Ketika Cinta Istriku Habis

Ketika Cinta Istriku Habis
Cari Aida!


__ADS_3

"Katakan siapa yang berani mempermalukan istriku?" tegas Arjuna membuat semua orang bergetar ketakutan.


Semua orang bungkam, tidak ada yang berani mengangkat wajah mereka masing masing. Percayalah aura wajah Arjuna sekarang terlihat sangat mengerikan dengan tatapan setajam belati.


"Jawab! Siapa yang membuat istriku seperti ini?" Arjuna menaikan satu oktap suara di banding sebelumnya, membuat semua orang begitu terkesiap.


Naina yang tadi terus menggonggong layaknya seekor anj ing kini hanya bisa membungkam mulutnya sendiri. Naina sangat takut dirinya juga berpikir tak akan ada orang lain yang bisa menyelamatkannya dari amarah Arjuna kali ini.


"Sayang katakan siapa yang melakukan ini terhadapmu?" Arjuna memelankan suaranya, saat berkata kepada Elis bentakan tadi berubah menjadi selembut beledu.


"Dia." Elis menunjuk Naina dengan sangat nyata hingga Naina terjengkit dengan tubuh yang langsung mundur ke belakang.


"Apa yang kau lakukan terhadap istriku? Aku bisa saja mematahkan tanganmu yang lancang sudah mengotori tubuh istriku." Rahang Arjuna bahkan mengetat dengan tatapan yang semakin meruncing.


"Sayaa-" Naina tidak dapat mengelak atau membela diri.


"Pak, dia juga mengatai Elis sebagai wanita penggoda juga wanita murahan. Katanya Elis sudah menggoda Pak Juna dan tadi sempat melakukan sesuatu di ruangan pak Juna." Tutur Ita berani, janda tanpa anak itu nenikmati raut ketakutan Naina di hadapannya.


"Ma-maafkan sa-ya Pak. Saya tidak tau jika Elis istri Bapak?" Naina menunduk juga dengan suara yang tercekat, ia sangat takut saat Arjuna menatapnya.


"Lalu jika kau tak tau Elis istriku kau memiliki hak untuk menghina dan mengatainya? Kau pikir siapa dirimu? seenaknya memperlakukan orang lain dengan buruk."


"Maafkan saya Pak. Saya janji tak akan mengulangi hal ini. Saya janji." Naina terlihat memohon.


"Memohonlah kepada istriku. Dan segera kemasi barang barangmu! Angkat kakimu dari kantorku!" Arjuna berujar berang.


Naina menangis ia tak ingin berhenti kerja, jabatan dan gajinya sangat bagus di perusahaan ini, ia tak ingin kembali memulai kariernya dari nol.


"El maafkan aku El, maafkan aku El. Tolong katakan pada pak Juna supaya jangan memecatku." Naina memohon sembari memegangi tangan Elis, berharap Elis akan menolongnya dan membujuk bosnya agar tidak memecat dirinya.


"Tidak usah mempengaruhi istriku!" Arjuna menepis kasar tangan Naina. "Ini perusahaanku. Aku berhak menentukan siapa yang bisa bekerja disini. Karna kau sudah melakukan tidak bullying di tempat kerja, aku rasa pemecatan ini layak untukmu."


"Tapi saya tidak tau jika Elis istri Pak Juna."


"Sekalipun Elis bukan istriku kau tetap tidak layak untuk menghina dan mengatai orang lain. Angkat kaki sekarang juga!" Arjuna berujar tegas.


"Saya harap hal ini tidak terjadi lagi." Arjuna menuntun Elis untuk pergi dari kerumunan.


Naina tak berkutik. Ia tak dapat melakukan apapun selain menangis, memohonpun percuma, Arjuna terlihat sudah bulat dengan keputusannya dari pada Naina mempermalukan dirinya sendiri lebih baik ia diam dan meratapi nasibnya. salah Naina sendiri karna terlalu gegabah dalam memperlakukan orang lain.

__ADS_1


.


"Ingin rasanya aku mematahkan tangan wanita itu karna sudah menodai rambut indahmu." Arjuna membawa Elis untuk kembali ke ruangannya untuk membersihkan dirinya.


