
"Mulailah menghitung waktu kematianmu. Soraya!"
"Ma-maksudmu?"
Tak lama dari itu Soraya tiba-tiba terjatuh dengan tubuh yang nyaris kaku.
"Matilah kau!" Desis Yudhistira.
"A,apa yang kau laku-kan?" Soraya berujar, dengan tercekat, suaranya nyaris tak terdengar.
Soraya seperti tengah menggali lubang untuk kuburannya sendiri. Sudah tau suamimya kejam, Soraya malah menantang maut terhadap pria itu. Berani beraninya dia meracuni Yudhistira.
"Uhuk-uhuk ..."
Byurr ...
Soraya memuntahkan banyak darah dari mulutnya. Menyembur begitu saja dengan rasa tenggurokan dan perutnya yang srperti terbakar.
Tentu saja reaksi racun di tubuh Soraya bekerja lebih cepat, di bandingkan racun yang yang bekerja di tubuh Yudhistira. Karna memang menambah dosis racun yang ia campurkan ke cup cake yang ia berikan kepada Soraya.
"Kau bertanya apa yang kau lakukan? Tentu saja aku melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan kepadaku. Kau pikir aku sebaik hati itu membelikan makanan kesukaanmu tanpa maksud tertentu." Yudhistira menghampiri Soraya dan berjongkok tepat di hadapan wanita itu. "Heh. Kau mengenalku cukup lama tak cukup membuatmu mengerti bagaimana karakterku."
Soraya terus menatap tubuh suaminya yang kini duduk bersila tepat di hadapannya, yang tengah menikmati setiap sakit juga rasa sesak. Soraya kesulitan menghirup oksigen, ini ganjaran dari keserakahan yang Soraya lakukan. Rencangannya gagal total, ia salah langkah, ya Soraya salah langkah dalam mencari lawan. Kali ini Soraya tak akan lolos dari azalnya.
"Bagaimana rasanya?" Yudhistira terkekeh dengan raut mengerikan.
"Jika saja kau sedikit tau diri, aku tak akan melakukan hal mengerikan ini terhadapmu Soraya. Aku benar benar tak mengira jika yang ku tampung selama lebih dari tiga tahun merupakan seekor ular betina. Padahal sikafku selama ini terbilang baik Soraya, aku tak melukaimukan? Kubiarkan kau bersenang senang dengan apa yang ku miliki." Ada nada kecewa yang jelas di tunjukan di raut Yudhistira. Bagai mana tidak kecewa, selama ini Yudhistira nyaris meluluh dengan sikap polos dan manja Soraya, yang rupanya hanya topeng wanita itu saja.
__ADS_1
"Apa kurangku terhadapmu hingga kau berani ingin melenyapkanku sialan?!" suara Yudhistira menggema di ruangan itu.
Rungu Soraya masih berpungsi dengan baik meskipun seluruh tubuhnya seakan sulit untuk ia ucapkan. Hanya mulutnya saja yang yang bisa ia gerakan, sedangkan tenggorokannya bahkan kesulitan untuk sedikit menelan liurnya, seluruhnya tumpah ruah bersama daarah dari mulut serta hidungnya.
"Aku, Den-dam padamu! Kedua o-rang tu-a-ku ka-u leny-ap-kan." Soraya terbata.
Yudhistira mengerutkan kening, orang tua Soraya yang mana yang sudah ia lenyapkan. Yudhistira terlalu banyak melenyapkan banyak orang sehingga ia tak mengingat siapa saja yang ia lenyapkan.
"Siapa maksudmu?"
"Ke-luar-ga Mu-nir, a-ku-lah put-rinya."
Seulas senyum Yudhistira sunggingkan. "Rupanya kau putri si pengkhianat itu. Sepertinya dewi fortuna tengah berpihak terhadapku. Harusnya aku sejak awal menyelapkanmu. Rupanya banyaknya waktu tak membuat kau mengenal siapa diriku."
"Aku memang kejam, tapi aku tak pernah menghukum orang yang tidak bersalah. Orang tuamu menghilangkan banyak barang berharfa milikku. Di samping itu ibu dan ayahmu menggelapkan uangku, mereka serakah dan memberikan data palsu. Dan aku!" Yudhistira menunjuk dirinya sendiri.
"Aku tak pandai memaafkan seseorang. Satu satunya maaf yang ku berikan adalah kematian. Artinya kau telah ku maafkan karna sebentar lagi kau akan mati menyusul orang tuamu keneraka. Haha ... Haha ..." Yudhistira terbahak menertawakan Soraya yang nampak terkejut. Tapi tawa yang di ledakan Yudhistira terlihat tak mengandung humor sama sekali. Justru pria itu terlihat seperti seorang pria menyedihkan.
