Ketika Cinta Istriku Habis

Ketika Cinta Istriku Habis
Terbongkarnya Aida sebagai anak Srikandi


__ADS_3

"Papa kapan kita pulang?" Jasmine memecah keheningan, di tengah mereka menikmati makan malamnya.


Makanan mewah yang terhidang di meja makan tak lantas mampu mengalihkan perhatian ketiga putri Arjuna, ketiganya bertanya kapan mereka pulang sedari tadi.


"Aku merindukan Mama." Si bungsu Valery kini mulai menangis kembali, baru beberapa saat, belum satu hari ia jauh dari Mamanya gadis kecil itu sudah empat kali menangis karna ingin bertemu dengan Mamanya.


"Adek jangan nangis lagi ya. Adek makan dulu, nanti kita ketemu Mama." Rose membujuk adiknya, sedikit banyak Rose mulai memahami keadaan, sebagai anak pertama ia perlu membimbing kedua adiknya.


"Tidak mau. Aku mau pulang ketemu Mama. Huhu huhu ..." Valery semakin mengencangkan suara tangisannya, membuat Arjuna kebingungan mengatasi tingkah putrinya yang rewel. Arjuna memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut denyut.


Niat hati menahan anak anak agar Elis mengurungkan niatnya justru membuat Arjuna kelimpungan sendiri. Harusnya Arjuna membiarkan anak anaknya tetap bersama dengan Elis agar ia mempunyai alasan untuk menemui Elis. Namun apa mau di kata semua telah terjadi begitu saja, Arjuna ceroboh tidak memikirkan sebab dan akibatnya.


"Jangan nangis ya, sayang. Di sini banyak mainan, banyak jajanan. Kalian punya kamar masing masing, juga istana barbbie, ada kolam renang juga taman di rumah ini." Arjuna membujuk putrinya.


"Tidak mau. Aku mau pulang, aku mau mamaa ... Mama ... Huwaaa ..." Valery semakin menangis bahkan ia turun dari kursi dan menangis di atas lantai, kedua matanya juga sudah sembab.


Rose dan Jasmine pun turut turun dan menangis bersama di atas lantai.


"Papa kenapa bawa kami kesini? Kami tidak menyukai tempat manapun jika tak ada Mama." Mine terisak pelan, tangan mungilnya memeluk adiknya.


"Mama ada urusan. Nanti Mama nyusul ke sini Ko." Bujuk Arjuna.


"Jangan membohongi kami!" Rose meninggikan suaranya. "Aku sudah mencoba menghubungi Mama, tapi ponselnya tak bisa di hubungi." Rose mendekap kedua adiknya.


"Papa jangan coba coba memisahkan kami dan Mama!"


Arjuna kehilangan kata kata saat di hadapkan dengan kecerdasan putri sulungnya.


"Tidak seperti itu Sayang. Kalian tidur dulu ya, biar papa antar. Nanti setelah kalian tidur Papa akan jemput Mama Oke." bujuk Arjuna kepada ke tiga putrinya. Mereka kompak mogok makan.


Arjuna menghubungi asistenJo untuk menjemput Mamanya. Ia akan meminta Mamanya memohon kepada Elis demi keutuhan keluarga kecilnya.


.


Elis tak ingin tetap tinggal di sana jika tidak dengan ketiga putrinya, ia juga perlu menenangkan diri beberapa waktu sebelum di hadapkan dengan kenyataan yang mengharuskannya berpisah dengan Arjuna.


Namun Elis tau beberapa orang suruhan Arjuna pasti akan mengintainya juga menhikuti kemana dirinya pergi. Inilah yang juga menjadi kekecewaan terbesar Elis terhadap Arjuna. Pria itu menyuruh orang untuk mengawasinya, tapi mengapa Arjuna tidak melakukan hal yang sama saat hendak menyelamatkan Aida, tapi pria itu justru mempertaruhkan nyawanya demi wanita yang paling Elis benci, wanita yang selalu Elis anggap sebagai duri di pernikahannya. Tapi sekarang tidak lagi, Elis sudah menyerah ia akan memutuskan berpisah dengan Arjuna. Dan semoga ini adalah keputusan terbaik.

__ADS_1


"Berpikir Elis bagai mana caramu pergi dari sini?" Elis menggigit ujung kuku kukunya sembari berpikir untuk pergi dari rumah itu. "Tapi orang orang Arjuna hanya di tempatkan di gang depankan? Mereka tidak tau menahukan tentang jalan tikus pinggir kali. Ya aku harus keluar dengan pintu belakang." Elis mau tak mau harus pergi saat itu juga, sebelum hal lain yang akan menguras kewarasannya kembali terjadi. Bisa saja Aida dan mertuanya mendatanginya untuk kembali mendrama dan di bawa oleh Arjuna untuk menemuinya.


Elis juga tak dapat membawa motor kesayangan miliknya, karna ia harus kembali melarikan diri.


"Rose, Mine, Vale. Maaf mama harus pergi beberapa waktu. Tapi Mama akan kembali menemui kalian." Elis mencopot potret ketiga putrinya dari dalam pigura yang terletak di atas dinding.


Elis mengganti tempat pakaiannya yang semula menggunakan koper kini menggunakan tas ransel, tujuannya supaya lebih mudah ia membawanya.


Elis juga menyiapkan uang tunai yang ia miliki. juga membawa beberapa barang berharga miliknya, juga potret ketiga putrinya.


