Ketika Cinta Istriku Habis

Ketika Cinta Istriku Habis
Alasan di balik kekejaman


__ADS_3

"Ya Tuhan. Bukankah itu peti mati?" suara Yudha tercekat.


"Peti mati itu apa Pa?" tanya Rain polos. Ia memang tak tau kegunaan dari benda di hadapannya.


Yudha yang penasaran tak menanggapi pertanyaan putranya. Ia juga mengabaikan karan bunga serta ucapan bela sungkawa yang terletak tak jauh dari peti itu.


Yudha berusaha membuka buka tutup peti itu, yang menurut Yudha sangat berat, entah kayu apa yang di buat menjadi peti itu, hingga tenaga Yudha tak kuat mengangkatnya sendiri, hingga ia memanggil seorang pekerjanya untuk membatu ia membuka peti itu.


Dan ...


Saat peti itu terbuka secara sempurna. Mata Yudha seakan hendak melompat dari tempatnya. Yudha sangat terkejut menyaksikan seorang wanita yang sudah memberinya gelar sebagai ayah dalam keadaan tak bernyawa dan terbujur kaku dengan riasan seperti seorang mempelai wanita.


Yudha merasa seakan ada seseorang yang memukul telak punggungnya sehingga sesak yang ia rasakan semakin menyumbat seluruh jalan pernafasannya.


Ini mimpi atau khayalan? Atau bagai mana? Meski Yudha membenci Soraya, tapi tak terlintas di benaknya jika Soraya mati begitu cepat. Bahkan kemarin ia dan putra mereka Rain menemui Soraya dalam keadaan baik dan sehat wal afiat, lalu apa yang terjadi?


Yudha masih kesulitan mencerna situasi, sebelum tiba tiba ia di sadarkan oleh teriakan putranya yang memekang telinganya.


"Mamaaaa ..."


Rain segera menjatuhkan diri tepat di samping peti mati ibunya. Bocah delapan tahun itu membuang mawar hitam yang tersampir di antara genggaman Soraya.


"Mama Bangun! Ini Rain." Rain menggoyangkan tobuh mamanya menggunakan kedua tangan mungilnya. Dapat Rain rasakan jika jika bagian tubuh mamanya telah dingin.


"Mamaa ..." Rain meraung, sedikit banyak anak laki laki itu telah mengerti arti kematian. Yang mana dengan ini ia akan menjadi seorang piatu, Rain juga tak bisa berangan dan merindukan mamanya setelah ini. Rindunya akan berakhir sia sia jika seperti ini.


"Apa salah Rain hingga Mama meninggalkan Rain? Apa mama benar benar tak menginginkan Rain?" ratap bocah itu sedih, Yudha juga hanya mematung dengan mulut terkatup, ia belum bisa menghibur Rain, dirinya juga masih terkejut akan paket yang datang kerumahnya tanpa nama pengirim.


"Will. Hubungi Arjuna untuk datang kemari, katakan padanya tolong bawa serta istrinya. Aku benar benar membutuhkan Elis untuk menenangkan Rain." Yudha berujar serak, maniknya bahkan sudah di bingkai dengan kaca kaca.


"Ba-bagai mana jika Tuan Arjuna menolak membawa istrinya." Willy sangat tau jika Arjuna adalah orang yang sangat pecemburu terhadap siapapun yang terlibat dengan istrinya.


"Memohonlah. Katakan padanya jika ada sesuatu yang sangat darurat yang baru saja terjadi." Yudha melutut meraih putranya dalam rengkuhannya.


"Pa. Mama ninggalin Rain Pa. Padahal Rain tidak nakal." Rain terus meraung kembali.


"Arka! Periksa setiap sudut cctv yang terpasang. Pastikan siapa yang mengirim jenazah mantan istriku!" Yudha memerintahkan pekerjanya yang lain, sembari memeluk putranya yang terus menangis. "Dan kau Pram! Mengapa kau bisa tidak mengetahui jika ada seseorang atau beberapa orang yang mengantarkan semua ini." Yudha yakin jika yang melakukan kejutan ini bukan satu atau dua orang setidaknya butuh empat orang untuk mengangkat peti mati yang beratnya tidak main main, di tambah dengan dua karangan bunga serta ucapan bela sungkawa.


