
"Aku malas jika kau harus berurusan dengan Mamamu lagi Arjuna." Elis membereskan buku-buku anaknya yang tercecer di lantai kamarnya. Setelah mengerjakan pr, ketiganya langsung tertidur sehingga tak sempat membereskan buku masing-masing.
"El, yidak bisa seperti itu. Mau aku menutup matapun aku tetap berhutang terlalu banyak pada Mama Sri. Dia yang merawat dan membesarkanku, sekalipun bukan ibu kandungku aku menyayanginya."
"Tapi, dia selalu merusak hubungan kita Arjuna. Dia tidak menyukai aku dan anak anak kita. Aku ingin kau lepas hubungan darinya. Kau tak akan menjadi durhaka hanya karna tak menuruti inginnya." Elis sangat kesal terhadap Arjuna yang selalu bersikap baik terhadap mamanya. Tidak tahukah pria itu jika mertuanya memiliki seribu satu cara untuk kembali membuat hubungan mereka memburuk.
"Tidak usah pikirkan apapun aku akan ada untukmu dan anak-anak." Arjuna menenangkan Elis supaya istrinya itu tidak berpikir macam macam.
.
Yudhistira kembali mendatangi tempat di mana Aida di sekap olehnya. Ia sangat marah saat Srikandi tidak mengindahkan ancamannya. Padahal ini sudah jatuh tempo dari yang ia tentukan.
Srikandi di beri waktu 3 hari untuk berpikir dan nenyerahkan perusahaan milik mendiang ayahnya dengan menukar keselamatan Aida, menantu yang paling Stikandi kasihi. Karna hingga detik ini Yudhistira tidak bisa mengorek informasi lebih jauh tentang kebenaran tentang istri lain dari Arjuna. Entah Aida hanya membual, atau Arjuna terlalu apik menutup tabir tentang kebenaran rumah tangganya hingga nyaris tak tercium oleh Yudhistira.
Duak ...
Yudhistira menendang tulang punggung Aida yang tengah meringkuk dengan mata terpejam, kedua tangannya masih terikat juga dengan pakaian yang terakhir kali Aida kenakan.
"Aww." Aida terpekik kaget dengan rasa sakit yang seakan membuatnya sakit, pandangan mata nya mengabur dan perutnya sangat lapar, karna Yudhistira benar benar hanya memberinya sedikit makanan, itupun makanan sisa. Dengan nasi tanpa lauk sama sekali, hanya sedikit kuah kuning yang di campurkan di atas piring plastik.
Yudhistira benar benar sangat kejam terhadap tawanannya, apa lagi seseorang yang ia targetkan tak bisa memenuhi keinginannya.
"Bangun sialan! Kau benar benar tak berguna!"
"Duak ..."
Yudhistira kembali menendang, rahang Aida yang sekarang menjadi sasarannya. Hingga Aida jatuh tersungkur dengan rahang yang terasa cidera ini benar benar menyakitkan untuknya.
"Ampun. Tuan ampun, ku mohon lepaskan saya." Tidak ada lagi kesombongan di wajah Aida, ia bahkan memohon dengan sangat meminta belas kasih dari seseorang yang menahannya selama hampir seminggu ini.
__ADS_1
"Hahaha." tawa menggelegar memekan telinga. Tangan bertato Yudhistira juga mencengkram leher Aida, bukan. Bukan mencengkram Yudhistira nyaris mencekik Aida. Ia ingin melampiaskan kemarahannya pada wanita yang menjadi tawanannya.
"Kau memohon padaku Aida?" geraman mengerikan itu terasa mencekan di telinga Aida.
"Ya Tuan, tolong lepaskan saya, saya akan memberikan apapun untuk anda. Saya mempunyai rumah, apartemen dan sejumlah tabungan Tuan, saya akan memberikan apapun yang saya miliki jepada tiluan. Asalkan Tuan melepaskan saya." Aida memohon, bahkan kedua tangannya kini sudah mengatup tepat di hadapannya.
"Tidak. Semudah itu Aida! Apapun yang kau tawarkan tidak ada seujung kuku dari apa yang aku inginkan dari wanita tua bernama Srikandi itu." Yudhistira menghempas dengan kasar wajah Aida hingga tersungkur di atas lantai.
Yudhistira kemudian mengambil sebelah tangan Aida yang merupakan tangan kanan wanita itu. Menelitinya dengan seksama, di jari manis itu terdapat cincin permata bertuliskan nama dirinya dan Arjuna. Cincin itu bukan cincin pernikahan, nelainkan cincin yang di berikan Arjuna belasan tahun yang lalu di saat ia masih menjadi kekasih dari Arjuna.