"Aku akan memberikan setiap orang yang berani mengusikmu sangsi besok pagi." ucap Arjuna. Ia akan mengurus semuanya, ada Ita yang akan bersaksi siapa saja yang sudah merundung istrinya.


Mama Sri menghubungi Asisten Arjuna, ia ingin bertemu dengan putranya, untuk merundingkan cara agar Aida bisa segera di temukan. Mama Sri sudah membayar banyak orang hanya agar Aida dapat segera di temukan. Namun seberapa banyak dan seberapa mahal Srikandi membayar orang nyatanya keberadaan Aida belum di ketahui hingga kini.


Setelah mengatur pertemuan akhirnya Srikandi dapat bertemu dengan putranya.


Di sebuah restoran private Srikandi dan Arjuna bertemu, tentu saja tanpa sepengetahuan Elis. Istri Arjuna itu terang terangan mengatakan serta melarang suaminya untuk turut ikut campur mengenai masah Srikandi maupun Aida. Bahkan Elis mengancam jika Arjuna turut membantu Aida ia akan membebaskan Arjuna dan tak mau lagi terlibat mengenai Arjuna lagi.


Arjuna merasa was was takutnya Elis mengetahui pertemuannya dengan ibunya, bisa marah besar Elis jika tau secara diam diam Arjuna menemui ibunya.


"Arjuna Mama mohon kerahkan orang-orangmu untuk mencari keberadaan Aida." Mama Sri menggunakan air matanya sebagai senjata, yang sudah sudah Arjuna selalu luluh dengan air matanya.


Mama Sri menceritakan apa yang terjadi di rumahnya, juga dengan paket kiriman yang berisi sebuah potongan tangan yang Mama Sri yakini sebagai tangan Aida karna di cincin yang berada di jari manis Aida berukirkan nama Arjuna dan Aida.


"Ma. Sudah Juna katakan pada Mama untuk menyerahkan apa yang Yudhistira inginkan. Bukankah Juna sudah bilang jika dia adalah pria yang nekad, dia tidak memiliki belas kasih sama sekali." Arjuna sudah mengetahui sifat Yudhistira dari Soraya temannya.


"Mama tak rela harta peninggalan Papamu di miliki anak haram itu. Ini semua karna dirimu juga Arjuna, seandainya saja kau memiliki seorang putra baik Yudha mau pun Yudhistira tidak akan mengungkit harta harta itu."


Ternyata hanya air mata saja tak cukup untuk membuat Arjuna tergerak dan merasa kasihan kepada ibunya, Mama Sri segera mencari ide untuk menarik simpati Arjuna agar mau menolongnya.


Dengan segera Mama Sri bersimpuh, serta berlutut memegangi sebelah kaki Arjuna yang siap melesat pergi dari jadapan Mama Sri.


"Mama mohon tolong Mama, Mama tak ingin kehilangan Aida juga harta. Keduanya amat berharga untuk Mama." Mama Sri menghiba dengan bercucuran air matanya.


"Mama harus berkorban salah satunya. Mama tidak bisa serakah." Arjuna berjongkok mengurai pelukan ibunya di salah satu kakinya. Ia tak tega melihat ibunya yang menangis seperti itu.


Merasa Arjuna hendak menolak keinginannya, Mama Sri menggunakan jasanya di masa lalu. Mengungkit apa yang sudah ia lakukan untuk Arjuna hanya untuk mengundang empati Arjuna semata.


"Kau yang harus berkorban Arjuna. Jangan karna perjanjian konyolmu dengan si Eles kau mengabaikanku yang sudah memberikan hidup baik untukmu. Jika saja tanpa aku kau bisa saja mati di rumah sakit, atau mati kelaparan. Jika saja bukan aku yang mengurus dan membesarkanmu kau tak mungkin berada di posisimu. Ingat ini Arjuna, kau berhutang terlalu banyak untukku, sekalipun kau berkorban nyawa kau tak bisa melunasi hutang budimu." Mama Sri menekan mental Arjuna, mengungkit balas budinya dengan brutal.


Arjuna menatap nanar wajah kuyu Mamanya yang di penuhi air matanya.