"Saya tidak tau pak. Mungkin saya ketiduran." ucap Pram scurity di rumah Yudha.


"Pa, katakan pada tante Elis jika kemarin Mama mengatakan akan menitipkan aku padanya. Apa Mamaku memang tante Elis?" Rain berpikir sangat sederhana dan berharap jika seorang yang ia panggil tante bersedia menerimanya sebagai anak.


"Rain memang membenci Mama. Tapi Rain tak suka jika Mama Mati." Rain terus menangis juga mengamuk. Tangannya yang tak seberapa mencoba membangunkan Soraya dari peti mati yang ia gunakan berbaring.

__ADS_1


Sekuat mungkin Rain menarik kedua tangan Soraya. Berusaha mendudujan ibunya, dan berharap ibunya bersedia membuka matanya. "Bangun Ma, Bangun!"


Kehilangan seorang ibu, merupakan mimpi buruk untuk setiap anak sekalipun ibunya kerap kali menolak kehadiran Rain.


"Rain. Nak sadar! Jangan seperti ini." Yudha melepas tangan putranya dari tangan Soraya. Juga mengguncang pelan bahu putra tunggalnya.


"Papa tak mengerti kehancuranku Pa. Siapa yang akan menemaniku tumbuh? Dan Wanita mana yang bersedia ku panggil Mama? Aku anak yang tak beruntung." Rain mengamuk, dan menghancurkan setiap karangan bunga yang ada di sana. Hingga tubuhnya lunglai tak sadarkan diri di pelukan Papanya.


.


Arjuna baru saja tiba di rumah sewanya, setelah ia mengantarkan kedua putrinya untuk sekolah, karna si bungsu Valery tidak kesekolah di karnakan suhu tubuhnya masih terasa hangat.


"El. Asisten Yudha menghubungiku dan memintaku untuk segera ke rumahnya. Katanya ada sesuatu hal darurat yang baru saja terjadi. Dia menyuruhku untuk membawamu. Tapi aku tak bisa kau tetap tinggallah di rumah, rawatlah Valery." Ujar Arjuna.


"Baik." Elis menurut.


Namun ponsel Elis malah berdering, Yudha lah yang melakukan panggilan.


"Juna, Yudha menelpon."


"Biar aku yang mengangkatnya." Arjuna mengambil alih ponsel yang berdering dari genggaman istrinya. Arjuna menekan tombol pengeras suara.


"El. Tolong, segeralah kerumahku bersama Arjuna." Suara Yudha terdengar panik juga tercekat.


"Aku mohon Arjuna. Biarkan Elis ikut, bawa serta juga putrimu jika tengah sakit." Arjuna mulai curiga, tumben sekali Yudha memohon. Padahal permintaannya tidak terlalu berat.


"Ada apa sebenarnya."


"Soraya Juna, Ada seseorang yang mengirimkan peti mati berisi jenazah Soraya. Rain mengamuk sampai pingsan, aku kesulitan menenangkannya."


"Soraya meninggal?" Arjuna memastikan.


"Ya. Juna, Soraya relah tiada, dan aku tak tau siapa yang menjadi pelaku sekaligus pengirim jasad Soraya."


"Ya tuhan ..."


Ponsel di genggaman Arjuna jatuh begitu saja di atas kursi yang ia duduki.


Arjuna juga terdiam. Wanita yang memiliki balas budi yang baik terhadapnya kini telah tiada. Arjuna masih ingat jika Soraya mewanti wanti dirinya agar lebih siaga menjaga keluarganya. Rupanya wanita itu yang justru pergi lebih dulu.


Elis terdiam. Yang ia bayangkan sekarang adalah perasaan Rain, ia tau bagai mana rasanya kehilangan.


