
Pagi hari di rumah Arjuna terasa begitu heboh, ketiga putrinya saling bercanda gurau penuh tawa sembari menonton siaran kartun di televisi lebar yang terletak di ruang keluarga.
Yudhistira baru saja keluar dari kamarnya, meski begitu ia sudah mandi dan berpakaian rapih, karna memang asistennya sudah mengantarkan beberapa barang yang ia butuhkan.
Mata Yudhistira berbinar senang saat menyaksikan ketiga keponakannya ceria, ia juga menginginkan hal yang serupa dengan apa yang di miliki Arjuna, seorang istri cantik yang tulus serta beberapa anak yang akan mewarnai setiap harinya.
Namun fokus Yudhistira yang tengah menatap ketiga keponakannya teralihkan oleh Arjuna yang berlari panik bahkan dirinya masih mengenakan handuk kecil yang tersampir di pundaknya, sepertinya Arjuna baru selesai mandi dan masih mengeringkan rambutnya. Arjuna terlihat masih mengangkat telepon di telinganya.
"El ... El ..." Arjuna memanggil istrinya dengan suara panik, hingga Elis yang tengah menyiapkan sarapan kini mendatangi suaminya yang masih menggenggam ponselnya.
"Ikut denganku." Arjuna menarik tangan Elis dengan terburu buru, tapi sesaat kedian ia memelankan langkahnya dan berbalik. "Maaf aku panik, kau jalan sendiri saja hati hati, ada bayi kita dalam perutmu." Arjuna berujar seraya melepaskan genggaman tangannya dari tangan Elis.
"Sebenarnya ada apa?" Yudhistira mendekat dengan kening berkerut dalam, ia amat penasaran dengan apa yang terjadi. Biasanya Arjuna akan lebih tenang menyikapi sesuatu tapi kali ini Yudhistora melihat keoanikan di raut tampan itu, Yudhistira mulai menebak hal apa yang dapat mempengaruhi mood Arjuna selain adiknya.
Arjuna tak langsung menjawab pertanyaan kakak iparnya, matanya yang setajam belati kini terasa menusuk tubuh Yudhistira, pandangan Arjuna terasa mengintrogasinya.
"Apa yang kau lakukan semalam?" sarkasnya, jelas sekaligus raut curiga juga raut duka di manik Arjuna.
"Tidur."
Aejuna tak lantas menyangkal pengakuan kakak iparnya, ia terus meneliti tubuh Arjuna dengan seksama kemudian tangannya meraih salah kunci mobil yang terletak di atas meja.
"Aku titip putri putriku." Arjuna kembali meraih tangan Elis, kali ini Arjuna berjalan lebih pelan.
__ADS_1
Asisten Jo cuti, sehingga ia memutuskan untuk menggunakan supir untik mengemudikan mobilnya, ia rak mungkin menyetir dalam keadaan kacau seperti ini. Ya bagai mana Arjuna tidak kacau saat ia mendapati panggilan dari seorang petugas apartemen, yang mana seseorang itu mengabarkan jika nama serta identisas ibunya di temukan di tas seseorang yang menjadi penghuni unit apartemen mereka, yang mana wanita itu tewas secara mengenaskan lengkap dengan jerat tali serta sebelah kaki tertekuk.
Pihak apartemen sudah membawa jasad wanita yang di duga ibunya kesebuah rumah sakit terdekat, sehingga Arjuna memerintahkan supirnya untuk mengemudikan mobilnya ke alamat rumah sakit yang ia terima.
Elis tak yang duduk di sebelah Arjuna tak berani mengeluarkan suaranya, ia melihat Arjuna kehilangan separuh kesadarannya, pria itu hanya diam saja dengan tanpa mengatakan sepatah katapun.
Sepanjang perjalanan Arjuna merenung, meraba diri apa yang ia lakukan semalam kepada ibunya. Ia tak tau jika hal itu akan menjadi hal terakhir sevelum ibunya meninggalkan ia juga dunia, bagai mana bisa Arjuna terlihat baik baik saja jika seseorang yang ia sayangi sudah tiada, terlepas dari setiap kesalahan Srikandi terhadapnya Arjuna benar benar tulis menyayangi bu angkatnya itu.
Sebulir air mata berhasil lolos dari kelopak mata Arjuna,berbarengan dengan matanya yang berkedip, tenggorokannya tercekat saat mengingat kenangan masa kecilnya. Ya yang Arjuna kenang hanya kenangan masa kecilnya, ia melupakan tingkah ibu angkatnya yang memperlakukan Arjuna layaknya budah di saat umurnya beranjak belasan.