Elis mencari buku putrinya, namun tak menemukan pensil ataupun pena untuk meninggalkan pesan kepada Arjuna.


Elis mengambil lipstik yang ia miliki kemudian mulai mencoretkannya ke atas kertas.


'Aku pergi. Aku perlu menenangkan diri sejenak. Aku akan kembali setelah merasa lebih baik, katakan kepada ketiga putriku aku sangat menyayangi mereka.'


Elis pergi meninggalkan rumah sewa yang ia dan ketiga putrinya tempati selama hampir tiga tahun.


.


"Pokoknya Mama harus menjelaskan semuanya kepada Elis. Aku tidak mau Elis benar benar menceraikanku." Arjuna meminta Mamanya bersumpah bahkan memohon di hadapan wanita yang masih berstatus sebagai istrinya.


"Pokoknya Mama tidak mau." ucap Mama Sri, enak saja ini yang ia harapkan selama lebih dari sepuluh tahun lalu.


"Ma. Rumah tanggaku terguncang gara gara mama!" Arjuna membentak ibunya.


"Perjanjian kita hanya agar mama tidak mengatakan apapun kepada Elis tentang rahasia kau menyelamatkan Aida dan Mama menurut." Mama Sri malipat tangan dengan angkuh di atas perutnya, Srikandi tidak akan memohon apa lagi demi menantunya yang tak tau diri.


"Mama memang tak mengatakannya kepada Elis. Tapi putri kandung sialan Mama itu yang sudah mengatakannya!"


"Pu-putri kandung? Apa maksumu Arjuna? Aku hanya menantu Mamamu bukan putri kandungnya." Aida mendengar percakalan antara anak angkat dan ibunya.


Arjuna yang geram akan membongkar semuanya di hadapan Aida, bahkan jika bisa ia akan melebih lebihkan kebenarannya supaya ibunya itu terlibat masalah denga putrinya sendiri.


"Kau putri kandung dari Srikandi Barata. Kau keturunan Barata dan putri dari dia dan suaminya. Putri yang sengaja di buang karna kelahiranmu yang tak di inginkan sebagai seorang anak perempuan. Ibumu ini sangat menggilai harta dan warisan, itu sebabnya kau di buang dan memalsukan kematianmu. Apa aku benar ibu Srikandi yang terhormat?" Arjuna berujar dinis, ia kesampingkan dulu masalahnya dan Elis.


Srikandi bungkam, ia tak dapat menjawab apa lagi menyangkal tuduhan yang Arjuna katakan terhadapnya.

__ADS_1


"Sebenarnya kau dan Yudhistira adalah saudara seayah." sambung Arjuna kembali.


"Apa?!"


Aida bahkan mundur beberapa langkah, kakinya nyaris melemas mendengar kalimat demi kalimat yang di ucapkan Arjuna.


"Aku anak yang sengaja di buang? Benar begitu?" tanya Aida dengan suara parau.


Srikandi hanya bungkam dengan lidah yang ia gigit kuat, ia belum siap jika Aida membencinya karna perbuatannya di masa lalu.


"Apa yang Arjuna katakan benar adanya. Itu sebabnya, ibumu ini menuntut bakti terhadap putra angkatnya untuk menyelamatkanmu dari kuasa Yudhistira."Yudha turut hadir disana.


"Alasannya juga karna mendukungmu melakukan tindakan tercela sebagai seorang dokter. Apa kau tak curiga saat kakakku ini selalu mendukung rencana gilamu. Karna dia ibumu. Ibu kandungmu. Sayangnya di masa lalu kau sempat di buang hanya karna demi harta dan tahta."


"Yudhaa!"


"Kenapa? Aku benarkan kakak memang serakah."


"Arjuna hanya putra angkatnya saja." Yudha senang menciptakan kegaduhan kakaknya yang gila harta itu.


"Benar begitu? Mama membuangku di masa lalu hanya demi harta?" Aida kini menanyai Mama Sri.


"Ya." ucap Mama Sri parau ia tak bisa mengelak lagi.


"Sekarang aku tau dari mana kegilaanku berasal, semua itu darimu! Pantas saja aku merasa lain dengan perhatianmu kepadaku. Rupanya kau wanita kejam yang berlindung di jubah malaikat. Aku membencimu!" Aida mendorong Mama Sri hingga tejatuh.


"Aidaa ..."


"Jangan sebut namaku, oleh mulut sampahmu." Aida bahkan menendang tubuh mama Sri yang hendak memeluknya.


"Maafkan Mama!"


"Maaf hanya berlaku untuk kesalahan kecil. Sedangkan dirimu, kau terlalu banyak melakukan kesalahan terhadapku. Pantas saja setiap orang selalu membenci dan mengasingkanku rupanya ibu kandungku sendiri tega membuangku."


Yudha merasakan ini adalah hiburan. Terbongkarnya status asli Aida nembuat dirinya semakin bersemangat untuk mengadu domba ibu dan anak itu. Bukan Yudha sangat gila harta, ia hanya ingin memberikan pelajaran kepada kakaknya yang serakah.


"Seandainya saja aku tau sejak awal jika aku dan Yudhistira saudara seayah. Aku akan mengatakannya kepada Yudhistira, aku yakin jika Yudhistira mengetahui kebenarannya, aku tak akan kehilangan tangan juga harga diriku. Ini semua karna dirimu!" Aida mengacungkan satu telunjuknya di hadapan ibu kandungnya.

__ADS_1


"Aku membencimu!"


__ADS_2