Ketika Cinta Istriku Habis

Ketika Cinta Istriku Habis
Aku perlu waktu


__ADS_3

"Demi nama Tuhan aku tak di bayar siapapun untuk mengakui dosa-dosaku. Ini mutlak kesadaranku." ujar dokter Arief tegas.


Bila di telaah lebih dalam, dokter Arief tak mungkin berbohong. Wajah pria itu babak belur, juga mata pria itu mengisyaratkan penyesalan yang nyata. Tapi ada apa dengan hati Elis? Mengapa ia begitu keras kepala menampik semua alasan yang di bawa Arjuna terhadapnya.


"Heh, aku masih belum lupa beberapa saat lalu kau mengatakan sudah menjual sumpahmu terhadap sejumlah uang dan sebuah nafsu. Latas sumpah mana yang harus ku percayai?" sinis Elis.


"Aku bahkan sangat kasihan terhadap istrimu. Dia menganggapmu sangat setia, nyatanya topengmu yang menampilkan seperti itu Dokter Arief. Seandainya bisa aku ingin mencabik cabik dirimu." Elis beranjak. Entah hal apa yang harus ia percayai, sekalipun apa yang di katakan dokter Arief benar adanya, nyatanya luka itu tak berkurang, sakitnya masih berasa hingga kini.


Pengakuan dokter Arief juga tidak mengubah setatus antara Arjuna dan Aida, mereka sudah pernah menikah resmi menurut hukum dan agama. Entahlah apa yang sebenarnya Elis rasa saat ini.


Langkah kaki Elis semakin menjaug dari keberadaan Arjuna dan dokter Arief. Harusnya langkahnya ringan bukan setelah mendengar pengakuan dokter Arief tapi mengapa dada Elis masih terhimpit oleh kesakitan. Bulir bulir air mata kini mulai menggenang di pipinya, apa yang sebenarnya yang Elis cari, bukti juga sudah Arjuna serahkan.


Dari arah belakang Elis merasa telapak tangannya di genggam seseorang. "Aku mengerti El. Kesakitan yang ku ciptakan untukmu sudah mendarah daging hingga, bukti ini saja tak cukup untuk mengeringkan lukamu. Akan ku biarkan lukamu sembuh seiring berjalannya waktu. Tapi tolong biarkan aku berada di dekatmu, untuk memastikan luka itu benar benar sembuh. Jika pada akhirnya kau tak ingin bersamaku, aku bisa apa? Aku tak akan memaksamu lagi." Arjuna berjalan di samping Elis, sudut bibirnya tersenyum penuh kegetiran.


Elis hanya diam. Ia membiarkan Arjuna menggenggam telapak tangannya yang terasa dingin. "Maafkan diriku juga karna aku kerap kali mengabaikanmu, dan lebih menuruti apa kata ibuku." Arjuna berkata bersungguh sungguh. "Tapi jika kau memberiku kesempatan, sungguh aku tak akan membiarkan siapapun menyetir diriku sekalipun ibuku." Ujar Arjuna bersungguh sungguh.


Asisten Jo menyambut Tuannya dan menyerahkan kunci mobil milik Arjuna. "Ini, Tuan. Saya rasa kalian perlu waktu bersama. Saya akan pulang naik taksi." Pengertian sekali asisten Jo.


Pria itu meninggalkan tuan dan nyonyanya. Bukan hanya bosnya saja yang tengah kacau menghadapi rumah tangga. Dirinya pun begitu. Bahkan permasalahannya lebih pelik di bandingkan tuannya.


Arjuna membukakan pintu mobil untuk istrinya dan mempersilahkan Elis untuk masuk. Entah apa yang di pikirkan oleh Elis sehingga wanita itu diam saja.


"Junaa ..." Panghil Elis pelan.


"Ada apa?" Arjuna memelankan laju mobilnya.


"Aku tak tau penyebab luka hatiku yang sebenarnya karna apa. Yang aku ketahui di dalam sini aku merasakan kesakitan." Elis menunjuk dadanya sendiri. "Aku tak ingin berpura pura memaafkanmu dan kembali bersamamu, tapi di dalam sini masih terdapat luka dan rasa benci terhadapmu. Aku masih merasakan sakit saat mengingat apa yang kau lakukan terlebih saat kau memperlakukanku dengan sangat aneh, kau menyembunyikanku dari publik seakan aku, seakan aku adalah aib untukmu." Elis mengungkapkan beberapa hal yang tidak ia sukai.


Arjuna menepikan mobilnya, ia ingin mengurai beberapa kesalah pahaman yang terjadi di antara pernikahan mereka.


"Aku melakukan itu semua demi kebaikanmu dan anak anak El. Andai saja kau tau, di luar sana begitu banyak sainganku yang ingin mencelakai aku dan menghancurkan aku. Hidupku tidak sesederhana yang kau lihat. Banyak di antara sainganku yang menggunakan cara licik untuk menggapai ambisi mereka. Aku menyembunyikanmu dan anak anak hanya agar kalian aman El. Kau ingat saat di malam aku meninggalkanmu untuk kerumah sakit atas suruhan Mama, Aida masuk rumah sakit karna di serang seseorang El. Mereka mengancamku dengan cara menyiksa Aida. Karna yang mereka ketahui Aida adalah istriku. Seandainya saja keberadaanmu dan anak anak tidak ku tutupi, mungkin saja kalian yang akan mendapatkan bahaya. Itu lah alasanku selalu menutupi setatusmu dari publik. Setidaknya hingga orang itu tergangkap." Papar Arjuna.

