
Arjuna yang merasa khawatir karna putri bungsunya tengah sakit, segera ia bergegas menemui Asisten Jo untuk menunda semua jenis pertemuan hari ini. Ia akan pulang untuk memastikan keadaan putrinya.
Saat tiba di rumahnya Arjuna sama sekali tak melihat motor Elis terparkir di teras rumah sederhananya, lekas Arjuna menghubungi nomor istrinya, karna menurutntnya Elis akan lebih dulu sampai mengingat wanita itu pulang lebih dulu.
Tersambung tapi tidak di angkat. Arjuna berpikir positif mungkin saja Elis tengah mengendarai motornya. Wanitanya terlambat pulang bisa jadi karna ban pecah atau mampir dulu ke suatu tempat.
Arjuna membuka pintu. Seperti biasa sebelum ia masuk, Arjuna akan lebih dulu mempersilahkan pengasuh putrinya untuk keluar lebih dulu. Bukan apa apa Arjuna hanya tengah menjaga harga dirinya seorang menjadi seorang suami, mengingat tak ada jaminan untuk seseorang berbuat culas. Arjuna hanya tak ingin membuka peluang untuk merusak rumah tangganya sendiri.
Ketiga putri Arjuna tengah menonton televisi. Arjuna hampiri ketiganya, namun yang lebih dulu ia sentuh adalah kening Valery. Rupanya panas putri bungsunya sudah tidak terasa.
"Apa Mama sudah pulang?" Arjuna bertanya, untuk sekedar memastikan jika istrinya sudah pulang atau belum, bisa saja kan Elis sudah pulang dan kembalu pergi.
"Belum." Rose dan Mine menggeleng sedangkan Valery sepertinya sudah mengantuk, gadis kecil itu mulai memejamkan matanya.
Arjuna dan kedua putrinya berbincang banyak hal, Arjuna merupakan sosok ayah yang banyak bicara, ia akan menanyakan kegiatan apa saja di sekolahnya.
Setelah sekian lama Arjuna berbincang, motor Elis terdengar memasuki teras rumah.
"Sebentar Papa menemui Mama dulu." Arjuna pamit kepada Rose dan Mine.
"El, kau dari mana saja aku khaw-"
Arjuna tak melanjutkan kalimatnya saat melihat noda darah di bagian bahu serta punggung istrinya, lebih tepatnya bajunya yang berwarna biru muda, matanya terbelalak karna terkejut. Apa Elis terluka? Atau mengelami kecelakaan.
"Aku ke rumah sakit dulu tadi."
Mendengar kata rumah sakit Arjuna langsung mendekat, meraih bahu istrinya membalik serta meneliti seluruh tubuh istrinya.
"Mana yang sakit? apa ada yang terluka?" Elis dapat mendengar suara cemas Arjuna yang tengah memastikan tubuhnya.
"Kau jatuh? Atau bagai mana?" manik itu terlihat menyesal, tentu saja karna ia menyalahkan dirinya sendiri. Seandainya Arjuna mengantar istrinya pulang tentu saja Elis tak akan terluka.
"Bukan aku yang sakit. Aku baik baik saja, hanya saja aku tadi menolong seseorang." Elis berjalan memasuki rimahnya, ia ingin memastikan sendiri keadaan putrinya yang tengah sakit.
Ketiga putrinya sudah terlelap, dengan televisi yang masih menyala meampilkan serial kartun pororo. Padahal baru beberasaat yang lalu Rose dan Mine masih terjaga.
__ADS_1
Elis melakukan hal yang sama seperti Arjuna, ya itu memastikan suhu tubuh Valery menggunakan punghung tangannya. "Syukurlah Valery sudah tak panas." Elis menghembuskan nafas lega, sedangkan Arjuna pergi ke dapur untuk mengambilkan Elis air minum.
Elis meneguk air putih yang di bawakan Arjuna untuknya.
"Siapa yang kau tolong El? Apa ini juga yang membuatmu terlambat pulang." Arjuna mendudukan tubuhnya di samping istrinya. Juga tetap meneliti tubuh Elis memastikannya agar tidak terluka.
"Entah lah, aku tidak menanyakan namanya. Yang pasti seorang pria. Dia muntah darah juga hidungnya mengeluarkan banyak darah. Pria itu tergeletak kaku di pinggir jalan saat aku lewat. Aku tak bisa membiarkannya begitu saja, jadi aku menolongnya. Aku bahkan menghancurkan kaca mobilnya demi mendapat obat yang ia butuhkan. Lihat tanganku tergores sedikit." Elis menunjukan tangannya yang terkena serpihan kaca.
"Dia kecelakaan atau sakit?" Tanya Arjuna penasaran.
"Sepertinya sakit, soalnya aku tak terdapat luka di tubuhnya. Kecuali kakinya yang sedikit pincang. Mungkin dia cacat." ujar Elis lagi. Elis tak tau jika kaki orang yang ia tolong menjadi pincang karna ulah Arjuna, yang melepaskan pelurunya di kaki pria itu.
