Ketika Cinta Istriku Habis

Ketika Cinta Istriku Habis
Penghulu yang malang


__ADS_3

"Rain diam di tempatmu!"


Baik Elis maupun Rain menatap kearah pintu, baru saja Rain hendak melepaskan ikatan di tangan Elis tiba tiba saja Yudha sudah berada di sana lengkap dengan stelan jas berwarna senada dengan pakaian yang di kenakan Elis.


"Aku sudah lama menantikan hal seperti ini." Yudha berucap dengan mata yang di penuhi binar kebahagiaan.


"Pernikahan ini mustahil terjadi, aku masih istri sah dari pria lain." Elis menatap tajam Yudha yang berada di hadapannya.


"Rain pergilah lebih dulu, Papa akan berbicara dengan mamamu lebih dulu." Yudha menggasak rambut putranya yang sudah tertata rapi. Rain menuruti perintah Papanya, dengan binar dmsenang pula.


"Kau tau? Itulah sebabnya aku menikahimu di bawah tangan. Aku akan mengajukan surat gugatan cerai kepada suamimu secepatnya, agar aku bisa menikahimu secara sah menurut hukum negara. Untuk sementara kau harus memiliki dua orang suami, apa kau senang?" Yudha terkekeh renyah dengan wajah yang menawan.


Tapi setampan apapun wajah itu sungguh tak membuat Elis tertatarik secuilpun.


"Cuih." Elis meludak ke samping.


"Kau pria menjijikan yang pernah ku temui!"


"Aku anggap ini sebagai pujian untukku." Yudha malah mengusap lembut rambut Elis, kemudian mengecup bahu Elis yang terbuka.


"Menjauh dariku Sialan! Arjuna akan menghancurkan mulutmu karna sudah lancang menyentuh miliknya." Desis Elis di penuhi rasa kebencian.


"Itu tak akan terjadi, karna sebentar lagi aku juga memeliki hak yang sama dengan Arjuna!" Yudha memainkan rambut Elis, menghirup wangi aroma rambut itu kemudian menggulungnya beberapa helai di jari telunjuknya.


"Kau sinting! Tidak waras dan sangat gila. Aku muak dan benci padamu Yudha!"


"Huuuu akan ku terima limpahan kebencian darimu."


Rlis kehabisan kalimatnya saat memaki pria tak waras itu.


"Aku tengah hamil anak Arjuna Yudha!" ucap Elis penuh penekanan, berharap pria itu melepaskannya. Namun Elis sepertinya salah menduga Yudha malah terkekeh malas.

__ADS_1


"Ya aku tau itu, Arjuna bahkan mengabariku jika istrinya tengah hamil lagi. Dia sangat bahagia karna hal itu. Arjuba benar benar polos." ejek Yudha.


"Suamiku memang pria baik, dia menganggapmu sebagai keluarga, tapi apa yang kau lakukan brengsek! Kau malah menusuknya dari belakang! Arjuna menyayangimu dan putramu sekalipun kalian tidak terlibat hubungan darah, Arjuna peduli dan menyayangimu. Aku kasihan kepada suamiku, rupanya manusia yang kerap kali di doakan kebaikan tega menusukan belati ke tubuhnya."


Yudha bungkam untuk beberapa waktu yang tidak di batasi, ia tau jika Arjuna menganggapnya keluarga, pria itu kerap kali membantunya di berbagai kesempatan. Pria mantan keponakannya memang berhati baik bak malaikat, tak heran banyak wanita begitu memujanya, namun pria itu tetap setia kepada istrinya saja.


Yudha tau dirinya memang serakah ingin memiliki Elis sendiri.


"Aku mencintaimu El, aku mencintaimu!" ungkapnya dengan sungguh sungguh. "Aku bersedia menerima semua anak kalian dan menganggapnya sebagai anak anakku."


"Tapi anak aanakku tak akan mau menerimanya, mereka sudah mrmiliki ayah terbaik, jadi tolong biarkan aku pergi."


"Itu tidak akan terjadi, kita akan menikah. Dan mari kita saksikan apakah Arjunamu akan bertindak, menemukan kita dan menggagalkan pernikahan ini. Atau Arjuna justru masih bertindak bodoh atau memaafkan setiap kesalahan orang lain dengan lapang dada." Yudha mengejek pria yang terlampau baik itu.


"Perlu kau ketahui Yudha, ada beberapa kesalahan yang tidak layak di maafkan! Jika saja aku masih berutung dan masih memiliki kesempatan untuk menjadi istrinya, aku hanya berharap semoga, suamiku kemari dan melenyapkanmu dengan tangannya sendiri, tapi sepertinya kau benar, suamiku sangat pemaaf, untuk itu aku berharap kakakku Yudhistira yang akan melenyapkanmu." Elis menatap nyalang tubuh Yudha yang justru malah menggigit dalam pipinya, sepertinya pria itu tengah menahan tawa yang hendak ia ledakan.