__ADS_1


Elis diam maniknya mencari kebenaran di raut wajah Arjuna.


Arjuna menyunggingkan senyum getir, wajahnya kembali berpaling dengan menjalankan mobilnya kembali.


"Kau tak perlu mempercayai ucapanku El, kelak kau akan mengerti, begitu berarti dirumu dan anak anak di hati ini." Arjuna tak ingin memaksakan lagi kehendak Elis, ia juga lelah menjelaskan apa yang terjadi jika Elis tak pernah menatap ke arahnya lagi.


Ponsel Elis berdering, Elis mengira jika yang menghubungi dirinya adalah pengasuh dari putrinya, sehinggga Elis buru buru meraih ponselnya dari dalam tas miliknya, namun saat Elis meraih ponsel itu, Arjuna merebut ponselnya dengan sekali tarikan. Nama Yudha terpampang nyata di layar ponsel istrinya.


"Kau menyimpan nomornya El.?" tanya Arjuna tak percaya, maniknya terlihat menyipit untuk memastikan kebenarannya.


"Dia menyimpan sendiri nomornya di ponselku." Aku Elis jujur.


"Tidak usah mengangkatnya! Matikan saja Arjuna. Tidak penting juga dia menelponku." Elis menyauti Arjuna yang menatapnya.


Larangan adalah perintah bukan?


Jadi Arjuna memutuskan utuk mengangkatnya.


"Jangan menyuruh istriku sembarangan Yudha. Istriku memiliki kewajiban lain selain mengurus putramu! Lagi pula Elis memiliki keluarganya sendiri untuk di urus. Hubungi ibu putramu jangan melulu mengandalkan istriku." Arjuna menutup panggilan di ponsel istrinya. Bahkan beberapa umpatan keluar dari mulut Arjuna. Hal yang jarang sekali Elis dengar.


"Kau memarahi dan mengumpat Om mu sendiri?" Elis bertanya hati hati melihat kemarahan di raut wajah Arjuna.


"Dia bukan Omku. Darah kami berbeda." Jawab pelan Arjuna.


"Maksudmu?"


"Aku hanya anak pungut Mama Sri. Aku bukan keturunan keluarga Barata."


"Apaaa?" Elis bahkan terpekik kaget saat mendengar pernyataan Arjuna.


"Hem, begitu malang bukan nasibku ini? Aku menyayangi ibuku dengan tulus El, tak sedikitpun aku meragukannya, apapun ku lakukan untuk membanggakan dan membahagiakannya. Bahkan saat aku pergipun aku menjaganya dengan caraku sendiri. Kau tau bukan aku menyayanginya dengan amat sangat tapi beberapa waktu ku ketahui jika diriku bukan putranya." Arjuna mengerjapkan matanya berkali kali, mencegah agar cairan bening di kelopak matanya tidak pecah.

__ADS_1


"Kau terkejut? Sama aku juga El. Tapi mau bagai mana lagi. Aku tak dapat merubah takdhir." Arjuna tertawa namun sudut matanya basah. Sulit untuknya menyembunyikan luka hatinya.


"Bukan hanya dirimu saja yang anak adopsi! Aku juga El."


"Arjunaaa ..." Elis menatap iba ayah dari anak anaknya.


"Jangan menatapku seperti itu El. Jangan mengasihani aku."


"Maaf." cicit Elis.


Bolehkah Arjuna bersorak saat ini. Elis mengatakan Maaf, apa itu artinya Elis mulai tersentuh akan kisahnya?


Ponsel Elis kembali berdering membuat Arjuna geram kembali, panggilan dari orang yang sama.


Arjuna bahkan mematikan ponsel milik Elis. Dan tanpa di duga, Yudha justru malah menghubunginya.


"Arjuna tolong aku! Putraku hilang Arjuna." terdengar suara panik dari sebrang sana. Yudha kehilangan jejak putranya.


"Serchlok." ujar Arjuna. Sekesal kesalnya ia terhadap Yudha, tapi ia tak bisa mengabaikan begitu saja jika Yudha membutuhkan bantuannya.


"Aku akan mengantarkanmu pulang El. Kasian anak anak. Aku akan membantu Yudha mencari keberadaan putranya."


"Mengenai dokter Arief, dan Aida aku akan membawa hal itu ke jalur hukum. Kau tenang saja, aku akan memberikan hukuman untuk mereka, lalu setelahnya kau boleh menghukumku." ungkap Arjuna bersungguh sungguh.


"Asalkan kau tak melarikan diri lagi."


Elis diam. Ia tak bisa menjawab apapun untuk sekarang ini. Elis perlu waktu untuk berpikir.


"Aku perlu waktu. Untuk memutuskan semuanya." ujar Elis.


"Tentu saja. Kau boleh mengambil banyak waktu yang kau inginkan. Aku akan menunggumu. Asal jangan menyesal jika suami tampanmu di culik para gadis liar di luar sana."

__ADS_1


__ADS_2