Ketika Cinta Istriku Habis

Ketika Cinta Istriku Habis
Tapi tidak denganku


__ADS_3

"Arjuna ..."


Srikandi mendatangi rumah putranya dengan penampilan yang tampak kacau.


"Arjuna, tolong Mama-" kalimat Mana Sri menggantung di udara saat di rumah Arjuna tak hanya menampilkan putranya saja. Di sana bahkan ada pria berhias tato di lengannya yang tak lain adalah anak dari mendiang suaminya dengan wanita lain.


Jantung Mama Srikandi terasa di remat saat itu juga, tiba tiba saja ia merasa sangat takut, terlebih tatapan Yudhistira terhadapnya sangat menusuk.


"Ka-ka-kau,"


Tenggorokan Srikandi terasa tercekik saat seorang anak laki laki yang sedari dulu berusaha ia lenyapkan kini berdiri de depannya, dengan gerakan replek Mama Sri berlindung di balik tubuh kekar Arjuna.


"Ka-au tak akan mam-pu melukaiku selagi putraku ma-sih hi-hidup." Meski berujar demikian Srikandi tetap merasa ketakutan.


"Oh yeah?" Yudhistira berujar tenang dengan tatapan yang terus menghunus terhadap ibu tirinya.


"Ya, putraku pasti tak akan membiarkan ibunya terluka." Sebisa mungkin Srikandi mencoba menenangkan detak jantungnya yang mulai tak terkendali.


"Kau Yakin?"


"Tentu saja."


"Bahkan sekalipun malaikat pencabut maut tak akan mampu menghalangiku. Kau akan tetap mati di tanganku. Akan ku balaskan kematian ibuku, penderitaanku, juga penculikan adikku."


Yudhisrira menaikan satu alisnya. Menatap wajah adiknya yang kini mengajak ketiga keponakannya untuk pergi, Elis sangat malas untuk melihat drama ibu mertuanya, terserah Arjuna mau melakukan apapun, Elis tak akan melarang ataupun menyuruh Arjuna.


"Rose, Jasmine, Valery, Mari kita ke kamar kita tak bisa berada di sini untuk mendengarkan omongan orang dewasa." Elis menggiring ketiga putrinya untuk memasuki kamar mereka.


"Sudah terlalu banyak kau menciptakan dosa." Yudhistira berujar parau, matanya tak lepas menatap Elis dan ketiga keponakannya yang menjauh dari sana.


Di lubuk hatinya yang paling dalam terselip rasa bangga Yudhistira terhadap Arjuna, tentang bagaimana Arjuna melindungi adiknya dari berbagai musuh, Arjuna begitu pandai menyembunyikan Elis dari beberapa orang, Yudhistira yakin jika Arjuna bekerja keras untuk itu.


Arjuna mampu menyembunyikan Elis sampai sebelas tahun lamanya, karna Yudhistira tak tau jika Elis pernah melarikan diri.

__ADS_1


Berkali kali Yudhistira mengucap syukur karna ia lebih dulu menemukan Elis sebagai adiknya, ia tak bisa membayangkan seandainya ia mengetahui jika Elis adiknya setelah ia melenyapkan wanita itu, entah akan sebesar apa penyesalannya terhadap dirinya sendiri.


"Juna, tolong Mama. Tolong Mama!" Srikandi menggelayuti lengan kekar putranya. Sedangkan Arjuna tak merespon apapun, matanya memandang ke arah tangga yang anak tangganya tengah di pijaki istri serta ketiga putrinya.


"Juna, tolong Mama, Aida di culik seseorang kembali. Mama rasa dia,"Mama Sri menunjuk kearah Yudhistira. "Dia yang menculik Aida."


Yudhistira merasa tak mekakukan apapun saat ini, ia dengan santai melipat kedua tangannya di atas perut. "Menuduh orang tanpa bukti fitnah namanya. Aku tak melalukan apapun."


"Juna ayo cari Aida Juna. Ayo bantu Mama." Srikandi mencoba menarik tangan putranya namun Arjuna tak bergerak sedikitpun.


"Bukankah kita sudah tak memiliki hububgan apapun? Pergi dari rumahku!" Suara Arjuna terdengar amat dingin, raut wajahnya menunjukan tanpa ekspresi.


Arjuna sudah memustuskan jika ia tak akan lagi memperumit hubungannya dengan Elis, ia sudah melakukan apapun yang ibunya mau. Bukankan mereka sudah lepas hubungan saat ibunya menuntut bakti terakhir darinya.


"Arjuna, aku Mamamu! Tidak kah kau melihat pengorbananku selama ini?"