"Aku rasa Srikandi memerlukan bukti, jika sebenarnya aku tak membual atau bermain main dengan apa yang aku katakan." Kuku indah serta jemari lentik Aida tak terbentuk lagi yang ada hanya jemri penuh luka juga kuku kehitam-hitaman.
"Apa maksudmu?" Aida mencoba melepaskan cengkraman tangan Yudhistira dari pergelangan tangannya. "Ku mohon jangan lepaskan cincin ini! Ini satu satunya yang ku miliki dari Arjuna." Aida menampilkan wajah memelasnya dengan penuh kesungguhan.
"Kau tak ingin melepas cincin ini dari tanganmu?"
Aida mengangguk.
"Apa, apa maksudmu? Aku, aku tak melukai siapapun." Aida tergagap. Terlihat jelas jika dirinya tengah mencari alasan.
"Aku sangat pandai Aida. Aku sudah mengintaimu beberapa waktu terakhir, lehih tepatnya di hari saat kau menghabisi dokter Arief dan keluarganya. Aku Syok, terkejut akan tibdakanmu Aida. Paras cantik serta penampilanmu sama sekali tidak mencerminkan seseorang yang taat, kau layaknya iblis berjubah malaikat Aida. Kau munafik."
Cuih ...
Yudhistira meludahi wajah Aida yang terlihat sangat kacau. Aida bergeming, ia tak nampu mengelak lagi dan tak sanggup jika harus melawan Yudhistira sekarang.
"Aku membenci iblis yang bertopeng sepertimu." Yudhistira membuka ikatan tangan Aida, dan mengambil sebuah belati yang ia sembunyikan di balik jaket yang ia kenakan.
Mata Aida membola saat sepintas pemikiran melintas pada otaknya, bayangan jarinya akan di potong melintas begitu saja.
__ADS_1
"Tolong, Tuan jangan. Jangan lakukan apapun saya mohon Tuan." Aida berusaha melepaskan diri, namun kekuatannya tidaklah sebanding denga pria bertubuh kekar di hadapannya.
"Kau tenang saja, meski aku bukan dokter aku mampu mengoprasi tanpa obat bius. Aku sudah terbiasa mengeksekusi beberapa orang. Atau mengambil beberapa organ atau anggota tubuh seseorang untuk ku jadikan ancaman atau balas dendam." Yudhistira berujar dingin, serta membekukan sekitar, membuat Aida mendadak menggigil ketakutan. Ia sering menggenggam pisau oprasi tapi meligat belati di tangan Yudhistira sangatlah mengerikan.
"Ampuni saya Tuan. Ampun, tolong jangan apa apakan saya." Aida menangis, bahkan meraung. Ia sangat takut pria di hadapannya berbuat nekad kepadanya.
"Kau bilang jangan melepas cincin ini dari tanganmu kan? Aku akan dengan baik hati melepaskan tanganmu dari anggota tubuhnya yang lain." Yudhistira menarik tangan Aida, mendekat ke suatu meja yang terdapat di tengah ruangan.
"Ini tidak akan sakit, rasanya mungkin hanya seperti di gigit harimau. Hehehe," Tawa gembira Yudhistira letupkan di ruangan yang penuh barang rongsok itu.
"Janagn. Ku mohon jangan!"
"Satu, dua-" Yudhistira mulai menghitung dengan tangan Aida yang sudah ia tempelkan di atas meja. Juga seseorang bertubuh besar memegangi tubuh Aida agar tidak memberontak.
"Tidak ..."
"Aaaaaa ..."
Raungan penuh kesakitan menggema dengan Aida yang berakhir tak sadarkan diri. Yudhistira sangat kejam, tidak hanya jari manis saja yang ia potong, melainkan kelima jemari tangan kanannya. Ya Yudhistira memotong tangan Aida sebatas pergelangan tangannya.
"Hahaha, " tawanya kian menderu melihat Aida yang terkapar dengan bersimbah darah.
"Aku hanya meringankan tugas Tuhan menghukummu Aida."
Yudhistira berlalu dengan potongan tangan Aida di genggamannya, ia sangat profesional saat melukai korbannya bahkan tangan Aida yang ia pegang terasa berdenyut denyut kecil membuat satu gerakan. Yudhistira sudah terlatih dalam melakukan banyak hal.
Benar benar sakit jiwa Yudhistira ini, ia memasukan potongan tangan Aida kesebuah kotak, dan membungkusnya menggunakan kertas kado serta pita berwarna merah jambu.
"Ini akan menjadi kado untukmu Srikandi. Jika saja sampai hari esok kau tidak menyerahkan seluruh harta peninggalan Wisnu. Aku akan mengirimkan jasad menantu kesayanganmu itu."
__ADS_1
Yudhistira menyuruh orangnya untuk mengantarkan kadonya ke alamat Ibu Srikandi.