
Arjuna menunda rasa penasarannya tentang siapa pembunuh ibunya yang sebenarnya, ia ingin lebih dulu mungurus peristirahatan ibunya.
Menggunakan tangannya sendiri Arjuna mengurus jenajah ibunya, mulai dari memandikan juga membalutkan tubuh ibunya dengan helayan kain kafan.
"Terimakasih sudah mau menyayangiku juga memberikan kehidupan layak untukku. Semoga mama tenang, aku iklas melepas Mama, berbahagialah di surganya. Kelak aku akan bersaksi di hadapan Tuhanku Mama adalah ibu terbaik yang ku miliki." Arjuna berbisik serta mengecup kening sang ibu dengan penuh haru.
Rose dan Jasmine tidak menangis sama sekali, sedangkan Valery gadis kecil itu menangis sesegukan saat Neneknya pergi untuk selama lamanya. Valeri berada di gendongan Yudhistira, menyembunyikan wajahnya di leher pamannya.
"Kasihan sekali Papa, dia di tinggalkan nenek selama lamanya." isak Valery, Yudhistira mengusap punggung kepobakannya dengan lembut, ketiga anak Arjuna memang memiliki karakter yang berbeda beda.
"Kau tak membenci Nenek sekalipun Nenek suka bertindak jahat?" tanya Yudhistira kepada keponakannya.
Valery menggeleng yakin, "Cukup hanya Kak Rose dan Kak Mine saja yang membenci Nenek, aku akan selalu mendoakan Nenek agar tetap bahagia. Kata Papa kita harus selalu memaafkan orang lain Om." Valery menjelaskan dengan tersedu sedu.
Lembut sekali perasaan Valery, gadis itu sangat manis juga penyayang.
Beberapa kerabat Srikandi hadir di pemakaman, hingga sore menjelang Arjuna masih menatap nisan yang tertulis nama ibunya, ia menaburkan banyak kelopak bunga di gundukan tanah itu.
"Ayo kita pulang." Elis menyentuh pundak suaminya juga mengusapnya secara perlahan. Sebelum pergi Arjuna mengecup nisan ibunya.
"Juna pulang Ma."
Yudhistira pulang lebih dulu bersama ketiga keponakannya. Membiarkan Arjuna menghadapi dukanya, sungguh Yudhistira ingin berpesta malam ini saat mengetahui kematian seseorang yang paling ia benci, karma sangatlah mandiri tanpa repot repot Yudhistira melakukan apapun wanita itu sudah mati dengan cara mengerikan.
Tuhan memang baik hati terhadapnya, memberikan kesempatan untuk dirinya menyaksikan kematian orang yang sudah berhasil menghancurkan hidupnya.
.
Jo tidak mengikuti acara pemakaman ibu dari Tuannya, ia juga memiliki kewajiban lain yang lebih penting dari pada menghantar ibu dari Tuannya keperistirahatan terakhirnya.
Kini Asisten Jo tengah menangis di atas pusaran makam buah hatinya yang berumur dua tahun, gundukan kecil itu seakan menyayat nyayat hatinya berkali kali. Mantan istrinya juga menyalahkan dirinya atas kematian putranya.
"Jika saja kau bersedia membantu orang itu untuk melakukan sesuatu semua ini tak akan terjadi pada Nino! Kau pembunuh yang sesungguhnya Jo! Aku membencimu!" Mantan istri Asisten Jo terus memakinya dengan makian makian kasar.
__ADS_1
"Aku tak bisa berkhianat kepada Tuanku Zoya. Aku sudah di sumpah untuk setia terhadap Tuanku! Kematian anak kita adalah tadhir, meski oprasi tranfasi pencangkokan ginjal itu di lakukan tidak menjamin anak kita akan selamat. Sadar Zoya, ini takdhir!" Asisten Jo tak bisa lagi menahan emosinya, meski ia madih berada di area pemakaman umum.
"Setidaknya jika kau menuruti keinginan pria itu anak kita memiliki kemungkinan besar untuk selamat." Zoya mantan istri Jo menangis sembari pusaran putranya.
"Iklaskan keperhian anak kita Zoya." ucap Jo parau, ia berusaha menenangkan mantan istrinya meskipun dirinya sendiri dalam keadaan kacau, sungguh Asisten Jo tak bisa mengkhianati Tuannya.
Hari itu ada seseorang yang mendatangi Jo juga Zoya, pria yang mengenakan masker di wajahnya memberikan penawaran penting terhadapnya, yang mana pria yang tidak dapat Jo lihat dengan nyata itu menawarkan satu misi terhadap Jo. Yaitu melenyapkan wanita bernama Srikandi, yang nana wanita itu merupakan ibu dari atasannya.