"Begitukah? Mama mengungkit apa yang sudah Mama lakukan kepadaku?" suara Arjuna bergetar menahan sesak di relung hatinya yang lain.


"Mau berhitung denganku. Akumulasikan semuanya dan aku menunggu hitungannya, aku akan membayar semua jasa mama. Bukankah Mama sangat menggilai uang?" Serak Arjuna.

__ADS_1


Mama Sri bergeming, ia ingin Arjuna membantunya kali ini, ia tak ingin Aida mati dengan sia sia di tangan Yudhistira.


"Bukan begitu. Tapi jika kau ingin berbalas budi selamatkan Aida, dan bawa putriku dalam ke adaan baik. Setelah itu aku tak akan mengungkit apapun lagi darimu." ujar Mama Sri, ia juga sangsi dengan ucapannya sendiri, terus terang ia amat membutuhkan Arjuna di hidupnya, baik sebagai perisai maupun sebagai pelindungnya.


"Baiklah. Tapi aku memiliki syarat, jangan sampai Elis mengetahui hal ini. Aku tak ingin mengecewakan Elis lagi. Tutup rapat mulut Mama, dan menjauh dari keluargaku seandainya aku mampu menyelamatkan Aida." Arjuna melenggangkan kakinya untuk meninggalkan tempat itu, ia tak ingin Elis curiga karna dirinya pergi terlalu lama.


Arjuna hendak menghubungi Soraya, namun ia mengurungkan niatnya karena takut jika Soraya akan mendapatkan masalah karna kecerobohannya. Yudhistira adalah orang yang nekad, pria itu bisa saja menghabisi kapanpun nyawa temannya seandainya Soraya terlibat, Akhirnya Arjuna menghubungi Yudha juga Asisten Jo. Ia mengatur siasat dan orang orangnya untuk menyelamatkan Aida setelah mengetahui keberadaan Aida dari orang suruhannya.


Bahkan malam ini Arjuna berbohong pada Elis jika akan keluar kota untuk mengerjakan sesuatu. Arjuna sudah bertekad jika ini adalah kali terakhir, ia membohongi Elis, dan berharap jika kebohongannya tak akan terendus oleh Elis sampai kapanpun.


Sayang sekali Yudha tak ingin membantunya kali ini. Pria itu masih kesal prihal Arjuna yang melarang Elis untuk menemui Rain putranya. Sial hubungan Elis dan Arjuna terlihatmembaik dan itu membuat Yudha sedikit geram.


.


Aida mengerjapkan matanya beberapa kali setelah lebih dari sehari semalam ia tak sadarkan kini di hari ini Aida sudah membuka matanya dengan sempurna.


Bias cahaya lampu membuat matanya silau, tangannya terasa sakit dan saat Aida mengangkat tangan ia baru ingat jika dirinya sudah kehilangan sebagian anggota tubuhnya yang lain.


"Aaaaa ..."


Jeritan itu terdengar nyaring di ruangan yang di penuhi dengan berbagai barang bekas.


"Tanganku. Dimana tanganku." Aida menangis terisak meratapi nasibnya yang malang.


"Ini semua gara gara Elis. Seandainya wanita itu mati, Arjuna pasti menjagaku. Arjuna pasti maksimal dalam melindungiku. Bukan malah seperti ini. Arjuna tak memperdulikanku." Elis terus menangis sembari menatap tangannya yang sudah di balut kain kasa.


"Aku harus memberitahu keberadaan Elis dan ketiga putrinya kepada Yudhistira. Dia harus menghancurkan Elis juga, jika perlu Yudhistira harus memotong leher wanita itu." tekad kuat Aida.


Tubuh Aida terasa lemas, juga dengan pandangan yang berkunang, kemarin ia kehilangan banyak darah juga tidak mendapatkan asupan nutrisi sehingga tubuhnya terasa sangat lemah. Lampu remang remang di tempatnya berada membuatnya semakin kesulitan mempertahankan kesadarannya.


Duar ...


Duar ...


Terdengar beberapa kali letusan senjata api dari luar tempat Aida berada. Wanita itu masih bisa mendengar beberapa orang mendekat ke arahnya.


"Cari Aida!" Aida mengenali suara itu.


"Arjuna." gunamnya.

__ADS_1


__ADS_2