
"Aaaaaa ..."
"Tidaaak ..."
Mama Sri berteriak histeris saat mendapati sebuah paket kiriman dari seseorang. Indahnya kemasan yang menjadi bungkus sebuah kotak dengan pita berwarna merah muda tak menjadi jaminan akan isinya yang terlihat sangat mengerikan.
"Ini tidak mungkin!"
Pluk ...
Mama Sri menjatuhkan kado berisi kelima jemari seseorang dengan satu buah cincin di jari manis tangan itu.
"Siapa yang mengirimkan paket ini?" Mama Sri dengan panik mencati petunjuk, baik berupa nama seseorang atau alamat orang yang mengirimkan paket itu terhadapnya, namun Mama Sri tidak mendapatkan apapun di antara paket itu selain selembar tulisan tangan berupa beberapa ancaman.
Di kertas itu tertulis jika potongan yang ada di atas lantai merupakan tangan Aida. "Tidak mungkin." Mama Sri menggeleng, kemudian ia meneliti tangan itu dengan seksama, sampai ia bisa menyimpulkan jika memang tangan itu benar-benar tangan putrinya.
"Aidaaa ..." raung Mama Sri dengan penuh penyesalan. Karna keteguhannya mempertahankan harta putrinya harus kehilangan sebelah tangannya.
Tidak hanya itu, Tuan dari pengirim pakdt tersebut menginginkan jika dirinya untuk segera menyiapkan surat pengalihan perusahaan milik mendiang suaminya atas nama Yudhistira.
"Sia sia suamiku memberi namamu Yudhistira yang memiliki welas asih dan penuh kejujuran. Namamu yang memiliki arti baik berbanding terbalik dengan kekejamanmu yang menyerupai iblis." Mama Srikandi menggeram marah.
Hal yang paling pertama yang harus ia lakukan adalah menemui Arjuna. Ya hanya putranya itu yang bisa membantunya, Srikandi masih kukuh untuk mempertahankan harta dan perusahaan milik suami, ia juga memiliki hak untuk mempertahankan harta itu.
Dengan tangis yang masih tersisa Mama Sri segera beranjak untuk menemui Arjuna di tempat putranya itu.
.
Baik Arjuna maupun Elis sudah kembali bekerja.
Ita segera menarik tangan temannya saat melihat kedatang Elis, banyak hal yang ingin ia tanyakan kepada wanita itu.
"El. Ya ampun kau berangkat sendiri? Jika aku jadi dirimu aku akan memperkenalkan diri sebagai nyonya Arjuna. Aku ingin membungkam mulut orang-orang yang selama ini meremehkanmu. Terutama si Riska itu." Ita berujar kesal juga dengan tangan yang terkepal rapat.
"Ta, rahasiahkan pernikahanku dengan Arjuna, aku ingin memberi pelajaran kepada para mereka yang selama ini selalu memperlakukan buruk diriku. Aku ingin tau bagaimana reaksi mereka seandainya mereka tau jika wanira yang kerap kali mereka hina adalah seorang istri dari bos mereka sendiri." Entah sejak kapan Elis menjadi pedendam seperti ini? Tapi ia ingin memberi sedikit pelajaran kepada para karyawan yang selalu memperlakukannya dengan buruk, sepertinya syok terapi akan membuat mereka sedikit panik.
"Sebentar lagikan ulang tahun perusahaan. Pasti mereka akan terkejut jika tau siapa aku sebenarnya." ujar Elis mantap.
"Wah ku dukung El. Jika perlu rayu suamimu supaya memecat mereka." Ita semakin mengompori temannya.
__ADS_1
"El. Keruanganku sekarang!" Arjuna sudah berada di belakang keduanya entah sejak kapan. Ita dan Elis sampai terlonjak kaget di buatnya, di susul oleh asisten Jo yang berjalan di belakang Arjuna.
"El. Asisten Pak Juna boleh juga, boleh minta nomor ponselnya?" Ita dengan percaya diri meminta nomor ponsel asisten Jo.
"Sayang sekali Ta, asisten Jo sudah berkeluarga. Kau kurang beruntung." Elis tertawa renyah, cukup puas menertawakan temannya yang mata keranjang.
"Gagal maning Son." Ita turut tertawa, meskipun Ita Janda tapi ia tak pernah berniat merusak rumah tangga wanita lain. Pengalaman hidup tentang di larang menyakiti sesama wanita juga di larang mengambil hak orang lain selalu Ita terapkan dalam kesehariannya. Termasuk saat tau Arjuna adalah suami dari Elis, ia langsung mengubur kekagumannya terhadap bosnya sendiri.
"Baguslah jika kau sadar diri." Elis menepuk bahu temannya sebelum berlalu untuk memenuhi panggilan suaminya.
"Asisten Jo apa Pak Arjuna di ruangannya?" ucap Elis, ia sedikit berbasa basi dengan asiten dari suaminya.
"Ya, Nyonya. Tuan menyuruh anda untuk langsung masuk saja." Asisten Jo akan menanggil Elis dengan sebutan nyonya saat tak mendapati orang lain di sekitarnya.