Sungguh Arjuna hanya ingin mengenang kenangan manis saja bersama ibunya, sedangkan kekejaman ibunya Arjuna skip dengan cepat. Ia masih mengingat cara ibunya mengobati lukanya saat ia terjatuh, ia juga mengingat kapan terakhir kali dirinya memakan makanan dari suapan tangan ibunya. "Maafkan Juna Ma." lirihnya dalam hati.
Seburuk buruknya Srikandi, dialah ibu yang Arjuna miliki, ia bersumpah jika dirinya menyayangi wanita itu segenap jiwa dan raganya, Srikandi juga menggendongnya sewaktu kecil menggunakan tangan wanita itu, maka ia sendiri yang akan mengantar ibunya hingga ke peristirahatan terakhirnya. Srikandi mungkin pernah memandikannya meski ia tak ingat, maka Arjuna juga akan memandikan dan mengurus ibunya dengan layak.
Nyatanya bakti terakhir yang pernah ia ucapkan dahulu tak pernah Arjuna tepati, ia akan berbakti selama hidupnya melalui doa doa yang akan ia panjatkan setiap waktu kepada ibunya.
Arjuna tau ini adalah takdhir hidup ibunya, namun ia butuh waktu untuk menyesuaikan diri demi wanita yang sudah membesarkannya.
"Arjuna." Panggil Elis pelan, tangannya yang lentik menggenggam jemari Arjuna yang besar nan panjang.
Arjuna menoleh kearah Elis dengan Air mata yang berderai, Elis yang tak mengerti semakin di buat keheranan akan Arjuna yang tiba tiba terisak pelan.
"Ada apa?" tanya Elus lembut.
__ADS_1
Arjuna justu merangsek menyembunyikan wajahnya yang kuyu di pangkuan istrinya.
"Mama El, Mama-" Arjuna kesulitan meneruskan kalimatnya, mulutnya sibuk merintih dengan kesakitan kesakitan hatinya. Siapa yang tak pilu saat di tinggalkan seorang ibu?
Elis membiarkan Arjuna menumpahkan segala bentuk kesedihannya, ia biarkan pria dewasa itu meraung layajnya seorang anak kecil, Rjuna vahkan menangis melebihi tangisan Rain yang di tinggal ibunya beberapa waktu lalu.
"Mama sudah tiada El. Aku anak durhaka, surgaku sudah benar benar hilang." Arjuna mengadu, juga mengakui segenggam dosanya.
"Ya Tuhan." Elis tercekat ia juga terjesiap akan kabar kepergian mertuanya yang mendadak, padahal baru semalam ia terlibat pertikaian dengan mertuanya. Seandainya ia tau semalam adalah kesempatan ibu mertuanya untuk hidup mungkin Elis akan meminta maaf sejuta kali srmalam. Elis merasa sudah menjadi penyebab kedurhakaan Arjuna terhadap ibunya.
"Bagai mana bisa? Kapan kejadiannya?" Elis bertanya dengan bibir bergetar juga otot otot tubuhnya yang melemas.
"Aku tak tau El, aku tak tau!" Hidung bangir Arjuna kembang kempis dengan warna yang sudah memerah, air mata juga air hidup pria itu tidak dapat di kondisikan.
Setelah beberapa waktu berlalu keduanya menangis bersama di dalam mobil, mengabaikan supir mereka yang masih fokus mengemudi.
"Maaf karna aku sudah menjadi penyebabmu berlaku tak baik pada Mama." lirih Elis pelan. Arjuna menggeleng untuk menyangkal pengakuan istrinya.
"Ini takdhir El, kita tak pernah tau kapan ajal mendatangi kita, aku hanya berharap Mama pergi dalam keadaan baik, juga seluruh dosanya di ampuni oleh Tuhan." Arjuna mendongak mencoba memberhentikan air mata sialannya yang tak tau diri.
Arjuna benar benar berduka hari ini, sungguh kematian adalah perpisahan yang paling menyakitkan.
Arjuna juga berdusta serta menjadi pembohong ulung, ia pernah mengatakan tak ingin melihat ibunya lagi sekalipun ibunya mati, karna banyaknya kesalahan ibunya, tapi kenyataannya Arjunalah yang paling terpukul atas kepergian ibunya, sungguh Arjuna tak pernah berharap hal buruk terjadi kepada ibunya, sekalipun ia tidak menyukai ibunya Arjuna tetap mendoakan yang terbaik untuk sang ibu.
__ADS_1
Saat mereka tiba di rumah sakit, keduanya terkejut karna mendapati seseorang ternyata sudah tiba di rumah sakit itu lebih dulu, dan orang itu berada di ruang jenazah bersama seorang dokter.
"Kau?"