Darah yang keluar dari mulut dan hidung Soraya semakin banyak, jelas terlihat jika Soraya semakin menderita dengan mulut terbukanya.
"Be-berikan aku pena-war-nya." lirih Doraya dengan susah payah.
"Tidak semudah itu Soraya. Kau harus membayar perbuatanmu! Aku nyaris saja mati karna ulahmu Soraya. Dan seperti biasa aku akan memberikan hukuman berlipat yang terlibat kesalahan denganku."
"Kau harus mati."
"Jik-a be-gitu. To-long ber-i tau put-ra-ku." Sulit sekali Soranya mengeluarkan suaranya sehingga setelah mengatakan itu Soraya tak mengatakan apapun lagi.
__ADS_1
Dengan matanya sendiri Yudhistira menyaksikan istrinya meregang nyawa di hadapannya sendiri. Ya Soraya mati oleh tangannya sendiri.
Yudhidtira menyaksikan bagai mana Soraya menghembuskan nafas terakhirnya di kamarnya sendiri. Pria itu mengambil kotak obat dan mulai mengobati tangannya sendiri yang terluka oleh pisau saat menahan serangan dari Soraya. Beruntung Yudhistira membuka matanya tepat waktu jika tidak dirinya sudah pasti akan terluka lebih parah dari ini.
"Seandainya saja kau tak mencurangi aku Soraya, mungkin kau akan hidup hingga beberapa tahun kedepan. Sesuai permintaanmu, aku akan memberi tahu putramu jika dirimu sudah mati." Yudhistira menghubungi beberapa orangnya, juga perias mayat. Dia juga memesan peti mati terbaik, sebagai bentuk penghargaannya sebagai suami dari Soraya.
Yudhistira juga memerintahkan perias mayat untuk merias wajah juga tubuh Soraya layaknya pengantin wanita, ia tak ingin repot tepot memakamkan istri yang sudah ia bunuh. Oleh sebab itu, Yudhistira berencana mengirimkan jenazah Soraya ke alamat di mana rumah Yudha berada. Mencari alamat Yudha tinggal tidak sesulit mencari alamat dan data hidup Arjuna. Arjuna bahkan mendapat predikat siluman di mata Yudhistira yang begitu rapat dalam identitas dan hal pribadinya.
Soraya terlihat cantik, dengan gaun putihnya. Yudhistira juga memberikan sebuket mawar hitam yang ia pesan secara khusus. Tidak ada memar atau sedikitpun luka di tubuh Soraya, wanita itu nampak pucat karna bibirnya belum di lapisi pewarna bibir.
"Berikan warna merah darah di bibirnya." ujar Yudhistira, sedikitpun air matanya tak menetes sama sekali. Seakan kematian Soraya tidak berpengaruh apapun terhadapnya.
"Rain. Maafkan aku karna membuatmu menjadi piatu. Tapi ada atau tidaknya mamamu, dia tetap mengabaikanmukan?" Yudhistira mengingat bocah laki laki yang di temui Soraya sore tadi.
"Kirimkan peti mati ini sesuai alamat. Pastikan kerahasiaannya." Perintah Yudhistira terhadap orang orangnya.
Tepat pukul 5 pagi peti itu tiba di kediaman Yudha yang sangat besar.
Orang orang Yudhistira membawa gas berupa obat bius yang akan membuat penjaga juga para pekerjanya tidur. Camera Cctv pun di rusak oleh orang suruhan Yudhistira. Tanpa di ketahui siapapun beberapa orang suruhan Yudhistira meletakan peti mati yang berisikan Jenazah Soraya di depan pintu utama, lengkap dengan karangan bunga juga ucapan bela sungkawa, tentu saja dengan nama pengirim sangat di rahasiahkan.
matahari sudah terbit, Yudha dan Rain ju telah selesai sarapan dengan memakan roti juga segelas susu. Tak ada firasat apapun bagi kedua lelaki berbeda usia itu. Keduanya akan memulai aktifitas.
Rain keluar lebih dulu sedangkan Yudha terlebih dahulu mengenakan jas yang ia miliki, yang tadi sempat ia sampirkan di kursi meja makan.
Saat membuka pintu. Rain dapat melihat sesuatu berbentuk kotak besar dan panjang. Juga aroma bunga yang menusuk penciumannya. Bocah berusia delapan tahun lebih itu berusaha membuka peti itu, namun dirinya kesulitan sehingga ia memanggil Papanya.
"Papa. Lihat ini benda apa?" panggil Rain ia tak mengerti dan tak tau akan benda itu merupakan peti mati yang membungkus mama kandungnya.
__ADS_1
"Ada apa Re-" Yudha mendekat. Ia juga terkejut saat mendapati sesuatu yang tak lazim ia temui.
"Ya Tuhan. Bukankah itu peti mati?" suara Yudha tercekat.