Elis membuka pintu. Arjuna tengah duduk di atas kursi kerjanya, masih terlihat tampan seperti belasan tahun lalu. Pesona Arjuna terlalu kuat sampai sampai Elis tak sanggup menolak pria itu mekipun sempat menorehkan luka di hatinya.
"Kemari." Arjuna menepuk kedua pahanya. Meminta Elis untuk duduk di pangkuannya.
"Ada apa?"
"Aku ingin mengobatimu."
"Lalu di sini? Apa masih sakit?" Arjuna menyentuh dada sebelah kiri Elis.
Elis menggeleng pelan, "Bukankah kau bilang kau sendiri yang akan menyembuhkannya?"
Satu ciuman lembut Arjuna benamkan di antara belahan bibir Elis, wanita itu mulai bereaksi, bukan merespon atau membalas melainkan tubuhnya bergetar dengan rasa mual yang timbul begitu saja.
"Ingat El. Aku tak pernah menyentuh wanita manapun! Lawan El, setiap pikiran dan prasangka di otakmu tolaklah, tepis jauh-jauh jauh. Yakinlah hanya kau wanita satu satunya yang pernah ku sentuh, baik bibir maupun tubuhku yang lain hanya pernah merasai kau saja bukan orang lain. Atau wanita manapun." Arjuna menegaskan, mencoba mensugesti Elis supaya reaksi tubuhnya tidak berlebihan terhadapnya.
"Ya-iya aku mengerti!" Elis mengangguk mantap.
Secara pelan-pelan Elis memajukan wajahnya dan mengecup sekilas bibir Arjuna. Namun tangan pria itu dengan cekatan menahan tengkuk wanitanyanya untuk memperdalam ciuman.
Elis membalas perlakuan Arjuna, lidahnya juga kini mulai bermain, Arjuna menyunggingkan senyuman saat Elis menyambut baik sentuhannya dengan era ngan kecil yang lolos begitu saja dari mulutnya.
"El. Aku ingin, kita main sebentar ya, sekalian mencoba terapi yang dokter sarankan." bisik Arjuna serak, hasratnya sudah di ubun ubun.
"Ini kantor. Bagaimana jika ada yang masuk?"
__ADS_1
Klik ...
Secara otomatis Arjuna menutup tirai yang terdapat di ruangannya, juga otomatis Arjuna mengunci pintu dengan menggunakan remot kontrol yang ia letakan kembali di atas meja. Sebenarnya tersedia ruangan istirahat yang di lengkapi dengan ranjang, tapi Arjuna tak ingin menyia nyiakan waktu dengan berjalan ke arah ruang itu. Disanapun ada sofa besar pasti nyaman saat di pergunakan untuk bercinta.
"Jangan menolak ya. Aku benar benar sangat ingin." bujuk Arjuna.
Elis hanya mampu mengangguk mengiyakan, meskipun ragu dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia takut bagai mana jika rasa jijik itu muncul kembali.
"Katakan jika kau tak nyaman dengan posisinya. Atau jika ku merasa mual atau gemetar." Arjuna berujar sangat lembut, berharap Elis tidak menunjukan gejala traumanya.
"Rileks." bisiknya lagi.
Beberapa kali mereka gagal melalui hal ini, karna Elis keburu mual, dan Arjuna dengan berat hati harus mengakhiri permainannya, dan melanjutkannya bersolo karuer di kamar mandi jika memam hasratnya tak terbedung lagi.
Arjuna membawa Elis ke sebuah kursi sofa, dengan lembut dan penuh ke hati hatian Arjuna menyentuh dan memasuki tubuh istrinya, berkali kali pula Arjuna menanyakan tentang kenyamanan Elis yang berada di bawah kuasanya.
Kurang dari satu jam Arjuna hendak mengakhiri permainannya. Ia sengaja bermain cepat agar lebih efisien waktu kerjanya.
"Elis ..." Arjuna menggeram berbarengan dengan pelepasannya yang sempurna untuk kali ini.
Elis hanya bergeming dengan mata mengerjap beberapa kali. Merasakan dahsyatnya semburan yang di lakukan suaminya.
Pakaian keduanya sudah terongok di lantai, Arjuna langsung melepaskan diri dan memungiti pakaian mereka, kemudian meletakannya di atas meja ajar tidak kotor.
Arjuna meneliyi reaksi Elis, apa ini tanda yang baik? Elis tidak muntah lagi. Apa Elis sudah sembuh dari traumanya.
"Kau mual? Atau merasa jijik terhadapku?"
Elis menggeleng.
Arjuna membopong tubuh istrinya dan membawa tubuh Elis ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Elis tak mengalami mual setelah percintaannya dengan Arjuna. Namun di saat lelehan putih itu mulai keluar dari celah inti miliknya sepintas pemikiran muncul, Apa benar Arjuna mengeluarkan benihnya hanya pada miliknya saja.
Menyadari situasi. Arjuna segera menepis pemikiran Elis.
"Aku bersumpah hanya dirimu yang mendapatkan benihku." Arjuna mengecup kening Elis dengan sangat lembut.
Elispun mengangguk kembali.
__ADS_1