
Arjuna menunggu Elis untuk terlelap lebih dulu, ia akan memastikan ke amanan putri serta istrinya lebih dulu, bahkan Arjuna menanamkan sebuah chips kecil berukuran sebiji beras bagian tubuh Elis. Bertujuan sebagai suatu alat penditeksi keberadaannya. Dan sebelumnya Arjuna sudah melakukan itu kepada ketiga putrinya sejak jauh jauh hari.
Bukan Arjuna tak percaya akan cara kerja Tuhan menjaga keluarganya. Namun Arjuna hanya ingin terus memastikan keselamatan orang orang yang ia sayangi. Ia tak ingin mengambil resiko dengan membiarkan ataupun memberi celah seseorang untuk menyakiti keluarganya.
Setelah memastikan istrinya terlelap Arjuna pergi ke suatu tempat.
Arjuna kembali menemui seseorang, seseorang yang selama ini membuat Yudha selalu geram karna sudah mengabaikan putranya satu satu. Orang itu adalah seorang wanita, mantan istri dari Yudha. Yang mana ibu kandung dari Rain, Soraya namanya.
Di suatu tempat rahasia, Soraya menemui Arjuna. Dia berhutang terlalu banyak kepada Arjuna sehingga ia tak bisa berdiam diri di saat Arjuna dalam kesulitan.
"Ada apa kau jauh jauh dari tempatmu ke mari?"
"Mantan istrimu tertangkap suamiku. Berhati hatilah! Bisa jadi dia tengah mengincar dirimu dan keluargamu." tutur Soraya penuh penekanan. Ya Soraya sekarang bersetatus sebagai istri dari Yudhistira.
"Aida membeberkan beberapa rahasiahmu."
Ada beberapa alasan Soraya mau di nikahi oleh Yudhistira, namun pria itu tidak tau jika Soraya merupakan mantan istri dari Yudha, yang mana ada sangkut pautnya dengan Srikandi, orang yang paling Yudhistira benci di muka bumi.
"Hm. Aku tau." ujar Arjuna santai.
"Tapi bisakah kau menemui putramu sesekali? Kasihan dia sepertinya begitu merindukan ibunya." Arjuna berkata yang sebenarnya, meskipun dirinya tidak terlalu menyukai Rain, tapi melihat Rain kecil yang begitu merindukan sosok ibunya membuat tak tega.
Soraya tersenyum kecut. "Dia tidak merindukanku. Kau hanya membual bukan? Kau tak ingin di repotkan karna putraku selalu merepotkan istrimu?" Sekak Soraya.
"Ya itupun benar juga. Namun mantan suamimu itu yang lebih gila. Meminta istriku untuk menjadi ibu sambung untuk putramu." Arjuna berdecih kesal.
"Apa rencanamu selanjutnya Arjuna? Tak selamanya kau main kucing kucingan dengan Yudhistira. Sesekali kau harus menghadapi pria itu. Dia orang yang kejam Arjuna, jalanan sudah mengajarinya banyak hal untuk cara melenyapkan dan bertahan hidup." ucap Soraya apa adanya.
"Aku tau Aya. Tapi jika dia dendam padaku itu benar benar salah alamat. Aku bukan keturunan Papa Wisnu maupun Mama Srikandi." Arjuna merasa berada di antara himpitan yang tidak menguntungkan sama sekali.
"Aku akan mencari cara agar Yudhistira tidak menargetkanmu sebagai balas dendamnya." Soraya menepuk tangan rekannya.
"Doakan aku supaya dia benar benar jatuh cinta kepadaku. Tapi sepertinya cinta saja tak akan membuatnya berubah. Aku penasaran bagaimana reaksinya jika ia tau jika Aida adalah adik seayahnya? Dia yang selalu mengatakan hidup hanya sebatang kara ternyata memiliki saudari, namun dia malah melecehkannya dengan orang orangnya, sungguh kejam sekali." Soraya menggeleng prihatin.
Soraya tau tentang kebenaran Arjuna bukan anak kandung ibu Sri, juga tentang kebenaran jika Aida adalah anak ibu Sri dari mulut Arjuna dendiri beberapa waktu lalu.
"Serius kau? Yudhistira sampai bertindak sejauh itu?"
__ADS_1
"Ya. Dan dalang dari penyerangan Aida beberapa tahun lalu adalah Yudhistira, Arjuna. Kau salah karna mengira jika dalangnya adalah rekan bisnismu." papar Soraya.
"Ya Tuhan." Arjuna luar biasa sangat terkejut mengetahui hal itu. Tubuhnya bahkan mematung dengan perasaan yang sulit ia jelaskan. Sejauh itu Yudhistira membencinya.
Arjuna menganggap jika yang mencelakai Aida adalah rekan bisnisnya. Rupanya Yudhistiralah pelakunya, tentu saja tujuannya agar Arjuna tidak memiliki pewaris.
Soraya memberikan rekaman yang ia dapat dari mata matanya. Yang mana menampilkan Aida yang tengah di rudal paksa oleh empat orang sekaligus.
"Aya, kau harus berhati-hati. Aku tak ingin terjadi sesuatu denganmu. Atau akhiri saja pernikahanmu dengan iblis itu." Arjuna mengkhawatirkan temannya, ia tak ingin Soraya berada dalam masalah ataupun bahaya mengingat, sosok Yudhistira sangat berutal.