"Aku sudah menurut dan berkorban apapun selama hidupku untukmu. Namun setelah hari itu aku tak lagi memperdulikan kata durhaka yang selalu kau absen saat menyuruhku melakukan setiap hal yang tidak ku inginkan. Kau terlalu banyak menyakiti istri serta ketiga putriku, mereka hanya memiliki aku sebagai pelindungnya, jika aku selalu menuruti keinginanmu yang di luar nalar lantas siapa yang akan melindungi mereka." sekuat mungkin Arjuna menahan laju air matanya agar tak tumpah, jujur saja ia terpaksa melakukan ini bagai manapun Srikandi adalah ibu untuknya.


"Tidak Arjuna. Mama tak ingin membagi harta yang mama miliki kepada Yudhistira mau pun Yudha." kukuh Mama Sri, entah terbuat dari apa hati wanita tua itu.


"Yang akan mendapatkan harta Mama hanya kau dan Aida. Kalian yang berhak." kukuh Mama Sri.


"Aku tak menginginkan harta sengketa. Jika kau tak ingin menurut padaku teruslah menjauh dariku, aku tak ingin terlibat apapun denganmu." Arjuna melangkahkan kakinya menuju anak tangga ia membiarkan Mamanya dengan Yudistira yang terlihat cengo, entah apa yang ada di pikiran pria bertato itu.


"Kalian bisa berdiskusi. Tapi ingat Ydhistira jangan melakukan apapun di sekitar rumahku." Arjuna berteriak dari atas sebelum memasuki kamar yang di dalamnya ada ketiga putrinya.


Setelah kepergian Arjuna, Mama Sri buru buru berlari dari sana bersama orang orangnya, meninggalkan Yudistira dengan Asisten Jo.


"Hey kau!" panggil Yudhistira terhadap asisten adik iparnya.


"Berikan aku kamar kosong."


"Aku harus menemui Tuanku terlebih dulu." Asten Jo hendak pergi, tapi dengan sigap Yudhistira menodongkan senjata kearah Asisten Jo.

__ADS_1


"Berikan! Atau ku ledakkan isi kepalamu." Pria berumur 28 tahun itu ketakutan, karna tak ada Arjuna di sana, Yudhistira terkenal amat nekat dan bersedia melakukan apapun.


"Ba-baik."


.


"El."


Arjuna mendatangi istrinya yang kini berada di balcon tempat ketiga anaknya bermain, wanita itu tengah melihat mobil ibu mertuanya menjauh dari rumah suaminya.


"Ada apa?"


"Aku sudah memutus hubunganku dengan Mama sejak hari dimana aku menyelamatkan Aida. Aku benar benar minta maaf sudah menyakitimu El." Arjuna menunduk, layaknya sebagai tersangka yang mengakui kesalahannya kepada sang hakim.


"Aku menyesal sudah membohongimu, juga menganggap remeh dirimu. Aku terlalu menyepelekanmu. Aku selalu berpikir kau akan selalu memaafkanku. Aku minta maaf El." Arjuna membalik tubuh istrinya dan menggenggam tangan istrinya.


"Ini bukan tentang maaf Arjuna. Aku bisa saja memaafkanmu, tapi untuk melupakan beberapa hal yang kau lakukan terhadapku itu sangat sulit. Aku terlajur lelah dengan apa yang terjadi di antara kita." Elis melepas paksa tangan Arjuna dari genggaman tangannya.


"El, kita bisa memperbaiki atap atap rumah tangga kita yang bocor karna kebohonganku."


"Ya, tapi kita tak bisa memperbaiki pondasinya. Rumah tangga kita nyaris rubuh, perlu waktu untuk kita memperbaikinya. Aku ingin menjalani hidupku tanpamu Juna. Kita tak perlu bermusuhan, kita akan tetap menjalani hubungan baik sebagai teman. Demi anak anak kita! Tapi sungguh jika kau meminta kesempatan, kesempatanmu sudah habis Arjuna. Kau hanya akan mengulang ulang sesuatu yang kau anggap sepele itu."


"Aku masih menginginkanmu El."


"Tapi tidak dengan diriku. Aku tak ingin berpura pura lagi Juna, jika kita berjodoh Tuhan akan kembali menyatukan kita. Tapi untuk kali ini tolong biarkan aku menyandang status single." Elis menatap manik Arjuna yang berkaca kaca, pria itu kehilangan kalimatnya.


"Tolong El."


"Kau yang harus menolongku Juna." Elis meninggalkan Arjuna di balcon itu.


Saat Elis tengah berjalan secara mendadak pandangan matanya menjadi gelap dan kepalanya seakan di hantam dari belakang hingga-


Brukk ...

__ADS_1


__ADS_2