Ketika Cinta Istriku Habis

Ketika Cinta Istriku Habis
Pergilah! temui ibumu


__ADS_3

"Diam dan menurut jika kau ingin selamat." Yudha tak percaya ini, gadis kecil berumur hampir sebelas tahun itu benar benar penuh kejutan.


"Ya Tuhan."


Yudha kehilangan kalimatnya, ia memamu menatap putra lelakinya yang di sandra oleh Rose, obeng di genggapan gadis itu menyentuh permukaan kulit Rain, jika saja Rose menancapkan obeng itu di tangan Rain maka bocah lelaki itu akan tamat saat itu juga.


"Rose apa yang kau lakukan? Jauhkan benda itu dari Rain!" Yudha terlihat panik, ia takut jika putra semata wayangnya terluka.


Meski seorang anak lelaki, Rain tampak pasrah saat kedua tangannya di cekal kebelakang oleh Rose, air mata bocah itu bahkan sudah bercucuran. Sepertinya Rain benar benar ketakutan.


"Om Yudha tau apa yang kulakukan berbahaya, tapi lihatlah apa yang Om Yudha lakukan, Om Yuda membahayakan Om kami. Kau curang karna mengelabui Omku, Om Yudha pikir aku akan diam saja saat keluargaku terancam?" Sudah Yudhistira katakan jika Rose adalah seorang wanita dewasa yang terjebak di tubuh seorang gadis kecil.


Yudhistira mengulum senyuman, ia sangat kagum akan gertakan Rose yang tak main main. Jarang sekali bakat ini di warisi oleh seorang wanita, yang di mana dalam keadaan genting Rose dapat memutuskan sesuatu dengan sangat cepat dan tepat.


"Jangan terlalu banyak berpikir! Lepaskan Omku jika putramu ingin selamat." Tak sedikitpun ada raut ragu di manik Rose.


"Om Yudha tak melihat kedua adikku ketakukan?"


Yudha mengedarkan pandangan, ternyata benar kedua anak Arjuna saling berpelukan bahkan si kecil Valery sudah menutup mata dan merapal do'a. "Tuhan selamatkan Om kami, Tuhan lindungi Om kami." Valery berujar polos, membuat Yudhistira terharu akan tindakan para keponakannya, ia merasa banyak orang yang menyayanginya setelah berpuluhan tahun ia hidup seorang diri.


"Papa cepat lepaskan orang itu, tangan dan leherku sakit, kak Rose terlalu kuat menekanku." Rain menangis.


Yudhistira terlihat tenang, ia terus memperhatikan pergerakan Rose.


Mau tak mau Yudha melepaskan Yudhistira dan mengamankan senjatanya.


"Kalian Pergilah dari rumah kami! Kami tak ingin menerima tamu yang sempat membahayakan penghuninya." Rose menurunkan obeng dari tangan Rain dan melepas tangan bocah itu. Dengan segera Rain berlari ke arah Yudha dan memeluk ayahnya.


"Sampaikan pada papa kalian jika Om Yudha kemari. Om Yudha menunggu di rumah." Yudha meninggalkan pesan.


"Tentu aku akan menyampaikan pesan itu kepada papa, juga sekalian akan memperingati Papa agar tidak membawa tangan kosong saat berkunjung kerumah Om Yudha." Rose tersenyum sinis, kewaspadaan gadis itu sangatlah tinggi.


Rain hanya menatap nanar wajah Rose yang beberapa menit lalu terlihat mengerikan, terselip rasa kagum bocah lelaki itu pada diri Rose.


Yudha pergi dari rumah itu membawa Rain bersamanya, sebelum pergi Yudha berujar lantang kepada Yudhistira. "Urusan kita belum selesai."


Yudhistira hanya tersenyum mengejek, sebenarnya ia bukan tak berani melumpuhkan Yudha dalam sekali pukulan, meskipun Yudha memiliki senjata tapi Yudhistira sanggup mengalahkan pria itu, Yudha hanya pandai berbisnis, sedangkan bermain senjata dan bela diri bukan keakhlian pria itu, berbeda dengan Arjuna yang sudah terlatih sejak kecil karna Srikandi menginginkan putranya unggul dalam hal apapun.

__ADS_1


Yudhistira hanya takut jika dia melawan Yudha yang terjadi adalah Yudha melesatkan tembakan dan itu bisa saja mengotori mental dan melukai kedua keponakannya, karna Yudhistira yaskin jika Rose tak akan terpengaruh, gadis itu di luar dugaan.


Jasmine dan Valery mendekat kearah Omnya, keduanya memeluk Yudhistira dengan erat. Keduanya bertanya perasaan serta keadaan Yudhistira.


"Apa Om baik baik saja?"


"Pelipis Om tidak sakitkan?" Valery mengusap pelipis Yudhistira dan meniupnya dengan lembut kemudian mengecupnya.


Pelipis Yudhistira memang memerah karna Yudha menekan pidtol miliknya dengan sangat kuat.


"Om Kudhis akan sembuh Vale sudah mengobatinya dengan kecupan. Kata Papa setelah di kecup sakitnya akan sembuh." Oh Tuhan manis sekali perlakuan keponakannya yang satu ini. Arjuna memang berhasil menjadi ayah yang baik untuk ketiga putrinya.