"Aku tak bisa Arjuna. Aku juga memiliki misi dan tujuan. Jangan mengkhawatirkan aku!" Soraya tau Arjuna selama ini tak melepasnya begitu saja, Arjuna juga memberikan penjagaan untuknya.
"Kau mencintainya?" tebak Arjuna.
"Sepertinya begitu." Soraya tersenyum kecut. "Aku mencobanya menarik dari lembah hitam Arjuna. Dendam hanya menyakiti dirinya saja, aku tau Yudhistira juga tersiksa dengan itu semua. Tapi dia tetap terbelenggu dengan dendam itu."
"Terlalu berbahaya untuk kau berada di antara monster itu Aya." Arjuna berusaha mengingatkan temannya.
"Aku tak perduli Arjuna. Ini sebabnya aku juga tidak menemui Rain Arjuna. Aku tak ingin suamiku yang sekarang mengetahui masa laluku. Susah payah aku berada di posisi sekarang." Ada nada getir di setiap ucapannya.
"Jangan ikut campur Arjuna! Kau sudah berjanji tidak akan ikut campur masalahku dengan Yudha." Soraya tak suka saat Arjuna menyinggung tentang masalahnya dengan Yudha.
"Apapun itu ku harap kau selalu berhati hati Aya. Jaga dirimu baik baik. Yudhistira bukan seseorang yang bisa di anggap enteng."
"Perhatikan keluargamu Arjuna! Jangan sampai kau lalai, baik Yudha, Yudhistira maupun ibumu memiliki maksud terhadapmu." Soraya mengenakan masker hitam juga kaca mata hitam miliknya.
"Terimakasih Aya."
Arjunapun turut pergi meninggalkan tempat tersebut.
.
Yudhistira terus menyusun rencana bagaimana caranya mengetahui ke beradaan Arjuna. Yudhistira bahkan merasa curiga tentang hubungan Arjuna dan ibunya yang merenggang, padahal seingatnya Arjuna merupakan seorang anak yang penurut.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Apa aku tertinggal berita? Hingga ibu tiriku tidak bergabung dengan putranya. Lanyas manakah yang harus ku hancurkan lebih dulu?" Yudhistira menatap sebuah potret yang menunjukan gambar mendiang Ayahnya.
"Karna ketidak adilanmu hidupku terlunta lunta selama bertahun tahun. Meski sekarang aku sudah memiliki banyak hal, tak lantas memaafkan kau dan keluargamu. Wisnu, aku bersumpah setiap keturunanmu akan mati di tanganku, dan aku baru melakukan hal itu pada cucumu saja." Ada banyak dendam terpendam dalam diri Yudhistira. Seumur hidupnya ia terus menyusun rencana yang selalu saja gagal.
__ADS_1
Semoga sejak hari ini Yudhistira berharap tidak ada ke gagalan lagi dalam hidupnya.
.
Arjuna kembali ke rumah sakit setelah melihat dan menyuruh orang orangnya untuk menjaga anak anaknya di rumah.
Sumpah demi apapun hidup seperti Arjuna sangatlah tidak nyaman, di mana ia harus memastikan banyak hal sebelum memutuskan sesuatu. Kemewahan hidup yang ia miliki tidak semanis yang terlihat.
Arjuna juga tengah menyusun banyak hal tentang bagaimana menghancurkan Yudhistira. Meskipun harus mengecewakan temannya Soraya. Bukankah ia sudah mengingatkan Soraya sejak awal.
Arjuna memasuki ruang inap Elis. Terlihat banyak beban di raut wajah Arjuna, sehingga membuat Elis tak tahan untuk bertanya.
"Ada apa? Kau terlihat sangat lelah. Apa semuanya baik baik saja?" Elis menatap wajah Arjuna yang berantakan.
"El. Seandainya aku meninggalkan kembali srmua harta milikku apa kau masih mau untuk hidup bersamaku?" Arjuna mengajukan pertanyaan, yang mungkin saja akan terjadi suatu saat nanti. Jika Yudhistira mau Arjuna bersedia menyerahkan semua hartanya asalkan keluarganya baik baik saja.
"Kau meragu?"
"Menurutmu apa kau kembali padamu hanya karna uangmu?"
Arjuna bungkam, bukankah setiap wanita seperti itu. Soraya dan Aida pun demikian.
"Jika aku menukar seluruh hartaku dengan kebebasan dan keselamatan kita apa kau akan meninggalkanku El?"
"Kau ingin mencobanya sekarang atau nanti?. Sungguh aku tak keberatan Arjuna. Asalkan kau tak mengundang wanita lain dalam rumah tangga kita, aku akan bersamamu." Elis tak ingin meragukan lagi kesungguhan Arjuna. Cukup sekali ia merasa bodoh. Elis yakin Arjuna tak akan mengambil keputusan yang salah.
"Aku lega jika seperti itu." Arjuna melabuhkan satu kecupan di kening Elis yang duduk di hadapannya.
"Apa anak anak baik baik saja?"
"Semuanya baik baik saja."
"Lalu apa yang membuatmu terlihat tertekan?"
"Kau. Aku takut kau melarikan diri lagi."
"Tidak. Aku akan menghadapi semuanya bersamamu."
__ADS_1