"Ayo turun! Kita akan menikah sekarang, semuanya sudah ku siapkan." Sebelum turun, Yudha menempelkan lakban di bibir merah muda Elis, tanpa membuka ikatan di tanganya Yudha menggandeng tangan Elis untuk turun ke lantauli dasar.


"Hemmm ... Hemmm ..."


.


Asisten Jo, Arjuna juga Yudhistira kini tengah mencari keberadaan Yudha di beberapa rumah milik pria itu, namun di semua rumah yang Arjuna ketahui tidak terdapat pria itu maupun istrinya.


Lalu kemana Yudha membawa istrinya pergi?"


Arjuna tak menyangka sedikitpun Yudha akan melakukan hal gila seperti ini, keadaannya kini benar benar terbaik, seseorang yang ia anggap musuh selama belasan tahun nyatanya justru pria itu yang menolongnya hingga hari ini, sedangkan Yudha, pria yang Arjuna kira adalah keluarganya sejak ia kecil justru malah tega berlaku demikian terhadapnya.


"Kemana kita harus mencari Elis?" Arjuna menggosok wajahnya beberapa kali, ia sangat tertekan dengan apa yang terjadi, ia tak bisa menebak akan senekad ini pria yang ia anggap sebagai keluarga.


Yudhistira mengecek beberapa kelayakan senjata miliknya, ia tentu harus berjaga jaga, seandainya kemungkinan terburuknya mengharuskan dirinya berperang.

__ADS_1


Juga sebuah penemuan barunya racun dalam bentuk seprai juga kumpulan asap.


"Minum penawar ini." Yudhistira menyerahkan pil kecil berwarna kuning kepada Asisten Jo juga adik iparnya, ia juga menenggak obat itu di mulutnya ranpa air.


"Aku tak janji untuk tidak melukai orang lain, tapi dengan aroma wangi dari penemuanku, akan lebih sedikit mwkukai orang lain. Untuk itu kalian harus meminum penawar itu supaya tidak terpengaruh dengan kandungan racunku."


Baik Arjuna maupun Asisten Jo menengfak obat itu, ia tak ingin kehilangan kesadaran saat penyelamatan Elus nanti.


"Seluruh nomor Yudha juga tak bisa di diteksi, pria itu sepertinya memang sudah merencanakan ini sejak lama." Terang Arjuna kembali.


"Kau memiliki nomor ponsel asistennya?" tanya Yudhistira kepada adik iparnya yang terlihat kacau, sudah dari empat jam yang lalu mereka berpindah pindah dari satu rumah ke satu lainnya.


Arjuna menggeleng lesu, ia memang tak memiliki nomor Wili asisten dari Yudha.


"Aku memilikinya Tuan!" Asisten Jo menyerahkan ponselnya di balik kursi kemudi, sudah menjadi pekerjaan. Entah apa yang Yudhistira lakukan sehingga dirinya menyuruh asisten Jo menjalankan mobil yang mereka tumpangi untuk memutar balik dan menyebutkan suatu alamat, di ikuti beberapa mobil di belakannya.


"Arjuna kau hanya perlu membawa Lisa pergi dan menyelamatkan, sisanya biar aku yang bertindak. Kau tak memiliki wewenang untuk melakukan apapun, dan lagi jangan mengajariku untuk menghukum orang lain!" Yudhistira tau jika adik iparnya tak akan berani melakukan hal hal buruk, suami dari adiknya itu terlalu lembut hatinya sebagai seorang pria.


"Aku tak akan melarangmu menghukum, tak tak memperdulikan apapun selain wanitaku."


"Sungguh, jika hal buruk terjadi pada istriku, hal pertama yang harus kau lakukan adalah melenyapkan aku." Arjuna tak main main dengan ucapannya, ia terlalu mencintai Elis.


Adakah pria yang lebih tulus selain pria di sampingnya? Yudhistira membatin.


"Ya, aku akan menghukummu jika terjadi hal buruk pada adikku."


"Sial adik Srikandi sangat nekad."


Yudhistira menggeram saat melihat seorang penghulu keluar dari rumah besar itu, dengan seseorang menodongkan senjata api di pelipis pria berpeci itu.


Ya mereka tak salah lihat, seorang penghulu tengah di todong senjata api. Wajah penghulu itu dan satu temannya sudah babak belur tak berbentuk, dengan darah yangengucur dari berbagai sudut, dengan tampilan yang sangat kacau.

__ADS_1


"Oh, penghulu yang malang." desis Yudhistira.


"Tak mungkin Yudha menikahi istriku kan?"


__ADS_2