Bukan hanya imbalan yang sangat besar yang di tawarkan pria misterius itu terhadapnya. Pria itu juga akan memberikannya seseorang untuk metode pencangkokan ginjal kepada putranya, asalkan Jo bersedia melenyapkan Srikandi. Pria itu juga mengatakan jika ia akan melindungi Asisten Jo dari hukum juga pihak berwajib, dalam artian asisten Jo akan tetap aman setelah melakukan kejahatan.
Asisten Jo menolak tegas tawaran pria itu, di samping ia tak inhin berkhianat kepada Tuannya, ia juga tak ingin jika merusak kepercayaan bosnya terhadapnya, sudah terlalu banyak Tuan Arjuna berkorban serta memberikan hidup yang layak kepadanya. Ia lebih rela dirinya mati dari pada harus mengkhianati Tuannya.
Itu sebabnya sebelum acara pemakaman putranya di laksanakan Asisten Jo menemui Arjuna lebih dulu dan mengucapkan bela sungkawa terhadap Tuannya.
Jo tak dapat menebak siapa pria itu, mengingat banyak sekali orang yang berniat melenyapkan Srikandi.
.
Sejak pagi Arjuna belum makan, pria itu terlihat amat berduka atas kepergian ibunya.
Saat Elis masuk, Arjuna terlihat tengah menatap kosong kearah jendela yang masih terbuka meskipun hari sudah malam, entah objek apa yang Arjuna lihat di sana. Yang jelas Arjuna terligat kebingungan.
"Junaa." panggil Elis mendayu.
"Makanlah lebih dulu, aku akan menyuapimu." Elis duduk di tepi ranjang yang sama dengan suaminya.
Arjuna tak mengiyakan juga tak menolak tawaran istrinya, ia hanya menipiskan bibirnya sekilas.
Elis memangku makanan yang ia bawa.
"El. apa boleh aku menitipkanmu dan anak anak pada Yudhistira sebentar? Tak lama hanya untuk beberapa hari saja. Aku butuh waktu untuk merenung atas duka yang ku alami, bukan aku memulangkanmu atau bersikap tak adil terhadapmu, aku hanya tak ingin kau merasa di abaikan oleh sikafku yang mungkin aku tak tau akan seperti apa. Aku juga perlu mengerjakan beberapa hal nenyangkut kematian Mama yang tak wajar. Aku mohon pengertianmu El." Arjuna berujar lembut sembari menggenggam jemari Elis yang terasa dingin.
Elis merasa jika hatinya sangat sakit saat Arjuna mengatakannya akan menitipkan ia dan anak anak kepada kakaknya. Rasanya Arjuna seperti hendak membuangnya, padahal pria itu sudah menjelaskan penyebabnya serta alasannya.
__ADS_1
"Bagai mana El, apa kau bersedia tinggal di rumah Yudhistira untuk sementara? Sementara hingga semuanya membaik." Arjuna mengangkat wajah Elis yang sudah di bingkai air mata.
"Hey jangan menangis, Aku janji setelah urusannya selesai aku akan menjemput kalian dan membawa kalian pulang. Meski begitu kau harus berhati hati terhadap Yudhistira, takutnya dia benar benar berniat menghancurkanku." Arjuna masih saja menaruh curiga terhadap Yudhistira. Meskipun ia yakin Yudhistira tak akan melukai istri serta ketiga putrinya, tapi Arjuna takut jika Yudhistira memisahkan ia dan keempat wanita kesayangannya.
"Baik aku bersedia. Asalkan kau janji akan menjemputku secepatnya." Elis berusaha mengerti apapun keputusan Arjuna, ia tak akan meragukan Arjuna kembali, pria itu sudah terlalu banyak menderita oleh banyak keegoisan ia dan mendiang mertuanya.
"Terimakasih sudah mengerti."
Dirumah Arjuna masih ada beberapa kerabat yang belum pulang.
"Apa ada yang kau curigai dari orang orang yang kukenal yang kemungkinan besar membunuh mama?" tanya Elis hati hati.
"Aku mencurigai beberapa orang El."
"Siapa?"
"Nanti kau akan tau."
"Kau mencurigai kakakku?"
"Sedikit."
"Kau sudah makan?" Arjuna mengalihkan pembicaraan.
Elis menggeleng saat suaminya bertanya.
"Tunggu di sini aku mau mengambil makanan, kita makan bersama." Arjuna keluar dari kamarnya.
Baru beberapa saat Arjuna pergi, bibi Dora asisten rumah tangga Elis mengabari jika Arjuna menunggunya di dekat kolam renang belakang.
Elis kini keluar dan menuju kolam renang yang di maksud, hingga di perjalanannya menuju kolam renang, ada seseorang yang membekap mulut dan hidung Elis menggunakan sebuah sapu tangan.
Hingga-
__ADS_1