"Juna, apa boleh aku menemui Rain?" Elis memang istri yang patuh selama dirinya tidak di kecewakan.

__ADS_1


Arjunapun tak menolak lagi, bagai manapun Yudha pernah menolongnya di saat ia pergi mengasingkan diri dari ibu angkatnya. Yudha juga pernah menjadi pamannya, ia tak tega jika harus menolak keinginan pria itu. Terlebih Rain memang tengah berduka.


"Ya sudah. Pakaikan Valery jaket, jangan lupa bawa minyak telon." Pada akhirnya Arjuna meluluh dan membawa putri bungsu serta istrinya ke rumah Yudha. Tapi sebelumnya tentu saja Arjuna sudah mempersiapkan orang untuk menjaga kedua putrinya yang lain.


Saat tiba di rumah Yudha, Arjuna dapat melihat beberapa kerabat Yudha. Bahkan beberapa di antaranya kerabat Arjuna juga. Arjuna hanya menyapa alakadarnya, kemudian kakinya melangkah memasuki rumah untuk mencari keberadaan Yudha.


Arjuna menggendong putrinya bungsunya.


"Yudha." sapa Arjuna.


"Juna akhirnya kau datang. Aku kesulitan menenangkan Rain."


"Di mana dia? Biar Elis yang mencoba membujuknya." Sebelum melihat jenazah Soraya, Arjuna lebih dulu mengantarkan istrinya untuk menemui Rain, Valery juga turut serta menemani Elis membujuk Rain.


Rain masih menutup matanya, pengasuh yang sejak tadi menjaga Rain meninggalkan Rain dengan Elis juga Valery. Arjuna dan Yudhapun turut meninggalkan Rain dan Elis.


"Juna lihatlah jenazah Soraya!" Yudha membawa Arjuna menuju peti mati yang ada di ruang utama.


"Tidak terdapat memar sama sekali, atau tanda tanda kekerasan. Kematian Soraya mencurigakan dan tak lazim menurutku." Yudha dan Arjuna mendekat ke arah Soraya yang terbujur kaku.


"Aku turut berduka cita Yudha." ucap Arjuna pelan. "Selamat jalan Soraya. Semoga Tuhanmu mengampuni dosamu dan menempatkanmu di tempat terbaik menurut Tuhanmu" Arjuna menunduk dengan sebait do'a yang ia ucapkan. Meski ia dan Soraya memiliki kepercayaan yang berbeda namun tak ada salahnya ia mendo'akan Soraya sebagai sesama makhluk.


"Arjuna menurutmu hal apa yang menjadi penyebab kematian Soraya?" Suara Yudha tercekat, matanya mengerjap beberapa kali. Kematian Soraya memang di rencanakan cangat baik, wajah mantan istrinya juga di make up, rambut Soraya di susun rapi juga dengan kuku kuku yang sudah di warnai.


"Racun."


"Apa kau tak tau jika suami Soraya yang sekarang seorang mafia juga ahli racun?" papar Arjuna. Ia tak mengira jika Yudha tak tau jika suami Soraya adalah seorang mafia.


"Ahli racun? Siapa sebenarnya suami Soraya Arjuna?"


"Yudhistira."


"Ya Tuhan." Yudha terkesiap, ia bahkan memegagangi dada yang mana letak jantungnya berada.


"Itu artinya Soraya tiada karna di bunuh?"


" Mungkin."


"Beraninya pria itu membuatku putraku menjadi piatu!" tangan Yudha mengepal.


"Pikirkan lagi jika kau ingin balas dendam kepada! Jangan sampai putramu menjadi yatim piatu!" Arjuna memperingati.


"Sedikit banyak aku sudah mempelajari Yudhistira, mengetahui perangainya yang tak mengenal belas kasihan. Pria itu akan berbuat apapun tanpa memikirkan akibatnya. Tapi menurutku Soraya memiliki kesalahan terhadapnya. Karna dia selalu memiliki alasan di balik kekejamannya. Dan caranya memaafkan adalah kematian."

__ADS_1


__ADS_2