"Om baik baik saja."


Yudhistira mencari keberadaan Rose yang entah kemana perginya putri sulung Arjuna itu. Setelah beberapa saat berlalu Rose kembali dengan segelas air putih di tangannya.


"Mine, Vale minumlah lebih dulu." Rose memberikan jedua adiknya minum.


"Rose tidak menawari Om?"


"Terimakasih, karna sudah menyelamatkan Om Ya." Yudhistira mengucapkan itu dengan tulus.


"Hem." Hanya gunaman kecil yang Rose ucapkan sebagai jawaban.


"Rose tau dari mana teknik seperti itu, tak mungkin hal tadi adalah kebetulan." Yudhistira memincingkan mata penuh selidik.


"Om tak perlu tau, aku memiliki kewajiban untuk melindungi keluargaku. Untuk itu aku akan melakukan apapun." Rose pergi meninggalkan Yudhistira dengan membawa gelas kosong di genggamannya.


"Om jangan tersinggung oleh sikaf kak Rose dia memang seperti itu pada orang baru. Tapi aslinya kak Rose sangat baik." Jasmine berujar.


"Om, kan kata Papa Om Kudhis beracun. Kenapa tak Om gigit saja Om Yudha biar mati, atau Om sembur saja Om Yuha dengan bisa Om." Valery memang sepolos itu. Ia menelan bulat bulat apa yang di katakan papanya mengenai Yudhistira.


"Ya Tuhan, apa gadis kecil ini pikir aku seekor ular kobra atau ular derik yang menyemburkan bisa?" Yudhistira meringis dalam hati, ia tak sesabar Arjuna saat menjelaskan sesuatu kepada anak kecil.


"Tidak boleh mengigit orang Vale sayang, itu dilarang, nanti Om di tangkap polisi. Ih Om takut."


"Om Kudhis." panggil Jasmine, gadis kecil itu ikut ikutan Valery dalam memanggil Yudhistira.

__ADS_1


"Om pasti mandi gak pake sabun ya?"


"Kata siapa? Om pake sabun ko, makanya Om tampan."


"Hihi, Mine pikir Om tak pake sabun saat mandi takut gambar di lengan Om luntur. Hihi." Jasmine cekikikan sendiri.


Ya Tuhan mengapa putri putri Arjuna menggemaskan sekali?


.


Srikandi terus menangis karna kehilangan kabar tentang Aida putrinya, baik Yudha maupun Arjuna tak satupun dari mereka membantu pencarian Aida. Sekali lagi Srikandi mendatangi rumah Arjuna, namun putranya tetap tak ingin menemuinya meskipun ia sudah berteriak teriak di depan gerbang rumah putranya.


Arjuna dan Elis baru saja pulang dari rumah sakit, Elis memang tengah mengandung 8 minggu dan kandungannya sehat, hanya saja Elis yang menderita mual muntah.


"Arjuna tolong Mama Nak.!"


Srikandi terus berteriak dari luar gerbang rumah Arjuna yang terkunci.


Arjuna sendiri hanya mampu melihat mamanya dari balik tirai jendela, meski ingin menemui dan memeluk mamanya, namun Arjuna tak ingin menyakiti Elis kembali, bukan Arjuna ingin menjadi anak yang tak tau berterimakasih hanya saja Arjuna sudah sepakat dengan Mamanya juga jika hubungan mereka telah berakhir.


"Kau lihat Arjuna Lisa? Dia begitu mencintaimu, bagus juga didikan Srikandi terhadap suamimu. Tapi sayangnya aku tak bisa melepaskan Srikandi, setelah hak hak kita aku dapatkan, aku akan melenyapkan wanita tua itu." Yudhistira berujar penuh dendam.


"Untuk apa kakak terus mengumpulkan harta? Sudahi dendam kakak, mulailah hidup dengan baik dan tenang." Elis berujar lembut juga menatap lekat wajah kakaknya.


"Lisa, ada beberapa hal dalam hidupku yang tak termaafkan, kesalahan Srikandi kepadaku sudah sangat banyak dan tak terhitung, jika aku orang yang pedendam aku tak akan mengampuni Arjuna, tapi aku juga melihat sisi baik Arjuna juga melihat dirimu dan keponakanku, aku membebaskan dendamku terhadapnya. Tapi untuk Srikandi, sungguh aku tak bisa mengampuninya." Yudhistira pergi memasuki kamar yang ia tempati.


Elis mendekat kearah Arjuna yang masih menatap ibunya dari kejauhan.


"Kau boleh menumuinya ataupun memeluknya, aku tak keberatan, aku tau kau tengah dilema saat di hadapkan dengan dua wanita kesayanganmu. Aku juga seorang ibu Juna, aku tak bisa terus egois. Pergi dan peluklah ibumu, beri dia ketenangan."


Arjuna membalik tubuhnya menghadap Elis. "Aku akan menemuinya jika kau bersedia ikut denganku. Aku tak bisa mendatangi Mama sedangkan dirimu terluka, aku cukup banyak mengecewakanmu dan aku tak ingin mengulang kebodohanku lagi."


"Memangnya aku sangat berharga untukmu?"


"Sangat. Kau semestaku juga nyawaku."


"Pergilah! Temui ibumu, sungguh aku tidak papa."

__ADS_1


__ADS_2