"Kasihan sekali dia." ujar Arjuna, ia juga tak tau jika orang yang di tolong Elis adalah Yudhistira.
"Aku membawanya kerumah sakit dan sepertinya orang itu adalah seorang dokter, karna pria itu meminta obatnya sendiri kepada dokter rumah sakit. Entahlah apa apa saja yang pria itu minta, yang ku ingat hanya antibiotik yang ia minta suntikan ketubuhnya."
"Dia masih muda atau sudah tua?" Tanya Arjuna, ia menempelkan handsaplas di antara tangan Elis yang terluka.
"Emm, masih muda mungkin sepantaran Yudha atas beberapa tahun di atasmu. Tapi aku yakin usianya lebih tua darimu." Papar Elis.
"Masih tampan suamiku ke mana-mana." ujar Elis terkekeh.
"Dasar istri nakal." Arjuna mengecup singkat pipi Elis.
"Tak ada luka lain kan di tubuhmu?"
Elis menggeleng.
"Ya, sudah aku mau membersihkan tubuhku." Arjuna beranjak. Juga mengambil pakaian ganti.
"Mau mandi bersama?"
Tawaran Elis terdengar menggiurkan tapi jika mereka mandi bersama sudah di pastikan jika Elis akan melihat luka di pinggangnya, itu sebabnya Arjuna memutar otak untuk mencari Alasan. Di kantong celananya juga sudah di siapkan obar berupa salep, serta kain kasa untuk menutup luka.
"Tidak usah El, lain kali saja. Jika kita mandi bersama aku tak yakin jika kita akan hanya mandi, sedangkan Valery tangah sakit dia bisa saja bangun kapan saja dan bisa menangis saat tak mendapati salah satu dari kita. Lebih baik kita mandi bergantian saja." Sebenarnya itu hanya alasan Arjuna, yang kebetulan masuk akal. Entah harus berapa lama lagi dirinya memperpanjang kebohongannya.
__ADS_1
Benar juga apa yang di katakan Arjuna, jadi Elis mengiyakan saja apa yang Arjuna katakan."
Saat Arjuna tengah mandi, tiba tiba ponsel Arjuna bergetar. Ponsel itu berada di dalam tas kerja Arjuna yang ia simpan di atas kursi di samping Elis, jadi Elis membuka tas itu.
Elis berniat mengangkat panggilan tanpa nama di ponsel Arjuna, namun matanya tertuju pada beberapa obat yang dua bungkus berlain merk sudah terbuka dan Elis berpikir jika obat itu Arjuna yang mengkonsumsinya.
"Obat apa ini?" Elis meneliti bungkusan demi bungkusan obat, apa yang Arjuna sembunyikan darinya. Ponsel Arjuna yang tadi bergetar kini sudah mati kembali, mungkin Elis terlalu lama mengabaikan panggilan itu. Ponsel Arjuna kembali bergetar kemudian hidup lagi dan menunjukan nomor yang sama tanpa nama.
Elis di buat penasaran mengapa nomor tak di kenal itu menghubungi nomor ponsel Arjuna bahkan sampai dua kali.
Elis menggeser tombol hijau, kemudian ia dekatkan ponsel itu ke telinganya.
"Hallo, Arjuna. Bagai mana keadaanmu apa kau baik baik saja?" tanya seseorang dari sebrang sana dengan nada cemas.
Elis mengengetahui dengan jwlas siapa pemilik suara itu. Yang tak lain dan tak bukan merupakan suara mertuanya sendiri.
Pertanyaan Mama Sri seakan memperkuat dugaan Elis akan sesuatu yang Arjuna sembunyikan darinya. Arjuna juga terlihat aneh beberapa waktu terakhir.
"Hallo Arjina, apa kau mengdengar Mama? Apa kau masih di sana? mengapa kau menolak Panggilan Mama sejak kemarin? Hallo ..."
Mama Sri terus berbicara tanpa ia tau siapa yang mengangkat panggilannya.
"Hallo ..."
Elis mengatakan satu kata, ia akan bertanya pada mertuanya tentamg apa yang terjadi. Namun, seketika mama mertuanya mematikan panggilannya tanpa mengatakan apapun.
Berkali kali Elis mencoba menghubungi kembali nomor itu, namun tak di jawab sama sekali. Elis kini menggenggam beberapa obat yang ia ambil di tas kerja suaminya, sembari berpikir banyak hal.
"Apa yang kau lakukan?" Arjuna sudah berada di hadapan Elis dan merampas langsung obatnya dari genggaman Elis.
"Obat apa itu?" Tanya Elis datar.
"Hanya vitamin. Juga suplemen kesehatan." Arjuna mengutuki bakatnya yang terpendam, sekarang ia semakin pandai dalam mengarang cerita.
"Benarkah? Bagai mana jika aku tak percaya?"
__ADS_1