas kasihan agar tidak melukai istriku." Arjuna berujar dalam hati. Bahkan di tengah malampun ia belum mengantuk sama sekali.
"Jo, apa ada kemungkinan Yudhistira membawa istriku?"
"Sepertinya tak mungkin Tuan. Pria itu tidak mengetahui jika Nyonya Elis adalah istri Tuan. Dan yang kedua jika Nyonya tertangkap pasti alat pelacak di tubuh nyonya menunjukan ke sebuah tempat mencurigakan. Sedangkan sekarang posisi Nyonya berada di hotel lain." Asisten Jo menunjukan ponsel canggil miliknya yang menditeksi keberadaan nyonyanya.
"Tunggu apa lagi? Kita jemput Nyonyamu sekarang." Arjuna mulai melakukan perjalanan menuju ke tempat yang di tunjukan di ponsel asistennya.
Elis sama sekali belum memejamkan matanya, ia masih memandangi langit malam dengan bulan yang bersinar di balik jendela kamar hotelnya, yang di bayarkan Yudhistira.
"Mama merindukan kalian. Hiks ..." Elis menangis pelan. Sakit sekali rasanya saat ia merindukan ketiga putrinya. Ini adalah kali pertama ia merindukan putrinya dengan amat sangat.
"Kau egois Juna. Kau ingin mengambil mereka dariku." Elis berujar parau, kekecewaannya semakin besar terasa kepada ayah dari ketiga anaknya.
Ikatan seorang ibu bersama anak anaknya memang sangatlah kuat. Di sebrang sana pun ketiga putrinya tengah merindukannya juga, ketiga gadis itu bahkan menangisi dan mendoakan ibunya agar cepat menjemput mereka dari istana ayahnya.
Lama Elis merenung hingga perutnya terasa lapar. Ia pun turun untuk mencari makanan atau sekedar menghirup udara yang ia rasa di kamarnya sangat sesak karna terlalu merindukan ketiga buah hatinya. Pertanyaan tentang kemana Arjuna membawa ketiga anaknya kini terngiang ngiang di kepalanya. Jangan sampai Arjuna membawa ketiga putrinya ke tempat mertuanya. Tapi Elis kemudian mengingat kembali jika Arjuma sangat menyayangi ketiga putri mereka, Arjuna tak mungkin menitipkan ketiga putrinya di kandang macankan?
Elis turun menggunakan lift yang tersedia di hotrl itu, wajahnya sengaja ia tutupi dengan masker.
Saat pintu lift terbuka Elis terkesiap saat melihat sosok Arjuna tengah berbincang dengan beberapa anak buahnya. Meski Elis tak melihat wajahnya secara langsung dan hanya mendengar suara serta tubuh Arjuna bagian belakang, namun Elis sangat yakin jika pria itu adalah suaminya. Terlebih saat namanya di sebutkan oleh pria itu.
"Kau yakin istriku Elis ada di sini?"
"Alat di tubuh nyonya menunjukan demikian." Ujar asisten Jo.
Elis balik badan, dengan segera Elis menekan pintu Lift supaya cepat tertutup. Ia memencet tombol lantai yang di katakan Yudhistira.
"Kamar 39."
Dengan panik Elis mencari kamar yang Yudhistira ucapkan tadi.
__ADS_1
Brakk ..
Brakk ...
Elis segera menggebrak pintu kamar dengan nomor yang sama dengan apa yang Pria itu ucapkan padanya.
"Ada apa El?" Yudhistira keluar dengan kening mengernyit, hampir saja Yudhistira memaki orang yang menggedor kamarnya.
Elis tak mengatakan apapun lagi. Ia segera masuk dan menutup pintu.
"Tolong aku!" ucap Elis, manik bulatnya menatap Yudhistira.
"Orang orang yang mencariku tadi kini ada di lobi hotel. Mereka datang lagi."
"Mana mungkin El. Kau salah lihat kali." Yudhistira menyangkal tak mungkin orang orang itu mengetahui keberadaan Elis secepat itu.
"Aku tidak salah lihat mereka mengatakan alat yang terpasang di tubuhku menunjukan jika aku berada disini." ucap Elis tanpa keraguan.
"Alat?"
Yudhistira yang sudah sejak lama bergelut di dunia hitam sangat tau alat yang di maksud.
"Biar ku periksa." semula Yudhistira memeriksa di kedua tangan Elis, mencari benjolan kecil sebesar biji beras di bawah kulit. Namun Yudhistira tak menemukannya.
"Maaf bukan tidak sopan." Yudhistira mengitari tubuh Elis, karna selain di antara tangan alat seperti itu kerap kali di tanamkan di tengkuk, atau di sekitaran leher.
"Bisa kau longgarkan hoodiemu? Aku berjanji tak akan berbuat macam macam selain mencari alat yang orang orang itu maksud. Jika kita tak melepasnya. Maka kemanapun kau pergi mereka akan menemukanmu." ucap Yudhistira apa adanya.
Elis tak mempunyai pilihan, ia juga ingin menepi sebentar dari Arjuna selama beberapa hari mungkin, mau tak mau wanita itu mengangguk dan menurunkan dua kancing hoodi miliknya.
Yudhistira mencari alat kecil di tengkuk dan sekitaran leher Elis. Namun mata setajam belatinya melotot secara sempurna saat mendapati sebuah tanda di bahu kiri Elis.
Yudhistira langsung kaku dengan dada yang terasa terhimpit. Ia tak mungkin salah Tanda itu-
__ADS_1